
Pagipun tiba.
Afnan terbangun dari tidurnya namun ia tidak bisa menggerakkan tubungnya karena eliza memeluknya begitu erat. Melihat eliza yang mulai membuka mata, afnan segera memejamkan matanya pura pura masih tertidur.
Eliza yang melihat dirinya memeluk afnan dan guling yang ada dibawah kakinya, sontak kaget dan langsung ia beranjak dari tempat tidur.
"Semoga aja afnan nggak sadar kalau gue peluk semalaman" gumam eliza yang masih dapat di dengar afnan.
Saat memastikan eliza keluar dari kamarnya, afnan pun bangun dari tidurnya dan bergegas masuk kedalam kamar mandi.
Dilain tempat.
Claudia begitu bahagia karena hari yang ia tunggu tunggu akhirnya tiba, hari ini leon akan sah menjadi suaminya.
Claudia kemudian menatap kembali ke cermit melihat pantulan dirinya dengan busana pengantin, gaun putih yang menjuntai membuatnya seperti seorang bidadari.
"Claudia.. !!" panggil tasya.
"Ngapangin lo disini.. ?" tanya claudia.
Sangat terlihat, claudia tidak menyukai dan tidak setuju jika kakaknya itu berpacaran dengan tasya.
"Gue kesini buat jemput lo. Penghulunya dah dateng tuh, kalau nggak mau ya udah. Entar gue bantu bilangin kalau lo masih belum siap. Ok gue pergi dulu kalau gitu. !" ucap tasya membuat claudia kesal dan akhirnya ia berjalan dibelakang tasya.
Sesampainya dipelaminan, claudia menatap kesekeliling terlihat teman temannya dan juga teman kakaknya dan beberapa kerabat dekat mereka.
"Sayang ayo duduk. " ucap ibu claudia yang baru semalam datang bersama ayahnya.
"Iya mi. Emh mami, claudia grogi. " ucap claudia.
"Kamu tenang aja. Semua pasti akan berjalan dengan baik." ucap mami claudia.
Beberapa menit telah berlalu namun leon dan juga keluarganya belum datang, claudia terus menatap kepintu masuk dan berharap leon segera datang.
"Kenapa leon sampai sekarang masih belum datang juga.. ? Sebaiknya lo coba telfon deh dav. !" usul tasya.
David segera mencoba menelfon leon, namun leon masih tidak mengangkat telfonnya. David begitu khawatir jikalau leon tidak datang.
David keluar dari ruangan dan hendak pergi mencari leon. Baru ia akan menaiki motornya, ia melihat leon yang baru saja datang dengan mobil yang berisi orang tua leon dan diikuti teman teman leon.
David merasa lega setelah melihat kedatangan leon. Ia segera menyambut kedatangan leon. Setelah memasuki ruangan, leon segera duduk di depan penghulu dan mengucapkan ijab.
Setelah acara selesai, dan semua tamu telah pergi leon bersiap untuk pulang. Namun david menghentikannya.
"Leon, gue ada permintaan lagi buat lo.. !" ucap david.
"Apa lagi. Gue udah setuju buat nikahin adik lo ini. Apa lagi yang lo mau... ??" tanya leon.
"Lo sama claudia tinggal disini. Lagipula mami sama papi gue nggak tinggal disini jadi lo bisa bebas tinggal disini.!" ucap david.
"Nggak, gue nggak mau. Kalau claudia masih mau sama gue dia harus ikut gue. Kalau dia masih mau tinggal disini ya udah. Gue nggak akan peduli..!" ucap leon yang terlihat nggak peduli.
"Gue mau ikut leon kak. Udahlah kan lo juga ada niatan buat nikah sama tuh pacar lo kan jadi lo tinggal aja sama dia, Lagipula gue nggak mau satu rumah sama tu orang.!!" ucap claudia yang masih tidak mau mendengarkan kakaknya.
David yang sudah tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan adiknya agar mau tinggal disana.
Claudia dan leon pun memutuskan pergi kerumah leon dan dengan diikuti david dan tasya dari belakang.
"Dav... Gue nggak yakin kalau leon akan melupakan eliza dengan mudah." ucap tasya membuat david kembali berfikir.
