
Eliza dengan semangat menuangkan nasi goreng yang telah ia buat ke dalam piring. Terlihat begitu jelas warna merah di nasi goreng itu. Dengan indah ia memberi beberapa sentuhan terakhir hingga membuat nasi gorengnya terlihat menggugah selera.
Setelah selesai dengan nasi gorengnya. Eliza lalu mengambil gelas kosong dan menuangkan kopi ke dalamnya namun bukan gula yang ia tambahkan tetapi garam.
'Hhhhhhhhh... Kita lihat siapa yang akan menang kali ini.' Gumam eliza dengan seringai di wajah cantiknya.
Setelah menyelesaikan masakannya. Eliza duduk dengan tenang sambil menunggu kedatangan afnan, umi, dan juga abi.
Beberapa menit kemudian afnan, abi dan umi datang menghampiri eliza yang sedari tadi menunggu mereka.
"Apa kamu menunggu kami dari tadi nak..?. " tanya umi.
" Nggak kok mi." jawab eliza dengan senyum manisnya.
"Oh...ya ayo duduk. Kita makan. " ajak eliza dengan senyuman yang masih setia melekat di bibirnya.
"Oh ya. Ini khusus untukmu. Aku sendiri yang membuatnya. " ucap eliza sambil menyerahkan nasi goreng yang ia buat tadi pada afnan saat melihat gelagat afnan yang hendak mengambil makanan di meja.
Tanpa curiga afnan menerima makanan yang di berikan eliza. Sedangkan eliza menahan tawanya mati matian. Afnan yang mengira eliza sedang berbaik hati itupun memakan makanan tersebut dengan tenang hingga.
Ia merasa rasa pedas yang seakan membakar tenggorokannya itu. Ia menatap tajam ke arah eliza yang tersenyum lebar tanpa dosa.
"Gimana. Enakan apa kamu mau nambah. Gue bisa masakin lagi." ucap eliza.
"Enak. Enaaaak banget. Oh ya gimana kalau kamu juga cobain ini enak loh. " ucap afnan yang berencana membalas eliza.
"Hhhhhhh.. Nggak usah. Kamu makan aja sendiri biar kenyang." ucap eliza mencoba menghindar.
"Nggak papa. Biar romantis ya nggak mi, bi. " tanya afnan agar eliza terpojok.
"Iya nak. Dan itu akan membuat kalian lebih dekat satu sama lain. Udah nggak papa nggak usah malu malu." ucap umi.
Eliza yang tidak dapat beralasan lagi pun akhirnya ikut memakan nasi goreng yang ia buat sendiri. Baru saja sesuap nasi yang masuk ke dalam mulutnya wajahnya sudah berubah memerah karena kepedasan.
"Bagaimana enakan." tanya afnan balik.
Eliza menatap tajam ke arah afnan yang kini berbalik tersenyum padanya. Dalam hati ia mengucapkan sumpah serapah pada afnan.
"Aku suapi lagi ya. Kamu pasti capek membuatnya tadi." ucap afnan.
"Jangan dong. Gue tadi udah capek capek buat masak sekarang lo nggak mau memakannya." ucap eliza dengan berpura-pura sedih.
"Iya af. Kasian kan eliza. Udah capek capek masak tapi kamu nggak mau menghabiskannya." ucap umi yang tertipu dengan ekspresi sedih eliza.
"Iya mi." ucap afnan pasrah. Sebenarnya dia biasa biasa saja dengan nasi goreng itu. Ia tidak memiliki masalah dengan rasa pedas hanya saja ia tidak terlalu suka memakannya.
__ADS_1
Setelah afnan menghabiskan nasi gorengnya. Eliza memberikan segelas kopi yang sudah ia siapkan sedari tadi pada afnan.
"Oh.. Iya. Gue juga udah buatin kopi. Nih minum." ucap eliza sambil memberikan kopi pada afnan.
Afnan dengan perasaan was was menerima kopi dari eliza. Sedangkan umi dan abi yang melihat hal itu merasa senang karena berfikir bahwa eliza sudah dapat bersikap selayaknya seorang istri.
Tidak ingin di tegur oleh umi lagi, dengan terpaksa afnan meminum kopi tersebut. Baru saja seteguk cairan hitam itu meluncur di tenggorokannya ia ingin memuntahkannya namun ia mencoba untuk menahanya.
