Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 18


__ADS_3

Saat memasuki kamar, eliza di kagetkan dengan keberadaan afnan yang sedang duduk di atas tempat tidur.


"Ngapain lo di sini..?." tanya eliza yang kaget.


"Seharusnya aku yang tanya. Kamu ngapain masuk ke dalam kamarku...?." tanya afnan yang mulai menatap penampilan eliza.


Sedangkan eliza yang melihat afnan sedang menahan tawa pun merasa sebal.


"Ngapain lo ketawa." ucap eliza sengit.


"Hhh.. Nggak, cuma lucu aja. Seorang pembalap mobil liar yang super duper brandalannya sedang memakai gaun muslim hhhhhhh." ucap afnan sambil tertawa.


"Emang kenapa. Lagian gue itu cantik, jadi mau pakai apa aja gue tetep cantik." ucap eliza yang kepedean.


"Emang aku tadi bilang kalau kamu itu jelek..? Kan enggak. Wlek..." ucap afnan membuat eliza semakin kesal dan geram.


"AFNAAAAN... DASAR COWOK NYEBELIN..." ucap eliza yang kesal.


Afnan yang takut terkena amukan istrinya pun lari menuju ke dalam kamar mandi.


Sedangkan para santri wati yang tidak sengaja mendengar perseteruan afnan dengan istrinya pun ikut tertawa.


Sikap afnan yang berbeda terhadap istrinya membuat para santri wati merasa iri terhadap eliza.


"Ternyata gus afnan bisa menggoda istrinya ya." ucap salah satu santri.


"Iya, bikin iri aja. Kalau aja yang di nikahi gus afnan itu saya. Pasti saya akan bahagiaaaaa banget." saut yang lainnya.


"Mimpinya jangan ketinggian. Kalau iya, kasihan gus afnan nya, udah tampan eehh.. Dapet istri pas pasan. Hhhhhhh..." ucap yang lain.


"Iiihhhh.. Saya nggak sejelek itu juga kalik." jawabnya cemberut.


"Iya iya bercanda. Udah yuk lanjut bersih bersihnya. Ntar kalau ning eliza tau kita ngomong tentang gus afnan, ntar malah ngamuk lagi." ucapnya.


"Iya udah yuk." jawab yang lain.


Di lain tempat.


Eliza menghabiskan waktunya dengan rasa bosan di atas tempat tidur.


"Bosen banget sih.. Hmmm mending gue hubungi temen temen aja ya." ucap eliza yang langsung mengambil henfon yang ada dalam tas nya.


"Halo cik. Baru aja gue mau hubungi lo. Eh lo malah udah duluan hubungi gue. Oh ya gue bosen nih ketemuan yuk." ucap eliza tanpa henti.


"Santai woy. Gue pusing nih denger lo yang nggak berhenti ngomong. Gue sama yang lain lagi di bar. Lo kesini aja." ucap cika.


"Ya udah tungguin gue ya." ucap eliza yang bersiap siap.


Setelah menutup telfon, eliza segera bersiap siap.


"Sial gue kan nggak punya baju. Masak iya gue pakai baju ginian. Bisa di buat bahan tertawa an sebar dong. Gimana ya." ucap eliza yang sedang pusing.


"Ha..gue tau, gue harus gimana." ucap eliza dengan senangnya setelah mendapatkan ide.


"Kenapa kamu sebahagia itu..?." tanya afnan tiba tiba membuat eliza kaget dan seketika menatap afnan.


"Sejak kapan lo berdiri di situ...?." tanya eliza balik.

__ADS_1


"Kalau ada yang bertanya itu di jawab. Bukannya malah tanya balik." ucap afnan.


"Hmm kepo." ucap eliza cuek.


"Hah.. Hari ini kita menginap disini besok baru kita pulang." ucap afnan sambil menata penampilannya di depan cermin.


"Memangnya ada apaan...?." tanya eliza.


"Aku harus mengisi pengajian untuk menggantikan ustadz Ricky. Ya kalau kamu mau, kamu bisa ikut." ucap afnan menjelaskan.


"Nggak ah. Males banget. Palingan ntar juga acaranya membosankan. Mending gue di rumah, tidur." ucap eliza menolak mentah mentah ajakan afnan.


"Tidak masalah kalau kamu tidak mau ikut. Lagian kamu juga nggak akan bisa keluar dari pesantren ini." ucap afnan tenang.


"Maksud lo apaan." tanya eliza yang bingung.


"Aku sudah membagi beberapa santri putra untuk menjaga seluruh jalan masuk dan keluar pesantren. Jadi tidak akan ada santri wati yang berusaha untuk kabur." ucap afnan sambil menyindir eliza dan berlalu begitu saja meninggalkan eliza.