"Ya gue udah pikirin itu. Tapi claudia masih tidak mau dengerin gue. Gue bakal tetap awasi semua yang leon lakukan. Jika dia berani sakitin claudia, gue akan buat perhitungan sama dia." ucap david.
Sesampainya dirumah leon, claudia merasa begitu senang. Akhirnya impiannya terwujudkan untuk menjadi nyonya leon dan kini ia tinggal dirumah leon yang begitu besar dan megah.
David memasukkan semua keperluan claudia yang ada dikoper kedalam rumah leon. Sedangkan tasya mengikutinya dari belakang.
"Duduk dulu dav.. !" ucap leon mempersilahkan sahabat sekaligus kakak iparnya untuk duduk.
"Iya.. " jawab david yang duduk dan tasya ikut duduk disampingnya.
"Mbok.. !!" teriak leon memanhgil pembantu dirumahnya.
"Iya den.. ?" ucap wanita tua itu yang memang sudah lama bekerja disana sejak leon tinggal terpisah dari orang tuanya.
"Tolong ambilkan minuman dan juga beberapa makanan.!" perintahnya.
"Baik den. " wanita tua itu segera pergi untuk mengambilkan minuman dan makanan untuk mereka semua.
__ADS_1
"Sory dav, gue gak bisa turutin kemauan lo buat tinggal disana. Tapi gue bisa pastiin buat jagain claudia disini jadi lo nggak usah khawatir. Dan kalau lo pengen ketemu claudia, lo tinggal datang kesini.!" ucqp leon membuat david berfikir bahwa leon mungkin saja bisa berubah.
"Ya, gue nggak akan paksa lo buat pindah. Tapi gue minta sama lo buat bisa cintai adik gue dan nggak pernah sakitin hatinya." pinta david.
"Lo tenang aja, gue bakal jagain adik lo sebaik mungkin.! Bukankan kita adalah teman. Jadi lo nggak usah ragu sama gue." ucap leon meyakinkan david.
Berselang beberapa menit, pembantu leon datang dengan nampan yang ada ditangannya yang dipenuhi dengan minuman dan juga kue.
Mereka pun menikmati makanan yang telah disediakan leon. Ya dari pernikahan claudia dengan leon memang tidak diadakan pesta. Karena leon menolak adanya pesta.
Dan claudia yang memang sudah dibutakan cinta begitu menuruti semua permintaan leon meski ia sangat menginginkan pesta itu.
Dilain tempat.
Nadira sedang melaksanakan sholat tahajud untuk meminta agar dimudahkan segala urusan yang sedang ia jalankan.
Sejak pelepasannya kemarin, ia merasa sedikit bosan dirumah karena tidak memiliki kegiatan.
Seusai melaksanakan sholat, nadira berjalan menuju keruang keluarga dengan membawa buku ditangannya.
Saat sedang membaca ia dikagetkan dengan kedatangan ibunya. Dan ia segera bergeser dan mempersilahkan ibunya untuk duduk.
"Kenapa kamu duduk disini nak.. ? emangnya kamu nggak tidur.. ? ini kan sudah malam.. ? apa ada yang sedang kamu pikirkan.. ? Mau cerita sama ibu.. ?" ucap ibunya.
"Nggak kok bu, dira cuma lagi nggak bisa tidur aja. Bu, apa menurut ibu, dira akan bahagia setelah menikah nanti.. ?" ucap nadira yang membuat ibunya sadar bahwa anaknya sedang memikirkan pernikahannya.
"Nak... ustads rizky adalah anak yang baik, meskipun bukan dari keluarga berada dan bahkan sudah tidak memiliki seorang ayah akan tetapi kebaikannya bisa disandingkan dengan gus afnan." jelas ibunya.
"Bukan soal derajat atau kedudukan bu. Bahkan jika memandang itu, nadira merasa begitu kecil dibandingkan dengan ustads rizky. Tapi dira berfikir kalau diralah yang tidak pantas untuk ustads rizky bu." ucap nadira yang merasa dirinya tak sebanding dengan ustads rizky.
