Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 48


__ADS_3

Dirumah sakin kini keadaan eliza semakin membaik, dan afnan telah kembali setelah menebus obat eliza di apotik. Kini eliza telah bangun dan hanya menunggu sampai infusnya habis baru ia akan bisa pulang.


Kedua manusia ini hanya diam dan duduk ditempat mereka masing masing tanpa ada yang ingin mengawali pembicaraan.


"Afnan..!" ucap seseorang setelah membuka pintu yang tak lain tak bukan adalah tasya dan juga kedua temannya.


"Eliza..? Lo udah sadar..!" ucap mereka bertiga yang segera berlari memeluk eliza dan mengacuhkan afnan yang kemudian keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan lo sekarang. Apa masih ada yang sakit..?" tanya karlin.


"Enggak kok, gue udah baik baik aja. Dan gue cuma nunggu infusnya habis setelah itu gue bisa pulang.!" jelas eliza.


"Hah.. Gue lega sekarang.!" ucap cika.


"Tapi sayang, kita nggak berhasil membuat claudia the geng dipenjara..!" ucap cika kecewa.


"Dipenjara kenapa..?" tanya eliza bingung.


"Jadi, rem mobil gue blong itu emang disengaja oleh mereka, widia telah memotong kabel rem mobil gue saat kita sedang berbicara sama devi. Dan itu yang menyebabkan lo kecelakaan.!" terang tasya.


"Sialan..lihat aja gue akan balas mereka.!" ucap eliza marah.


"Tapi lo sebaiknya nggak usah bermasalah dengan mereka lagi deh el. Gue nggak mau entar lo kenapa kenapa lagi. Lagian gue pikir afnan akan jagain lo lebih ketat lagi deh..!" ucap cika.


"Hmm..gue juga pikir gitu. Dari gue bangun sampai sekarang dia nggak ngajakin gue ngomong sama sekali, gue pikir dia benar benar marah sama gue bahkan sekedar nanya keadaan gue aja enggak..!" ucap eliza cemberut.


"Ya wajar aja el. Kita aja, tadi hampir kena amukan dari suami lo. Untung kita bisa mengalihkan pembicaraan makannya kita semua bisa lolos..!" ucap karlin.


"Permisi..!" ucap seorang perawat yang masuk kedalam ruangan eliza.


"Permisi saya akan melepas infusnya sekarang..!" ucapnya.


"Oh jadi, eliza sudah boleh pulang..?" tanya tasya.


"Iya..!" ucap perawat itu sambil membantu melepaskan infus ditangan eliza.


Setelah selesai, eliza berjalan keluar dengan ketiga temannya dan mendapati afnan yang tidak ada ditempat tunggu didepan ruangannya itu.


"Emh sus. Gue mau nanyak..!" ucap eliza.


"Iya..?"


"Emh..lo lihat pria yang duduk disini nggak tadi..?"

__ADS_1


"Oh, pria yang pakai kemeja biru..?" tanya suster itu memastikan.


"Iya.!"


"Dia sedang membayar biaya atministrasinya didepan.!" jelasnya.


Eliza dan ketiga temannya kemudian berjalan menuju ketempat atministrasi, dan disana mereka melihat afnan yang sudah selesai membayarnya.


"Kau ikut temanmu naik taxi, aku akan mengikutinya dari belakang..!" ucap datar afnan membuat eliza merasa aneh.


Setelah mengatakan hal itu, afnan bergegas pergi ke tempat parkir tanpa membantu eliza berjalan atau hanya sekedar berjalan bersama dengannya.


Dilain tempat.


Kini acara pernikahan nadira dan rizky telah usai, dan rizky berniat untuk membawa nadira pulang kerumah rizky yang kini juga telah menjadi rumah nadira.


"Kalian yakin, tidak ingin tinggal disini hanya untuk semalam..?" tanya ibu nadira.


"Maaf bu, tapi nadira pikir. Akan lebih baik nadira ikut perkataan suami nadira..!" ucap nadira.


"Sudahlah, tidak perlu terlalu memusingkan ucapan ibumu. Lagipula kamu sekarang sudah menjadi tanggung jawab suamimu, jadi apapun yang suamimu katakan asal bukan tentang meninggalkan allah, kamu harus patuhi..!" nasehat abahnya.


"Iya bah, buk. Nadira akan selalu ingat nasehat dan ajaran kalian pada nadira.!"


"Nak rizky..!" ucap abah yang kini berbalik memegang bahu rizky.


"Abah titip putri abah satu satunya ini sama kamu ya. Tolong bimbing dia agar lebih baik lagi..!" ucapnya.


"Iya bah, insya'allah rizky akan memperlakukan neng nadira sebaik mungkin.!" ucap rizky.


Abah dan ibu nadira merasa lega karena putri mereka satu satunya mendapatkan sosok suami yang sholeh. Sehingga mereka tidak akan merasa khawatir pada putri mereka lagi.


Dan setelah berpamitan dengan abah, dan ibunya, nadira masuk kedalam mobil yang sudah disewa rizky untuk mengantar mereka kerumah baru mereka.


Sedikit aneh rasanya, karena kini ia telah menjadi seorang istri dari seorang ustadz yang selama ini membimbingnya dipesantren.


