
Afnan masih memperhatikan eliza yang masih menceritakan kehidupan mereka bahkan sampai menceritakan dimana afnan membentak karena klara.
"Jangan bicarakan kesalahanku didepan mama dan papa dong..!" tegur afnan.
"Biarin aja..!" ucap eliza.
"Assalamu'allaikum ma, pa..! Saya afnan, suami dari putri kalian eliza. Saya kesini buat sampain kabar gembira kami pada kalian yang tadi sudah dikatakan eliza pada kalian. Saya juga ingin mengatakan, bahwa saya sangat mencintai putri kalian. Saya berjanji pada kalian saya akan selalu berusaha untuk membahagiakan putri kalian sampai akhir hidup saya sendiri..!" ucap afnan pada kedua makam orang tua eliza.
Eliza yang mendengar perkataan afnan merasa terharu dan begitu bahagia. Ia tidak pernah mengira akan ada orang yang akan begitu menyayanginya seperti afnan.
"Kenapa kamu nangis lagi..?" tanya afnan bingung melihat istrinya meneteskan mata lagi.
"Gue nggak nangis. Gue cuma terharu, lo bisa ngomong gitu sama orang tua gue..!" ucap eliza sambil menyeka air matanya.
"Hhh...ya aku cuma mengutarakan isi hatiku aja..! Sudah yuk, kita ke pesantren. Ini sudah siang, aku harus mengajar para santri.!" ajak afnan.
"Iya, ma pa, eliza sama afnan pamit dulu ya. Tenang aja, nanti eliza sering sering kesini..!" ucap eliza.
Mereka berduapun pergi dari tempat pemakaman menuju ke pesantren. Eliza yang merasa ada yang aneh dengan perutnya pun menggosok perutnya secara perlahan.
"Auuh..!" teriak eliza membuat afnan terkejut dan langsung menghentikan laju motornya.
"Ada apa..?" tanya afnan yang seketika panik.
"Nggak tahu, coba deh kamu pegang.!" ucap eliza sambil memegang tangan afnan untuk mengusap perutnya, dan tak lama swtelah itu terasa sebuah tendangan kuat dalam perut eliza.
"Auhh.. Lo rasain kan..?" tanya eliza pada afnan.
"Hhhh iya, itu tandanya dia sedang bermain bola didalam sana..!" ucap afnan asal.
"Emang lo tahu kalau dia laki laki, gimana kalau dia perempuan dan lagi main silat..!" ucap eluza yang semakin asal membuat afnan tertawa.
"Hhhh..kamu ini, mana ada bayi udah main silat..! Lagian mau dia laki laki ataupun perempuan, aku akan tetap mengharapkan dia untuk cepat hadir dihidup kita. Agar keluarga kita semakin lengkap..!" ucap afnan sambil mengelus perut eliza yang lagi lagi dibalas anaknya dengan tendangan keras.
"Auh..udah udah, jangan dipegang terus. Entar dia nendang nendang keras terus. Kalau nggak dipegang, nendangnya pelan. Tapi sekali lo pegang, dia nendangnya keras banget." ucap eliza yang membuat afnan tertawa.
"Ya udah, kita jalan lagi kalau gitu.! " ucap afnan sambil menjalankan motornya kembali.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai dipesantren. Disana sudah ada rizky yang selesai mengajar santri putra.
"Assalamu'allaikum gus, neng.!" sapa rizky.
"Wa'allaikum salam.! " jawab eliza dan afnan bersamaan.
"Kalian baru sampai..?" tanya rizky.
"Iya, soalnya tadi harus ke dokter dulu buat oeriksa kandungan eliza..!" ucap afnan.
__ADS_1
"Oh ya, nadiranya mana..?" tanya eliza.
"Neng nadira paling masih ngajar santri wati diruang kelas..!" jawab rizky.
"Ya udah, gue kesana dulu ya..! Daa..!!" ucap eliza yang bergegas menemui nadira.
"Pelan pelan el, jangan lari..!" ucap afnan mengingatkan eliza.
Sedangkan eliza tidak memperdulikan perkataan afnan. Saat melewati rumah umi, eliza melihat umi yang sedang berbincang dengan seorang tamu.
"Eliza..!" panggil umi.
"Eh iya mi, assalamu'allaikum..!" ucap eliza.
"Wa'allaikum salam.!" jawab umi dan tamunya itu.
"Kamu baru datang ya, sini duduk dulu disini..!" ucap umi.
"Iya umi.!" eliza pun duduk disebelah umi dan memperhatikan tamu yang ada dihadapannya.
"Nah kenalin, ini adik umi dan juga anaknya. Mereka selama ini tinggal dikota makannya saat pernikahan kamu mereka nggak bisa datang.!" jelas umi.
"Oh..jadi ini istrinya afnan..? Cantik banget..!" ucap wanita paru baya yang masih terlihat begitu cantik.
"Iya, makasih tante.!" ucap eliza dengan senyum manisnya.
"Eliza..!" jawab eliza sambil membalas jabatan tangan pria itu.
