Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 31


__ADS_3

Pagipun tiba, eliza sudah bangun sejak pukul empat pagi dan ia segera keluar dan mengetuk kamar afnan.


"Afnan... ayo bangun.. afnan.. !" panggil eliza dari depan pintu.


Sedangkan afnan yang mendengar panggilan eliza segera bangun dan membuka pintu.


"Ada apa.. ? tanya afnan.


"Ayo kita sholat subuh.. !" ajak eliza yang seketika afnan terkejut mendengarnya.


"Kamu bilang apa tadi.. ?" tanya afnan yang masih tidak percaya.


"Ayo kita sholat subuh bersama. Gue ambil wudhu dulu ya. " ucap eliza yang segera pergi meninggalkan afnan yang masih bingung.


"Dia benar benar berubah.. ?" ucap afnan pada dirinya sendiri.


Setelah melaksanakan sholat eliza segera pergi kedapur hendak memasak, namun ia tidak menemukan apa apa kecuali nasi. Dan eliza berencana akan membuat nasi goreng.


"Tapi bumbu nasi gorengnya apa aja, gue kan nggak tau. " ucap eliza kebingungan.


"Mau aku bantu...?" tawar afnan.


"Emh.. gue pengen bisa masak sendiri." ucap eliza bingung karena ia ingin menolak tapi ia juga tidak bisa membuat bumbunya.


"Ya sudah kalau nggak mau. " ucap afnan yang kemudian memilih untuk duduk dan membuka bukunya.


"Ee.. afnan. " panggil eliza.


"Ya.. ?" jawab afnan.


"Ee bisa lo bantuin gue buat bumbunya.. ? gue.. gue.. " ucap eliza bingung untuk meminta tolong.


"Ya udah, sini aku bantuin. " ucap afnan yang mengerti dengan maksud eliza.


Setelah selesai masak bersama dan juga sarapan bersama. Eliza segera masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian.


"Afnan gue mau belanja baju. " ucap eliza.


"Baju.. ? bukankah bajumu masih banyak.. ?" tanya afnan.


"Bukan baju seperti ini." ucap eliza yang langsung menarik tangan afnan tanpa menunggu afnan bertanya lagi.


Afnan pun dengan berat hati mengantarkan eliza untuk ketoko baju. Eliza segera turun dari motor dan masuk kedalam toko meninggalkan afnan yang masih nemarkirkan sepeda motornya.


Eluza melihat beberapa busana muslim yang lagi tren, membuatnya sangat rertarik. Eliza mengambil beberapa busana dan juga hijab.


Afnan hanya bisa terbengong saat melihat eliza membawa setumpuk baju ditangannya.


"Kamu mau beli itu semua.. ?" tanya afnan khawatir.


"Iya, kenapa.. ? lo nggak sanggup.. ?" ledek eliza.


"Siapa bilang.. ? ya udah ayo kita kekasirnya.!" ucap afnan .


Setelah membayar eliza kebingungan untuk membawa barangnya. Afnan yang melihatnya tertawa.


"Itu akibatnya kalau belanja nggak lihat keadaan ya gitu." ucap afnan.


Elizapun terpaksa membawa belanjaannya ditangannya karena sedari tadi dia tidak mendapatkan taxi.


Dilain tempat.


Nadira sedang membereskan barang barangnya dikarenakan besok ia akan pulang disana ia tak sendirian karena sarah juga sedang berkemas.


"Dir.. " panggil sarah.


"Ya.. ?"


"Kamu seriusan kalau neng eliza kemarin belajar ngaji sama kamu.. ?" tanya sarah yang masih penasaran setelah semalam nadira bercerita padanya.


"Iya, dan yang membuatku terkejut ternyata neng eliza sebenarnya sudah pernah ngaji bahkan hampir khatam namun ia berhenti setelah orang tua nya meninggal." terang nadira.


"Mungkin saja selama ini neng eliza salah memilih teman sehingga dia sampai melupakan segala ajara ora tuanya.. ?" tambah sarah.


"Mungkin saja. " ucap nadira.


Mereka pun bergegas menyelesaikan pekerjaan mereka. Setelah selesai ada seorang santriwati yang mendatangi mereka.


"Assalamualaikum 'allaikum.. ?" ucapnya.


"Wa'allaikum salam. " jawab nadira dan sarah.


"Mbak nadira, anda diminta kerumah bu yai sekarang, katanya ada hal penting yang ingin bu yai sampaikan. " ucapnya.