Selama perjalanan nadira hanya diam memperhatikan lampu lampu jalan, tanpa ada percakapan dengan rizky.


Bukannya tak ingin berbicara, namun nadira masih gugup untuk sekedar berbincang dengan rizky. Apalagi selama ini ia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria.


Tak lama kemudian mereka telah sampai didepan sebuah rumah dengan ukuran yang tidak terlalu besar dan juga tidak begitu kecil.


Rizky keluar dari mobil terlebih dahulu, dan mengambil koper dan barang barang nadira dari dalam mobil.

__ADS_1


"Biar saya bantu..!" ucap nadira saat melihat rizky yang sedikit kewalahan membawa barang barangnya.


"Oh iya, ini kuncinya. Kamu bisa tolong buka pintunya.!" ucap rizky sambil memberikan kunci rumahnya pada nadira.


Nadira segera menerimanya dan bergegas membuka pintu rumah untuk rizky. Setelah memasukkan seluruh barang nadira kedalam rumah. Rizky berjalan menghampiri nadira yang masih berdiri melihat kesekeliling rumah mereka.


"Maaf ya neng, rumahnya kecil. Insya'allah nanti kalau ada rezeki, mas usahain buat beli rumah yang layak untuk kamu.!" ucap rizky membuat nadira terkejut.


"Nggak papa kok, disini nyaman. Lagipula saya lebih suka tinggal ditempat yang tenang dan nyaman disini. Oh ya ustadz..!" ucap nadira.


"Ustadz..? Kok kamu masih panggil saya ustadz. Sekarang saya kan sudah jadi suamimu jadi panggil saya mas aja..!" tegur rizky memotong ucapan nadira.


"Emh iya maaf, maksud saya. Kenapa ibu mas nggak ikut kita tinggal disini..?" tanya nadira bingung karena rizky tidak membawa ibunya untuk tinggal dengan mereka padahal ibunya kini hidup sendiri.


"Ibu nolak buat tinggal disini. Katanya disana penuh dengan kenangan almarhum bapak. Dan ibu bilang kalau mas harus membawa istri mas kerumah mas sendiri seperti almarhum bapak.!" jelas rizky yang kemudian teringat akan kenangannya bersama ayahnya.


"Oh ya mas, kamarnya ada dimana..? Saya mau beresin barang barang saya..!" ucap nadira mengalihkan pembicaraan agar rizky tidak terlarut dalam kesedihan lagi.


"Oh ada disana, kamar dirumah ini cuma ada dua dan kamar mandi ada dua yang satu didalam kamar utama sama didekat dapur.!" jelas rizky yang seketika kesedihan dan rindunya akan ayahnya hilang.


Dilain tempat.


Eliza kini tengah duduk diatas tempat tidur seorang diri, karena afnan sibuk membaca al qur'an. Setelah teman teman eliza pamit pulang, afnan masih saja tidak mengajaknya berbicara satu kata pun.


"Afnan..!" panggil eluza namun tidak ada respon dari afnan membuat eliza merasa jengkel.


"Aahh..!" teriak eliza membuat afnan terkejut dan berlari menghampiri eliza.


"Ada apa..?" tanya afnan panik.


"Seharusnya gue yang tanya gitu, lo ada masalah apa sich sama gue. Dari rumah sakit sampai sekarang lo gue ajak ngomong diam aja..! Lo lagi sariawan apa lagi sakit gigi..? Aneh banget sich..!" ucap eliza sambil cemberut.


"Hmm.. Bisa nggak sich, sekali aja kamu nggak usah bohong dan juga dengerin kata suamimu ini..?" ucap afnan marah.


"Kenapa lo marah..? Seharusnya gue dong yang marah. Lo dari tadi diemin gue..!" balas eliza.


"Gimana aku nggak marah, saat kamu masih ikut pergi balapan meskipun aku sudah melarangmu..?" ucap afnan yang terlihat begitu marah.


"Lo nggak bisa dong seenaknya atur hidup gue. Selama ini lo selalu larang gue ini itu bahkan soal makan lo juga larang larang gue. Lo tau kan gue nggak suka diatur atur..!" teriak eliza dengan air mata yang mulai mengalir.


Ia tak pernah mengira, kemarahan afnan akan sebesar ini hanya karna ia ikut balapan itu. Meskipun ia sadar jika dirinya salah karena telah membahayakan dirinya namun ia tidak suka saat ada orang yang memarahinya atau membentaknya.


"Nggak suka diatur..? Kamu itu istriku sudah kewajiban kamu untuk mematuhi perintahku. Jika kamu nggak peduli sama hidup dan nyawa kamu. Setidaknya kamu memikirkan orang lain. Jangan terus berfikir seperti anak kecil yang selalu ingin dimengerti dan dimanja tanpa mau diatur dan memikirkan orang lain.!" ucap afnan yang kemudian keluar dari kamar, meninggalkan eliza yang kini menangis.

__ADS_1


"Hiks..bagaimana bisa dia mengatakan hal itu tentangku..hiks..hiks..!" eliza terus menangis setelah mendengar perkataan afnan yang mengatakan bahwa sikapnya seperti anak kecil.


Eliza terus menangis sampai ia lelah dan mulai tertidur dengan mata sembapnya dan dengan posisi duduk.


__ADS_2