Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 44


__ADS_3

Afnan yang begitu terkejut seketika menghentikan motornya membuat eliza terkejut dan memeluk afnan erat karena takut jika ia jatuh.


"Tadi kamu bilang apa..?" tanya afnan memastikan.


"Nggak papa, gue tadi cuma ngomong kalau gue ngantuk..!" jawab eliza kesal.


Mungkin gue salah denger kali ya..? Mana mungkin eliza bilang kayak gitu..! Ucap afnan dalam hati yang seketika membuat wajahnya berubah murung.


Afnan yang merasa sedih, dengan perlahan mulai melajukan motornya menuju kerumah mereka. Sedangkan eliza sudah merasa kesal dengan afnan, karena tidak mendengar perkataannya tadi.


Padahal ia sudah berusaha keras mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada afnan. Namun nyatanya itu sia sia.


Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba dirumah mereka. Eliza segera berjalan masuk kerumah dengan raut wajah kesal, meninggalkan afnan yang memasukkan motornya kedalam garasi.


Setelah mengunci pintu gerbang, afnan berjalan mengikuti eliza yang masuk kedalam kamar.


Karena perasaan mereka yang sedang kesal dan sedih, membuat mereka tertidur dalam diam dan saling membelakangi.


Waktupun berlalu, dan malam kini berganti pagi. Memperlihatkan kedua manusia yang saling mencintai ini yang masih terlelap ditidur mereka yang nyenyak, dengan bertukar kehangatan dalam pelukan mereka.


Karena sinar matahari yang muncul dibalik gorden jendela, membuat eliza merasa tidurnya terganggu dan akhirnya berhasil membangunkannya.


"emmhh...!" gumam eliza.


"Af..bangun. Afnan bangun udah pagi..!" panggil eliza sambil mendorong dorong tubuh afnan.


Afnan yang merasa tidurnya terganggu akhirnya terbangun dan menatap wajah eliza yang begitu cantik tanpa riasan wajah yang menempel disana.


"Sudah jam berapa..?" tanya afnan pelan.


"Jam tujuh..!" jawab eliza singkat.


"Apa..? Jam tujuh..?" teriak mereka bersamaan, saat ingat mereka bangun kesiangan dan tidak melaksanakan sholat subuh.


"Huh..sudahlah, sebaiknya kita segera mandi. Karena hari ini kita harus menghadiri pernikahan neng nadira dan ustadz rizky.!" ucap afnan.


"Iya..!" ucap eliza, yang segera berjalan menuju kedalam kamar mandi.


Dilain tempat.


Claudia sedang duduk diatas tempat tidur rumah sakit sembari menunggu leon selesai mengemas pakaiannya karena hari ini ia telah diijinkan untuk pulang.


"Clau..?" panggil seseorang dari depan pintu membuat leon dan claudia beralih menatap kearah asal suara itu.


"Kak david..? Ada apa..?" tanya claudia ketus karena ingat kejadian kemarin dimana kakaknya memarahinya hanya karena tasya.


"Hari ini, lo udah boleh pulang..?" tanya david yang berusaha membuat adiknya melupakan kejadian kemarin.


"Hmm..!" jawab claudia yang tidak berminat untuk berbicara dengan kakaknya itu.


Leon yang sudah selesai memasukan pakaian claudia kedalam tas, hendak pergi.

__ADS_1


"Gue mau bayar atministrasinya dulu..! Kalian tunggu diparkiran saja. Gue akan segera kesana.!" ucap leon yang kemudian pergi .


Kini tinggalah claudia dan david berdua saja dalam keadaan diam tanpa ada yang ingin memulai pembicaraan.


"Clau, gue mau minta maaf. Kemarin gue kepancing emosi, sekarang gue sudah memutuskan untuk tidak berhubungan dengan tasya lagi..!" ucap david.


Claudia seketika menatap kekakaknya itu.


"Benarkah, kakak tidak sedang bohongkan..?" tanya claudia memastikan.


"iya..!"


David mulai mendekatkan kursi roda untuk claudia, dan membantu adiknya itu untuk duduk, dan mulai mendorongnya perlahan menuju ketempat parkir.


Sedangkan claudia terlihat begitu senang karena kini kakaknya memutiskan hubungan dengan musuhnya.


Heh, setelah ini. Tinggal menyusun rencana untuk menghancurkan eliza. Ucap claudia dalam hati.


Dilain tempat.


Eliza kini sedang makan sarapan yang telah ia buat bersama dengan afnan.


"Emh af.!" ucap eliza pelan.


"Iya, kenapa..?" tanya afnan.


"Gimana kalau gue nggak usah ikut kepernikahan nadira..?" tanya eliza.


