
Eliza keluar dari ruangan dimana afnan dirawat dengan wajah memerah menahan malu dan kesal setelah ia berhasil di kerjai oleh afnan.
Setelah menenangkan dirinya, eliza segera memanggil dokter yang menangani afnan untuk segera memeriksa afnan kembali karena seperti yang kita tahu afnan baru sadar.
Dan tidak lama setelah dokter masuk kedalam ruangan afnan terlihat tiga orang yang berjalan menuju eliza yang sedang duduk didepan ruang afnan dirawat.
"Nak." panggilnya yang tak lain ibunda afnan.
"Umi, abi, rizky." ucap eliza menyadari kehadiran mereka, ya eliza tadi mengabari tentang kesadaran afnan sebelum ia memanggil dokter.
"Gimana dengan keadaan afnan sekarang.?" tanya umi penasaran.
"Dokter sedang memeriksanya umi, kita tunggu aja dulu." jelas eliza.
Beberapa menit kemudian, keluarlah dokter dari ruangan afnan.
"Gimana keadaan anak saya dok... ?" tanya umi cepat.
"Alhamdulillah, sekarang keadaannya jauh lebih baik dan setelah saya tuliskan resep obat kalian bisa membawanya pulang. Oh ya salah satu dari kalian ikut saya buat mengambil resep dan menebus obatnya." ucap dokter.
"Biar saya saja dok." ucap rizky.
Setelah dokter itu pergi bersama rizky. Eliza, umi, dan abi pun segera masuk kedalam ruang afnan.
"Nak..." panggil umi dengan air mata yang mulai membasahi pipinya, saat melihat putra satu satunya kini terbaring diatas ranjang rumah sakit.
"Umi, abi maafin afnan ya karena buat umi sama abi jadi khawatir." ucap afnan meminta maaf.
"Kamu ini ngomong apa sih. Umi sama abi itu khawatir karena kami sayang sama kamu kami nggak mau kamu kenapa napa. Jadi jangan salahin diri kamu sendiri. " jelas umi sambil mengusap rambut putra tunggalnya itu.
"Oh ya, hari ini kamu sudah boleh pulang, nanti kamu mau pulang ke pesantren apa kerumahmu sendiri... ?" tanya abi.
"Em kita pulang ke pesantren saja ya nak, kan disana banyak orang jadi banyak juga yang jagain kamu. Umi takut kalau kamu pulang ke rumah nanti mereka datang lagi buat nyakitin kamu." ucap umi yang membujuk agar afnan mau tinggal dipesantren.
"Ya bener yang dibilang umi, lagian kalau kita dirumah kan cuma ada lo sama gue tetanggapun juga jauh lagian lo juga aneh sih beli tanah kok lebar banget kan jadinya buat ketetangga juga jauh." ucap eliza.
__ADS_1
Dan gue nggak perlu susah susah rawat lo, lagipula kalau gue keluar sama temen temen kan gue nggak usah khawatir. Eeeh ngapain juga gue khawatir sama dia. Ucap eliza dalam hati.
"Maaf umi, abi bukannya afnan nolak atau afnan nggak mau tinggal dipesantren cuma afnan pengennya dirawat sama eliza. Kalau dipesantren entar nggak enak dilihat para santri, kalau dirumah kan nggak papa hhh... " ucap afnan membuat eliza melotot menatap afnan dengan kesal, karena rencananya akan gagal.
Aku tau pasti kamu sedang merencanakan sesuatu, kamu memang nggak bisa diam. Tapi dengan aku dirumah aku akan leluasa mengawasimu jadi kamu nggak akan bisa kabur ataupun berbuat onar lagi. ucap afnan dalam hati seakan tau apa yang ada di kepala eliza yang memang penuh dengan ide ide kenakalannya.
"Em ya sudah kalau itu yang kamu mau." ucap umi yang sedikit merasa kecewa.
"Umi nggak papakan... ?" tanya afnan memastikan.
"Iya umi ngerti kok kan kalian baru beberapa hari menikah jadi kalian pasti butuh waktu untuk berdua." ucap umi sambil menggoda.
"Assalamualaikum.." ucap seseorang masuk kedalam ruangan.
