
Eliza terdiam saat melihat keberadaan afnan di depannya.
"Af..afnan. Bagaimana lo bisa di sini..?." tanya eliza yang begitu kaget dengan kehadiran afnan.
"Seharusnya itu yang aku tanyakan padamu. Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini." ucap afnan memandang dingin ke arah eliza.
"Ayo pulang." ucap afnan kembali dengan menarik tangan eliza.
Namun ada sebuah tangan yang menarik tangan eliza yang satunya. Afnan pun berbalik dan melihat siapa yang menahannya untuk membawa eliza kembali.
Disana ia melihat pria yang sama dengan pria yang membuat rusuh di pernikahannya dengan eliza.
"Lepaskan tanganmu." perintah afnan pada leon.
Sedangkan leon menatap tajam ke arah afnan dengan seringai meremehkan.
"Hei..coba lihat. Ada yang ingin mengantarkan nyawanya nih. Serunya kita apakan dia." ucap leon pada teman temannya.
"Habisi saja eon. Lagian udah lama juga kita tidak memukuli orang." jawab salah satu teman leon.
Leon pun menarik eliza hingga pegangan afnan terlepas. Leon menghampiri afnan yang sedari tadi menatap leon datar.
"Lo ingin memilikinya...? Itu tidak akan terjadi karena eliza milik gue. Dan gue nggak akan melepaskannya begitu saja." ucap leon pelan pada afnan.
Tanpa di sadari leon memukul perut afnan dengan begitu keras membuat afnan mundur beberapa langkah. Sekilas afnan mengatur nafasnya dan lalu membalas pukulan leon. Dan akhirnya mereka berdua saling memukul dan menendang tanpa henti.
Sampai di mana afnan menendang keras leon hingga terjatuh. Melihat teman mereka yang terjatuh, teman teman leon langsung menyerang balik afnan hinggak afnan sedikit kualahan.
'Kalau afnan sampai mati ataupun terluka gue pasti yang kena.' Batin eliza.
Eliza menghampiri afnan yang terjatuh karena tendangan teman teman leon. Eliza membantu afnan untuk berdiri membuat leon yang melihatnya menjadi semakin marah.
"Eliza kenapa lo malah bantuin dia...?." tanya leon marah.
"Leon. Lo tau sendirikan dia itu siapa. Kalau dia sampai bilang ke paman, gue pasti kena masalah. Jadi gue nggak bisa biarin dia terluka lagi. Gue pergi dulu." ucap eliza dengan memapah afnan yang begitu lemas dengan luka di wajahnya.
Eliza membantu afnan masuk ke dalam taxi yang sudah lebih dulu ia pesan.
"Pak ke alamat ini." ucap eliza sambil memberikan alamat pesantren yang kini ia tinggali dengan afnan.
Eliza menatap afnan yang sedari tadi terdiam dengan menyenderkan kepalanya pada pintu mobil. Melihat ekspresi afnan yang kesakitan, eliza menarik kepala afnan untuk bersandar pada pundaknya.
"Jangan salah paham. Gue melakukannya karena gue merasa leon keterlaluan. Dan jangan berani berani lo mengadu pada paman." ucap eliza saat melihat afnan yang terkejut dengan perlakuannya.
Beberapa menit kemudian mobil taxi yang di tumpangi eliza dan afnan berhenti tepat di depan pintu gerbang pesantren.
Setelah membayar taxi, eliza membantu afnan keluar dari dalam mobil dan memapahnya masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang agar tidak ada yang melihat mereka.
Sesampainya di kamar, eliza segera mengambil kotak P3K yang ada di dapur. Ia mulai mengobati luka yang ada di sudut bibir afnan.
__ADS_1
"Sstt...apa kamu bisa pelan sedikit." ucap afnan yang begitu kesal dengan eliza yang mengobatinya dengan menekan keras lukanya.
"Apa kamu benar benar ingin mengobati lukaku atau ingin membunuhku..?." sindir afnan.
"Dan apa lo nggak bisa diam. Begini aja sakit. Lembek amat jadi cowok." ucap eliza.
"Aku terluka gini juga gara gara siapa..? Gara gara pacar gila mu itu kan." ucap afnan.
