
Setelah kepulangan orang tua afnan, eliza berjalan menuju keruang tv hendak meninggalkan afnan.
"Sepertinya ada yang lupa akan tugasnya. " sindir afnan.
"Gue lihat kaki lo baik baik aja jadi lo bisa jalan sendirikan.. ?" ucap eliza menatap sebal kearah afnan.
"Aahhhss.... kenapa kepalaku tiba - tiba pusing banget ya. " celetuk afnan membuat eliza geram.
"Heh.. ternyata seorang gus sebuah pondok pesantren juga bisa bohong juga ya. " sindir eliza sambil memapah afnan.
"Siapa yang bohong, kepalaku memang sakit kalau tidak percaya ya sudah. " ucap afnan.
Sesampainya didepan tv, eliza mendudukkan afnan disofa panjang depan tv. Dan saat ia hendak duduk afnan menghentikannya.
"Eliza tolong ambilkan aku minum aku benar - benar haus. " pinta afnan.
"Ambil sendiri, lo dah gede gak usah sok manja. "
" Ayolah istriku tolong ambilkan minum untuk suamimu ini. " ucap afnan kembali.
"Ok gue ambilin tapi lo berhenti ngomong hal menjijikkan itu lagi. " ucap eliza kesal.
"Hal menjijikkan apa, aku cuma bilang sama istriku untuk mengambilkan air. " ucap afnan lagi.
"Rasanya gue bener - bener pengen muntah. " ucap eliza yang berlalu pergi mengambilkan air untuk afnan.
Sedangkan afnan tersenyum puas setelah berhasil mengejai istrinya itu.
Sore pun tiba afnan yang selesai mandi sedang mencoba membuka perban yang ada dikepalanya. Eliza yang berada didepan pintu kamar melihat suaminya yang kesulitan pun mendekatinya.
"Sini gue bantu.." ucap eliza mengambil alih perban afnan.
Ia membuka perlahan perban afnan, setelahnya ia membersihkan luka yang ada dikening afnan secara perlahan sesuai petunjuk dari dokter sebelum mereka pulang tadi. seusai mengobati lukanya, eliza kembali menutup luka itu dengan plaster.
"Udah. " ucap eliza.
"Terima kasih. " ucap afnan.
"Hmmm.. gue kesini buat suruh lo keruang makan sekarang, gue udah pesenin makanan tadi, buruan gue tunggu sebelum makanannya dingin. " ucap eliza yang berlalu terlebih dahulu meninggalkan afnan.
"Ternyanya singa juga bisa semanis kucing liar. " gumam afnan menatap kepergian eliza sambil tersenyum manis.
Afnan berjalan perlahan menuju ruang makan yang bersebelahan langsung dengan dapur dan ruang tv. Terlihat eliza yang sedang menyiapkan piring untuk mereka makan.
__ADS_1
"Niiih.. !" ucap eliza sembari menyerahkan makanan pada afnan.
"Terima kasih. " ucap afnan.
"Hmm... "
"Oh ya, besok kita disuruh ke pesantren, katanya ada yang penting. Lo kesana sendiri ya, gue males gue pengen pergi sama temen temen gue. "
"Saya tidak mengijinkan kamu pergi bersama teman berandalanmu itu. "
"Maksud lo apa larang-latang gue buat ketemu temen - temen gue."
"Aku suami mu aku berhak melarangmu, lagipula jika kamu pergi aku akan bilang ke umi kalau....." ucap afnan yang sengaja tidak ia teruskan.
"Kenapa sich lo nyebelin banget, ok gue ikut kepesantren. " ucap eliza pasrah karena ia benar - benar tidak ingin melukai hati ibu mertuannya itu yang kini ia anggap sebagai ibunya sendiri.
"Senang mendengarnya, oh ya ini sudah malam sebaiknya kita tidur. " kata afnan.
"Hmmm... " gumam eliza sambil berjalan hendak meninggalkan afnan.
"Istriku...!!" ucap afnan yang menghentikan langkah eliza.
"Kau bisa membantu suamimu ini ke kamar..? lagipula kamar kita bersebelahan. " sambung afnan dan berhasil membuat eliza berbalik dengan wajah jengkel.
Kalau bukan karna umi, gue ogah banget ngurusin nih orang ya meskipun dia sakit gini gara gara gue sich tapi tetep aja, lagian yang sakit kepalannya kenapa buat jalan aja butuh bantuan cobak. Dasar cowok nyebelin.
Eliza terus menerus menggerutu dalam batinnya, sedangkan afnan tersenyum karena lagi dan lagi ia bisa mengerjai istrinya itu.
"Terima kasih. " ucap afnan saat sampai didepan kamarnya.
