
Leon merunduk karena rasa malunya pada afnan yang masih mau membantunya meskipun ia sudah terlalu banyak berbuat salah, bahkan ia pernah mencoba melukai afnan.
"Ada apa..?" tanya afnan.
"Gue malu sama lo af, gue udah banyak salah sama lo bahkan, gue selalu ingin buat lo celaka. Tapi sekarang lo bantuin gue disini. Gue nggak tau harus ngomong apa lagi sama lo selain minta maaf." ucap leon.
"Sudahlah, jangan pikirin hal yang sudah lalu. Lagian aku juga sudah lupakan itu semua yang penting sekarang, kamu mau bertobat dan berjanji tidak akan melakukan kejahatan lagi.!" ucap afnan.
"Terima kasih af. Dan el, gue juga minta maaf karena gue yang terlalu opsesi sama lo sampai buat gue hampir lukain lo. Sungguh gue nggak pernah mau kamu sampai terluka. Tapi el sekarang gue nggak akan ganggu lo lagi dan lo sama afnan sudah bisa hidup bahagia tanpa ada yang akan mengganggu kalian lagi..!" ucap leon.
"Ya gue maafin. Tapi lo harus benar benar berubah dan bertobat.!" ucap eliza.
"Iya..!"
"Ya sudah leon, aku sama eliza pamit pulang dulu ya. Soal tadi, aku akan membicarakannya pada polisi agar bisa bantu kamu buat belajar agama disini dan juga aku akan sering kunjungi kamu disini..!" ucap afnan.
"Iya af, sekali lagi gue berterima kasih sama lo..!" ucap leon lagi.
"Iya sama sama. Kalau gitu, kita pamit dulu ya..! Assalamu'allaikum..!" ucap afnan.
"Wa'alaikum salam..!" ucap leon pelan yang membuat afnan tersenyum karena leon mau menjawab salamnya.
Eliza terus memeluk afnan selama perjalanan mereka membuat afnan tersenyum karena hal yang paling ia harapkan dari istrinya telah ia dapatkan. Istrinya yang kini telah berubah padanya dan juga perasaan cinta eliza yang sudah diungkapkannya membbuatnya merasa semakin bahagia.
"Setelah ini kita pergi kepesantren..?" tanya eliza.
"Iya, karena hari ini hari awal masuk para santri dan akan ada pembagian tempat tidur. Jadi aku harus membantu disana.!" ucap afnan menjelaskan.
"Gue juga mau bantu deh kalau gitu..!" ucap afnan antusias.
"Ya boleh aja, asal jangan terlalu capek ya. Kasihan bayinya kalau kamunya terlalu capek..!" nasehat afnan.
"Siap komandan..!" ucap eliza membuat afnan tertawa dengan tingkah konyol istrinya itu.
"Kamu ini ada ada aja..!" ucap afnan sambil tertawa.
Melihat afnan yang tertawa, eliza pun ikut tertawa. Dan keduanya saling melempar candaan membuat perjalanan mereka terasa sangat menyenangkan.
Dilain tempat.
Nadira sedang membantu mengapsen santriwati baru yang dibantu dengan ustadzah fitri yang memang mengajar disana.
"Neng dira, kenapa nggak sekalian aja ngelamar kerja buat mengajar disini..? Lagipun tenaga mengajar disini juga kurang..!" ucap ustadzah fitri.
"Iya ustadzah, tadinya saya juga mau melamar, makanya saya ikut kesini sama mas rizky.!" jawab nadira.
"Wah, jadi bisa punya temen dong..!" ucapnya lagi.
__ADS_1
"Iya usyadzah..!"
Merekapun saling bertukar candaan sambil memasukkan nama santriwati kedalam botol untuk diundi. Pengundian ini digunakan untuk mengelompokkan santriwati menjadi beberapa kelompok yang akan ditempatkan ketempat tidur.
"Assalamu'allaikum..!" ucap seorang pria yang berdiri didepan pintu ruang kelas santriwati.
"Wa'allaikum salam ustadz. Ada perlu apa ustadz..?" tanya ustadzah fitri.
"Maaf ustadzah, saya mau pinjam neng nadiranya sebentar, apa boleh..?" ucap pria itu yang tak lain adalah rizky.
"Kalau itu nggak usah ijin ustadz, malahan kalau disini seharusnya saya yang pinjem ke ustadz.!" goda ustadzah fitri.
"Emh..ayo ustadz..! Kita permisi dulu ya ustadzah fitri. Assalamu'alaikum..!" ucap nadira yang malu karena banyak santriwati yang memperhatikannya dan menebak nebak hubungan mereka.
Nadira yang terburu buru karena malu tidak sadar pergi dengan menggandeng tangan rizky membuat semua orang yang melihatnya tersenyum.
"Hah, pasangan muda memang lucu tingkahnya..!" gumam ustadzah fitri.