Bilang aja langsung kalau gue nggak akan bisa kabur dari sini. Pakai nyindir nyindir segala lagi. Ucap eliza dalam hati.


"Bagaimanapun caranya gue harus bisa keluar dari sini. Ogah banget gue harus ikut pengajian nggak jelas gitu." ucap eliza.


Di lain tempat.


Para santri sedang bersiap menuju ke masjid untuk mengikuti pengajian dengan gembiranya.


"Hey.. Kalian udah pada denger nggak. Kalau malam ini yang isi acara itu gus afnan." tanya salah satu santriwati.


"Yang bener kamu. Kamu tau darimana..?." temannya balik.


"Tadi aku nggak sengaja denger percakapan pak kyai dengan gus afnan." jawabannya.


"Apalagi bisa lihat wajah gus afnan yang bikin adem di hati, pasti tambah semangat ikut pengajiannya." ucap yang lainnya.


"Jangan suka membicarakan orang. Hati hati dengan hati kalian, ingat gus afnan itu sudah memiliki istri." ucap Nadira.


"Ya kalau sama gus afnan sih aku nggak akan kecewa kalau hatiku memilihnya karena memang sejak pertama kali aku melihat gus afnan hatiku sudah ku serahkan kepadanya. " ucap temannya.


" Setampan dan sekaya apapun seorang pria. Tidak akan ada yang mau cintannya tidak di balas. Dan sebelum kamu kecewa lebih baik kamu tata kembali hatimu." nasehat nadira.


"Iya.. Oh ya nad. Emangnya kamu udah move on ya dari gus afnan." tanya temannya lagi.


Bukannya menjawab pertanyaan dari temannya. Nadira malah berjalan menuju masjid lebih dulu meninggalkan teman temannya.


"Eh nad tungguin kita." teriak teman temannya memanggil nadira.


Di lain tempat.


Leon tidak henti hentinya memukul samsak yang ada di hadapannya dengan begitu kerasnya.


"HAAAAHHH.... berani sekali eliza memutuskan gue. Apalagi di hadapan pria tengik itu. Haaah.." ucapnya kesal dan marah.


"Tidak tidak. Eliza tidak boleh meninggalkan gue. Dan jika dia tidak bisa gue miliki maka tidak ada seorang pun yang boleh memilikinya." ucap leon.


Tidak lama kemudian datang seorang wanita paruh baya menghampiri leon.


"Permisi den. Diluar ada temen temen aden datang." ucapnya.

__ADS_1


"Suruh mereka masuk. " perintah leon pada pembantunya.


" Baik den." jawab sang bibik kemudian keluar dari ruang GYM pribadi tuannya.


Beberapa menit kemudian leon keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju ke arah ruang tamunya.


"Bagaimana informasi yang gue perintahkan...?." tanya leon.


"Gue mendapatkan info kalau si afnan itu saat ini sedang berada di pesantrennya eon." ucap temannya.


"Bagus. Kalau begitu kalian pergi kesana dan bikin kegaduhan disana. Hancurkan segala yang ada disana." perintah leon.


"Siap eon. Temen temen lest go." ucap arka, tangan kanan leon.


Mereka pun segera pergi menuju ke pesantren meninggalkan leon yang sedang tersenyum licik.


"Kita lihat saja. Ini akibatnya jika melawan gue." gumam leon.


Di lain tempat.


Eliza telah siap dengan segala keperluannya untuk dapat kabur dari pesantren.


Setelah melihat sekelilingnya yang terasa sepi karena seluruh santri berada di masjid. Eliza mulai menjalankan aksinya.


Eliza berjalan mengendap endap, agar tidak ketahuan. Saat sampai di depan gerbang. Benar saja disana sudah terdapat empat santri putra yang bertugas menjaganya.


"Sialan. Gue kira dia nggak akan benar benar melakukannya." gumam eliza pelan.


Namun eliza tidak habis akal. Ia mulai berjalan menuju ke dapur karena disana biasa para santriwati keluar pesantren untuk belanja. Sesampainya di sana. Lagi lagi di jaga empat orang.


.Hay...udah lama banget ya author nggak update. Pada kangen nggak sama author.


.


. Jangan bosan baca dan nunggu author ya soalnya akhir akhir ini emang author super duper sibuk. Jadi up nya agak lama.


.


. Besok author usahain deh buat up lagi ya.


.


.


. Daaaan.. Jangan lupa buat like comen


dan satu lagi jangan lupa VOTE nya ya.


.


. Sampai jumpa lagi


.


. Daaaaa


.

__ADS_1


. Salam cherry


__ADS_2