
Seusai membersihkan piring piring kotor itu, afnan dan eliza melaksanakan sholat berjama'ah. Eliza terlihat begitu semangat hendak mengambil air wudhu hingga ia hampir saja terpeleset.
"Hati hati..!" ucap afnan yang berhasil menangkap tubuh eliza sebelum terjatuh membentur lantai.
"Berhati hatilah, ingat..! Kamu harus jaga baik baik tubuhmu jangan sama kamu melakukan satu hal yang akan membahayakan dirimu.!" ucap afnan.
Seketika eliza menunduk dan meneteskan air matanya. Entah kenapa mendengar perkataan afnan tadi membuat hatinya sedih dan merasa afnan sedang memarahinya. Padahal sifat dulunya mungkin akan segera membantah dan berbalik marah kepada afnan namun kandungannya membuatnya lebih cengeng.
"Hei..kenapa kamu nangis..?" tanya afnan yang terkejut saat melihat istrinya yang menangis.
"Kenapa lo marahin gue hiks. Hiks..? Gue kan nggak sengaja..hiks..!" ucap eliza di sela sela tangisnya dan tanpa sadar panggilannya terhadap afnan kembali lagi menjadi lo dan gue.
"Emh..bu..bukan gitu. Aku cuma khawatir kalau kamu nanti terluka..! Sudah sudah, jangan nangis lagi. Aku minta maaf ya?" ucap afnan yang kebingungan melihat reaksi istrinya itu.
"Hiks..iya.!"
"Ya udah, kamu ambil wudhu dulu. Aku mau mandi sebentar..!"
"Hiks..jangan lama lama..hiks..!"
"Iya..iya. Udah dong jangan nangis lagi, entar cantiknya ilang loh..!" ucap afnan dan dengan lembut ia mengecup kening eliza dan bergegas pergi kekamar mandi meninggalkan eliza yang mematung karena terkejut.
Eliza mulai memegangi jidatnya dengan wajah yang tersipu malu, saat mengingat kembali afnan yang menciumnya.
Dilain tempat.
Keadaan claudia begitu memprihatinkan, dengan wajah pucat dan tanpa ada senyuman diwajahnya.
"Nggak, gue nggak boleh seperti ini. Gue nggak akan biarin hidup eliza tenang sedangkan gue menderita disini. Gue akan hancurin hidup eliza."
Claudia menatap kebeberapa obat ditangannya dengan tajam dan segera meminumnya dalam sekali tegukan.
"Kalau anak ini nggak bisa buat leon perhatian sama gue. Apa gunanya dia lahir didunia ini..!" gumam claudia sambil memegang perutnya yang mulai kesakitan.
Perlahan mulai terlihat darah yang mengalir dikedua kaki claudia. Sedangkan claudia mati matian menahan rasa sakit yang ada diperutnya.
Beberapa menit kemudian tubuh claudia mulai merosot jatuh pingsan karena tak kuasa menahan rasa sakitnya.
Sedangkan leon, tengah asik melakukan balap liar dengan teman temannya tanpa tahu keadaan claudia dirumah.
Dengan kecepatan tinggi, lagi lagi leon memenangkan balapan dan mendapatkan seluruh uang taruhan mereka.
"Leon, gimana kabar claudi..? Dua hari kemarin gue disuruh buat nengokin dia sama nyokap gue, cuma gue belum sempet.!" ucap david yang ikut menjadi pendukung leon dibalapan itu.
"Dia dirumah. Gue suruh dia buat dirumah aja buat jagain kandungannya.!" jawab leon berbohong.
__ADS_1
"Oh ya udah, gimana kalau gue ntar kerumah lo..?"
"Ya udah, ayo..!" ucap leon yang segera menghidupkan kembali motornya dan mulai melajukannya dengan kecepatan tinggi. Dan david mengikutinya dari belakang.
Dilain tempat.
Eliza yang selesai sholat maghrib bergegas mengambil al qur'an untuk belajar mengaji kembali sambil menunggu adzan isya' sedangkan afnan sedang melaksanakan sholat sunnah.
"Aku lihat lihat sekarang kamu lebih bersemangat ya..!" ucap afnan seusai sholat.
"Ya, gue pengen cepet bisa aja..!"
Afnan hanya menganggu mendengar jawaban eliza, ia mulai menyimak bacaan al qur'an eliza yang semakin hari semakin lancar dan baik.
"Alhamdulillah....bacaanmu semakin baik..!"
"Benarkah..? Wah..nggak sia sia dong gue belajar dari pagi..!" ucap eliza bangga akan keberhasilannya.
"Ha..? Kamu belajar dari pagi..?" tanya afnan terkejut mendengar ucapan eliza.