"Hemm.. " jawab eliza yang kemudian berlalu begitu saja masuk kedalam kamarnya tanpa memperdulikan afnan yang masih menatapnya.
"Haaaahh.. cepat atau lambat aku pasti bisa merubah sikapmu itu eliza. Ya akan aku pastikan. " ucap afnan dengan helaan nafasnya seakan lelah dengan segala sikap eliza terhadapnya.
Malampun berlalu, afnan terbangun dari tidurnya dan bergegas mandi dan segera melaksanakan sholat subuh. Seusai sholat afnan keluar dari kamarnya dan melihat kamar eliza yang masih rapat menandakan sang penghuni kamar masih tertidur. Ia segera mengambil kunci didalam laci meja kecil disamping tempat tidurnya.
Ia segera membuka pintu kamar eliza, dan di sana masih terdapat eliza yang terlelap dengan celana pendeknya dan juga baju tanpa lengan membuat afnan menelan ludah.
Sambil menggelengkan kepalanya, afnan segera membangunkan eliza dengan menyentuh bahu eliza.
"Bangunlah.. ini sudah pagi. " ucapnya, namun sia - sia karena eliza kini malah berbalik memunggunginya.
"Sepertinya tidak ada cara lain. Eliza bangunlah kalau kamu tidak ingin aku ikut naik ke atas ranjangmu, dan menyentuh tubuhmu itu. " bisik afnan tepat di telinga eliza membuat eliza seketika terperanjat dari tidurnya dan segera pada posisi duduk.
__ADS_1
"Loo.. lo kok bisa masuk sich, pintunya kan gue kunci. " ucap eliza terkejut dengan keberadaan afnan di depannya.
"Cepatlah bangun atau kau ingin aku mengangkatmu dan memandikanmu... ?" goda afnan tanpa memperdulikan pertannyaan eliza.
"Apa.... Da.. Dasar pria mesum. Beraninya lo masuk ke kamar cewek sembarangan dan bahkan ngancem gue lagi. " ucap eliza sewot.
"Bagaimana bisa kamu panggil aku mesum saat masuk ke dalam kamar istriku sendiri. " ucap afnan membela diri.
"Loo... " teriak eliza kesal.
"Ya... " jawab afnan polos.
"KELUAARRRR.... " teriak eliza keras karena sudah begitu kesalnya terhadap afnan.
Afnan yang melihat eliza begitu kesal langsung pergi sebelum eliza mengamuk. Namun sesaat sampai di depan pintu.
"Oh ya cepat mandi, aku tunggu di meja makan. " ucapnya sebelum berlalu pergi.
Eliza begitu kesal karena tidurnya diganggu afnan padahal selama dirumah sakit, eliza menjadi kurang tidur bahkan sesampainya dirumah tetap saja tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Eliza berjalan lesu menuju ke meja makan, disana sudah ada afnan yang sedari tadi duduk menunggu eliza.
"Mana makanannya.. ?" tanya eliza heran karena diatas meja tak terlihat makanan sama sekali yang ada hanya dua piring kosong.
"Lo mau makan piring kosong...? atau makanannya belum matang trus ngapain lo bangunin gue kalau makanannya belum siap.. ?" lanjutnya.
"Nih.. !!" ucap afnan sambil memberikan ikan segar pada eliza.
"Ikan mentah.. ? lo nyuruh gue makan ikan mentah.. ? lo kira gue kucing apa.. ???" ucap eliza kesal karena bukannya makanan malahan ikan mentah yang diberikan afnan padanya.
"Ya nggak lah, tadi ada ibu ibu yang jualan ikan segar lewat depan rumah jadi aku beli satu kilo nah lumayan dapat dua ikan. Sekarang kamu goreng setelah itu kita makan. Oh ya tenang aja aku tadi udah beli nasi putih buat makan. " jelas afnan panjang lebar.
"Apaaa... gue yang harus goreng.. ?" tanya eliza.
"Iya, kenapa kamu nggak bisa...?" ejek afnan.
"Bisalah, itu sih kecil buat gue " ucap eliza yang merasa tertantang langsung mengambil dua ikan itu dan dibawa kepencucian.
Eliza menatap ikan itu dengan rasa bingung. Ia mulai mengambil pisau dan mulai membersihkan sisik ikan itu, karena merasa licin, jari eliza yang malahan tergores pisau itu.
"Aauu... " teriak eliza kaget.
Afnan yang terkejut dengan teriakan eliza segera menghampiri eliza dan ia melihat jari eliza yang sudah berdarah. Afnan segera memegang tangan eliza dan mencucinya setelah itu memberikannya obat dan membungkusnya dengan plester.
__ADS_1
Tanpa sadar mereka saling menatap satu sama lain. Dan mulai terbenam dalam tatapan indah mereka. Tanpa disadari cinta mulai mengikat pandangan mereka.