
David begitu khawatir melihat keadaan adiknya yang kini terbaring tak berdaya dengan infus yang tertancap ditangannya.
"Kalau sampai terjadi sesuatu sama claudia, gue nggak akan maafin lo leon.!" ucap david sambil menatap tajam leon yang sedang duduk dengan tenang.
Beberapa saat kemudian seorang wanita dengan pakaian dokter keluar dari ruangan claudia, seketika david segera mendekatinya.
"Bagaimana keadaannya dok..? " tanya david cepat.
"Nona claudia baik baik saja tapi saya minta maaf, karena janin dalam kandungannya tidak dapat saya selamatkan. Setelah dua hari, nona claudia baru boleh pulang. Kalau begitu saya permisi dulu.!" ucap sang dokter yang kemudian pergi.
David segera masuk kedalam ruangan claudia dirawat dan diikuti leon di belakangnya. David memegang lembut tangan claudia dan mengusap kening adiknya itu.
"Kak david..!" ucapnya lirih.
"Hah lo dah sadar clau..? Kenapa lo lakuin ini..? Bagaimana kalau tadi kamu juga nggak selamat ha..?" ucap david dengan raut wajah yang begitu khawatir.
"Gue nggak papa kok kak."
"Leon, lo disini..? Lo tenang aja gue nggak papa kok..!" ucap claudia saat menyadari keberadaan leon diruangan itu.
"Hn..! Seharusnya lo nggak lakuin hal yang akan membayakan nyawa lo clau." ucap leon datar.
"Clau..bilang ke kakak kalau leon nyakitin lo. Kakak akan buat perhitungan buat dia.!" ucap david membuat leon membuang tatapannya.
"Emh...nggak kok kak, gue sama leon baik baik aja. Lo kan tau kalau gue itu masih suka main sama temen temen gue, dan dengan kehamilan gue, gue nggak bisa bebas kesana kemari.!" ucap claudia bohong.
Leon menatap tak percaya pada claudia yang berbohong pada kakaknya dan menutupi semua perlakuan jahat leon padanya.
Sebegitu cintanya lo sama gue clau..? Hingga lo lakuin ini semua buat gue. Apa gue harus membuka hati gue buat lo clau..? Ucap leon dalam hati yang mulai merasa bersalah dengan segala perlakuannya pada claudia.
Malampun berlalu, dan memperlihatkan sinar mentari yang menyinari kehidupan ketiga wanita yang perlahan mulai berubah.
Eliza mulai membuka matanya dan melihat kejendela yang memperlihatkan matahari yang mulai menghangatkan udara.
Setelah kehamilannya, eliza mulai sering mengantuk setelah selesai sholat subuh seperti sekarang ini yang membuat tubuhnya serasa sakit semua.
"Af..afnan..!" panggil nya sambil berjalan menuju keruang makan.
"Kamu udah bangun..?" ucap afnan saat melihat istrinya yang duduk diruang makan.
"Hmm..!" gumam eliza.
"Ayo kita sarapan..! Aku udah masakin kamu omlade dan roti bakar selai coklat kesukaanmu..!" ucap afnan.
__ADS_1
"Wah..kelihatannya enak banget sich tapi jus tomat gue mana..?" tanya eliza setelah melihat menu makanan yang ada dimeja yang hanya ada susu tanpa adanya jus favoritnya baru baru ini.
"Jus tomat..? Tapi aku udah buatin susu.!" ucap afnan.
"Nggak mau, gue cuma mau minum jus tomat..!"
"Ya udah aku buatin jus tomat tapi kamu juga minum susunya walaupun sedikin.!" ucap afnan.
"Iya iya gue minum tapi buatin jus tomatnya dulu.!"
Afnan segera membuatkan jus tomat untuk eliza sekaligus untuknya.
"Ini..!" ucap afnan sambil memberikan segelas jus tomat pada eliza.
"Hem..ini baru enak..!"
"Oh ya selesai sarapan, nanti kita belanja bulanan ya, sepulang belanja baru kita kepesantren untuk menghadiri pengajian pernikahan rizky dan juga nadira." ucap afnan membuat eliza menghentikan makannya.
"Oh ya gue hampir lupa. Emh nanti gue ikut umi ya kerumah nadira buat ikut pengajian disana.!" ucap eliza .
