Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 88


__ADS_3

Eliza menatap bosan kearah afnan yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya ke arah eliza dengan senyumannya, yang mungkin jika wanita diluaran sana melihatnya. Dipastikan mereka akan langsung jatuh pingsan karena terpesona akan ketampanan afnan.


Namun tidak dengan eliza yang malah berusaha menghindar dari afnan. Yang berujung dengan kegagalan.


"Bisa nggak sich, lo nggak usah senyum senyum di depan gue..! " ucap eliza.


"Kenapa..? Takut kalau nanti kamu akan terpesona..? " goda afnan.


"Berhenti menggoda gue..! Karena keputusan gue tetap sama, setelah gue keluar dari sini. Secepatnya gue akan ajukan perceraian kita ke pengadilan. "


"Hah, ok..! Karena semua hal baik yang sudah aku lakukan selama ini sama kamu. Tolong kasih aku waktu, tidak perlu lama. Sebulan itu sudah cukup. Bagaimana..? " tanya afnan yang mencoba bernegosiasi dengan eliza.


"Ok, gue setuju...! "


Afnan tersenyum senang dengan eliza yang setuju akan permintaannya tadi. Namun dibalik itu semua, terselip rencana besar afnan untuk tetap bertahan menjadi suami dari wanita dihadapannya itu.


Beberapa saat kemudian seorang suster masuk kedalam ruangan eliza dengan membawakan makanan untuk eliza.


Dan afnan pun segera mengambil alih bubur dari tangan suster itu, dengan niatan ingin menyuapi eliza.


"Makasih ya Sus..!" ucap afnan.


"Iya sama sama, kalau begitu saya permisi dulu. "


"Ayo makan dulu..! Aaaa...!" ucap afnan sambil mengulurkan suapan pada eliza.


"Gue bisa makan sendiri..! "


"Udah aku suapin aja..! Tangan kamu juga ada infusnya. " ucap afnan memaksa.


Kenapa lo masih saja bersikap baik sama gue sich..? Padahal lo tau sekarang gue nggak lagi pantas jadi istri lo. Dengan sikap lo yang seperti ini semakin buat gue merasa berat untuk ngelepasin lo af. Ucap eliza dalam hatinya.


Dengan terpaksa ia menerima suapan dari afnan dengan diam, meskipun hatinya ingin sekali menangis dan memeluk erat pria di depannya itu.


Malam pun berlalu, dan pagi yang cerah. Eliza membuka matanya dan melihat kesamping tubuhnya namun ia tidak mendapati afnan disana.


"Eliza..! " panggil seseorang membuat eliza mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Bibi..! Umi..!."


"Bagaimana keadaan mu..? "


"Sudah lebih baik..! "


"Syukurlah, saat ini afnan sedang mengurus administrasi nya, kan hari ini kamu akan pulang...! "


"Iya nak, dan kami semua sudah membicarakan kalau kamu dan afnan untuk sementara waktu akan tinggal di pesantren. Dengan begitu kita semua akan lebih mudah untuk merawatmu dan juga cucu kami...! " ucap umi membuat eliza terdiam.


Ia tak tahu harus menerima atau menolaknya, ia tak ingin membuat mertua dan bibinya khawatir. Jadi mau tidak mau ia harus mengikuti keinginan mereka.


Dilain tempat.


Leon terus menatap kearah Claudia yang sedang dibawa keseberang sel dengan klara. Ia menatap rindu dan juga kasihan dengan keadaan Claudia yang ikut mendekap di penjara.


"Claudia....! " panggilnya.


Dan Claudia hanya terdiam dan enggan untuk membalas panggilan Leon.


"Kenapa lo bisa sampai senekat ini..? Dengan sikap lo ini malah menghancurkan diri lo sendiri clau...! "


"Maafin gue... ! "


" Maaf..? Lo pikir dengan kata maaf lo, sakit hati gue bisa hilang..? Dan apa dengan kata maaf lo, anak gue juga akan kembali hidup..? Jangan pernah berfikir gue akan maafin lo." ucap Claudia yang semakin membenci Leon.


Dilain tempat.


Eliza dan semua orang telah sampai di depan gerbang pesantren dengan anak eliza yang berada dalam gendongan bibinya. Sedangkan umi membantu eliza keluar dari mobil.


