Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 75


__ADS_3

Seusai melaksanakan sholat maghrib, eliza pergi bersama afnan kesebuah tempat. Dimana afnan dulu sering datangi.


Eliza begitu terpukau dengan pemandangan yang terlihat di hadapannya itu. eliza kini berada di sebuah taman di atas bukit, terlihat lampu lampu rumah dan juga kendaraan yang terlihat seperti bintang yang bersinar begitu terang.


"Waaahh.. cantik banget..! " ucap eliza.


"Iya, cantik.! " jawab afnan sambil menatap wajah eliza.


Eliza yang begitu senang melihat pemandangan di depannya tidak menyadari wajah afnan yang semakin mendekat kearahnya.


"Af..! " ucap eliza terhenti karena terkejut dengan ciuman afnan yang tiba tiba di bibirnya.


Sedangkan afnan, juga sama terkejutnya saat eliza tiba tiba menghadap kearahnya. Afnan yang gugup segera mundur membuat jarak diantara dirinya dan eliza.


"Maaf..! " ucap afnan yang masih gugup.


"Maaf buat apa...?" tanya eliza bingung.


"Tadi aku nggak bermaksud buat cium kamu, tolong jangan marah...! " ucap afnan lagi.


"Ha..? Buat apa marah..? Gue kan istri lo sendiri..! " ucap eliza dengan ekspresi bingungnya.


"Oh, iya ya...! Aku lupa Hhhhh...! " ucap afnan dengan tawanya.


"Lo lupa kalau gue istri lo..? " tanya eliza dengan tampang cemberut nya.


"Bukannya gitu, tadi aku saking nggak fokusnya karena lihatin kamu trus. Malah sampai lupa kalau kamu sudah jadi istriku. Jadi nggak papa kalau aku cium sebanyak apapun.! " ucap afnan membuat eliza memalingkan wajahnya malu.


Afnan yang melihat eliza merasa malu, malah semakin menjadi jadi. Ia terus menggoda istrinya itu.


Dilain tempat.


Klara merasa kesal melihat film yang kini sedang ia tonton bersama claudia. Karena film itu mengingatkannya pada kegagalannya untuk mendapatkan afnan.


Bruaakk..


Klara membanting remote tv itu hingga terpental jauh. Sedangkan claudia merasa bingung dengan sepupunya itu yang tiba tiba mengamuk.


"Lo kenapa sich..? " tanya claudia.


"Gue nggak sabar buat lihat eliza hancur..! " jawab Klara dengan raut amarah dimatanya.


"Lo sabar aja dulu, kita tunggu waktu yang tepat.! " ucap claudia.


"Sabar sampai kapan clau..? Gue udah muak lihat eliza begitu bahagia dengan mas afnan. Gue pengen lihat eliza hancur..! " ucap Klara.

__ADS_1


"Lo tenang aja, gue akan bantu lo buat hancurin eliza bahkan dimata suaminya itu.! " ucap claudia membuat Klara beralih menatapnya.


"Maksud lo..? "


Claudia mulai membisikkan segala rencananya pada klara. Sedangkan Klara yang mendengar rencana claudia merasa senang.


Dilain tempat.


Eliza dan afnan kini telah kembali ke pesantren, setelah puas berkeliling taman dengan suasana romantis dan juga sejuknya malam.


Sesampainya di pesantren, eliza berjalan masuk kedalam rumah. Saat ia masuk, tiba tiba umi memanggilnya.


"Eliza..! " panggil umi.


"Iya umi..? Ada apa..? " tanya eliza.


"Kalian darimana...? Umi dari tadi cariin kamu..! " ucap umi.


"Kita dari taman samping pondok umi, emang ada apa..?" ucap afnan.


"Ya nggak papa, umi cuma mikir kalau kalau kamu ajak Eliza pulang kerumah kalian." ucap umi.


"Hhh.. umi tenang aja, eliza tadi kan udah bilang kalau mau tidur disini..!" ucap eliza.


"Ya sudah, ini udah malam. Kalian udah sholat isya' apa belum..? Kalau sudah kalian segera tidur ya..! " ucap umi.


"Ya sudah, umi tinggal dulu ya..! " ucap umi yang lalu pergi kedalam kamarnya meninggalkan afnan dan eliza berdua.


"Iya umi, selamat tidur..! " ucap eliza.


Dan sejoli itu pun masuk kedalam kamar mereka. Eliza yang melihat kamar yang begitu rapi dan juga harum langsung menoleh kearah afnan.