Yang dibalas anggukan oleh afnan. Eliza dengan lahab menyantap sarapannya dan sesuai janjinya, eliza meminum susunya meski masih tersisa sedikit.
Dilain tempat.
"Wah..cantiknya anak ibu.!" ucap ibu nadira menatap lembut kearah putri satu satunya itu.
"Makasih bu. Emh nadira merasa sedikit gugup bu.!" ucap nadira.
"Itu biasa, semua orang pastinya gugup disaat hari hari seperti ini. Kamu berdoa aja agar semua dipermudahkan sama allah, dan acaranya bisa berjalan dengan lancar besok.!" nasehat ibu.
"Bismilah..!"
"Ya sudah, ibu tinggal dulu buat menyalami para tamu dulu, oh ya teman kamu sarah sudah datang. Biar ibu suruh masuk untuk nemenin kamu ya..!" ucap ibu.
"Iya bu.."
"Nadira....!" panggil sarah.
"Sarah." ucap nadira sambil memeluk sahabatnya itu.
"Emh..kamu cantik banget..jadi pengen..!" ucap sarah membuat nadira tertawa.
"Ya udah nanti aku bantu bilang ke ustadz rizky agar dia membujuk kang doni buat cepet cepet lamar kamu." goda nadira.
__ADS_1
"Ih..apaan sich, aku cuma mau pakai baju kayak gini aja kok. Bukannya iri nikahnya..!" sangkal sarah.
"Hmm beneran nih nggak mau, kalau nanti malam tiba tiba kang doni datang kerumahmu dan melamarmu..? Ucapan itu sebagian dari do'a loh..!" goda nadira lagi.
"Ih..kamu ini..!" ucap sarah dengan pioi yang mulai merona karena rasa malu.
Dilain tempat.
Eliza begitu semangat mengambil beberapa bahan masakan dan dimasukkan kedalam keranjang belanjaannya. Saat sedang memilih bahan sayur dan buah, eliza menatap dengan mata berbinar kearah tomat.
Eliza mengambil begitu banyak tomat membuat beberapa orang yang melihatnya merasa heran. Begitu juga dengan afnan yang melihat istrinya menjadi maniak tomat, sama seperti dirinya.
Apa mungkin karena kehamilannya, jadi dia sekarang lebih suka sama tomat..? Ucap afnan dalam hatinya.
"Emh kayaknya bikin rujak enak deh..!" gumam eliza yang segera mengambil beberapa timun dan juga bengkuang. Saat hendak berbalik, eliza melihat sebuah nanas yang terlihat begitu segar.
Ia pun berniat untuk mengambil satu buah nanas namun sebuah tangan menghalanginya untuk mengambil nanas tersebut.
"Afnan..? Awas gue mau ambil nanas itu, nanti mau gue bikin rujak. Pasti segar banget. Awas..!" ucap eliza.
"Nggak boleh..! Kamu nggak boleh makan nanas. Itu nggak baik buat." ucap afnan terputus karena itu ingat bahwa ia masih belum bisa memberitahu eliza akan kehamilannya.
"Nggak baik buat apa..? Udah deh awas..!" ucap eliza.
"Kalau aku bilang nggak boleh ya nggak boleh. Bisa nggak sich sekali aja dengerin kata suami.!" ucap afnan kesal.
Eliza yang mendengar bentakan dari afnan merasa malu dan terlebih merasa sedih. Eliza segera bergegas pergi dari sana sambil terus menahan agar ia tidak menangis disana.
Afnan yang menyadari, apa yang barusan ia katakan pada eliza terlalu keras seketika mengusap kasar wajahnya dan segera membawa belanjaannya ke kasir.
"Dia pasti marah banget..! Hah aku harus bagaimana..?" gumam afnan yang kemudian mendapatkan sebuah ide.
Setelah membayar semua belanjaannya, afnan berjalan menuju eliza yang duduk diatas motornya dengan wajah sedihnya.
"Aku minta maaf..!" ucap afnan sambil menyodorkan sebuah es crem coklat kedepan eliza.
Dengan cepat eliza mengambil es crem dari tangan afnan dan mulai memakannya.
"Kau memaafkanku..?" tanya afnan.
"Sekali ini aja..!" ucap eliza ketus sambil terus memakan es cremnya.
Afnan tersenyum melihat tingkah lucu eliza saat marah padanya. Sedangkan eliza tidak memperdulikan afnan dan terus memakan es crem nya hingga habis.
__ADS_1