"Ya.. Nggak begitu pagi sich, cuma pagi menjelang siang sampai tadi sore sebelum masak..!" jawab eliza antusias.
"Baguslah...kamu mau hadiah apa..?" tanya afnan.
"Hadiah..? Lo mau kasih hadiah buat gue..?" tanya eliza tak percaya.
"Emh..gue mau. Lo bawa gue ketaman kota dan juga beliin gue es crem...!" ucap eliza.
"Emh ok..!"
Eliza begitu senang dengan segala perhatian afnan padanya, ia semakin merasa jatuh cinta pada afnan.
Dilain tempat.
Leon dan juga david akhirnya sampai didepan rumah leon yang terlihat sepi.
"Kenapa sepi banget..?" tanya david yang merasa aneh.
"Mungkin claudia ada dikamar..!" ucap leon yang mulai berjalan menuju kekamar claudia dengan david yang berjalan dibelakangnya.
Leon perlahan membuka pintu kamar claudia dan masuk kedalamnya diikuti david. Saat masuk kedalam, leon maupun david tak menemukan keberadaan claudia membuat mereka bingung.
"Clau..lo dimana..? Clau..!" panggil leon.
"Clau..? Apa lo didalam..?" ucap david dibalik pintu kamar mandi.
__ADS_1
Saat melihat pintu kamar mandi yang terkunci, leon merasa curiga jikalau claudia berada didalamnya
"Lebih baik kita dobrak pintunya.!" ucap leon dan david segera mengambil ancang ancang untuk mendobrak pintu kamar mandi tersebut.
Bruak...
Pintu kamar mandi itu berhasil terbuka dan memperlihatkan claudia yang terkapar didalamnya dengan genangan darah dikakinya.
"Claudia..!" teriak david saat melihat keadaan adiknya yang begitu mengenaskan.
Sedangkan leon melihat kesekitar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan benar saja, ia menemukan bungkus obat yang ia yakini yang telah diminum claudia.
"Clau bangun clau..! Kakak disini..! Lo kenapa clau..!" ucap david yang begitu khawatir.
"Dia pasti minum obat ini..!" ucap leon sambil menunjukkan bungkus obat yang sudah kosong.
"Kenapa claudia bisa sampai meminum obat itu ha..? Lo apain adik gue sampai sampai dia berani buat gugurin kandungannya..?" teriak david sambil menarik baju leon kencang.
"Gue nggak ngelakuin apa apa..! Lagian sekarang lebih baik kita bawa dia kerumah sakit..!" ucap leon.
David segera melepaskan cengkramannya pada leon dan beralih kearah adiknya. Ia segera mengangkat adiknya dan memasukkannya kedalam mobil claudia.
Sedangkan leon, segera mengambil kunci mobil claudia yang memang ia sembunyikan. Leon dengan kencang melajukan mobilnya menuju kerumah sakit.
Dilain tempat.
Terlihat nadira yang menatap dirinya dicermin yang terlihat begitu cantik dengan balutan baju dan hijab berwarna biru langit dengan sebuah kertas yang terlihat seperti sebuah undangan.
"Ya allah, hamba berharab agar acara besok sampai hari pernikahan nanti bisa berjalan dengan lancar tanpa ada masalah. Hamba akan berusaha menjadi istri yang baik dan memberikan hati hamba pada suami hamba.!" ucap nadira.
Tok..ttookk..toook..
"Masuk..!"
"Ibu..? Ada apa bu..?" tanya nadira saat melihat kedatangan ibunya.
"Tidak apa..! Ibu hanya ingin melihat putri ibu yang sebentar lagi akan jadi istri orang dan akan pergi ninggalin ibu.!" ucap ibunya dwngan raut wajah sedih.
"Ibu..! Nadira nggak akan pergi tauh kok.. Lagipula nanti setelah menikah nadira akan sering sering nengokin ibu sama abah..!" ucap nadira sambil memegang lembut tangan ibunya.
"Ya ibu tau..! Ibu seneng banget, akhirnya putri ibu akan segera menikah. Ibu berdo'a agar kehidupan rumah tanggamu nanti akan berjalan dengan baik. Meskipun ada masalah rumah tangga, semoga saja hal itu mudah untuk kamu hadapi ya nak..!"
"Iya bu. Makasih ya bu, atas semua kasih sayang ibu sama nadira. Nadira sayang banget sama ibu..!"
"Sama ibu aja..? Abah gimana..?" ucap ayang nadira yang ternyata sedari tadi memperhatikan putri dan juga istrinya.
__ADS_1
"Tentu saja,nadira juga sayang abah..! Nadira sayang banget sama kalian, nadira bersyukur mendapatan orang tua seperti kalian..!" ucap nadira sambil memeluk erat ibu dan juga abahnya.