
Eliza yang terlalu bosan, sangat berharap acaranya agar segera selesai, karena ia benar benar sedang sangat lapar.
Dan akhirnya waktu yang ditunggu tunggu eliza tiba, eliza segera mengambil makanan dan juga minuman yang telah disediakan.
"Hmm..akhirnya bisa makan juga..!" ucap eliza sambil menikmati makanannya.
"Heh..kayak nggap pernah makan aja..!" sindir sarah. Yang seketika nadira menggelengkan kepalanya.
"Jangan seperti itu..!" ucap nadira membuat sarah begitu kesal.
"Kenapa kamu selalu membelanya padahal dia udah begitu jahat sama kamu dengan merebut gus afnan dari kamu..!" ucap sarah yang begitu kesal.
"Merebut..? Hah..denger ya, gue nggak pernah nyuruh afnan buat nikahin gue. Afnan sendiri yang mau nikahin gue. Dan apa urusannya sama lo dengan semua ini ha..?" ucap eliza yang telah terpancing emosinya.
Semua orang menatap mereka dengan pandangan yang berbeda beda terlebih pandangan pada nadira yang memang dalam hitungan jam akan menjadi istri orang lain namun masih membicarakan tentang afnan.
"Tentu saja ada, karna aku sahabat dari nadira yang calon suaminnya kamu rebut.!"
"Sar sudah..!"
"Sudah apa nad, kamu jangan mau selalu dianggap remah sama cewek brandalan ini..!"
"Apa lo bilang..?"
"Sudah sudah. Sar, aku tau kamu sahabatku. Tapi kamu juga harus ingat kalau besok adalah hari dimana aku akan menjadi istri orang lain. Aku sudah melupakan gus afnan, dan soal pernikahan neng eliza dan gus afnan itu sebuah takdir jadi tidak ada yang bersalah. Hiks..!" teriak nadira yang begitu sedih dengan pertengkaran eliza dan juga sarah.
"Nad..aku minta maaf. Aku nggak bermaksud buat ngeberantakin acara kamu.. Aku minta maaf..!" ucap sarah yang sadar bahwa ia sudah kelewatan.
"Em nak,"
"Bu yai..?" ucap nadira.
"Ibu minta maaf atas nama anak dan menantu ibu. emh kalau begitu ibu dan eliza pamit pulang dulu..!" ucap umi berpamitan.
"Iya bu yai, nadira yang seharusnya minta maaf sama bu yai. Karna hal ini membuat bu yai merasa malu..!" ucap nadira sedih.
"Tidak nak, bu yai hanya berharap kehidupanmu nanti akan jauh lebih baik dan kamu bisa bahagia selalu nak..!"
"Terima kasih bu yai.!"
"Sama sama, kalau begitu ibu dan eliza pulang dulu ya..!"
"Iya bu yai."
"Assalamu'allaikum.!" ucap bu yai dan eliza.
"Wa'allaikum salam."
Eliza dan umi berjalan keluar bersama sedangkan sarah terus menunduk karena merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan.
Dilain tempat.
__ADS_1
Eliza dan umi hanya diam tanpa ada yang berbicara selama perjalanan hingga kini mereka telah sampai dipesantren.
Umi yang keluar lebih dulu hanya diam membuat eliza merasa takut serta merasa bersalah.
"Emh..umi.!" panggil eliza membuat umi berhenti dan berbalik menghadap eliza.
"Iya..?"
"Hiks..eliza minta maaf..hiks..!" ucqp eliza yang seketika sambil menangis.
"Ha..? Nak..untuk apa kau menangis..?" tanya umi yang terkejut melihat menantunya yang tiba tiba menangis.
"Hiks..maaf. Karena eliza, hiks..umi jadi dipermalukan orang. Hiks.. pasti banyak orang yang sedang membicarakan umi hiks...karena memiliki menantu seorang brandalan sepertiku hiks..hiks..!" jelas eliza yang semakin sesegukan.
"Tidak, sungguh. Umi tidak pernah merasa seperti itu sama sekali..! Umi malah senang karena umi punya menantu yang cantik serta memiliki hati yang baik seperti kamu nak..! Sudah jangan menangis lagi, ayo kita masuk." ucap umi sambil mengelus lembut kepala eliza.
Merekapun masuk kedalam rumah sembari menunggu afnan dan abi yang belum pulang.
"Maaf umi, eliza jadi cengeng gini. Entah kenapa setelah hamil, eliza jadi sering nangis.!" ucap eliza yang membuat umi tersenyum.
Dilain tempat.
Nadira berdiam diri dikamarnya, ia merasa takut jika kejadian serupa akan terjadi di hari paling bahagianya besok.