"Oh iya, terima kasih. " ucap eliza yang bersiap untuk pergi.


"Sar, aku pergi dulu ya. Assalamu'allaikum. " pamit nadira.


"Wa'allaikum salam. " ucap sarah.


Nadira berjalan pelan menuju rumah umi dengan pikiran yang dipenuhi dengan kebingungan. Setelah sampai di depan rumah, nadira segera mengucapkan salam.

__ADS_1


"Assalamu'allaikum.. " ucap nadira.


"Wa'allaikum salam. " jawab umi yang langsung meminta nadira untuk duduk.


"Bu yai panggil nadira tadi.. ?" tanya nadira.


"Iya. umi ingin membicarakan sesuatu sama kamu ini berkaitan dengan pernikahanmu. Besok setelah acara kelulusan kamu dan abah kamu akan pergi ke kua bersama dengan rizky, untuk mengurus berkas pernikahan kalian. " jelas umi panjang lebar.


"Oh iya, nadira hampir lupa tentang itu. Tapi kemarin ustads rizky tidak mengatakan tentang hal ini sama nadira. " ucap nadira.


"Mungkin dia masih sedikit canggung untuk mengatakannya langsung sama kamu." bela umi.


"Mungkin emang gitu ya bu yai. "


Merekapun melanjutkan bincangan mereka kedalam hal yang lebih santai dan juga mereka tertawa bersama.


"Oh ya bu yai. Kemarin neng eliza datang kepada saya, ia meminta saya untuk mengajarinya mengaji. Saya awalnya terkejut dengan permintaannya itu tapi yang tambah membuat saya terkejut adalah ternyata neng eliza sudah pernah membaca al qur'an sebelumnya namun sekarang ia tidak begitu lancar lagi. " ucap nadira.


Ucapan nadira membuat umi merasa bahagia dengan perkembangan perubahan sikap menantunya itu.


"Iya kamu benar. Sebelum menikah, bibi dan paman eliza sudah menceritakan segala hal semasa kecil eliza yang begitu pandai mengaji namun setelah orang tuanya wafat ia jadi begitu terpukul hingga ia sampai salah memilih teman. Hingga membuatnya sampai seperti ini." terang umi.


"Jadi memang benar. Kalau neng eliza sebenarnya orang yang baik tapi karena salah pergaulan menjadikannya seperti sekarang ini." ungkap nadira yang membenarkan tebakannya kemarin.


Di lain tempat.


Eliza begitu senang dengan semua pakaian barunya ia kemudian memakai salah satunya dan keluar untuk diperlihatkan kepada afnan.


Afnan yang sedang duduk dengan al qur'an kecil ditangannya seketika berhenti membaca dan pandangannya beralih kearah eliza.


Eliza yang dipandang oleh afnan langsung tersenyum puas dengan penampilannya. Sedangkan afnan merasa seakan waktu benar bebar sedang berhenti.


"Bagaimana penampilan gue.. ? cantikkan.. ?"


"Ha... lumayan. " jawab afnan yang tersadar dari lamunannya


Cantik. Ucap afnan dalam hati.


Eliza yang mendengar penilaian afnan pada dirinya pun merasa kesal. Ia hendak berbalik dan berganti pakaian namun afnan menghentikannya.


"Mau kemana.. ?" tanya afnan.


"Mau ganti lah, lo tadi bilang kalau gue nggak cantik. " ucap eliza cemberut.


"Siapa bilang kalau kamu itu nggak cantik eliza. Kamu itu lumayan cantik kalau pakai buju seperti ini. Ya sudah ayo kita ke pesantren. Kemarin kamu bilang kalau kamu mau belajar memasak sama umi." ucap afnan mengingatkan.


"Oh iya, hampir aja gue lupa. Ya udah ayo berangkat." ucap eliza.


Afnan menjalankan motornya menuju ke pesantren dengan pelan membuat eliza merasa tidak sabar.


"Kalau lo bawa montornya segini pelan, sampai kapan kita sampai dipesantren...? Motor jalan kok kayak siput. " ucap eliza sebal.


"Jalan pelan aja asalkan kita selamat sampai tujuan. " ucap afnan.


Eliza dengan pasrah hanya bisa diam dan mulai menikmati pemandangan dijalan selama perjalanan. Namun tiba tiba motor mereka ada yang salah.