Dilain tempat.
Eliza dan afnan akhirnya sampai juga di pesantren. Terlihat banyak orang tua para santri yang menunggu anak mereka ditempat tunggu yang sudah disediakan.
Eliza yang selalu diperhatikan banyak orang merasa gugup, sedangkan afnan yang melihat istrinya gugup segera menghampirinya dan menggandengnya setelah memarkirkan motornya.
"Jadi itu gus pesantren ini..?" bisik bisik para ibu itu.
"Waah..! Itu hal yang baik ya. Gus afnan dapat membawa energi positif bagi orang didekatnya.!" ucap mereka lagi.
"Iya. Makannya saya tidak ragu buat bawa putra saya kesini..!" ucap salah satu ibu itu.
"Assalamu'allaikum ibu ibu, bapak bapak..!" ucap afnan menghampiri mereka.
"Wa'allaikum salam gus..!" jawab mereka.
"Assalamu'allaikum..!" giliran eliza yang mengucapkan salam dengan perasaan gugup karena ia masih takut dengan pandangan orang padanya.
"Wa'allaikum salam neng..!" jewab mereka lagi dengan senyum ramah mereka, yang membuat eliza merasa sedikit lega.
"Apa bapak dan ibu sudah mendapatkan snack..?" tanya afnan ramah.
"Belum gus..!" ucap bapak bapak dibangku belakang.
"Kalau begitu tunggu sebentar ya..!" ucap afnan yang kemudian berjalan menuju kerumah umi dengan eliza yang mengikutinya dari belakang.
"Assalamu'allaikum gus, ning..!" ucap nadira dan rizky saat melihat afnan dan eliza yang berjalan menuju kerumah umi.
"Wa'allaikum salam, gimana kabar kalian..?" tanya afnan.
__ADS_1
"Alhamdulillah gus, kami baik. Kalau gus sama neng eliza gimana kabarnya..?" tanya rizky.
"Alhamdulillah kami juga baik. Oh ya apa sneck yang akan dibagikan keorang tua santri sudah siap..?" tanya afnan.
"Sudah gus, tadinya saya yang akan membagikannya..!" ucap nadira.
"Emh gimana kalau gue bantu bagiin..?" tanya eliza.
"Tentu saja neng, ayo kita ambil dirumah bu yai..!" ajak nadira dan pergi meninggalkan afnan dan rizky sendiri.
Eliza dan nadira kini dirumah umi untuk mengambil sneck yang akan dibagikan keorang tua santri yang menunggu anak mereka.
"Assalamu'allaikum umi..!" ucap eliza semangat.
"Assalamu'allaikum bu yai..!" ucap nadira.
"Wa'allaikum salam..!" jawab umi.
"Lo..nak eliza. Kapan sampainya, suamimu mana..?" tanya umi yqng terkejut dengan kedatangan menantu kesayangannya itu.
"Barusan umi, trus eliza langsung kesini sama nadira. Dan kalau afnan, dia sama ustadz rizky.!" jawab eliza.
"Oh ya bu yai, nadira kesini mau ambil sneck yang buat dibagiin ke orang tua santri bu yai..!" uucap nadira.
"Oh itu ada dibelakang..! Disana juga ada beberapa santri dalam yang bisa bantu..!" ucap umi.
"Nggak papa umi, nadira udah ada yang bantu kok..!" ucap eliza.
"Siapa..?" tanya umi.
"Eliza, eliza akan bantu bagiin snecknya..!" ucap eliza membuat umi merasa begitu bahagia melihat menantunya yang semakin hari semakin berubah.
"Oh kalau gitu biar santri dalam bantu angkat aja, nanti kalian yang bagiin disana..!" ucap umi.
"Nggak papa bu yai, biar saya aja yang bawa kesana.!" ucap nadira yang tidak ingin merepotkan.
"Tidak papa nak, snecknya banyak jadi pastinya berat. Kalian tunggu disini biar umi yang minta kang santri buat bantu angkatin ya..!" ucap umi yang kemudian bergegas pergi kebelakang meninggalkan eliza dan nadira sendiri.
"Emh..dira..!" panghil eliza.
"Iya neng..?" jawab nadira.
"Ingat jangan panggil gue neng, panggil gue eliza aja ya..! Emh lo masih ingatkan..? Kalau lo mau ajarin gue ngaji..?" tanya eliza.
"Iya neng, eeh..eliza maksudnya.!" ucap nadira.
"Bagus..! Makasih ya..!" ucap eliza yang begitu senang.
__ADS_1
Kedua wanita itu saling berbincang soal agama karena eliza masih oenasaran dengan beberapa hal. Dan ia menanyakannya pada nadira. Dan seiring berjalannya waktu, eliza dan juga nadira mulai merasa nyaman dan senang saat mereka saling mengobrol.