Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 19


__ADS_3

Eliza tidak habis akal, ia lalu berjalan perlahan menuju ke samping rumah. Dan benar saja, di sana tidak ada orang yang menjaganya.


"Tinggi banget sih ni tembok." ucap eliza kesal, ya bukan sebuah pintu yang di tuju eliza melainkan sebuah dinding pembatas yang memang mengelilingi pesantren.


"Untung gue pintar. Jadi gue nggak perlu menunggu kebosanan di sini." ucap eliza yang lalu mengambil ember yang kebetulan ada di sampingnya.


Karena merasa ribet dengan pakaiannya. Kemudian eliza mengeluarkan gunting dari dalam tasnya. Dan menggunting gaun panjangnya hingga lima cm dari lututnya,dan juga pada lengan bajunya yang di gunting hingga tidak menyisakan kain untuk menutupi lengan putihnya.


Setelah make over gaunnya, eliza pun segera memanjat dinding di hadapannya itu. Dengan susah payah, akhirnya eliza sampai di atas dinding. Namun saat menatap ke sisi lain dinding, nyali eliza menurun.


"Kenapa tinggi banget sih. Kalau gue terjun, kaki gue patah nggak ya." ucap eliza ragu.


"Hm.. Apapun yang terjadi gue harus keluar dari sini." ucap eliza yang langsung melompat dengan menutup matanya.


"Aaauuuhhh...pantat gue." ucap eliza yang merasa sakit seusai melompat dari dinding.


"Nggak papa, yang penting gue bisa keluar." ucap eliza senang.


Kemudian eliza segera pergi menuju ke jalan di mana mobil taxi yang ia pesan menunggu.


Di lain tempat.


Afnan mulai membuka pengajiannya dengan mengucapkan salam dan di jawab para santri yang sudah duduk dengan rapi di masjid.


Saat tengah menerangkan tiba tiba jendela di samping afnan pecah hingga mengenai lengan afnan. Para santri pun berteriak histeris menyaksikan hal tersebut dan berlari keluar untuk melihat sang pelaku.


Sebagian santri putra menolong afnan untuk dibawa ke dalam rumah. Sedangkan para santri putri di perintahkan untuk ke pesantren putri dan berlindung disana.


Saat hendak membawa afnan pergi, mereka dihadang segerombolan pria yang terlihat menantang.


"Mau apa kalian...?." tanya salah satu santri.


"Serahkan afnan pada kami." ucap Kevin.


"Kalian tidak diperbolehkan menyentuh gus afnan sedikitpun." ucap doni.


"Kalau begitu, ini yang kalian minta." ucap Kevin yang lalu menendang perut doni dengan keras hingga membuat doni terpental ke belakang.


Hal tersebut menyulut emosi teman teman doni hingga menyebabkan pertarungan sengit antara para santri putra dengan teman teman leon.


Afnan yang melihat begitu banyak santri yang terluka dan jatuh membuat afnan harus ikut melawan dan menahan kuat kuat rasa sakit pada lengannya.


Bukan hal mudah, dapat memenangkan pertarungan itu karena afnan harus melawan tiga orang sekaligus dan juga menahan rasa sakitnya.


Kevin menendang kuat pada lengan afnan yang terluka. Hingga akhirnya afnan terjatuh dengan lengannya yang penuh darah. Namun afnan mencoba menahannya dan melawan Kevin dan kedua temannya itu.


Pukulan demi pukulan di dapatkan afnan hingga bagian ujung bibirnya dan keningnya berdarah. Dan pukulan Kevin pada kepala afnan berhasil menghancurkan pertahanan afnan.


Hal tersebut membuat afnan tak dapat menopang tubuhnya dan akhirnya terjatuh.


"Dengar ini dan ingatlah. Eliza hanya akan menjadi milik leon. Jangan coba coba lo buat memilikinya. Jika tidak ingin hal ini terjadi lagi. CABUT... " ucap Kevin yang lalu berteriak memerintahkan teman temannya yang telah mengalahkan para santri untuk pergi.

__ADS_1


Namun sebelum benar-benar pergi,mereka merusak beberapa fasilitas pesantren. Sedangkan para santri yang melihat afnan hampir tidak sadarkan diri, segera bangun dan menghampiri afnan.


"Gus.. Gus afnan. Sadar gus. Bagaimana ini." ucap salah satu santri yang mencoba membangunkan gus afnan.


