Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 32


__ADS_3

Claudia sangat gelisah saat tadi pagi ia mengetahui kalau dirinya hamil ia takut jika kakaknya akan mengetahui ini.


Claudia berfikir keras untuk bisa menutupi kehamilannya, ia segera mengenakan kaos oblong yang longgar dengan celana pendeknya. Setelahnya claudia keluar dari kamar dengan pelan agar tidak diketahui kakaknya.


"Mau kemana clau.. ?" tanya david.


"Emh.. itu. Gue mau ketemu sama temen temen gue lah seperti biasa. Oh ya tumben lo masih dirumah, biasanya gue bangun lo dah kelayapan sama temen temen lo. " ucap claudia mengalihkan pembicaraan.


"Iya, hari ini gue mau santai dirumah dulu. Eh tunggu dulu, tumben lo mau keluar cuma pakai kaos kegedean gitu biasanya lo pakai baju ketat. " tanya david bingung.


"Emang kenapa.. ? nggak boleh.. ? lagian ya kak, ini tuh lagi tren, lo mana ngerti. Udah deh gue mau pergi dulu bay. " ucap claudia yang langsung kabur dari segala pertanyaan kakaknya yang belum sempat keluar dari mulut david.


Claudia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kafe yang biasa ia dan temannya datangi.


"Eh clau. Tumben banget lo cuma pakai kaos biasa gitu. Biasanya lo paling mentingin penampilan deh. " tanya devi.


"Iya clau. Tumben tumbenan lo. " tanbah celsi.


"Diem lo semua. Gue lagi nggak mood. Mending lo pesenin gue jus jeruk sekarang." ucap claudia pada devi.


Claudia yang hendak minum tiba tiba dirinya mual karena mencium bau dari minumannya itu. Claudia yang panik karena takut ketahuan langsung pergi dan mengatakan kalau dirinya sedang tidak enak badan.


"Claudia kenapa sich dua hari terakhir kalinya ni sikapnya semakin aneh. Bahkan dia nggak cerita sama kita. " ucap celsi.


Iya.." ucap mereka semua sambil memperhatikan mobil claudia yang kembali melaju dijalan dengan kecepatan tinggi.


Ia benar benar kesal dengan kehamilannya itu. Ia merasa tidak nyaman karena ia selalu mual saat makan sesuatu yang dulu sangat ia suka.


Dilain tempat.


Eliza mulai membuka matanya, ia dapat melihat afnan, umi, abi, paman, dan juga bibi nya.


"Kalian.. ?" ucap eliza yang beranjak untuk bangun. Dengan sigap, afnan membantu eliza untuk duduk.


"Afnan.. ? apa lo nggak papa.. ?" tanya eliza yang mulai ingan dengan apa yang terjadi.


"Aku nggak papa. Jangan pikirkan aku, tadi kamu pingsan saat jatuh, beruntung dokter bilang kalau kamu hanya terbentur sedikit dan hal itu tidak berbahaya." jelas afnan.


Eliza hanya menganggugkan kepalanya. Ia beralih pada paman dan bibinya.


"Paman, bibi kok bisa kesini.. ? bukannya kalian sedang diluar kota.. ?" tanya eliza yang melihat paman dan bibinya begitu khawatir terhadapnya.


"Kamu ini, tentu saja kita segera kesini saat afnan mengabari kami, Kami buru buru dan mengambil penerbangan pertama. Bibi sangat takut bila terjadi sesuatu sama kamu nak. " ucap bibi sambil memegang tangan eliza lembut.


"Maaf membuat kalian semua khawatir.. !" ucap eliza membuat paman dan bibinya terkejut.


"Apa.. ? tadi kamu bilang apa.. ? Maaf.. ? Sejak kapan kamu bisa mengatakan maaf.. ?" tanya pamannya membuat eliza kesal.


"Alhamdulillah pak. Sejak beberapa hari ini banyak sekali perubahan baik dari eliza. Kami juga awalnya kaget, namun kami bersyukur karena eliza mau berubah sedikit demi sedikit. " jelas abi.


"Waah.. keponakan paman ini ternyata sudah tumbuh dewasa dan bisa memilih mana yang benar dan tidak benar. "


"Paman... !!" ucap eliza yang begitu kesal. Membuat semua orang tertawa.


"Sudahlah, kenapa kamu selalu mengganggunya. Dia sedang sakit. " ucap bibi.


