
Eliza menatap garang kearah leon.
"Harus berapa kali lagi gue bilang ke elo. jangan pernah ganggu kehidupan gue lagi. Kita itu dah putus." ucap eliza.
"Tapi gue nggak pernah setuju buat putus sama lo el." ucap leon sambil memegang tangan eliza.
Eliza yang merasa pegangan leon di tangannya semakin kencangpun segera menghempaskannya hingga terlepas.
"Gue nggak peduli lo setuju ataupun tidak. Yang pasti kita udah putus dan gue nggak akan kembali apapun yang akan lo lakukan." ucap eliza yang kemudian berbalik hendak pergi.
Namun sebelum ia berhasil pergi, leon lebih dulu menarik eliza dan menyodorkan pecahan botol kearah eliza.
Eliza tak merasa takut sedikitpun bahkan ia mendorong kencang tangan leon yang memegang pecahan botol tersebut dan berbalik menghadap ke arah leon. Eliza lalu menendang perut leon kencang yang berhasil membuat leon mundur meskipun tidak sampai terjatuh.
"Lo salah jika lo kira gue takut dengan segala tindakan lo. Dan sekali lagi gue tegasin, jangan pernah mimpi buat balikan lagi sama gue ngerti.?." ucap eliza yang kemudian berbalik meninggalkan leon yang menatap kearahnya dengan tatapan marahnya.
"El tungguin gue dong." teriak tasya memanggil eliza yang hendak meninggalkannya.
Di lain tempat, Rizky kewalahan untuk menghindari beberapa wanita di sekitarnya yang mencoba menggodanya.
"Hai.. ganteng, gue temenin ya." goda salah satu wanita itu sambil memegang tangan rizky.
"Maaf itu tidak perlu, saya buru buru, maaf bisa tolong menyingkir saya ingin lewat." ucap rizky sopan.
Sedangkan wanita itu yang merasa tidak dihiraukan oleh rizky pun pergi meninggalkan rizky dengan perasaan kesal. Rizky yang melihat eliza keluar bar pun ikut keluar.
"Neng." panggilnya sambil berlari mengejar eliza.
"Hmm..." gumam eliza yang dianggap sebagai jawaban oleh rizky.
"Urusan neng udah selesaikan.?" tanya rizky.
"Sudah, sekarang anterin tasya pulang dulu setelah itu kita kembali kerumah sakit." ucap eliza.
"Baik neng." jawab rizky.
Rizky pun segera melajukan mobilnya secara perlahan menuju rumah tasya.
"Ke rumah sakit.? siapa yang sakit el.?" tanya tasya kebingungan.
"Afnan, dan itu semua karena ulah leon dan teman temannya yang ngancurin pesantren." jelas eliza.
"Ooo jadi itu yang buat lo semarah itu sama leon." ucap tasya yang mulai mengerti keadaan disekitarnya itu.
"Hmm.." jawab eliza.
Selang beberapa menit kemudian mereka telah sampai dirumah tasya.
"Lo nggak mau mampir dulu el." tawar tasya kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Nggak, gue langsung kerumah sakit aja ya." ucap eliza menolak.
"Ya udah kalau gitu gue masuk dulu. Oh ya sampai lupa, kalau lo mau mampir dulu tampan..?" ucap tasya kepada rizky yang sedari tadi diam.
"A.. ha.. ha. tidak perlu neng. Saya masih harus mengantar neng eliza kerumah sakit." tolak rizky.
"Nggak papa, eliza bisa bawa mobil sendiri kok lagian dia juga jago kok bawa mobilnya." ucap tasya.
"Ha.. ha lain kali aja neng. Em kalau gitu kita pergi dulu neng, Assalamualaikum." ucap rizky yang kemudian menancap gas meninggalkan tasya yang tertawa geli melihat tingkah dari penghuni pesantren itu.
"Tidak perlu lo pikirin ucapan tasya tadi. Dia emang gitu orangnya." ucap eliza.
"Iya neng." ucap rizky.
Mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit dimana afnan dirawat. Eliza segera turun dari mobil dan pergi menuju ke ruang dimana afnan dirawat.
Disana ia melihat mertuanya masih duduk dengan perasaan khawatir menanti kesadaran afnan putra mereka.
"Umi, abi." panggil eliza.