"Nak, apa yang kamu pikirkan.. ? ustads rizky adalah pria yang baik dan juga bijaksana jadi dia akan menerimamu apa adanya. Yang terpenting, kamu harus berusaha menjadi istri yang baik untuknya, jangan pernah membantah perkataanya dan jangan pernah membuatnya marah. Seperti yang pastinya kamu sudah ketahui, kalau surga istri terletak pada ridho suami. " nasehat ibu.
"Iya ibu benar. Makasih ya bu, sekarang dira jadi lebih tenang. Setelah dira nanti sah jadi seorang istri dira ingin seperti ibu." ucap nadira yang kemudian memeluk ibunya.
Dilain tempat.
Setelah kepulangan kakaknya, claudia bersiap untuk pergi tidur. Ia berjalan mengikuti leon yang berjalan didepannya.
"Kamar kita yang mana.. ?" tanyanya pada leon.
"Heh.. kamar kita.. ? Siapa yang bilang kalau kita bakal tidur disatu kamar.. ?" ucap leon dingin.
"Emangnya siapa yang mau nikah sama lo. Bukankah lo yang selama ini godain gue dan gue tau lo emang udah rencanain semua ini kan.. ?" ucap leon tajam.
Claudia yang mendengar hal itupun terkejut karena tadi saat kakaknya masih disana, leon bersikap baik padanya namun kini leon bersikap dingin dan acuh tak acuh padanya.
"Mbook.. !!" teriak leon.
"Iya den.. ?"
"Antar dia kekamar tamu. Dan pastikan dia nggak berisik dan ganggu tidur gue.!" perintah leon yang kemudian masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan claudia sedikitpun.
"Mari non. Mbok anter ke kamar non.. !" ucap mbok yang mengambil alih koper claudia.
Sedangkan claudia meneteskan air matanya karena begitu marahnya pada leon yang memperlakukannya seperti tak ada disana.
"Ini non kamarnya, tadi pagi udah mbok bersihkan dan juga mbok siapin meja rias. Apa bajunya sekalian mbok beresin dilemari... ?" tanya mbok.
"Nggak usah mbok, biar gue beresin sendiri. Mbok bosa pergi sekarang." ucap claudia yang kemudian mbok ijin pergi dan tinggal claudia seorang diri.
Claudia melihat sekitar kamarnya. Kamar itu memang luas tapi ia masih tidak terima dengan penolakan leon padanya.
Dan memang dulu ia yang terus menggoda leon dan bahkan dia sendiri yang telah membuang obat yang diberikan leon padanya. sebelum berhubungan dengannya agar ia tidak hamil.
Namun ia tidak pernah mengira jika leon akan bersikap begitu dingin padanya.
"Semua ini pasti karena eliza. Lihat saja gue akan buat leon segera melupakan eliza." ucap claudia yang segera tidur karena hari ini adalah hari yang begitu melelahkan untuknya.
Dilain tempat.
Eliza menatap keseluruh kamarnya dengan raut wajah yang sedikit ketakutan. Entah kenapa beberapa hari belakangan ini ia selalu kesulitan untuk tidur.
Eliza yang begitu kesal karena masih saja tidak dapat tidur berjalan keluar kamar menuju kekamar afnan. Baru saja ia akan membukanya, tiba tiba pintu itu terbuka lebih dulu.
Afnan terkejut melihat eliza yang berdiri didepan pintu kamarnya.
"Kamu ngapain disini.. ? Kamu nggak tidur.. ?" tanya afnan.
__ADS_1
"Emh gue nggak bisa tidur.. !" jawab eliza lesu.
"Emang lo mau kemana.. ?" lanjut eliza.
"Aku mau sholat tahajud dulu. Kamu tunggu aku didalam aku akan mengambil wudhu dulu. !" ucap afnan yang kemudian pergi.
Setelah mengambil wudhu, afnan segera sholat tahajud didalam kamar, sedangkan eliza sibuk memperhatikan afnan dari atas tempat tidur.
Eliza yang masih menunggu afnan selesai sholat mulai menjelajah keseluruh kamar afnan dan pandangannya tertuju ke meja afnan.
Ia melihat buku yang selama ini sering dibaca afnan, ia yang merasa penasaran mulai membukanya dan membacanya.
Saat seru membaca tiba tiba afnan menghampiri eliza.
