
Beberapa waktu kemudian, Eliza dan teman temannya sampai di pesantren.
"Kalian pergi saja sebelum ada yang lihat kalian disini." ucap Eliza, dan merekapun segera melajukan mobil mereka meninggalkan Eliza didepan gerbang pesantren.
Eliza pun segera masuk kedalam pesantren namun bukan melalui dinding seperti saat ia pergi melainkan melalui pintu gerbang pesantren yang tidak tertutup.
"Tumben gerbangnya terbuka. Apa acaranya udah selesai ya, kalau iya gawat dong." ucap Eliza masuk kedalam pesantren dengan mengendap endap.
Betapa kagetnya Eliza saat sudah berada di dalam pesantren dan melihat pesantren yang begitu berantakan.
"Apa yang terjadi..,?." tanya Eliza pada salah satu santriwati yang sedang membersihkan pesantren.
"Tidak usah pura pura tidak tau deh. Kamu kan yang menyuruh pacar kamu buat memukuli Gus Afnan dan menghancurkan pesantren kan..?." ucap santriwati itu.
"Maksud Lo..?, gue nggak ngerti, pacar..? maksud kalian Leon..?." tanya Eliza tidak mengerti.
"Iya dan mereka menghancurkan kaca masjid hingga mengenai lengan Gus Afnan dan bahkan mereka memukuli Gus Afnan hingga Gus Afnan tak sadarkan diri." jelas mereka.
"Lalu dimana dia sekarang." tanya Eliza.
"Gus Afnan dibawa ke rumah sakit." jelas Nadira.
Eliza pun segera berlari mencari mobil taxi di jalan raya, namun Eliza hanya menemukan beberapa tukang ojek yang sedang bermain catur.
"Pak anterin gue kerumah sakit sekarang. cepetan." ucap Eliza segera menyambar helm yang ada di atas motor.
"Ke rumah sakit mana neng..?." tanya tukang ojek tersebut.
Eliza menepuk jidatnya sendiri karena ia lupa bertanya di rumah sakit mana Afnan dirawat.
"Rumah sakit terdekat aja dulu." ucap Eliza.
Bapak itupun segera melajukan motornya menuju rumah sakit terdekat. Namun Eliza yang sedang terburu buru merasa begitu lambat hingga ia pun memerintahkan bapak itu untuk berhenti.
"Berhenti berhenti..!." ucap Eliza.
"Ada apa neng..?." tanya bapak itu.
"Bapak turun.!." perintah Eliza kembali, bapak itupun menuruti perintah Eliza.
Dan Eliza pun segera mengambil alih kemudi motor itu. Dan ia melajukan motor itu di atas rata rata.
"Pelanlah sedikit neng. Motor saya belum lunas." ucap tukang ojek yang duduk dibelakang Eliza dengan berpegangan pada pegangan yang ada dibelakang dengan raut wajah yang pucat ketakutan.
"Udah diem aja ntar gue tambahin uangnya." ucap Eliza yang membuat tukang ojek itu terdiam.
Tak butuh waktu lama merekapun sampai di rumah sakit. Eliza pun meminta tukang ojek itu untuk menunggunya terlebih dahulu.
Dan Eliza berlari menuju ke meja resepsionis.
__ADS_1
"Ada pasien yang bernama afnan" tanya Eliza pada suster di hadapannya.
"Tunggu sebentar akan saya cek terlebih dahulu." ucap suster itu sambil membuka buku daftar pasien.
"Oh pak Afnan berada diruang UGD." ucap suster itu.
Kemudian Eliza berjalan keluar menghampiri tukang ojek tadi dan memberikan uang seratus ribu.
"Ambil kembaliannya." ucap Eliza yang membuat tukang ojek merasa senang.
Setelah tukang ojek itu pergi, Eliza segera menuju ruang UGD, tempat dimana Afnan berada. Setelah berada didepan ruang UGD, Eliza melihat kedua mertuanya sedang gelisah dan bahkan ibu mertuanya sampai menangis menanti kabar Afnan.
"Nak..kau baik baik saja kan..? kau tidak terlukakan..?." tanya ibu Afnan khawatir saat melihat kehadiran Eliza disana.
Sedangkan Eliza hanya menganggukkan kepalanya dengan perasaan bersalah. Ya memang Eliza tumbuh dengan sikap yang cukup buruk, namun terkadang ia merindukan sosok ibu dalam kehidupannya, dan ibu mertuanya kinilah yang dapat menyembuhkan rasa rindunya. Hingga ia tidak tega melihat ibu mertuanya menangis.