Sedangkan afnan yang ditatap eliza malah memalingkan wajahnya dan berjalan menuju ke ranjang.


"Duduk sini..! " ucap afnan sambil menepuk sisi ranjang disampingnya.


Eliza pun berjalan pelan menuju ketempat yang diminta afnan. Eliza duduk di samping afnan dengan wajah bingungnya.


Tanpa berbicara, afnan mengambil sebuah kotak di dalam laci meja di sampingnya. Eliza menatap penasaran dengan isi di dalam kotak itu.


"Maaf ya, aku belum bisa beliin kamu kalung yang mahal...! " ucap afnan.


Sedangkan eliza melihat kalung di tangan afnan dengan perasaan senang dan bahagia. Karena ia tidak pernah menyangka jika afnan akan memberikan begitu banyak kejutan untuknya.


"Aku pasangin ya..! " ucap afnan dan eliza hanya mengangguk dan menyikap hijabnya.

__ADS_1


"Kamu suka nggak.? " tanya afnan.


"Suka..! Makasih.! " ucap eliza dengan senyum indah yang menghiasi wajahnya yang cantik.


"Iya, dan buat anak abi..! Kamu sehat sehat terus ya nak, dan semoga kelak jadi anak yang soleh dan solehah." ucap afnan sambil mengusap lembut perut eliza.


"Udah malam, ayo tidur.! " ucap afnan mengajak eliza untuk segera tidur.


Malam berlalu, dengan membawa segala masalah eliza dan juga afnan. Beberapa hari mereka tinggal di pesantren karena keinginan eliza yang tiba tiba sangat lengket dengan umi. Ditambah lagi dengan keberadaan teman temannya yang ada di pesantren.


Genap satu bulan setengah merek tanggal di pesantren dan hari ini mereka akan pergi memeriksakan kehamilan eliza kedokter.


Sesampainya disana, eliza merasa tak sabar untuk melihat jenis kelamin anaknya. Sedangkan afnan tidak terlalu memikirkan hal itu, karena yang terpenting untuknya adalah kesehatan anak dan juga istrinya.


"Alhamdulillah, ibu dan juga anak sehat banget. Coba lihat..! anak kalian aktif banget. " ucap sang dokter membuat eliza dan afnan merasa senang.


"Iya dok, bahkan saat dia lagi nendang bisa sampai kelihatan..! " ucap eliza.


"Iya, sekarang kita lihat jenis kelaminnya ya..! " ucap dokter itu dengan menggerakkan alat USG nya.


"Wah kayaknya dia cowok deh.! " ucap dokter itu.


"Semuanya normal, air ketuban pas. Dan juga ibu dan janin sehat. Jadi akan saya kasih resep vitamin aja ya...! Oh ya, karena kehamilan kamu sudah semakin besar dan sudah memasuki trimester ketiga. Jadi perbanyak gerak, tapi tetap ingat jangan sampai kecapean.!" lanjut dokter itu.


"Iya dok, Terima kasih..! " ucap afnan.


Setelah menebus obat, eliza dan afnan kembali menuju rumah mereka. Setelah sebulan lebih mereka tidak pulang.


Saat melewati rumah klara, eliza melihat sebuah papan bertuliskan rumah dijual. Eliza merasa tenang karena sekarang klara tidak lagi tinggal di dekatnya.


"Af..! " panggil eliza.


Sedangkan afnan yang baru saja memasukkan motornya ke garasi, langsung menoleh kearah eliza.


"Ada apa..? " tanya afnan.


"Tadi gue lihat, di depan pintu gerbang rumah klara ada tulisan rumah dijual. Apa mungkin setelah kejadian yang dulu, dia langsung pindah ya..? " ucap eliza.


"Benarkah..? Mungkin dia merasa tak enak kalau tinggal dan bertemu dengan kita.! " ucap afnan.


"Tapi kenapa dia nggak nemuin kita dulu buat minta maaf ya...? " ucap eliza kesal mengingat kejadian dulu yang hampir membuatnya dan afnan berada dalam masalah besar.


"Sudahlah..! Yang terpenting sekarang, tidak ada lagi yang akan mengganggu kita.! Bukannya kamu senang kalau dia pergi..? " tanya afnan.


"Iya sich..! " jawab eliza dengan senyumnya.

__ADS_1


Mereka pun masuk kedalam rumah untuk beristirahat, sedangkan rumah memang sudah bersih. Karena selama eliza ingin tinggal di pesantren, afnan menyempatkan waktu untuk pulang untuk sekedar menyapu rumah.


__ADS_2