
Aku harus jawab apa, aku tidak ingin menikah tanpa dasar cinta, tapi aku juga tidak ingin membuat abah kecewa. Apa aku harus menerima ustads rizky.. ? lagipula ustads risky pria yang baik, aku tidak punya alasan untuk menolak ini. Ucap nadira dalam hatinya sambil menatap rizky sebentar yang kemudian tatapannya beralih ke abahnya.
"Nadira ikut kata abah aja. Kalau menurut abah ini yang terbaik untuk nadira, nadira menerima lamaran ustads rizky. " ucap nadira.
Mendengar jawaban nadira semua orang tersenyum bahagia, merekapun melanjutkan acara dengan makan malam bersama.
Rizky terus menatap nadira dengan hati yang bahagia serta tak percaya dengan yang ia dengar barusan.
FLASHBACK OFF
"Maaf neng sebelumnya kalau pertanyaan saya menyinggung perasan neng nadira. " rizky meminta maaf.
"Tidak papa ustads, saya hanya merasa kalau ustads masih ragu atas rencana pernikahan ini. "
"Ti.. tidak. bukan begitu neng. Saya hanya memastikan bahwa neng nadira menerima lamaran saya karena tulus bukan karena terpaksa atau alasan apapun." ucap rizky cepat.
"Ustads tenang saja, saya menerima lamaran ustads dengan tulus dan juga menurut saya ustads adalah pria yang baik jadi saya tidak punya alasan untuk menolah ustads. " ucap nadira tulus dengan senyuman manis diwajahnya.
"Syukurlah. Terima kasih karena neng nadira sudah menerima saya. " ucap rizky.
"Iya ustads, kalau sudah tidak ada yang ingin ustads katakan lagi, saya izin pergi dulu ustads. " pamit nadira.
"Ooh.. iya, saya juga akan pergi mengajar."
"Iya ustads, assalamu'allaiku. " salam nadira yang mulai berjalan berbalik arah menuju ke perpustakaan.
"Wa'allaikum salam. " jawab rizky yang kemudian pergi menuju ke kelas santri putra.
Dilain tempat.
Afnan dan eliza telah sampai di pesantren, eliza segera turun meninggalkan afnan yang terlebih dahulu membayar taxi mereka.
"Umi... abi.... " teriak eliza saat memasuki rumah abi membuat beberapa santri menatap sinis ke arahnya.
"Bagaimana bisa gus afnan bisa tahan dengan istri yang nggak punya tata krama kayak gitu ya. " bisik bisik para santri.
"Nak eliza, assalamu'allaikum. " sambut umi saat melihat eliza yang ada didepan rumahnya.
"Oh ya eliza lupa. Assalamu'allaikum umi. " ucap eliza sambil memeluk umi.
"Wa'allaikum salam. " jawab umi sambil tersenyum melihat perubahan eliza yang mulai meningkat.
" Assalamu'allaikum umi. " salam afnan sambil mencium tangan uminya.
__ADS_1
"Wa'allaikum salam nak. " jawab umi.
"Abi mana mi..?" tanya afnan.
"Abimu masih dimasjid, tunggu sebentar didalam sekalian kita makan bersama. Kalian pasti belum makankan... ?"
"Belum umi, ini semua salah afnan mi masak pagi pagi eliza udah disuruh masak dulu, jadinya kesininya kesiangan deh. " adu eliza.
"Kamu lupa ya, tadikan yang masak aku, kamu cuma bantu sedik aja. " bela afnan.
"Hhhh sudah sudah, kalian ini selalu saja bertengkar. Sekarang lebih baik kita duduk dulu ya. " ucap umi melerai perdebatan kedua sejoli itu.
"Nak sarah..!!" panggil umi saat melihat sarah yang melintas didepan rumah.
"Ya bu yai, ada yang bisa sarah bantu.. ?" tanyanya.
"Bisa tolong panggilkan pak yai untuk pulang, bilang kalau afnan dan eliza datang. " ucap umi.
"Baik bu yai, kalau begitu sarah permisi dulu. Assalamu'allaikum. " pamit sarah.
"Wa'allaikum salam. " jawab umi yang kemudian kembali menghampiri eliza dan afnan yang masih saja saling melayangkan tatapan tajam.
Selang beberapa menit kemudian abi datang membuat eliza dan afnan menghentikan kegiatan mereka sedangkan umi tersenyum melihat tingkah anak dan menantunya itu.
"Assalamu'allaiku. " ucap abi.
"Bagaimana kabarmu nak, apa kamu lebih baik sekarang... ?" tanya abi sambil duduk di sebelah umi.
"Alhamdulillah afnan jauh lebih baik abi." jawab afnan.
"Alhamdulillah."
"Abi nggak nanyain kabar eliza... ?" tanya eliza dengan wajah cemberut.