'Sepertinya aku benar benar harus mengajarinya bagaimana cara bersikap baik pada suami. Tertawalah yang puas karena nanti kau tidak akan memiliki waktu untuk sekedar tertawa.' Ucap afnan dalam hati sambil menatap eliza. Sedangkan eliza masih setia tersenyum karena berhasil membalas afnan.
Beberapa menit kemudian mereka telah selesai dengan sarapan pagi mereka.
"Bi, mi, afnan ingin bicara sebentar." ucap afnan sopan.
"Bicara apa. Kelihatannya serius." tanya umi.
"Jadi begini. Afnan berencana untuk tinggal di rumah yang dulu afnan beli. Karena menurut afnan dengan afnan tinggal berdua dengan eliza di sana akan membuat afnan dan eliza lebih akrab dengan cepat dibanding disini." jelas afnan.
Mendengar perkataan putranya, umi sedikit keberatan karena rumah yang di beli afnan memiliki jarak tempuh yang lumayan jauh dari pesantren apa lagi rumah afnan itu terletak jauh dari perkotaan dengan perkebunan singkong dan pepohonan yang mengelilingi rumah.
"Apa kamu benar benar tidak bisa tinggal disini saja nak." tanya umi yang masih berharap afnan mau tinggal selamanya di pesantren.
"Kalau afnan tinggal di sini rumah di sana akan kosong mi. Lagian kalau afnan tinggal disana afnan akan mudah mengajari eliza tanpa ada yang mengganggu mi.". Dan juga mengawasinya lanjut Afnan dalam hati.
"Kalau itu memang sudah jadi keputusanmu ya. Mau gimana lagi abi nggak bisa melarang. Hanya saja abi berpesan kalian harus jaga diri baik baik dan jangan lupa sering sering datang ke sini buat bantuin abi ngurus pondok kasian kalau kakak iparmu dan ustad Rizky saja yang mengurusnya. " ucap abi.
"Kalau bisa sekarang Afnan mau beres beres mi. Biar nanti bisa langsung bersih bersih disana jadi tidak akan sampai malam bersih bersihnya." ucap Afnan.
"Hah...kenapa tidak besok saja." tanya umi.
"Tidak bisa umi." ucap Afnan kembali.
"Baiklah. Umi tidak bisa melarang kalian lagi." ucap umi dengan wajah sedihnya.
"Umi tenang saja. Afnan akan sering sering datang ke sini kok." ucap Afnan.
Setelah sekian lama meyakinkan umi. Afnan dan eliza pun bersiap. "Kenapa mendadak banget sih. Dan kenapa lo nggak minta persetujuan gue dulu. Gue sekarang kan istri lo." ucap eliza kesal.
"Apa memberitahukan padamu itu penting..?" tanya Afnan.
"Tentu saja pen..." ucap eliza.
"Sudah tidak perlu cerewet." ucap Afnan memotong ucapan eliza. Membuat eliza semakin kesal dan mengerucutkan bibirnya.
Selesai mengemas barang barangnya. Eliza memasukkan beberapa kopernya ke dalam taxi yang sudah di pesan afnan untuk mengantar mereka ke rumah baru mereka. Sedangkan afnan sedang mengambil motornya.
__ADS_1
Seusai berpamitan eliza pun menaiki montor yang di kendaraan afnan. Selama perjalanan eliza tak henti hentinya merasa bingung karena sedari tadi ia dan afnan tak kunjung sampai di rumah mereka sedangkan mereka sudah keluar dari kota cukup jauh.
"Apa lo beli rumah di Papua. Jauh amat dari tadi nggak nyampek nyampek." ucap eliza yang sudah mulai bosan.
"Sebentar lagi." jawab afnan.
"Dari tadi jawabnya sebentar lagi sebentar lagi." ucap eliza kesal.
Ya mereka berdua berboncengan di atas motor afnan dengan mobil taxi yang mengikuti mereka dari belakang.
.
.
.
.
.
.
.
.
. Hay...gimana pada suka kan sama ceritanya
.
. Author cuma mau bilang
. JANGAN LUPA like dan juga comen
.
. Dan jangan lupa vote juga buat dukung author
.
.
. Sampai jumpa lagi
.
__ADS_1
. Salam CHERRY