Hari pun semakin sore, umi, abi, paman, dan bibi beramitan untuk pulang. Sekarang hanya tersisa afnan dan eliza berdua diruangan.


"Apa kamu benar benar sudah merasa baikan.. ?" tanya afnan.


"Iya, cuma kepala gue masih agak pusing dikit aja. Selebihnya baik baik aja. " terang eiza.


"Maaf, gara gara aku kamu jadi celaka seperti ini." ucap afnan meminta maaf.


"Apa lo sengaja rusakin rem motor lo.. ?" tanya eliza membuat afnan bingung.


"Tentu saja tidak. untuk apa aku merusak rem motorku sendiri.. ?" tanya afnan balik.


"Kalau lo nggak rusakin rm motor lo, untuk apa minta maaf. Kan lo juga nggak pengen kecelakaan itu terjadikan.. ?" ucap eliza sambil tersenyum.


"Hah.. kamu ini. " ucap afnan sambil mengusap kepala istrinya.


"Ih afnan, rambut gue jadi berantakan. !" teriak eliza.


"Hhhh.. iya iya maaf. Sini aku rapiin lagi. " ucap afnan yang seketika membuat pandangan mereka bertemu.


Kenapa gue baru sadar ya, kalau ternyata afnan emang tampan bahkan dia juga cantik. Pantas aja semua santri cewek pada terpesona kalau dia yang jadi gurunya. ucap eliza dalam hati.


Sebaliknya afnan malah tenggelam dalam dilemanya sendiri.


Bagaimana caraku untuk memberitahunya. Aku juga tidak mungkin menyembunyikan hal ini dalam waktu yang lama. Karena semakin bertambahnya hari, perut eliza akan semakin membesar. Afnan begitu gelisah dangan apa yang harus ia lakukan.


"Permisi..!!" ucap seorang perawat masuk membawakan makanan untuk eliza. Membuat afnan dan eliza seketika memutuskan tatapan mereka.


"Saya mengantarkan makanan untuk ibu eliza. " ucapnya.

__ADS_1


"Terima kasih. " ucap afnan sambil menerima makanan itu.


"Sama sama. Kalau begitu saya permisi dulu. " ucap perawat itu yang kemudian keluar dari ruangan.


Afnan mulai menyiapkan makanannya.


"Sekarang kamu makan, biar cepet sembuh. " ucap afnan sambil menyuapi eliza.


"Nggak, gue nggak mau makan bubur. " ucap eliza menolak suapan afnan.


"Lalu kamu mau makan apa.. ?"


"Em.. gue mau makan, ayam bakar dengan nasi hangat dan minumnya lemondtea. "


Afnan berfikir sejenak dan lalu pergi tanpa mengatakan apa apa pada eliza. Afnan mulai berjalan menuju ruangan dokter yang menangani eliza tadi.


Didalam perjalanannya afnan melihat dokter itu yang baru saja keluar dari ruangan pasien lain.


"Permisi dok." ucapnya.


"Iya, ada apa pak. ?" tanya dokter itu.


"Jadi gini dok, istri saya tidak ingin makanan rumah sakit apa boleh kalau makan makanan luar.. ?" tanyanya.


"Oo boleh aja pak asal makanan yang tidak mengandung zat zat yang berbaya dan juga makanan seperti telur yang masih mentah, ikan mentah seperti susi dan kalau bisa hindari makanan yang terlalu pedas. " jelas sang dokter.


"Baiklah kalau begitu terima kasih dok. "


"Sama sama pak. Kalau begitu saya permisi dulu. " ucap dokter itu yang lalu pergi untuk memeriksa keadaan pasien lain.


Afnan pun bergegas membelikan eliza makanan sesuai yang diinginkan eliza.


Sedangkan dilain sisi.


Eliza mulai bosan menunggu afnan yang belum kembali juga.


"Kenapa lama banget sich, gue kan dah laper. "


Berselang beberapa menit kemudian afnan kembali dengan membawa makanan sekantung makanan membuat eliza semakin merasa lapar.


"Lo lama banget sich, emang belinya dimana sich.. ?" tanya eliza kesal.


"Tadi kebetulan antriannya banyak banget, makannya lama. "


"Oh ya udah mana makanannya gue laper banget. "


"Nggak nggak, gue mau makan sendiri. Tangan gue nggak sakit jadi gue masih bisa makan sendiri." tolak eliza.