"Jangan bilang kamu mau ngadu lagi. " ucap afnan waspada.
"Emang, kenapa... ? lo takut ya. Salah sendiri lo manfaatin gue. " ucap eliza.
"Ada masalah apa nak... ?" tanya abi.
"Jadi gini bi, selama afnan sakit, dia selalu nyuruh nyuruh eliza buat kerjain inilah itulah bahkan nih ya bi buat masuk kekamarnya aja nyuruh gue buat bantuin dia, padahal yang sakit kan kepalanya tapi tingkahnya kayak anak kecil aja sok manja. " ucap eliza panjang lebar mengadukan segala kelakuan afnan terhadapnya.
"Afnan tidak seharusnya kamu menyusahkan istrimu. " kata abi membuat eliza tersenyum puas.
__ADS_1
"Tapi bi, mi. Apa yang afnan lakuin cuma buat eliza lebih deket sama afnan dan soal bantuan apa salah ya kalau afnan minta tolong buat ke kamar bersama biar tambah romantis bi. " ucap afnan membuat abi dan umi nya beralih menatap eliza.
Eliza yang panik karna kemungkinan besar disini ia memang bertanggung jawab atas itu semua.
"Eee... ta tapi bukan itu aja bi, mi. Dia aja nggak bolehin gue buat ketemu sama temen temen gue. Padahal gue kan juga pengen ketemu sama mereka meskipun cuma sebentar. " ucap eliza dengan wajah yang ia tundukkan.
"Afnan, memang seorang suami berhak penuh atas istrinya untuk pergi ataupun tidak namun apa salahnya membuat istrimu bahagia. Lagipula kasiankan istrimu tidak punya teman dia pasti sangat bosan. " ucap umi menasehati afnan.
"Iya, benar yang dikatakan umimu afnan. " tambah abi membela.
Eliza tertawa puas dalam hatinya, ia sangat senang melihat afnan kembali kalah olehnya.
"Iya mi, bi. Eliza bakal afnan izinin buat ketemu sama temen temennya tapi hanya teman perempuan saja dan juga tidak boleh terlalu lama. " ucap afnan pasrah karena kini ia telah kalah.
"Ok gue setuju, tapi lo nggak boleh bohong. " ucap eliza menyetujui syarat dari afnan.
"Bukankah aku tidak pernah berbohong.. ?" afnan berbalik bertanya.
"Emm.. ok. " ucap eliza begitu senang.
Umi dan abi senang dengan perkembangan hubungan afnan dan eliza meakipun sikap eliza masih saja belum terkontrol tetap saja eliza sudah sedikit berbada dari yang dulunya memakai celana pendek sekarang dia lebih sering memakai celana panjang dan juga baju yang lebih sopan.
"Oh ya, bukankah ada yang ingin abi dan umi sampaikan ke afnan dan eliza.. ?" tanya afnan.
"Oh iya abi sampai lupa. Jadi gini, kemarin pak haji rahmad datang kemari. Dan mendiskusikan tentang pernikahan nak nadira. "
"Per.. pernikahan.. ? neng nadira.. ? dengan siapa bi.. ?" tanya afnan penasaran yang terlihat berbeda dimata eliza.
Kenapa dia terlihat begitu terkejut.. ? Apa dia masih berharap sama cewek itu. Dasar cowok, mau dia gus pesantren atau brandalan sama aja ternyata. Sama sama mata keranjang kalau lihat cewek meskipun udah punya istri juga. Ucap eliza dalam hati yang merasa begitu kesal.
"Dengan ustads rizky. " jawab abi membuat afnan dan eliza sama sama terkejut.
"Emm.. abi umi afnan permisi sebentar ya. Assalamu'allaikum. " pamit afnan.
"Wa'allaikum salam. " jawab abi dan umi bersamaan.
Eliza yang merasa curiga terhadap afnan pun ikut pergi mengikuti afnan dari belakang.
"Abi, umi, eliza juga ikut pergi ya." ucap eliza yang langsung berlalu mengejar afnan sampai lupa mengucapkan salam membuat abi dan umi menggelengkan kepala mereka.
Eliza masih mengikuti afnan yang berjalan cepat menghampiri rizky yang sedang berbincang pada beberapa santri.
Saat melihat afnan berhenti tepat didepan rizky terlihat para santri yang berpamitan pergi meninggalkan afnan dan rizky berdua saja. Sedangkan eliza mengintip mereka dari balik tembok.
__ADS_1
Saat ingin menguping tiba tiba eliza melihat afnan melayangkan pukulan pada bahu rizky membuat eliza terkejut dan langsung berspekulasi bawha afnan sangat marah terhadap rizky.
"Kenapa dia segitu marahnya pada rizky, atau jangan jangan dia memang masih punya keinginan buat nikah sama nadira.. ?" gumam eliza dengan wajah kecewa serta sedih.