"Nak.. kau sudah kembali.. apa kau baik baik saja..?" tanya umi.
"Eliza nggak papa kok mi, oh ya umi sama abi pulang aja biar afnan, eliza yang jagain entar kalau afnan sudah sadar eliza kabarin umi sama abi." ucap eliza yang merasa bersalah karena apa yang kini menimpa afnan itu semua karena dia.
"Tapi nak." ucap umi yang merasa tidak setuju.
"Umi.. apa yang dibilang eliza itu benar lagipula umi kelihatan lelah, umi nggak usah khawatir kan eliza tadi bilang kalau ada apa apa nanti nak eliza akan menghubungi kita. iya kan nak.?" ucap abi meotong ucapan umi.
"Ya sudah kalau gitu kita pulang dulu ya nak." ucap umi berpamitan.
"Ya umi." jawab eliza.
"Apa nak rizky biar disini jadi kalau kamu butuh apa apa biar dibantu nak rizky ya..?." tawar abi.
"Tidak perlu abi, eliza nggak papa kok sendiri disini." ucap eliza.
"Ya sudah kalau gitu kita pulang dulu. Kamu bai baik disini ya." ucap abi.
"Iya abi, umi." jawab eliza.
"Assalamualaikum" ucap umi dan abi berpamitan.
"Wa'allaikum salam, hati hati di jalan ya umi abi". jawab eliza.
Setelah melihat langkah umi dan abi yang semakin menjauh eliza langsung berbalik dan masuk kedalam ruangan dimana afnan dirawat.
Disana terlihat afnan yang tergeletak tak sadarkan diri dengan infus yang menancap di tangannya dan kepala yang terdapat perban.
Eliza duduk dikursi yang berada dekat disamping afnan.
__ADS_1
"Maafin gue ya, gara gara gue lo jadi kayak gini." ucap eliza pada afnan ya yang tidak mungkin dapat mendengar ucapan maaf eliza tersebut.
Waktupun berlalu perlahan eliza tertidur dengan posisi duduk dengan kepalanya disandarkan pada tempat tidur afnan.
Pagipun tiba, dengan perlahan mata tajam namun penuh kesejukan kini mulai terbuka, ia menatap kesekelilingnya yqng terlihat asing dan iapun mulai mengingat apa yang sudah terjadi.
Setelah mengingatnya afnanpun mengalihkan pandangannya kesamping dimana eliza masih terlelap disana.
Tanpa sadar, afnan tersenyum melihat keberadaan eliza, dan tanpa ia sadari tangannya mulai mengusap halus rambut eliza hingga membuat eliza tersadar dari tidurnya.
"Emh..lo.. lo udah sadar..?" tanya eliza setelah berhasil mengumpulkan kembali nyawanya.
"Ya." jawab afnan.
"Apa ada yang sakit..? gue panggilin dokter dulu ya." ucap eliza khawatir.
"Kenapa kau terlihat begitu khawatir terhadap saya...?" tanya afnan menyadarkan eliza akan tingkahnya.
"A.. ma..mana ada gue biasa aja tuh, lo aja yang kegran." ucap eliza dengan wajah yang kemerahan karena malu.
"A. ahs... " teriak afnan.
"Mana yang sakit..?" tanya eliza spontan.
"Tadi katanya nggak khawatir." ucap afnan menyadarkan eliza dari kesalahannya.
"Ha.. jadi lo tadi cuma pura pura..?" tanya eliza.
Sedangkan afnan hanya tertawa, dan tanpa ia sadari eluza sedang menyeringai dengan segala rencana jahat yang ada dikepalanya.
Buaaakk...
Eliza memukul keras perut afnan yang membuat afnan melotot menatap eliza sedangkan eliza tersenyum karena berhasil menjalankan rencananya.
"Makanya jangan macem macem sama gue." ucap eliza yang berlalu meninggalkan afnan yang menahan rasa sakit diperutnya.
"Gini banget punya istri barbar." gumam afnan sambil menatap eluza yang kini mulai tak terlihat dibalik pintu ruangannya.
.
.
.**Hay...
Maaf ya baru bisa up
Dan juga ini episode nya kebalik hhhh
Sekali lagi maaf ya
__ADS_1
sampai jumpa lagi**...