
Eliza yang terkejut langsung berbalik melihat orang yang memanggilnya tadi. Disana terlihat rizky yang menatap bingung kearahnya.
"Rizky, lo ngapain disini. Bukannya ini tempat khusus cewek ya.. ?" tanya eliza menatap rizky aneh.
"Saya kesini buat ngambil beberapa buku di perpus yang pintunya tepat dibelakang neng eliza." jawab rizky membuat eliza menatap kearah yang dibilang rizky.
"Kalau neng eliza emangnya ada keperluan apa disini.?" tanya rizky.
"Emmm.. gue mau nganter makanan buat afnan. " jawab eliza.
"Oo.. eh bukannya jalan ke sawah ada dibelakang itu. " tanya rizky sambil menunjuk gerbang kecil yang ada dibelakangnya.
"Oh.. ya itu, tadi gue lagi cari pintunya, eh ternyata pintunya ada disitu. Ya udah gue pergi dulu deh, daaa... " ucap eliza yang segera pergi sebelum rizky bertambah curiga padanya.
Sedangkan nadira menatap heran kearah eliza dan juga rizky saat melihat eliza pergi pandangannya beralih kearah rizky yang juga menatapnya.
Saat rizky melempar senyum kearahnya, nadira membalasnya dengan senyuman manis dan kembali menghadap ke sarah.
"Dir, kamu benaran akan menikah sama ustads rizky.. ? Bukannya kamu masih suka sama gus afnan.. ?" tanya sarah bingung.
"Iya sar, Tapi satu hal yang harus kamu ingat kalau aku sudah tidak punya perasaan apapun sama gus afnan. Sejak gus afnan menikah sama neng eliza, aku sudah memutuskan untuk melupakannya. " ucap nadira.
"Iya iya maaf. Tapi dir, nanti kalau kamu nikah apa kamu akan jarang kesini apalagi dua hari lagi kamu akan lulus jadi hafidzah. Nanti aku akan kesepian. " ucap sarah.
"Hhhh kamu tenang aja, aku akan sering sering kesini kok. Lagipula nanti ustads rizky kan masih tetap ngajar disini jadi aku bisa ikut kesini. " ucap nadira membuat sarah terlihat senang.
Dilain tempat.
Eliza telah sampai disawah dimana afnan sedang bekerja, eliza masih memperhatikan afnan yang sedang memberi pupuk pada padinya dan tidak sadar akan datangnya eliza.
Karena terfokus pada afnan, eliza tidak sengaja terpeleset dan jatuh kedalam sawah dan untungnya makanannya tidak tumpah.
"Auh... " teriak eliza yang sontak afnan menoleh kearahnya dan terkejut melihat eliza yang terjatuh.
"Hhhhh.. kamu ngapain disitu. ?" tanya afnan membuat eliza kesal.
"Lagi tidur. Ya jatuh lah gitu aja nanya. Bukannya buruan tolongin kek. ! " ucap eliza kesal.
"Ya udah sini aku bantuin. "ucap afnan dan segera mengulurkan tangannya pada eliza.
"Kamu ngapain disini.. ?" tanya afnan setelah membantu eliza.
"Gue kesini buat anterin makanan buat lo. " ucap eliza.
Merekapun duduk bersama dipondok kecil. Eliza segera membuka isi rantang untuk segera mereka makan.
"Gimana enak nggak.. ?" tanya eliza saat afnan makan terlebih dahulu.
"Enak, kenapa kamu nggak makan.. ? kamu nggak mau.. ?" tanya afnan karena eliza masih belum memakan makanannya.
"Ya maulah. Gue cuma ngecek aja kalau memang benar makanan hasil masakan gue rasanya beneran enak. " jelas eliza yang kemudian ikut makan.
"guhk.. guhk.. ini kamu yang masak.. ? sejak kapan kamu bisa masak.. ?" tanya afnan terkejut karena setaunya eliza tidak jago masak, dan kali ini makanannya terasa enak.
"Sejak hari ini. Oh ya tadi umi bilang kalau umi bakal ajarin gue masak, jadi gue bakalan sering kesini. !" ucap eliza membuat afnan terbengong dan merasa tidak percaya apa yang barusan eliza katakan.
"Apa gara gara kamu jatuh tadi, jadi ada yang salah sama kamu. " ucap afnan.