"Tidak, tapi gue takut kalau nanti acaranya akan lama seperti kemarin, emh gue akhir akhir ini merasa badanku agak capek. Jadi bolehkan kalau gue nggak usah ikut..?" ucap eliza berbohong.


"Oh apa kita kedokter dulu..?" tanya afnan yang khawatir dengan keadaan eliza dan juga kandungannya.


"Emh, tidak..tidak perlu. Gue cuma perlu istirahat aja kok..!" ucap eliza yang terkejut dengan reaksi afnan.


Jika afnan membawa gue ke dokter, dia pasti akan tahu jika saat ini gue sedang hamil. Ucap eliza dalam hati dengan perasaan takut.


"Hah, baiklah. Kau istirahat saja dirumah, aku sendiri yang akan kesana. Oh ya jika ada apa apa langsung hubungi aku. Ingat jangan kemana mana..!" ucap afnan.


"Iya..!" ucap eliza yang senang karena afnan tidak curiga dengannya.


Setelah kepergian afnan, eliza segera menghubungi teman temannya untuk datang kerumahnya dan berpesta dengannya.


Dilain tempat.


Claudia, kini telah sampai dirumah leon dengan leon yang mulai berjalan menuju kedalam kamar claudia, untuk mengantarkan claudia istirahat.


Sesampainya didalam kamar claudia, leon menaruh tas claudia dimeja samping ranjang claudia.


"Lo istirahat dulu aja, gue masih ada urusan diluar..!" ucap leon yang kemudian pergi meninggalkan claudia seorang diri.


Setelah leon pergi, claudia segera menghubungi seseorang dari ponselnya.

__ADS_1


"Hey, gue punya kerjaan buat lo..!" ucap claudia pada seseorang disebrang telfonnya itu.


Setelah mengakhiri telfonnya, claudia tersenyum dengan apa yang sudah ia rencanakan untuk eliza.


Dilain tempat.


Teman teman eliza telah sampai didepan rumah eliza dengan berbagai macam cemilan ditangan mereka.


"Wah, kalian sudah sampai..?" ucap eliza yang segera mengajak teman temannya untuk masuk kedalam rumahnya.


"Apa suami lo nggak ada dirumah..?" tanya tasya.


"Tenang aja, dia nggak ada dirumah. Dan sedang menghadiri pernikahan nadira dan juga ustadz rizky.!" jelas eliza.


"Hah..? Jadi nadira nadira itu sudah akan menikah hari ini..?" tanya cika.


"Iya, jadi gue sudah merasa lega dengan ini..!" jelas eliza.


Dreeett..drrreet...


Ponsel eliza bergetar menandakan ada sebuah panggilan didalamnya. Eliza segera mengambil ponselnya dan terlihat sebuah nomor tidak dikenal disana.


"Hallo..!" ucap eliza.


"Hm..gue tantang lo buat balapan sama gue, dijalan baru sekarang !" ucapnya yang segera mematikan telfonnya tanpa menunggu jawaban dari eliza.


"Siapa el..?" tanya cika.


"Nggak tau, gue belum sempet nanyak dia udah matiin duluan telfonnya." jelas eliza sambil meletakkan hp nya diatas meja.


"Emang dia ngomong apa..?" giliran tasya yang bertanya.


"Dia ngajak kita buat balapan sama dia..!"


"Trus gimana..? Lo setuju..?" tanya karlin.


"Iya, lagipula saat ini afnan nggak ada dirumah. Jadi gue bebas hari ini.!" jawab eliza antusias.


"Tapi el, bagaimana kalau afnan tahu..? Bisa habis kita semua. Dan ingat lo itu sedang hamil..!" ucap tasya mengingatkan.


"Tasya lo tenang aja, lagian kan kita balapan mobil bukan motor jadi gue pasti aman. Dan juga selama ini gue yang selalu memenangkan balapan..!"


"Tapi el..!"


"Udah deh, lebih baik kita segera berangkat..! Tapi tasy, gue boleh pinjem mobil lo buat balapankan..? Soalnya gue takut kalau gue ambil mobil gue dari paman, entar afnan tahu lagi kayak dulu..!" ucap eliza.


"Iya tapi ingat lo harus hati hati, bukannya gue khawatir soal mobil gue. Tapi gue khawatir sama kandungan lo..!" ucap tasya.


"Iya iya, makasih ya. Lo emang sahabat terbaik gue.!" ucap eliza sambil memeluk tasya.


"Emang kita nggak ya..?" tanya cika dan karlin bersamaan.

__ADS_1


"Hhhh...tentu saja, kalian bertiga adalah sahabat terbaik gue..!" ucap eliza sambil memeluk ketiga sahabatnya dengan erat.


__ADS_2