"Itu novel tentang kehidupan. Ceritanya bagus, kalau kamu suka, kamu bisa membacanya.. !" ucap leon yang bisa menebak fikiran eliza.
"Beneran boleh.. ?" tanya eliza.
Dan dijawab afnan dengan anggukan.
"Sudah, lanjutin baca besok aja, sekarang udah malam. Lebih baik tidur. " ucap afnan yang berjalan menuju tempat tidur.
"Emh.. af. Gue boleh tidur disini lagi nggak.. ?" tanya eliza pelan.
"Tentu saja, kita suami istri jadi sudah semestinya tidur satu kamar. Lagipula kamu sendiri kan yang minta tidur dikamar lain." ucap afnan.
Sedangkan eliza terlihat sedikit kesal karena afnan mengingatkan eliza pada perkataannya.
"Kalau kamu nggak bisa tidur kalau sendirian. Mulai besok, pindah semua barangmu kesini.!" ucap afnan.
"Tapi ini bukan rencana lo buat macem macem sama gue kan.. ?" tanya eliza was was.
"Kalau nggak mau ya udah."
"Iya iya, besok gue pindah barang barang gue kesini." ucap eliza yang mulai memejamkan mata.
"Tapi, jikalau aku macam macam pun tidak akan dosa." goda afnan membuat eliza membuka matanya kembali.
"Afnan... !!!" teriak eliza yang kemudian menutup tubuhnya dengan selimut.
Afnan yang melihat reaksi eliza sontak tertawa. Sedangkan eliza menatap bingung kearah afnan.
"Kenapa lo ketawa.. ?" tanya eliza.
"Lucu aja lihat reaksimu, tadi aku kan cuma bercanda hhhhh.. !!" jelas afnan.
"Afnan... !!" teriak eliza yang segera mencubiti perut afnan dan mereka pun tertawa bersama. Tak sengaja pandangan mereka saling bertemu satu sama lain dan afnan menatap wajah eliza yang begitu cantik tanpa ada make up yang menempel diwajahnya.
"Emh gu.. gue tidur dulu." ucap eliza yang tersadar, dan ia mulai beranjak dari atas tubuh afnan.
"Aku juga akan tidur." sambung afnan.
Eliza segera beralih membelakangi afnan dengan senyuman salah tingkah dari eliza.
Entah kenapa kalau gue lagi deket sama afnan gini, jantung gue selalu berdetak kencang..? tanya eliza dalam hati.
Akhirnya eliza mulai terbuka, aku akan berusaha agar eliza bisa menerimaku seutuhnya menjadi suaminya. ucap afnan dalam hati.
Merekam memejamkan meteka dan tertidur dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan.
Pagi pun tiba.
Afnan terbangun lebih dulu dari eliza. Ia beranjak dari tempat tidur secara perlah karena tidak ingin mengganggu tidur eliza yang begitu nyenyak.
"Mama... papa... " gumam eliza membuat afnan berhenti bergerak dan beralih menatap eliza yang masih tertidur dengan raut wajah sedih.
"ma... hiks.. " gumamnya lagi.
Afnan yang melihat air mata mengalir dari mata eliza segera mengusapnya dan mengusap kening eliza juga. Melihat raut wajah eliza yang berubah lebih baik, afnanpun mengecup lembut kening eliza.
Setelah afnan melihat eliza yang tertidur dengan tenang lagi, ia beranjak untuk melaksanakan sholat subuh.
Setelah selesai sholat, afnan pergi kedapur untuk menyiapkan sarapan untuk eliza, ia tidak ingin istrinya itu sampai telat makan karena hal itu tidaklah baik untuk ibu hamil.
Setelah menyelesaikan masakannya afnan menatap puas kearah masakannya.
Dilain sisi,
__ADS_1
Eliza berjalan pelan keluar kamar disana ia melihat afnan yang sedang menyiapkan semua makanan diatas meja membuatnya sedikit bingung dwngan sikap afnan yang terbilang begitu perhatian padanya untuk beberapa hari terakhir ini sejak ia pulang dari rumah sakit.
Dari ia yang tidak diperbolehkan untuk bersih bersih, kecapekan dan juga melakukan hal yang melelahkan. Hal itu membuat eliza berfikir perubahan sikap suaminya benar benar mengejutkan.