"Apaan sich. Gue ini lagi pengen belajar masak aja. Biar bisa makan makanan enak trus. Lagipula sejak tadi gue masak sama umi, terasa seru banget bisa masak sama umi. Jadi gue putusin buat belajar masak sama umi. " jelas eliza panjang kali lebar.
Afnan yang mendengar penjelasan panjang istrinya hanya bisa mengangguk.
"ini sudah terlalu siang, lebih baik kita pulang sekarang. !" ucap afnan yang membereskan rantang bekas makanan mereka.
Selama perjalanan eliza tidak terlalu banyak bicara tidak seperti biasanya membuat afnan sedikit heran dengan sikap eliza yang berbeda.
Dilain tempat.
Nadira sibuk menghafalkan al qur'an, dari arah belakan terlihat sarah yang mengendap endap bertujuan untuk mengejutkan nadira.
"Hei.. " panggil sarah membuat nadira kaget.
"Astagfirullah, sarah kalau datang itu ucapin salam.!" ucap nadira mengingatkan.
"Hhh iya iya maaf. assalamu'allaikum nadira yang cantik dan baik hati. " ucap sarah dengan senyum.
"Wa'allaikum salam, ada apa.. ?" tanya nadira.
"Aku akhir akhir ini jadi sedih deh." curhat sarah.
"Sedih kenapa.. ? apa hafalanmu masih belum lancar.. ?" tanya nadira.
"Bukan itu, kalau hafalanku pastinya lancar dong. Aku tuh sedih karena sebentar lagi kamu mau nikah, aku kan nggak mau jadi jomblo sendirian. " ucap sarah bersedih.
__ADS_1
"hhhh kamu ini. Dua hari lagi kita akan lulus jadi kamu bisa langsung nikah. " ucap nadira.
"Nikah sama siapa.. ?" tanya sarah yang memang masih belum punya pasangan.
"Sama kang doni.. ?"
"Nggak nggak. Masak aku sama dia sih, dia tu orang nyebelin tauk. "
"Nyebelin tapi penuh kasih sayang kan.. ?"
"Apaan sih tauk lah aku mau lanjutin hafalan aja. " ucap sarah yang sebal sekaligus salah tingkah dengan ucapan nadira tadi.
Nadira yang melihat tingkah sahabatnya hanya bisa tertawa.
Dilain tempat.
Claudia sedang berkumpul dengan teman temannya di sebuah cafe. Teman teman claudia merasa heran dengan claudia yang memesan begitu banyak makanan.
"Clau... lo serius, bisa habisin ini.. ?" tanya diva.
"Bisa. Kalau kalian mau makan, kalian pesen aja sendiri. Yang ini khusus buat gue. " ucap claudia yang segera menyantap makanannya seorang diri.
Merekapun hanya bisa memakan cemilan mereka sambil menatap aneh kearah claudia.
Dilain tempat.
Eliza segera mandi setelah tiba dipesantren karena tadi ia sudah membawa baju ganti, sedankan afnan menyimpan peralatannya tadi kedalam gudang.
"Afnan, eliza mana.. ?" tanya umi.
"Eliza sedang mandi umi." jawab afnan.
Setelah selesai mandi, eliza keluar dan seketika terkejut melihat afnan yang berdiri tepat didepan pintu kamar mandi lengkap dengan handuk dan juga baju ganti.
"Lama banget. " ucap afnan.
"Gue kan mandinya harus bener bener bersih, emangnya lo, mandi nggak pakai sabun. !" ucap eliza kesal dan langsung pergi.
Merasa bosan dirumah, eliza berjalan jalan berkeliling pesantren putri. Mulai dari mengintip santriwati yang sedang mengaji bersama dan juga beberapa ruang kelas santriwati yang terlihat mereka sedang menyetorkan hafalan mereka.
Saat sedang asik asiknya mengintip tiba tiba seseorang memanggilnya dari belakang membuatnya terkejut dan menoleh kesumber suara itu.
Sepertinya hari ini penuh dengan orang yang pengen gue jantungan dech. gumam eliza pelan.
"Neng eliza sedang apa..?" tanya nadira.
"Gue nggak ngapa ngapain, gue cuma keliling karena gue bosen aja." jawab eliza.
