
Eliza terus mencoba menghindar dari tatapan afnan yang begitu tajam ke arahnya.
"Lo udah pulang. Emh mendingan lo buruan mandi deh, bau tauk..." ucap eliza mencoba mengalihkan fokus afnan.
Namun afnan sama sekati tidak menanggapi segala usaha eliza untuk menghindar dari kemarahannya.
"Sudah capek, main mainnya..?." tanya afnan pada eliza yang sedari tadi tidak berani berkutik.
"Kalau sudah, bisakan beresin semua kekacauan yang kamu buat ini...?." tanya afnan halus namun hal itu tidak dapat menyembunyikan maksud dari ucapannya itu.
"Kenapa harus gue yang beresin..? Emang lo nggak bisa beresin sendiri..?." ucap eliza yang hendak menolak.
"Sekarang aku tanya, siapa yang kotorin rumah..?." tanya afnan.
"Gue." jawab eliza.
"Jadi orang yang seharusnya bersihin siapa..?." tanya afnan kembali.
"Gue... Eh nggak bisa gitu dong. Gue berantakin rumahkan juga gara gara lo. Kalau aja lo nggak bikin masalah sama gue. Gue juga nggak akan buat masalah kok. Jadi intinya lo yang harus beresin ini semua." ucap eliza dengan senyuman kemenangannya.
"Hah... Kamu beresin atau aku akan adukan ke paman. " ancam afnan.
"Apa..? Apa lo tega, lihat istri lo beresin rumah segini kotornya. Tega amat jadi suami." ucap eliza dengan wajah imutnya agar afnan tidak memintanya untuk membersihkan rumah.
Namun afnan sama sekati tidak memperdulikan rengekan eliza, dan malah pergi ke dalam kamarnya sendiri meninggalkan eliza yang melongo melihat suaminya yang tidak perduli akan dirinya.
"Dasar suami sialan. Suami nggak guna. Ctiiih.. Nyebelin banget sih. Tau gini gue nggak akan kotorin nih rumah, kalau ujung ujungnya gue juga yang harus bersihin sendiri." omel eliza sambil membereskan rumahnya.
Di lain tempat.
Leon tidak henti hentinya memarahi teman temannya yang telah gagal melaksanakan tugas yang ia berikan.
"Kalian bodoh banget sih. Kalian cuma gue suruh buat cari tahu alamat eliza tinggal sekarang, tapi apa kalian malah kembali tanpa mendapatkannya. Kalian semua NGGAK GUNAK." teriak leon yang begitu marah hingga membalikkan meja di depan teman temannya.
"Kenapa kita nggak tanya aja sama tasya, cika dan karlin mereka kan bersahabat jadi kemungkinan besar mereka tahu dimana eliza tinggal saat ini." ucap salah satu teman leon.
"Bener juga lo. Cabut ke rumah tasya." perintah leon pada teman temannya.
Sesampainya di rumah tasya, leon segera mengetuk pintu rumah tasya dengan keras. Membuat tasya yang mendengar hal itu sedikit was was apabila orang yang ada di luar rumahnya itu rampok ataupun orang yang berniat jahat terhadapnya.
Tasya pun dengan perasaan takut membuka pintu rumahnya secara perlahan. Saat membuka pintu rumahnya, tasya dikejutkan dengan kedatangan leon dan teman-temannya.
"Kalian..? Kalian ngapain ke sini. Pakai acara ramai ramai segala. Udah kayak karyawan mau demo aja." ucap tasya.
"Em.. Tasy, lo nggak nawarin kita masuk ke dalam gitu. Bawain cemilan, minuman atau apa kek gitu, kita kan tamu." ucap tomi.
__ADS_1
"Tamu apaan yang dateng ramai ramai gini, trus nggak sopan lagi. Dan lagi rumah gue nggak akan cukup buat nampung kalian semua tauk." jawab tasya tidak menawarkan leon dan teman temannya masuk ke dalam rumahnya.
"Udah langsung ngomong disini aja. Kalian mau apa datang ke rumah gue." tanya tasya.
"Dimana eliza." tanya leon singkat.
"Ya dirumahnya lah masak dirumah gue, lagian dia juga udah punya suami, nggak mungkinkan dia tinggal sama gue." jaeab tasya cuek.
"Lo mau main main sama gue ha..." ucap leon dengan menatap tajam ke arah tasya dan juga mencekik leher tasya kuat membuat tasya kesulitan bernafas.
"Le.. Le.. Lepaass.. Kan.. Akuhhh...dullluuhh.." ucap tasya terbata bata karena cekikan leon.
"Hah. Kalian gila ya. Gue bisa aja terbunuh tadi.." tasya yang segera menghirup udara dengan rakus setelah leon yang melepaskan cekikannya.
"Dan lo bener bener akan gue bunuh kalau lo masih tidak memberitahukan alamat eliza." ucap leon menatap tajam tasya.