"Kamu mau aku suapin atau mau makan bubur itu sendiri.. ?" ancam afnan.


"Dasar suami nyebelin. !" ucap eliza sebal dan akhirnya menurut untuk disuapin afnan.


Dilain tempat.


Claudia sedang berdiri kaku dideoan kakaknya yang menatapnya tajam. Ia tak berhenti meruntuki dirinya sendiri karena ceroboh membuang tespek kedalam tong sampah yang akhirnya ditemukan pembantunya dan yang berakibat ia harus menghadapi kakaknya yang terlihat marah besar.


"Siapa ayah nya.. ?" tanya david.


"Jawab clau.. !!! siapa ayah dari bayi yang lo kandung. ?" bentak david membuat claudia kaget karena sebelumnya kakaknya tak pernah membentaknya.


Tanpa sadar air mata sudah membanjiri mata claudia.


"Ayo jawab clau, kalau lo nggak mau ngomong gue bakal aduin lo sama mama dan papa. " sambungnya lagi karena geram melihat adiknya yang tidak menjawab pertanyaannya.


"Jangan kak hiks.. Gue nggak mau kalau harus menetap di australi. Gue.. hiks.. gue.. " ucap claudia sesegukan.


"Dengar clau. Gue bebasin lo bergaul dan juga minum minum, balapan liar. Gue berniat buat bebasin lo karena gue sayang sama lo gue nggak mau terlalu ngekang lo. Tapi bukan berarti bebas berhubungan sama siapa aja dan bahkan sekarang lo hamil clau. !!" ucap david sambil memegang kepalanya.


"Bagaiman kalau ayah bayi itu nggak mau menerimanya bahkan dia nggak mengakuinya..? Apa lo mau ngurus bayi itu sendirian.. ?" tanyanya lagi.


"Hiks.. hiks.. kak."


"Cepat jawab clau, jangan bilang kalau lo nggak kenal sama pria brengsek itu karena lo mabuk.. ? haa.. ??" teriak david lagi.


Claudia yang tersentak kaget membuatnya semakin ketakutan.


"Hiks.. dia.. hiks.. leon. " jawab claudia seketika membuat david membulatkan matanya karena terkejut.


"Sialan. Berani sekali dia. Gie kira dia temen gue ternyata dia berani hancurin hidup adik gue. Gue bakal bikin perhitungan buat dia." ucap ucap david yang segera pergi membawa motornya kemarkas dimana leon berada.


Sesampainya disana, david melihat leon sedang mabuk dan juga tertawa bersama teman temannya yang lain.


David menendang meja itu hingga membuat semua minuman tumpah dan juga botol dan gelasnya pecah. Leon yang melihat hal itu sontak berdiri dan menatap garang kearah david. Sedangkan david tidak merasa takut sama sekali.


"Maksud lo apaan.. ?" teriak leon tak terima.

__ADS_1


"Iya vid lo kenapa.. ?" tanya teman temannya yang lain yang juga ikut bingung dengan sikap david.


"Dia, yang kalian semua anggap sebagai teman, pemimpin, panutan. Telah menghancurkan kehidupan adik gue.!!" teriak david.


"Maksud lo apa bilang gitu.. ?" tanya leon yang tak ingin namanya tercemar.


"Vid lebih baik lo tenang dulu deh. Sebenarnya ada apa sich.. ?" tanya irfan.


"Heh.. nggak usah pura oura nggak tau lo yon. Lo kan yang udah hamilin adik gue...?" tanya david membuat semua orang berbalik menatap leon.


Tak dipungkiri mereka semua tahu bahwa sebejat bejatnya david tapi jika sesuatu menyangkut adik perempuan satu satunya ia tidak akan tinggal diam.


"Dia hamil. Itu bukan salah gue, dia sendiri yang serahin tubuhnya buat gue. Lagipula dia yang godain gue duluan. " ucap leon membeka diri.


David yang mendengar hal itu langsung menghajar leon tanpa ampun. Dan leon yang mendapatkan pukulan dari davidpun langsung membalasnya.


Mereka saling memukul tanpa ada yang berani memisahkan karena mereka berdua adalah yang paling kuat diantara mereka.


Sial untuk leon. Yang dalam keadaan mabuk pandangannya sedikit berkurang membuatnya kalah dari david.