"Daripada neng eliza bingung mau ngapain mending neng eliza ikut saya, kita ngaji sama sama.. !" saran nadira.
"Nggak ah, gue nggak minat. " ucap eliza beralasan karena sejujurnya ia merasa malu karena ia tidak pandai mengaji.
"Neng eliza tidak perlu malu, saya akan ajarin neng eliza pelan pelan. Saya yakin dengan neng eliza mau belajar ngaji, bu yai, pak yai, dan juga gus afnan akan sangat senang. " bujuk nadira.
Sejenak eliza mempertimbangkan perkataan nadira dan akhirnya ia setuju. Mereka pun pergi menuju salah satu kelas yang baru saja selesai digunakan.
Sehingga eliza hanya berdua dengan nadira agar eliza merasa nyaman dan tidak meresa malu apabila ada orang yang melihatnya baru belajar mengaji.
Nadira mulai mengajarkan eliza membaja huruf hijayah, dan betapa terkejutnya nadira saat eliza sudah bisa menghafal semua huruf.
"Neng eliza sebelumnya sudah pernah mengaji.. ?" tanya nadira.
"Sudah tapi dulu saat kedua orang tua gue masih hidup, mereka mengajarkan gue sholat mengaji namun setelah semeninggalnya mereka gue nggak pernah lakuin itu semua dan hal itu membuat gue lupa. Gue sendiri terkejut saat gue masih inget semua huruf ini. " jelas eliza dengan raut sedih.
Tanpa mereka sadari, afnan sedari tadi berada dibalik pintu dan tidak sengaja mendengar semua.
Setelah melanjutkan mengaji beberapa waktu kemudian eliza dan nadira keluar dari kelas dan mereka dikejutkan dengan keberadaan afnan dibalik pintu.
"Afnan.. ?" ucap eliza.
"Gus afnan.. ?" ucap nadira kemudian menatap kearah eliza.
"Lo dari tadi disini.. ?" tanya eliza karena ia takut jika afnan mendengar segala hal yang ia bicarakan pada nadira.
"Nggak, aku baru saja sampai sini. Tadi aku lagi cari kamu soalnya hari mulai sore jadi kita harus pulang. Oh ya kamu ada perlu apa sama neng nadira... ?" tanya afnan berpura pura tidak tahu apapun.
"Oh bukan apa apa. ayo kita pulang sebelum gelap. Kalau gitu kita pulang dulu nad, sampai jumpa. " ucap eliza segera pergi.
"Kalau gitu saya pamit pulang dulu neng nadira, Assalamu'allaikum. " pamit afnan.
"Wa'allaikum salam. " jawab nadira yang masih menatap kepergian eliza dan juga afnan.
"Tidak disangka, neng nadira memiliki sikap lembut dan baik yang tersembunyi. Aku yakin semakin lama gus afnan dapat mendongkrak sifat asli neng eliza. " gumam nadira yang tersenyum mengingat semua curhatan hati eliza tadi.
__ADS_1
Flashback.
Eliza tabpa sadar mengungkapkan semua perasaannya pada nadira yang sebelumnya ia benci. Entah mengapa ia merasa nyaman berada didekat nadira serasa seperti ia sedang memiliki seorang kakak.
"Kenapa neng eliza tidak melanjutkan mengaji. Bukankah jika neng eliza mengaji lagi mama dan papa neng eliza akan bahagia dan juga neng eliza bisa selalu mendo'akan mereka.. ?"
"Lo bener. Tapi selama ini gue selalu menyalahkan tuhan yang telah mengambil orang tua gue saat gue sedang benar benar membutuhkan sosok orang tua disisi gue. "
"Semua hal sudah memiliki takdirnya masing masing, kita hanya perlu menjalaninya. Neng eliza memangnya tidak ingin melihat mama dan papa neng merasa bahagia.. ?"
"Gue pwngen bikin mereka bahagia meskipun nggak di dunia ini. "
"Kalau gitu neng harus menjalankan semua yang diajarkan orang tua neng dulu. Yaitu tidak meninggalkan sholat dan juga mengaji, bagaimana. ?"
"Tapi gue malu kalau minta diajarin afnan atau orang lain. "
"Bagaimana kalau dengan saya... ?" tawar nadira membuat eliza tersenyum melihatnya.