"Hah.. Kau benar-benar tidak sabaran. Ok jadi dia tinggal di alamat ini.... " ucap tasya yang memberitahukan alamat eliza kini tinggal.
"Ayo cabut...!!" ucap leon pada teman temannya untuk pergi dari rumah tasya.
Sedangkan tasya yang melihat leon pergi begitu saja tanpa meminta maaf padanya pun merasa kesal dan marah.
"Sialan tu orang, udah gue bantu malah nggak berterima kasih sama sekali atau minta maaf kek." ucap tasya yang memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumahnya.
"Eh... Gue lupa. Eliza tinggal disanakan sama suaminya. Dan kalau leon dan teman-temannya pergi kesana trus leon dan suami eliza ketemu. Bisa perang dunia ketiga. Tauk ah biar eliza sendiri yang misahin." ucap tasya tidak ingin ambil pusing lagi.
Eliza menatap tudung saji di atas meja di depannya saat ini. Namun rasa gembiranya lenyap saat ia membukanya dan tidak ada makanan di dalamnya.
"Duh.. Laper banget gue. Nggak ada makanan lagi. Suruh afnan masak aja ah." ucap eliza yang segera pergi mencari afnan.
"Afnan... Af.. Afnan.." panggilnya mencari afnan.
Sedangkan afnan yang mendengar eliza memanggilnya pun keluar dari kamarnya. Dan menghampiri eliza.
"Apa kau fikir ini hutan ha..?." ucap afnan menyinggung eliza yang teriak teriak memanggilnya.
"Gue laper." ucap eliza sambil memegang perutnya.
"Lalu apa hubungannya denganku.?." tanya afnan tidak peduli.
"Ayolah... Gue udah capek beresin rumah dan tadi siang gue nggak sempet makan siang. Sekarang gue laper banget."ucap eliza mencoba membuat afnan kasihan dan mau memasak makanan untuk dia.
"Itu salah kamu sendiri. Siapa suruh kamu mengotori rumah." ucap afnan yang mulai berjalan menuju dapur.
Eliza yang awalnya cemberut pun merasa senang dan segera mengejar afnan yang sudah di dalam dapur.
__ADS_1
Afnan segera menekuk lengan baju koko nya membuatnya terlihat begitu tampan. Dan segera mengambil beberapa bahan makanan dari dalam kulkas.
"Apa yang harus gue bantu..?." tanya eliza.
"Potong tomat ini." ucap afnan menyerahkan beberapa butir buah tomat pada eliza.
Eliza pun segera memotong buah tomat di tangannya sesuai perintah afnan.
"Kenapa lo suka banget sih sama tomat. Padahal tomat kan rasanya nggak enak enak banget." ucap eliza yang penasaran dengan kegilaan afnan terhadap timat.
"Ya karena aku suka." jawab afnan.
"Ha...? Itu saja..?." tanya eliza kembali.
"Hmmmm..." Jawab afnan.
"Hah.. Terserah deh. Ini, udah gue cuci dan udah gue potong." ucap eliza sambil memberikan potongan tomat tadi pada afnan.
"Hmmmm.." gumam afnan.
"Apa lagi yang harus gue kerjakan..?." tanya eliza.
"Ambil piringnya." ucap afnan.
"Oke." ucap eliza yang langsung mengambil dua piring dan dua gelas dan menaruhnya di atas meja.
"Apa sudah matang..?." tanya eliza sambil mencium bau sedap yang keluar dari sambal goreng ikan yang dibuat afnan.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya eliza dapat memuaskan perutnya. Ia pun segera melahap makanannya meninggalkan afnan yang sedang menuangkan air dalam gelasnya.
Karena tergesah gesah, eliza pun tersedak hingga terbatuk batuk. Afnan yang melihatnya pun segera memberikan air pada eliza.
"Apa kau belum makan satu minggu ha...?." tanya afnan memarahi eliza.
"Ghuk..ghuk.. Gue lapar. Terserah gue mau maka seperti apa." ucap eliza yang sebal.
"Terserah." ucap afnan yang mulai memakan makanannya.
Eliza pun mulai makan kembali makanannya dengan cepat tanpa takut jika ia tersedak kembali. Dan kini makanannya habis terlebih dahulu sedangkan perutnya masih merasa lapar. Ia melihat ke atas piring di depannya, sudah tidak tersisa makanan disana.
"Makanlah." ucap afnan yang memberikan makanannya pada eliza.
"Emangnya lo kenyang makan segitu aja apa." tanya eliza saat melihat afnan yang memberikan setengah makanannya padanya.
"Tenang saja aku tidak serakus dirimu." jawab afnan.
__ADS_1
"Sialan lo." ucap eliza yang langsung memakan makanannya tanpa memperdulikan afnan lagi.
Sedangkan afnan menatap eliza lembut dengan senyuman yang tanpa ia sadari telah terparkir indah di wajahnya.