"Wa'allaikum salam eh nak rizky, apa kamu sudah menebus obatnya.. ?" ucap umi setelah melihat kedatangan rizky.
"Sudah umi." jawabnya sambil menyerahkan bungkusan yang berisi obat afnan.
"Kalau begitu kita bisa pulang sekarang." ucap abi yang kemudian mengambil tas dan baju afnan yang kotor saat baru masuk ke rumah sakit.
Belum sempat membantah umi dan abi sudah lebih dulu keluar meninggalkan eliza yang tidak terima dengan keputusan yang dibuat umi.
"Ayo.." ucap afnan.
"Ayo apa, lo pikir gue mau bantuin kamu ganti baju. Dan juga kamukan udah sebesar ini apa nggak malu dibantu ganti baju." ucap eloza kesal.
"Kenapa harus malu, kan yang bantuin ganti baju istri saya sendiri." ucap afnan.
"Siapa juga yang mau jadi istri lo." ucap eliza.
"Jadi kamu nggak mau bantuin saya..?" tanya afnan.
"Nggak. " jawab eliza.
"Kalau saya panggil umi gimana reaksinya ya kalau tau menantunya begitu durhaka sama suaminya padahal cuma disuruh bantuin ganti baju aja." ucap afnan.
__ADS_1
"Lo bener bener nyebelin tau nggak. Ayo buruan." ucap eliza yang dengan terpaksa membantu afnan mengganti baju karena baginya umi adalah sosok ibu yang selama ini ia rindukan jadi dia tidak akan membuat kesan buruk dihadapan umi yang nantinya akan kecewa terhadapnya.
Dan tanpa disadari afnan tersenyum karena perlahan lahan ia mulai bisa mengendalikan istrinya yang begitu barbar.
Setelah membantu afnan masuk kedalam kamar mandi, eliza menunggu afnan diluar sambil jaga jaga kalau afnan membutuhkan bantuannya lagi.
Beberapa menit kemudian afnan pun keluar dari kamar mandi, dan eliza segera menghampiri afnan dan membantu afnan berjalan.
Setelah memasuki mobil merekapun segera melajukan mobil mereka menuju kerumah afnan sesuai dengan permintaan afnan kalau ia ingin tinggal dirumahnya sendiri.
Kruuuk kruk.....
Eliza mencoba menahan rasa malunya saat perutnya berbunyi begitu keras dan pastinya dapat didengar semua orang dimobil.
"Oh iya umi sampai lupa, kamu pasti belum makan dari tadi kan. Em nak rizky tolong ke resto dulu ya. Kita sarapan dulu." ucap umi.
Sesampainya diresto merekapun segera mencari tempat yang kosong untuk mereka duduki dan setelah mendapatkannya mereka segera memesan makanan.
Tanpa mereka sadari dari seberang dimana mereka duduk terlihat sepasang mata yang sedari tadi menatap tajam kearah mereka terutama kearah afnan.
"Mungkin kali ini lo selamat tapi lain kali aku benar benar akan membuatmu tidak dapat lagi melihat matahari bersinar." ucapnya yang tak lain adalah leon yang sedang menunggu kedatangan teman temannya.
"Eliza.. lo nggak akan pernah lepas dari genggaman gue. Lihat saja gue akan buat lo berlutut dihadapan gue dan memohon untuk jadi istri gue." tambahnya.
Dilain tempat eliza dan keluarganya begitu bahagia apalagi ditambah dengan kepulangan afnan.
Dan tanpa sengaja, eliza melihat kearah leon yang juga sedang menatapnya.
"Em makannya udah kan gimana kalau kita langsung pulang aja. Lagipula afnan pasti juga capek." ucap eliza yang terlihat khawatir jikalau leon akan nekat membuat onar disana.
"Ya sudah kita pulang sekarang." ucap umi.
"Em umi sama yang lain tunggu dimobil aja biar eliza yang bayar makanannya." ucap eliza.
Dan merekapun pergi keluar resto menuju ke mobil mereka meninggalkan eliza sendiri yang akan membayar pesanan mereka.
__ADS_1
Saat hendak membayar, ada sebuah tangan yang menahan dan menarik tangannya membuat eliza terkejut.