Cantik banget nih cewek, sayang dia udah nikah sama kak afnan dan bahkan yang gue lihat perutnya tadi udah besar. Kemungkinan dia udah hamil..! Ucap radit dalam hatinya.
Eliza yang merasa tak nyaman dengan genggaman tangan radit segera menarik paksa tangannya.
"Emh maaf ya nak, radit emang masih sembrono makannya tante pikir mau taruh disini agar bisa lebih terkontrol..!" ucap wanita itu yang meminta maaf atas nama anaknya.
"Iya tan nggak papa, emh umi eliza permisi dulu ya. Eliza mau nemuin nadira dulu. Soalnya eliza ada janji sama nadira.!" ucap eliza.
"Oh iya nggak papa, lagian nanti radit akan diurus sama afnan. Oh ya kamu kok bawa obat sih..? Kamu sakit.? Kenapa nghak bilang sama umi..?" tanya umi bertubi tubi karena eliza lupa yang masih menenteng plastik obat dari apotik tadi.
"Oh nggak kok umi. Tadi eliza periksa kandungan dan dikasih vitamin ini..!" ucap eliza membuat umu bernafas lega.
Tuh kan benar, kalau dia sedang hamil. Hah pupus sudah harapan gue. Ucap radit dalam hati.
"Ya sudah, umi kira kamu sakit..!" ucap umi.
"Umi tenang aja, eliza sehat kok. Ya udah ya mi, eliza pergi dulu. Assalamu'allaikum.!" ucap eliza.
"Wa'allaikum salam.!" jawab mereka bertiga.
__ADS_1
Eliza pun bergegas pergi untuk menemui nadira, saat ia hendak masuk kedalam kelas. Tiba tiba nadira keluar dari dalam kelas sambil memegangi perutnya, dan masuk kedalam kamar mandi.
"Nad, lo kenapa..?" tanya eliza yang ikut masuk kedalam kamar mandi untuk melihat keadaan nadira.
"Nggak tahu, tiba tiba kepalaku pusing dan juga perutku mual..!" jelas nadira.
"Jangan jangan lo..!" ucap eliza.
"Jangan jangan apa el, jangan nakutin gitu dong..!" ucap nadira yang berfikir dia punya penyakit yang parah dan berbahaya.
"Jangan jangan lo hamil...!" ucap eliza yang membuat nadira bernafas lega.
"Apa iya ya..?" ucap nadira yang masih kurang yakin.
"Gini aja lo belu tespack atau lo langsung aja ke dokter biar lebih pasti..! Soalnya gue juga gitu, sering pusing dan mual..!" ucap eliza.
"Ya udah deh, sepulang dari sini aku ke dokter..!" ucap nadira.
"Ya udah, tadi lo ngajar ngajinya udah selesaikan..?" tanya eliza.
"Udah, tinggal belajar ngaji sama kamu aja..!" ucap nadira.
"Udah itu nggak usah lo pikirin dulu, soal ngaji sama gue kita liburin dulu. Biar lo istirahat dulu. Ya udah lo tunggu di ruang kelas aja dulu biar gue ambilin teh hangat, biar tubuh lo hangat..!" ucap eliza.
Dilain tempat.
Afnan yang baru saja bertemu dengan om nya dan baru tahu jika sepupunya akan belajar disana langsung pergi menghampiri sepupunya itu.
"Semoga kamu betah disini ya dit..!" ucap afnan sambil berjalan menuju ke kamar yang akan ditinggali radit.
"Iya itu sih tergantung..!"
"Tergantung apa..?" tanya afnan bingung.
"Tergantung, apa disini banyak gadis cantik apa nggak. Ya setidaknya cantiknya setara sama istri lo..!" ucap radit yang seketika membuat langkah afnan terhenti.
"Maksud kamu apa..?" tanya afnan tajam membuat radit langsung tersenyum.
"Hhhh..gue bercanda kak, gitu aja kok serius banget..!" ucap radit yang merasa takut jika sepupunya itu mengamuk, bisa bisa dia dilenyapkan disana apalagi kakak sepupunya itu terkenal dengan jago bela dirinya tidam seperti dirinya.
"Ya sudah, aku tinggal dulu. Ini kamarmu sekarang, di dalamnya terdapat tiga orang dan ditambah kamu jadi empat orang. Baik baik disini, kalau ada perlu kamu bisa bicara sama aku ataupun sama ustadz di sini..!" terang afnan.
"Iya..!" jawab radit.
Awas aja kalau kamu macam macam sama eliza, dulu mainanku selalu kamu rebut itu nggak masalah untukku. Tapi ini soal eliza, hidup dan matiku. Nggak akan aku biarkan kamu macam macam. Ucap afnan dalam hati dan langsung pergi meninggalkan radit.
"Hah, untung aja dia nggak ngamuk disini. Bisa habis gue diamuk dia. Punya kakak sepupu satu kok gini amat ya. Udah pintar bela diri kejem lagi kalau sama adik..hah..!" ucap radit pelan.
__ADS_1