"Ok , mulai sekarang lo jadi guru ngaji gue. " ucap eliza antusias dan merekapun melanjutkan mengaji.
Flashback off.
Didalam perjalanan eliza merasa kedinginan karena ia mengenakan kaos lengan pendek tanpa membawa jaket.
Melihat istrinya yang kedinginan, afnan menghentikan motornya dipinggir dan mulai membuka jaketnya.
"Lo ngapain.. ?" tanya eliza bingung.
"Pakai ini. !" perintah afnan sambil memberikan jaketnya pada eliza.
"Trus lo gimana.. ?" tanya eliza.
"Aku pakai baju panjang jadi tidak perlu khawatir. " ucap afnan.
"Ih siapa juga yang khawatir sama lo. " sangkal eliza.
Tanpa meladeni ucapa eliza, afnan segera melajukan motornya. Dan sesampainya mereka dirumah menunjukkan pukul setengah tujuh, ya dikarenakan mereka memerlukan 1 jam setengah untuk pulang kerumah dari pesantren itupun apabila mereka tidak terkena macet.
Setelah masuk rumah, afnan bergegas bersiap untuk sholat maghrib saat selesai mengambil wudhu tiba tiba eliza menahan tangannya membuat afnan terkejut.
"Apa yang kamu lakukan..? sekarang aku harus wudhu lagi. " ucap afnan hendak berbalik untuk wudhu kembali.
"Emh.. afnan, gue boleh ikut lo sholat nggak.. ?" tanya eliza perlahan namun masih bisa didengar afnan.
"Kamu serius..?" tanya afnan tak percaya.
"Iya, kalau nggak boleh ya udah gue pergi aja. " ucap eliza dan hendak pergi.
"Tunggu dulu, ya udah kita wudhu dulu. " ucap afnan hendak berbalik.
"Tapi gue lupa urutan ambil wudhunya. " ucap eliza.
"Ya udah, aku ajarin. " ucap afnan lembut.
Afnan pun dwngan sabar mengajarkan tatacara berwudhu dan juga do'a do'anya. Setelah selesai wudhu eliza berlari menuju kedalam kamarnya dan beberapa saat kemudian eliza keluar membawa mukena yang femiliar untuk afnan.
Ya itu adalah mukena yang ia berikan untuk eliza saat pernikahan mereka dulu selain uang dan juga beberapa perhiasan.
Melihat eliza mengenakan mukena mumbuat wajahnya terlihat begitu cantik dan bersinar hingga afnan tak berkedip dan seketika ia terpesona akan kecantikan alami eliza.
"Af.. afnan. AFNAN.. " Teriak eliza saat melihat afnan yang terbengong.
"He... tu.. tunggu sebentar. " ucap afnan yang kemudian pergi untuk mengambil wudhu kembali.
Setelah afnan kembali lagi, merekapun melaksanakan sholat maghrib berjamaah untuk pertama kalinya. Afnan merasa bahagia karena melihat perubahan dari istrinya.
Seusai sholat maghrib mereka segera makan malam dengan makanan yang tadi sempat mereka beli saat perjalanan pulang tadi.
Selama makan mereka hanya makan dengan hening tanpa ada sepatah katapun yang keluar membuat afnan merasa heran. Setelah selesai makan afnan hendak mencuci piringnya yang kotor namun eliza menghentikannya.
"Biar gue aja yang ncuci. " ucap eliza mengambil alih piring afnan.
Afnan pun hanya bisa diam dan terus memperhatikan eliza yang sedang mencuci piring. Waktupun berlalu setelah melaksanakan sholat isya'. Eliza bersiap untuk tidur. Saat hendak masuk kedalam kamar tiba tiba tangannya ditarik oleh afnan.
"Tunggu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan. " ucap afnan yang mengajak eliza untuk duduk kembali.
"Ada apa.. ?" tanya eliza.
"Aku lihat hari ini kamu aneh sekali. Apa kamu baik baik saja.. ?" tanya afnan sambil tangannya menyentuh jidat eliza.
"Gue nggak papa." ucap eliza yang seketika menghindar.
Karena merasa afnan akan mengintrogasinya kembali, eliza segera berlari masuk kedalam kamarnya membuat sendirian dengan segala kebingungannya akan tingkah istrinya.
__ADS_1