"Gue peringatin buat lo, kalau lo nggak mau bertanggung jawab gue nggak akan segan segan buat laporin lo kepolisi atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap afnan dan juga pemerkosaan. Aku yakin penahanannya tak akan sebentar. " ancam david yang kemudian pergi dari sana.


"Sialan.. !!" teriak leon sambil menendang kursi hingga kursi itu terjungkat.


"Lalu apa yang bakal lo lakuin yon. Jika lo nggak menikahi adik david itu, dia akan benar benar melaporkan lo dan bahkan bisa saja kita semua." tanya mereka.


"Ok. kalau itu yang dia mau, gue bakal nikahin dia." ucap leon dengan senyuman yang sudah dipastikan leon punya rencana licik didalam otaknya.


Mereka hanya bisa diam tanpa tau apa yang sedang direncanakan leon terhadap claudia.


Pagipun tiba.


Eliza begitu senang karena ia sudah diperbolekan untuk pulang.sedangkan afnan sedang mengurus administrasi rumah sakit.


"Udah siap.. ?" tanya afnan yang melihat eliza sudah merapikan baju mereka kedalam tas.


"Udah, oh ya. Nanti kita pulang kemana.. ?" tanya eliza.


"Pulang kerumah kitalah. Masak kerumah tetangga. " jawab afnan asal.


"Iiihh bukan itu. Maksudnya kita nggak kepesantren.. ? soalnya gue kan mau belajar masak sama umi. " ucap eliza.


"Kamu itu masih sakit jadi masih butuh istirahat. Belajar masaknya kan masih bisa nanti nanti." larang afnan karena pada dasarnya ia tidak ingin kalau sampai eliza kecapek an.


Afnan membantu eliza masuk kedalam mobil membuat eliza cemberut karena merasa malu diperhatikan orang orang.


"Romantis banget sih tu cowok. Jadi iri gue. " ucap beberapa orang yang menambah rasa malu eliza.


"Gue kan udah bilang tadi. Gue bisa jalan sendiri. kalau gini kan gue malu jadi perhatian orang." ucap eliza kesal.


"Kamu tuh masih sakit, nanti kalau kamu jatuh pingsan lagi gimana coba.. ?"


Eliza hanya memutar mata bosan. ia pun duduk dijok belakang dan afnan duduk disampingnya. Sedangkan yang mengemudi rizky. Ya risky diminta abi untuk menjemput afnan dan eliza.


Beberapa saat kemudian, merekapun sampai dirumah disana sudah terdapat nadira dan juga umi.


"Assalamu'allaikum. " ucap afnan, dan rizky.


"Wa'allaikum salam, bagaimana kabarmu nak.. ?" tanya umi.


"Eliza baik baik aja kok mi. Oh ya umi disini udah lama.. ?" tanya eliza.


"Enggak kok tadi umi dan nadira diantar sama nak rizky terlebih dahulu sebelum menjemputmu." jawab umi.


"Jadi kita bisa masak bareng lagi dong mi.. ?" tanya eliza semangat.


"Em maaf nak. Tapi kalau hari ini nggak bisa, soalnya hari ini ada pelepasan santri jadi umi harus dipesantren." ucap umi membuat eliza sedih.


"Maaf ya, bagaimana kalau besok. Umi akan ajarin kamu masak makanan kesukaan afnan bagaimana.. ?" tanya umi.


"Ok deh. " ucap eliza yang langsung berubah.


"Umi afnan kayaknya kesana agak telat deh soalnya afnan harus kebengkel dulu buat ambil motor." ucap afnan.


" Gimana kalau kamu bareng aja sama kami, nanti kamu bisa pergi sama nak rizky.. ?" usul umi.


"Gitu juga boleh umi." ucap afnan setuju.


Beberapa saat kemudian.


Afnan berangkat pergi bersama dengan umi, rizky dan juga nadira membuat eliza kesepian dirumah sendirian.


Sebenarnya eliza sudah meminta untuk ikut namun afnan melarang karena tidak ingin istirahat eliza terganggu dengan suara bising saat acara nanti.


Dan kini ia berakhir dirumah serang diri. Saat sedang seru serunya menonton tv tiba tiba ada suara ketukan pintu.

__ADS_1


Eliza bergegas membuka pintu karena berfikir afnan mungkin saja sudah pulang. Saat membuka pintu, eliza begitu terkejut melihat orang yang datang kerumahnya.


__ADS_2