Beberapa menit kemudian seorang gadis masuk kedalam kamar nadira dengan raut wajah yang begitu sedih.
"Nadira..!" ucapnya lirih yang masih dapat didengar nadira.
"Nad, maafin aku ya..! Aku cuma mau kamu bahagia. Maaf karena aku buat keributan diacara pengajianmu..!" ucap sarah dengan penuh penyesalan.
"Duduklah..!" ucap nadira sambil menepuk kasurnya agar sarah duduk disampingnya.
"Sar, aku juga minta maaf tak seharusnya tadi aku memarahimu. Terima kasih karena kamu selalu memikirkanku, tapi sar jujur, saat ini aku sudah melupakan gus afnan. Dan bahkan aku mulai bisa menerima ustadz rizky sepenuhnya. Dan aku selalu berdo'a agar aku bisa membuat ustadz merasa bahagia denganku..!" jelas nadira.
"Sungguh..? Apa kau tidak sedang berpura pura bahagia..?" tanya sarah.
"Tidak sarah.!" ucap nadira meyakinkan sarah.
Mereka berduapun berpelukan dan saling bertukar cerita akan perasaan masing masing agar mereka tidak membuat kesalahan diwaktu yang akan datang. Dan kini sarah sadar bahwa nadira jelas jelas sudah melupakan gus afnan.
Dilain tempat.
Eliza sedang menyiapkan masakan bersama umi sembari menunggu kepulangan afnan dan juga abi. Eliza menatap bangga dengan hasil akhir dari masakannya dan umi yang terlihat begitu nikmat.
"Emh, kenapa lama banget ya..!" ucap eliza tak sabar menunggu kedatangan suaminya agar terkesan dengan hasil masakannya.
"Sebentar lagi mereka pasti pulang.!" ucap umi menenangkan eliza.
Benar saja, dari luar rumah terdengar suara motor afnan yang memang sudah dikenal eliza. Eliza yang mengetahuinya segera berlari keluar untuk menyambut kepulangan suaminya serta mertuanya.
"Akhirnya kalian pulang..!" ucap eliza dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Memangnya ada apa..?" tanya afnan yang merasa aneh dengan sikap istrinya.
"Gue sama umi udah masakin makanan kesukaan lo sama abi. Jadi ayo kita segera masuk dan segera makan, karena gue udah laper banget..!" ucap eliza yang segera menarik lengan afnan dan abi menuju keruang makan.
Dilain tempat,
Claudia terlihat begitu senang dengan kedatangan teman temannya yang sedang menjenguknya.
"Clau..!" ucap devi.
"Hm..?"
"Gue dapat informasi terbaru tentang eliza..!"
"Apa..?"
"Gue dapat informasi kalau eliza saat ini sedang mengandung.! Dan yang paling mengejutkan jikalau dia benar benar jatuh cinta sama suaminya..!" jelas devi.
"Hmm..dia hamil dan jatuh cinta..? Bahagia sekali kehidupannya." ucap claudia datar.
"Tapi clau, bukankah itu bagus. Karena dengan eliza mencintai suaminya itu berarti tidak ada kesempatan leon buat merebut eliza lagi."
"Tidak semudah itu, kalian sudah tahukan. Jika leon memiliki ambisi yang besar, dia pasti tidak perduli jika eliza mencintai suaminya atau bukan ia pasti akan terus berusaha memiliki eliza.!"
"Lalu lo mau lakuin apa clau..?"
"Hancurin kehidupan eliza. Kemarilah..!" ucap claudia yang segera mendiskusikan rencananya bersama teman temannya.
Dilain tempat.
Eliza dan afnan sedang perpamitan untuk pulang karena hari sudah mulai malam.
"Umi, abi eliza pulang dulu ya..!" ucap eliza sambil mencium tangan kedua orang tua itu.
"Iya hati hati dijalan, dan afnan jaga baik baik menantu abi ini..!" ucap abi sambil mengusap lembut kepala eluza.
"Iya abi, sekarang afnan yang merasa kalau afnanlah yang seorang menantu." ucap afnan dengan wajah cemberutnya.
"Kamu ini..!" ucap umi sambil mencubit pinggang putranya itu. Dan mereka semua tertawa.
Eliza dan afnan kini sedang dalam perjalanan, mereka saling diam dan tidak ada dari mereka yang ingin mengawali pembicaraan.
"Emh..af..!" ucap eliza pelan.
"Ya..?" jawab afnan.
"Gue mau jujur sama lo..!" ucap eliza.
"Apa..?" tanya afnan.
"I love you..!".
__ADS_1