"Kita bawa saja gus afnan ke dalam dulu setelah itu ada sebagian yang mencoba mencari pinjaman henfon untuk menghubungi abi dan umi, sebagian lagi pinjaman mobil untuk membawa gus afnan ke rumah sakit." ucap salah satu santri.


Merekapun bersebar sesuai perintah senior mereka. Dan sebagian yang tersisa mengangkat gus afnan untuk di bawa masuk ke dalam masjid.


Selang beberapa menit kemudian, mobil yang mereka pinjam tiba, dan mereka pun membawa segera gus afnan ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit.


Di lain tempat.


Eliza telah sampai di bar, dimana teman temannya menunggunya.


"Akhirnya lo sampai juga. Gue kira lo gagal buat kabur kesini." ucap tasya.


"Gagal..? Ya nggak mungkin lah. Denger ya, gue itukan cerdik jadi masalah seperti ini, kecil buat gue." ucap eliza membanggakan diri.


"Iya ya. Oh ya gue denger lo putusin si Leon ya...?." tanya cika.


"Iya. Abis gue sebel banget. Dia terlalu mencampuri urusan gue." ucap eliza.


"Ya mungkin aja karena dia khawatir sama lo." ucap devi.


"Ya mau gimana lagi. Lagian gue sama dia terlanjur putus." ucap eliza.


"Tapi gue nggak pernah setuju lo putusin." ucap leon. Yang keberadaannya membuat semua orang dihadapannya terkejut.


"Tetap saja. Gue udah bilang putus sama lo." ucap eliza.


"Gue akan melepasnya secara paksa meskipun aku sendiri akan merasakan sakit. Ayo Girls kita cabut dari sini." ucap eliza mengajak teman temannya pergi.


"Hhhhhh... Dengar dan ingatlah eliza lo selamanya akan menjadi milik gue. Apabila gue nggak dapat memiliki lo. Maka orang lain juga tidak." ucap leon membuat langkah eliza terhenti.


Sejenak eliza teringat afnan. Namun, dalam hati ia berkata bahwa afnan pasti baik baik saja karena afnan berada dalam pesantren.


Eliza pun meneruskan langkahnya tanpa menoleh ke arah leon yang terlihat begitu marah terhadap sikap eliza yang berubah terhadapnya.


Sesampainya di tempat Parkir, eliza berpamitan pada teman temannya untuk segera pulang.


"Gue pulang dulu ya. Sebelum pengajiannya selesai." ucap eliza berpamitan.


"Kita anterin ya el." tawar tasya.


"Boleh juga tu." ucap eliza.


Mereka berempat pun masuk kedalam mobil tasya. Di sepanjang jalan, mereka habiskan dengan bernyanyi bersama hingga membuat beberapa pengendara lain merasa jengkel karena mobil mereka yang berjalan ugal ugalan.


Bahkan mobil mereka hampir saja bertabrakan.


"Tiiiiiinnnn..." bunyi klakson dari pengendara itu. Bukannya merasa bersalah, mereka malah marah marah di dalam mobil.

__ADS_1


"Dasar orang gila. Udah tau gue tadi mau nyalip truk. eh dianya nggak mau berhenti. Untung nggak ketabrak." ucap tasya marah.


"Iya tuh... Kalau nggak bisa nyetir mending nggak usah nyetir kali." ucap eliza ikut ikutan marah.


Di lain tempat.


Doni begitu kesal dengan pengemudi yang hampir saja menabrak dirinya.


"Yang cepat don tapi tetap hati hati. Jangan sampai seperti tadi." ucap diko.


"Iya iya. Lagian tadikan yang salah mobil merah tadi. Udah tau di depannya ada mobil yang jalan berlawanan arah masih aja menyalip mobil truk tadi."ucap doni membela diri.


"Ya udah. Kita sabar aja. Kali aja mereka lagi ada hal darurat seperti kita." ucap reza mencoba menenangkan temannya.


.


.


.


.


.


.


.


. #Hay....


. Apa kabar.


. Kalau author sih baik terus ya


. Oh ya jangan bosen ya buat nungguin author


.


. Pokoknya setia trus sama author ya.


.


. Dan ya. JANGAN LUPA buat LIKE


. COMEN


. dan satu lagi


. VOTE nya jangan sampai lupa ok.


.

__ADS_1


. Sampai jumpa lagi


. Salam CHERRY


__ADS_2