"Apa dokter yang menangani Afnan sudah keluar mi..?." tanya Eliza.
"Belum...kamu tenang aja Afnan pasti baik baik saja. Lebih baik kamu duduk dulu, apa kau sudah makan..?." tanya ibu mertuanya mencoba menenangkan Eliza padahal dirinya sendiri juga merasa khawatir pada keadaan putranya itu.
"Em.. Umi Eliza pamit pergi dulu ya, ada hal yang harus Eliza selesaikan dulu." ucap Eliza pamit pergi.
"Emm..kalau gitu biar nak Rizky yang anterin ya, ini sudah malam tidak baik wanita keluar sendirian." ucap umi.
"Tidak perlu umi, Eliza bisa jaga diri sendiri kok." tolak Eliza.
"Nak biar Rizky aja yang anterin ya. lagian jam segini susah buat cari kendaraan." kali ini ayah mertuanya lah yang berkata.
Setelah mendengar persetujuan Eliza, Rizky pun mengajak Eliza untuk ke tempat parkir untuk mengambil mobil yang ia gunakan untuk membawa Afnan kerumah sakit.
Setelah berada di tempat parkir, Rizky segera menghampiri Eliza yang sedang berdiri menunggunya. Saat Eliza hendak duduk di kursi depan, Rizky menghentikannya.
"Em..maaf neng. Bisakah neng Eliza duduk dibelakang. Biar tidak jadi fitnah" ucap Rizky yang membuat Eliza memutar matanya bosan.
"Anterin gue kejalan anggrek. buruan..!." ucap Eliza dan Rizky hanya dapat menuruti semua perintah Eliza.
Beberapa menit kemudian merekapun sampai di alamat yang di inginkan Eliza. Elizapun memerintahkan Rizky untuk menunggunya.
Setelahnya Eliza pergi menuju rumah itu.
"tasy..Tasya...!." panggil Eliza sambil terus membunyikan bel rumah Tasya.
"Siapa sih malam malam ganggu." ucap Tasya marah.
"Ikut gue." ucap Eliza sambil menarik paksa lengan Tasya setelah melihat tubuh Tasya yang hendak keluar rumah.
"El..Eliza ngapain Lo kerumah gue." tanya Tasya kaget dengan kedatangan Eliza dirumahnya.
"Udah nggak usah banyak tanya, ikut gue buruan." ucap Eliza yang menyeret Tasya ke dalam mobil.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam mobil. Eliza kembali memperintahkan Rizky untuk melajukan mobilnya.
setelah menjemput ketiga sahabatnya, Eliza pun meminta Rizky untuk mengantarkan mereka semua menuju ke bar.
sesampainya si sana Rizky terkejut melihat tempat yang ia datangi itu dan terus mengucapkan ampun pada Allah karena telah mendatangi tempat itu.
"Neng sebaiknya kita pergi saja dari sini. Ini bukanlah tempat yang baik untuk wanita." ucap Rizky membujuk Eliza.
"Udah deh Lo diem aja, kalau Lo nggak mau masuk ya udah Lo tungguin aja kita disini." ucap Eliza segera memasuki bar itu dengan amarah yang sudah tak tertahankan lagi.
Sedangkan Rizky sedang dirundung gelisah antara melindungi Eliza yang artinya ia harus masuk kedalam bar atau ia tetap diluar dan mengabaikan perintah Abi dan umi.
Dengan tekat yang kuat, Rizky masuk kedalam bar dan mengikuti Eliza. Dan saat ia masuk seluruh orang yang ada di dalam bar tersebut menatap aneh padanya.
Sedangkan Eliza begitu marah menatap keberadaan Leon yang sedang meminum wine dan bergembira dengan teman temannya.
pyaaarrrrt.....
Eliza dengan marah memecahkan gelas dan juga botol wine yang ada dihadapan Leon membuat Leon dan teman temannya merasa terkejut.
"Eliza..?." ucap Leon menatap kehadiran Eliza di hadapannya.
.
.
.
.
.
.
.Haiiii...
.Apa kabar.?
.Maaf baru bisa up
.Tapi jangan kapok buat baca ya.
.Saya usahakan untuk up rutin deh
.
.
.jangan lupa vote nya ya
__ADS_1
.sampai jumpa lagi