Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 49


__ADS_3

Afnan kini sedang mengambil wudhu untuk menghilangkan segala amarahnya pada eliza. Sebenarnya ia tidak ingin mengatakan kata kasar itu pada eliza namun karena rasa kesalnya tanpa sadar ia mengatakannya.


"Astagfirullah, kenapa aku bisa semarah ini dengan eliza. Tidak seharusnya aku memarahinya seperti tadi dan bahkan aku membentaknya. Sekarang dia pasti masih menangis. Ini juga tidak baik untuk kandungannya." ucap afnan yang menyesal membuat eliza menangis.


Afnan berjalan menuju kedalam kamarnya dan terkejut melihat eliza yang sudah tertidur dengan posisi duduk.


Dengan perlahan afnan memindahkan posisi eliza dan menyelimutinya. Setelahnya ia mengecup pelan jidat eliza.


"Maaf, telah membuatmu menangis..!" ucapnya lirih.


Afnan kemudian keluar dan bernuat untuk tidur terpisah dengan eliza, karena ia ingin menjernihkan pikirannya agar ia tidak kembali marah pada eliza.


Dilain tempat.


Nadira yang selesai berganti baju, kini berjalan perlahan menuju ketempat tidur dengan rizky yang masih duduk disana sambil membaca buku.


"Mas nggak tidur..?" tanya nadira.


"Nanti kamu tidur aja dulu..! Mas masih belum ngantuk." ucap rizky membuat nadira semakin gugup.


"Tidak perlu gugup, kalau kamu belum siap. Mas nggak akan maksa kok..!" ucap rizky yang malah membuat nadira semakin malu.


"Udah..! Kamu tidur aja dulu.! Mas mau kedapur buat kopi sebentar." ucap rizky yang beranjak dari duduknya berniat pergi.


"Eh..biar saya buatin aja mas. Mas lebih suka kopi pahit apa manis..?" tanya nadira cepat karena ia masih gugup.


"Emh gulanya setengah cendok aja, soalnya mas nggak suka terlalu manis karena mas udah dapet istri yang manisnya kebangetan. Mas takut, entar kena diabetes.!" goda rizky membuat pipi nadira seketika memerah.


Tidak ingin digoda terus menerus oleh rizky, nadira segera pergi ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya.


"Aduh..kenapa jantungku makin kenceng sich..!" ucap nadira sambil terus memegangi dadanya.


Sebaliknya, rizky tertawa puas karena berhasil menggoda istrinya itu. Karena jujur ia sedari tadi ingin mengobrol lebih dekat dengan istrinya itu.


Tidak butuh waktu lama, nadira membawa secangkir kopi kedalam kamarnya dan memberikannya pada rizky.


"Ini mas, kopinya.!" ucap nadira sambil menyerahkan kopi itu pada rizky.


Dan rizky pun menerimanya dan meminumnya lansung secara perlahan.

__ADS_1


"Terima kasih, kopinya enak. Oh ya, ayo duduk sini. Ada yang mau mas kasih ke kamu.!" ucap rizky yang kemudian menaruh kopinya diatas meja kecil.


Rizky kemudian menunjukan sebuah kotak perhiasan pada nadira dan memberikannya pada nadira.


"Bukalah..!" ucap rizky dan nadirapun membuka kotak perhiasan itu.


Dan betapa terkejutnya nadira setelah melihat kedalamnya yang berisikan sebuah kalung liontin cantik disana.


"Itu milik nenek, ibu menyimpannya dan memberikannya pada mas kemarin, katanya biar kamu pakai.!" jelas rizky seolah tahu isi pikiran nadira.


"Bisa tolong bantu pasangkan..?" tanya nadira.


Dan rizky mengangguk kemudian membantu memasangkan liontin itu pada nadira.


"Apa kau suka..?" tanya rizky.


"Suka..! Ini sangat indah..!" jelas nadira.


"Ya baguslah kalau neng suka. Kalau gitu neng tidur dulu, mas mau habisin kopi mas dulu." ucap rizky yang kembali menyeruput kopi buatan nadira.


Melihat nadira yang masih duduk membuat rizky bingung.


"Bu..bukan itu, sebenarnya saya tidak terbiasa tidur dengan memakai hijab. Selama ini saya akan melepaskan hijab saya saat akan tidur dan memakainya lagi setelah saya bangun..!" ucapnya pelan.


"Ya sudah, neng buka aja. Lagipula kita sudah muhrim jadi tidak masalahkan saya melihat rambutmu..?" ucap rizky.