Setelah sampai di depan pesantren, eliza terdiam. Tiba tiba ia mengingat semua perkataan Claudia saat berada di rumah sakit. Dan hal itu membuat eliza berada dalam ketakutannya lagi, ia mulai berjalan mundur membuat semua orang menatapnya bingung.


"Ada apa nak..? " tanya umi.


"Tidak.! Gue nggak bisa masuk kesana lagi...! " ucap eliza yang terlihat ketakutan.


"Ada apa eliza..? Ayo kita masuk..! " ajak afnan.

__ADS_1


"Nggak..! " gumam eliza yang malah berbalik dan berjalan menjauh dari pesantren.


"Kalian masuk saja..! Biar aku coba berbicara dengan eliza..! " ucap afnan yang kemudian mengejar eliza.


Kini eliza terduduk di sebuah kursi taman di dekat kawasan pesantren. Afnan yang melihatnya segera menghampiri eliza.


"Eliza..! " panggilnya.


"Gue nggak bisa masuk ke pesantren lagi...! Lebih baik gue pulang kerumah paman dan bibi.! " ucap eliza langsung.


"Kenapa..? Dengar eliza, semua yang sudah terjadi itu takdir. Kamu nggak bisa selalu menyalahkan diri kamu sendiri dan selalu memandang diri kamu kotor..! " ucap afnan memberi nasehat.


"Hah, memang pada kenyataannya gue sekarang kotor af, lo masih ingat perkataan Claudia kan..? Bahwa dia sudah menyebarkan foto dan video itu. Kenapa lo masih disini dan nggak tinggalin gue..? Kalau lo masih jadi suami gue, semua orang akan memandang lo buruk bahkan pesantren juga akan mendapatkan imbasnya...! " Ucap eliza yang tanpa sadar air matanya mulai keluar.


"Eliza..! Aku sudah mengucapkan ijab kabul dihadapan paman, al Quran dan juga Allah. Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan kamu el..! " ucap afnan.


"Jangan bodoh af. Gue udah nggak pantas buat lo, dan saat lo mendekati gue, gue selalu inget betapa kotornya gue..! " ucap eliza yang kemudian pergi meninggalkan afnan.


"Sampai kapan kamu akan selalu menyalahkan dirimu sendiri el..? Bagaimana caraku untuk menghapus ingatan buruk mu itu..? " gumam afnan.


Dilain tempat, eliza yang tak berani masuk ke pesantren lebih memilih untuk duduk di samping mobil pamannya. Beberapa saat kemudian paman eliza datang dan terkejut dengan keberadaan eliza disana dan sedang menangis.


"Eliza..? Kenapa kamu menangis nak..? " tanyanya.


"Hiks.. eliza nggak papa kok paman, oh ya apa paman sudah mau pulang..? Eliza ingin ikut dengan paman..! " ucap eliza yang dengan segera menghapus air matanya.


"Tapi nak, bukannya kamu akan tinggal di pesantren..? Dengan kamu tinggal disini, akan ada banyak orang yang akan jagain kamu..! " ucap pamannya membuat eliza sedih.


"Eliza nggak bisa tinggal disini paman, jika orang tua para santri tau. Mereka bukan hanya akan membenci eliza tapi mereka pasti akan memandang buruk pesantren ini. Dan perjuangan keluarga afnan untuk pesantren ini akan sia-sia. "


"Tapi nak..!"


"Paman..! Eliza mohon, hiks... eliza sudah kehilangan mama dan juga papa eliza saat kecil. Dan sekarang eliza kehilangan kehormatan eliza hiks. Eliza tidak punya tempat lagi selain rumah paman. Eliza sangat ingin menenangkan diri eliza dulu paman..! " ucap eliza dengan air mata yang kembali keluar.


Bukan lagi kebohongan, kini eliza mengatakan semua yang ia rasakan kepada pamannya itu. Sedangkan afnan menatap sendu di balik pohon tanpa sepengetahuan eliza.


"Baiklah, paman akan coba membicarakan hal ini pada mertua mu dan juga suamimu. Jika mereka setuju, kamu boleh ikut paman, tapi jika mereka tidak setuju. Paman tidak bisa memaksa mereka...! "

__ADS_1


"Terima kasih paman..! "


"Jangan menangis lagi, dan kamu tahu pasti paman sangat menyayangimu seperti anak paman sendiri. Paman akan selalu ada buat kamu nak..! "


__ADS_2