"Ada apa.. ?" tanya eliza ketakutan karena laju motor afnan tak terkendali.


"Nggak tau nih, kayaknya remnya blong deh. " ucap afnan membuat eliza ikut panik.


Motor mereka melaju tanpa bisa dikendalikan. Eliza yang ketakutan langsung memeluk erat tubuh afnan. Sedangkan afnan berusaha mengurangi laju motornya dengan mengambil arah jalan yang sedikit menanjak.


Saat afnan sampai ditanjakan didekat tikungan tiba tiba ada mobil dari arah berlawalan membuat eliza begitu panik dan langsung berteriak.


"Awaass.... !!!" teriak eliza.


Bruak...


Afnan membanting stir ke semak semak membuatnya dan eliza terpental disemak semak. Saat afnan berdiri ia melihat keadaan eliza yang tak sadarkan diri disamping motornya.


"El.. eliza.. eliza. Bangun el. Kamu jangan bikin aku khawatir el. Elizaaa... !" afnan berusaha menyadarkan eliza namun sia sia.


Dilain tempat.


Leon dan teman temannya tertawa puas setelah berhasil menyabotase rem motor afnan.


"Gue yakin, saat afnan bawa motor itu dia pasti akan kebingungan karena kabel rem motornya kita gunting hhhhh. " tawa mereka.


"Ya dan saat ia kebingungan ia akan mengalami kecelakaan dan mungkin saja dia akan mati. hhhhh jadi eliza akan jadi janda dan gue akan punya kesempatan buat merebut hati eliza lagi. " ucap leon.


"Bener banget yon. Lagian apa sih yang dibanggain dari pria culun itu. " ucap david.


"Hhh gue nggak sabar buat nunggu kabar kalau afnan kecelakaan dan mati. " ucap leon.


Merekapun bersula meminum minuman keras sambil tertawa menunggu kabar dari teman mereka yang sengaja mengawasi afnan.


Beberapa waktu kemudian orang yang mereka tunggu pun akhirnya datang namun bukannya raut kesenangan namun raut ketakutan.


"Akhirnya kalian datang, gimana.. ? apa afnan udah mati.. ? " tanya leon.


"Emmhh.. mereka kecelakaan yon. " ucap irfan dengan takut.

__ADS_1


"Hhhhh... bagus dong. Eh tunggu tunggu. Tadi lo bilang apa.. ? mereka.. ? maksud lo.. ?" tanya leon yang sudah was was dengan apa yang akan dikatakan temannya itu.


"Afnan dan juga eliza mengalami kecelakaan. Afnan hanya terluka kecil sedangkan el.. eliza.. dia.. " ucap irfan yang ketakutan akan kemarahan leon.


"Dia apa. Jawab woi... lo bisu, apa gimana.. ? eliza kenapa.. ?" teriak leon tak sabar.


"Wl.. eliza, dia pingsan waktu kecelakaan. Dan sekarang dia dibawa kerumah sakit oleh afnan. " icap irfan membuat leon membanting botol minumannya hingga pecah dan melukai tangannya sendiri.


"Tunjukin dimana rumah sakitnya. !" perintah leon pada irfan.


Mereka semua pun ikut irfan menuju rumah sakit dimana eliza dibawa oleh afnan.


Sesampainya disana, mereka semua masuk dan menuju ke resepsionis.


"Dimana eliza azkar nugroho dirawat. " tanya leon.


"Tu.. tunggu sebentar akan saya carikan." ucap perawat itu ketakutan.


"Buruan lamak banget sich. !!" teriak david.


"Ruangan nona eliza ada dikamar sakura no 7." ucap perawat itu cepat agar mereka segera pergi.


Setelah mengetahui kamar rawat eliza merekapun segera kesana. Sedangkan sang perawat segera menelfon keamanan agar berjaga jaga agar tidak ada keributan.


"Minggir lo.. !!" ucap leon pada afnan saat afnan hendak keluar dari ruangan eliza.


"Berhenti. Dokter sedang memeriksa eliza, kamu tidak boleh masuk." ucap afnan menghalangi.


"Heh.. emangnya gue peduli, minggir gue mau masuk. !" ucap leon tak mengindahka. larangan afnan tadi.


"Aku bilang, kamu nggak bisa masuk. " ucap afnan lagi dan menarik leon.


"Lo cari mati ya. ? " ucap leon langsung memukul afnan namun afnan berhasil menghindar.


