Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 41


__ADS_3

Seusai membereskan hasil belanjaan mereka, Eliza bergegas pergi kekamar mandi. Sedangkan afnan masih sibuk memasukan buah kedalam kulkas.


Beberapa menit kemudian eliza telah selesai mandi dan keluar dalam balutan gamis berwarna biru langit dengan hijab putih berpaduan biru membuatnya terlihat begitu cantik dan juga bersinar.


Afnan menatap eliza tanpa berkedip dan dipenuhi rasa kagum , sedangkan eliza yang ditatap seperti itu oleh afnan merasa bahwa dirinya terlihat aneh.


"Kenapa lo lihat gue kayak gitu..? Gue terlihat aneh ya, pakai baju kayak gini..?" tanya eliza merasa tak percaya diri.


"Eh...tidak, bukan seperti itu. Malahan kamu terlihat begitu cantik dengan baju dan juga hijab itu. Oh ya tunggu sebentar, aku akan mandi sebentar setelah itu kita berangkat kepesantren." ucap afnan yang kemudia berlari menuju ke kamar mandi.


Sedangkan eliza menatapnya aneh, eliza yang terlalu bosan menunggu afnan selesai bersiap, meraih setoples kacang telur dan mulai nenikmati cemilan kesukaannya.


Dilain tempat.


Leon memutuskan untuk menerima claudia dalam kehidupannya, meskipun ia tidak yakin untuk dapat melupakan eliza dan mencintai claudia namu ia akan merubah sikapnya pada claudia.


Leon mulai berjalan pelan menuju eliza yang masih tidur, ia menarik kursi didekat ranjang yang ditiduri claudia dan mendudukinya.


"Emmhh.." gumam claudia yang mulai terbangun dari tidurnya.


"Le..leon..?" ucapnya pelan.


"Hm..ini minumlah.!" ucap leon sambil menyerahkan gelas kepada claudia.


Melihat claudia yang kesulitan untuk bangun, leon bergegas membantu claudia untuk duduk dengan baik. Claudia yang mendapat perlakuan baik dari leon merasa begitu senang.


"Minumlah, pelan pelan.!" ucap leon sambil membantu claudia minum.


"Besok, lo udah pulang. Oh ya hari ini gue akan jagain lo disini jadi kalau lo butuh sesuatu lo bilang aja sama gue. " ucap leon.


"Oh..iya, leon. Gue lapar..!" ucap claudia.


"Hm.."


Leon dengan pelan, menyuapi claudia bubur yang sudah disiapkan oleh perawat tadi sebelum claudia bangun.


Claudia merasa aneh dengan sikap leon yang berubah padanya, namun ia tidak berani untuk menanyakannya pada leon. Karena bisa saja leon akan berbalik marah padanya.


"Emh leon, apa lo berniat buat cerai sama gue..? Apalagi keadaan gue sekarang sudah tidak mengandung." tanya claudia dengan perasaan cemas.

__ADS_1


Karena jujur, ia sangat takut dan tidak ingin jika leon akan menceraikannya dan juga akan meninggalkannya.


Leon tidak langsung menjawab pertanyaan claudia, membuat claudia semakin khawarir akan jawaban leon nanti.


"Tenan saja, gue nggak akan ceraiin lo. Dan gue nggak akan bersikap kasar lagi sama lo, lo sekarang bebas mau kemana aja. Tapi ingat lo jangan pernah berfikir buat nyakitin eliza. Kalau tidak, gue benar benar akan menceraikkan lo.!" ucap leon.


Senang sekaligus kesal sedang bercampur aduk dalam hati claudia. Senang karena leon tidak akan menceraikannya dan juga akan merubah sikapnya, Dan kesal karena lagi dan lagi leon masih lebih mementingkan eliza daripada dirinya yang notabenya istri sah leon.


Claudia yang begitu kesalpun menolak suapan leon dan beralih menoleh kearah jendela yang menunjukkan suasana taman dirumah sakit itu.


"Oh ya, gue lupa..! Dokter bilang kalau lo harus minum obat ini segera setelah makan. Ini minumlah..!" ucap leon sambil memberikan dua butir obat dengan warna yang berbeda.


Claudia dengan segera meminum obat pemberian leon tersebut. Setelah meminumnya claudia menatap leon sesaat sebelum ia memalingkan wajahnya lagi.


"Gue bosan didalam disini. Gue mau pergi ketaman itu.!" ucap claudia seakan mengisyaratkan pada leon agar membawanya pergi kesana.


"Hm...tunggu disini.!"