"Kenapa nyalahin leon. Siapa suruh lo ke sana coba." bantah eliza.
"Aku ke sana juga gara gara kamu. Udah tau punya suami bukannya diam di rumah malah pergi ke tempat maksiat seperti itu." ucap afnan kembali.
"Emangnya gue mau nikah sama lo." ucap eliza.
Dan malam itupun di penuhi dengan pertengkaran eliza dan afnan meskipun tak terlalu keras hingga terdengar di luar kamar mereka tetap saja hal itu berhasil membuat mereka kelelahan dengan rasa kesal mereka masing masing.
"Minggir gue mau tidur." ucap eliza mengusir afnan.
"Hei ini kamarku jadi aku yang tidur di ranjang." ucap afnan yang lebih dulu merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Trus gue gimana..?." tanya eliza.
"Tidur di luar. Kalau nggak mau kamu bisa tidur di lantai." saran afnan.
Melihat afnan yang tidak mau mengalah eliza pun segera keluar kamar. Beberapa menit kemudian eliza kembali ke dalam kamar.
Namun kali ini umi mengikutinya dari belakang. "Afnan.." panggil umi pada afnan yang tidur dengan nyenyak di ranjang.
"Apa kamu menyuruh istrimu tidur di lantai..? Apa kamu tidak bisa bersikap baik pada istrimu.?." tanya umi bertubi tubi. Sedangkan eliza menahan tawanya melihat afnan yang kaget sambil menjulurkan lidahnya.
"Bukan gitu umi. Tadi afnan cuma bilang kalau lantai di kamar afnan sedikit kotor jadi afnan minta eliza buat menyapunya besok. Mungkin eliza yang salah dengar umi." ucap afnan berbohong sambil menatap eliza tajam.
"Benar begitu nak.?." tanya umi pada eliza.
"Emh...mungkin benar. Eliza yang salah dengar umi." ucap eliza dengan rasa kesalnya karena tidak berhasil mengerjai afnan.
"Kalau begitu kalian lanjut tidurnya ya. Umi pergi dulu." ucap umi yang kemudian keluar dari kamar afnan dan eliza.
Afnan pun menggeser tubuhnya ke sisi samping ranjang menyisakan setengah ranjang yang kosong.
"Tidurlah dan berhenti membuat masalah." ucap afnan yang mulai tidurnya dengan memunggungi eliza.
Kita lihat saja besok. Aku akan membalasmu. Gumam eliza dalam hati.
Pagipun tiba. Afnan lebih dulu bangun dari tidurnya untuk sholat subuh di masjid. Sedangkan eliza masih setia dengan bantal dan selimutnya. Hingga..
Kriing..kriiing...
Bunyi alarm yang cukup membangunkan eliza dari mimpinya.
__ADS_1
Hah..dia udah bangun duluan. Ini baru jam lima jadi masih bisa kalau aku mengerjainya sekarang. Hhhh. Gumam eliza dalam hati.
Ia pun bergegas untuk mandi dan kemudian pergi ke dapur. Hingga beberapa santriwati masuk ke dalam dapur.
"Eh...neng eliza. Pagi neng." sapa salah satu santriwati.
"Hm..." gumam eliza menjawab sapaan santri santri.
"Neng eliza mau buat apa..?." tanya santri itu saat melihat eliza yang sedang mengotak atok bumbu di dapur.
"Kepo lo. Oh ya si afnan itu suka pedes nggak..?." tanya eliza.
"Setau saya sih. Gus afnan tidak pernah makan makanan pedes neng." jawab santri itu.
"Ooo..ya udah. Lo masak buat gue, umi sama abi. Kalau afnan biar gue buatin." ucap eliza yang segera mengambil beberapa cabai.
Para santriwati yang berada di sana lebih memilih mengikuti perintah eliza daripada mendapat kemarahan eliza.
.
.
.
.
.
.
.Hay...
.Cuma mau ngingetin.
.
.Jangan lupa like dan juga comen ya
.
.Kalau bisa vote nya juga yang banyak ya
.
.
Sampai jumpa lagi
.
__ADS_1
.salam CHERRY