Sekarang mereka saling menyerang satu sama lain membuat para pasien dan keluarga pasien lain ketakutan. Tak berapa lama akhirnya penjaga keamanan datang dan melerai mereka.


"Ini rumah sakit, bukan tempat untuk berkelai. !" ucapnya.


"Mereka menerobos masuk dan sekarang membuat keributan. Bawa mereka semua keluar pak. " ucap resepsionis tadi yang ikut bersama keamanan tadi menangkap leon dan kelima temannya.


"Ayo keluar dari sini. " ucap satpam itu menarik paksa keluar leon dan temannya.


"kita bisa keluar sendiri. " ucap leon menghempaskan pegangan satpam itu pada tangannya. Leon pun menatap afnan sebentar.


"Gue bakal bikin perhitungan buat lo. Lihat saja kalau eliza sampai kenapa napa gue akan bikin lo menyesal. " ancam leon yang kemudian pergi.


Beberapa menit kemudian. Dokter yang menangani eliza keluar. Afnan segwra berdiri dari duduknya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok.. ?" tanya afnan.


"Tenang saja. Ibu eliza baik baik saja dan juga kandungannya sehat sehat aja. Mungkin karena terkejut hingga membuat reaksi dari janin sehingga ibu eliza pingsan. " jelas dokter membuat afnan terkejut.


"Janin.. ? kandungan.. ? maksud dokter.. ? istri saya sedang hamil.. ?" tanya afnan yang tidak percaya.


"Oh jadi anda belum mengetahui ini.. ? apa istri anda juga belum tau.. ?" tanya dokter itu.


"Emh iya dia belum tau. Tapi tolong dokter jangan beritahu dia dulu karena saya ingin membuat kejutan untuknya. " ucap afnan karena ia takut jika eliza tahu kalau dirinya hamil ia akan marah dan berniat untuk menggugurkannya.


"Oh baiklah kalau begitu. "


"Oh ya dok, berapa usia kandungannya.. ?"


" Kandungannya baru 2 minggu jadi belum terlihat dan juga bisa jadi belum membawa efek pada ibunya. " jelas sang dokter.


"Kalau begitu saya masuk dulu ya dok. "


"Baik, silahkan. "


Afnan segera masuk kedalam ruangan eliza dirawat. Disana ia melihat istrinya yang masih tak sadarkan diri dengan infus yang menancap ditangannya.


"El...aku harus bagaimana untuk menyembunyikan hal ini dari kamu.. ? pasti kamu akan mengetahuinya cepat atau lambat nanti. Sadarlah el, aku benar benar khawatir sama kamu. " ucap afnan yang mulai mengusap perut eliza.


"Nak, abi tidak tahu harus senang ataupun sedih saat mendengar kabar ini. Abi takut jika ibumu tidak ingin mengandung, dia akan membahayan dirimu dan juga ibumu. Tapi yang pasti abi sangat bahagia." ucap afnan pada anaknya yang masih dikandungan eliza.


Tak berselang lama, abi dan umi datang untuk menjenguk keadaan eliza.


"Afnan. Bagaimana keadaan eliza.. ?" tanya umi dengan mengusap kepala eliza lembut.


"Eliza baik baik saja umi. Umi sama abi tenang saja. " ucap afnan menenangkan uminya.


"Syukurlah. Umi sangat kaget mendengar kabar dari kalian tadi. Umi takut jika terjadi sama kalian. " ucap umi.


"Afnan juga sedang bingung umi abi. Tadi pagi saat motor afnan bawa buat belanja sama eliza baik baik aja tapi saat afnan dan eliza akan kepesantren tiba tiba rem motor afnan blong. " terang afnan.


"Aneh...! apa motornya udah kamu kirim kebengkel.. ?" tanya abi.


"Udah bi, besok afnan udah bisa ambil motor afnan sekalian ingin tanya penyebabnya. "


"Ya sudah kalau begitu. Sekarang kita fokus sama kesehatan eliza saja. " ucap abi.


Abi, dan umi masih terduduk disamping eliza dan menunggu kesadaran eliza. Sedangkan afnan masih berkutik dengan pikirannya yang bimbang untuk menceritakan keadaan eliza atau tidak pada orang tuanya.

__ADS_1


Karena takut jika eliza tiba tiba terbangun dan mendengarnya. Akhirnya afnan memutuskan untuk menceritakan semuanya nanti saat waktunya tepat.


__ADS_2