"Emh..i..iya..!" ucap nadira yang kemudian segera membuka hijabnya dan juga ikat rambutnya.


Terlihat rambut yang menjuntai sebahu milik nadira yang membuatnya terlihat sangat imut, dalam sekejap rizky terpana dengan kecantikan nadira yang begitu murni tanpa ada hiasan apapun yang menghalanginya.


"Khem..sekarang sudah bisa tidurkan..?" tanya rizky yang cepat cepat menyadarkan dirinya sendiri.


Nadira menganggukkan kepalanya dan kemudian menidurkan rubuhnya meninggalkan rizky dengan segala pikirannya.


"Huf..sabar sabar..riz. Kamu nggak bisa sentuh tanpa persetujuan dari nadira. Hah...sebaiknya aku mengambil air wudhu untuk menenangkan pikiranku ini.!" ucap rizky yang kemudian pergi untuk mengambil wudhu.


Waktupun berlalu, keheningan malam kini berganti dengan sinar mentari yang menghangatkan.


Eliza yang terbangun setelah terganggu dengan sinar matahari yang mulai mengintip dibalik jendela kamarnya. Eliza menatap kesampinya dan melihat afnan yang tidak ada disampinya membuat eliza benar benar tersadar.

__ADS_1


Eliza segera keluar dari kamar dan berjalan menuju kedapur untuk segera menyiapkan makanan untuk afnan. Saat melewati ruang tamu, eliza melihat afnan yang masih tertidur di kursi panjang disana.


"Jadi semalam dia tidur disini..?" gumam eliza yang sedih melihat afnan masih begitu marah hingga tidak tidur dengannya.


"Hah..gue harus lakukan sesuatu agar afnan nggak marah lagi..!" ucap eliza yang bergegas memasak makanan kesukaan afnan.


Sedangkan afnan mulai membuka matanya saat ia mendengar suara berisik dari dapur. Afnan segera mengeceknya, dan disana ia melihat eliza yang sedang sibuk memasak.


"Biar kubantu..!" ucap afnan.


"Hah..?" ucap eliza yang kaget dengan keberadaan afnan dibelakangnya.


Afnan tidak mengulangi ucapannya dan segera mengambil alih sayur ditangan eliza dan mulai memotongnya. Eliza yang masih terkejut malah hanya diam menyaksikan afnan memasak.


"Af..! Gue minta maaf, gue tahu gue salah. Tapi gue janji nggak akan ulanginya lagi, jadi jangan marah lagi ya..!" ucap eliza memelas.


"Hmm..dulu kamu juga bilang kalau nggak akan ikut balapan lagi tapi apa..? Kemarin kamu lagi lagi ikut dan bahkan membahayakan diri dan juga kandunganmu..!" ucap afnan yang malah keceplosan.


"Kau tahu kalau gue hamil..?" tanya eliza yang bingung karena afnan mengatakan hal itu.


"Jadi kamu juga sudah tahu kalau kamu sedang hamil..?" tanya afnan.


"Emh iya." jawab eliza.


"Sejak kapan..?"


"Tiga hari yang lalu..!"


"Tiga hari yang lalu dan kamu masih ikut balapan..?" ucap afnan yang merasa tak percaya dengan apa yang ada dipikiran eliza.


"Emh..tapikan..!" ucap eliza yang kembali terpotong oleh afnan.


"Tapi apa..? Bukan hanya membahayakan diri kamu tapi juga membahayakan kandunganmu, kamu sudah tahu hal itu tapi masih saja ikut balapan..? Kalau kamu nggak suka dengan kehamilanmu setidaknya kamu tidak membahayakannya." ucap afnan yang kembali marah dan pergi meninggalkan eliza sendiri.


"Kenapa harus marah lagi sich, hah..!" gumam eliza yang pusing dengan afnan yang selalu marah dengannya.


"Afnan tunggu, gue mau jelasin dulu..!" ucap eliza yang mengejar afnan. Namun ia terlambat karena kini afnan telah pergi dengan membawa motor.


"Gue yang hamil kenapa dia yang tempra mental sich..!" ucap eliza jengkel.

__ADS_1


Akhirnya eliza memutuskan untuk menyelesaikan masakannya dan kemudian makan sambil menonton tv. Karena masih kesal dengan sikap afnan yang marah terus menerus, eliza melampiaskannya pada makanan yang ia makan begitu banyak.


__ADS_2