Beberapa menit kemudian leon datang dengan sebuah kursi roda dan mendekat kearah claudia.


Setelah membantu claudia untuk duduk dikursi roda itu, leon berjalan sembari mendorong kursi roda itu menuju ketaman rumah sakit yang tepat berada disamping ruang dimana claudia dirawat.


"Leon..!" panggilnya.


"Hmm.."


"Gue pengen lo lupain eliza, dan coba buat cinta sama gue.!" ucap claudia pelan yang masih dapat didengar leon.


"Gue akan perlakukan lo sebaik yang gue bisa, tapi lo nggak usah terlalu berharap kalau gue akan jatuh cinta sama lo, karena selamanya yang ada dihati gue cuma eliza."


"Hiks..kenapa..? Hiks..kenapa eliza, kenapa lo nggak pernah bisa buat buka sedikit hati lo buat gue..? Hiks..gue sayang sama lo leon. Gue cinta sama lo..! Hiks.." tangis claudia pecah karena rasa sakit hati dan kecewanya sudah tak tertahankan.


"Tidak perlu menangis, lagipula seharusnya lo senang karena gue setidaknya bersikap baik sama lo meskipun gue nggak pernah suka sama lo.!"


"Lalu kanapa..? Kenapa lo sentuh gue..? Kenapa lo nikahin gue..? Hiks..gue..hiks gue cuma berharap agar bisa lo cintai. Apa susahnya sich, buat buka sedikit hati lo buat gue..?"


"Gue malas buat bahas ini.!" ucap leon yang kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan claudia sendiri disana.


"Maaf clau, gue belum bisa lupain eliza. Tapi gue janji, gue nggak akan sakitin lo seperti dulu lagi..!" gumam leon.

__ADS_1


Sedangkan claudia merasakan kehancuran hatinya untuk kesekian kalinya. Meski bukan perlakuan kasar leon, namun kini karena setiap ucapan leon yang terarah ke eliza seakan menusuk hatinya bertubi tubi.


"Hiks...kenapa selalu lo el..? Kenapa selalu lo yang dapat perhatian penuh leon.? Heh..gue akan buat kehidupan lo sehancur hancurnya el. Gue bersumpah akan membuat lo hancur dan rumah tanggamu harus berakhir dengan begitu lo akan merasakan apa yang gue rasakan.!" ucap claudia yang terlihat begitu marah.


Dilain tempat.


Eliza dan afnan telah sampai dipesantren. Terlihat umi dan abi yang telah siap menunggu kedatangan mereka berdua.


"Assalamu'allaikum..!" salam afnan dan eliza bersamaan.


"Wa'allaikum salam.!" jawab abi dan umi.


"Subhanallah...apa ini nah eliza..? Abi sampai nggak bisa ngenalin, karena sangking cantiknya." ucap abi menggoda eliza.


"Hhh..abi bisa aja, kan eliza emang udah cantik dari bayi bi.!" ucap eliza yang malah menyombongkan diri.


"Adu bi, abi kok bilang gitu. Entar kepala eliza bisa semakin besar bi..!" ejek afnan membuat eliza kesal dan segera mencubit lengan afnan kencang.


"Auh..sakit..!" jerit afnan.


"Udah tau sakit. Masih aja cari gara gara sama gue.!"


"Udah udah, kalian ini. Menantu umi kan emang cantik apa lagi dalam balutan hijab, subhannallah..makin cantik..!" bela umi.


"Hh makasih umi. Umi juga kelihatan cantik kok, seperti baru berusia 25 an.!" ucap eliza dengan senyumnya.


"Ah kamu ini bisa aja nak. Ya udah yuk kita berangkat sebelum entar kita telat." ajak umi.


Merekapun berangkat dengan afnan dan abi yang membawa motor menuju kerumah rizky, dan eliza dan umi menaiki mobil pesantren menuju kerumah nadira.


"Emh umi, eliza mau tanya sesuatu boleh nggak..?" ucap eliza ditengah perjalanan mereka.


"Boleh dong, emangnya mau tanya apa nak..?"


"Emh tapi tolong umi jangan beritahu ke afnan atau siapapun ya..!"


"Insya'allah nak. Emangnya apa..?"


"Emh jadi gini mi, kemarin waktu temen temen eliza datang. Mereka curiga kalau eliza itu hamil lalu eliza beli tespack dan hasilnya positif.!"

__ADS_1


"La..lalu..? Ap..apa kamu tidak menginginkannya nak..?" ucap umi gugup karena ia takut jika eliza belum siap menerima kehamilannya.


__ADS_2