
Afnan ditemani rizky dan doni pergi mencari keberadaan eliza meskipun mereka tidak tahu dimana eliza di culik. Afnan kini berada di depan rumah klara yang terlihat sebuah keluarga yang baru saja datang kesana.
"Jadi rumah ini sudah dijual..? " tanya rizky.
"Iya, dan sepertinya mereka adalah keluarga yang membeli rumah ini.! " ucap afnan.
"Lalu bagaimana kita bisa mencari petunjuk soal klara..? " tanya doni yang bingung.
"Kita coba dulu..! " ucap afnan yang kemudian berjalan menuju ke rumah itu.
"Assalamu'allaikum..! " ucap afnan sambil mengetuk pintu rumah di depannya.
"Wa'allaikum salam..? Ada yang bisa saya bantu..? " ucap seorang pria yang keluar dari dalam rumah.
"Maaf kalau saya mengganggu. Sebelumnya perkenalkan, saya afnan. Saya tinggal di rumah di depan sana." ucap afnan memperkenalkan diri.
"Oh iya, saya farid, dan ini istri dan juga anak saya..! " ucap pria itu memperkenalkan keluarganya.
"Maaf, kami baru saja sampai. Jadi rumah kami masih berantakan..! " ucap wanita itu yang menggendong anaknya.
"Tidak apa. Sebenarnya saya kemari dengan tujuan lain. Istri saya saat ini sedang diculik, dan saya menaruh curiga dengan pemilik rumah ini yang dulu. Karena istri saya dengan dia selalu berselisih." ucap afnan membuat kedua orang di depannya terkejut.
"Benarkah..? lalu apa yang bisa kami bantu..? " tanya farid.
"Bisakah kalian mengijinkan kami untuk mencari sesuatu yang mungkin saja bisa jadi petunjuk keberadaan istri dari teman kami..? " kini giliran rizky yang berbicara.
"Ya tentu saja, silahkan..! " ucap farid yang dengan baik memberikan ijin agar afnan dan temannya bisa menggeledah rumah yang baru saja ia beli. Bahkan ia juga ikut serta mencari hal yang mungkin saja bisa membantu mereka.
Dilain tempat.
Eliza masih terduduk lemas dengan tangan dan kakinya yang masih terikat di kursi yang ia duduki.
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah eliza, eliza segera melihat orang yang mendatanginya dengan mata yang mulai sayu.
"Hallo eliza, apa kabar..? " ucap seorang wanita yang tak asing untuk eliza.
"Lo..? Bagaimana bisa lo ada disini..?" ucap eliza yang bingung dengan keberadaan orang di depannya itu.
"Ya...! Sepertinya gue harus kasih tau lo yang sebenarnya. " ucap klara.
"Apa maksud lo..? " tanya eliza waspada jikalau klara akan berbuat jahat pada nya.
__ADS_1
"Ok..! Jadi yang harus lo tahu pertama, gue kenal dekat dengan musuh lo Claudia. Karena kami saudara sepupu, yang kedua. Gue sebelumnya tinggal di Australia dan datang kesini cuma buat main main ke rumah sepupu gue. Tapi ternyata Claudia membutuhkan bantuan gue buat hancurin hidup lo, dengan cara dekatin suami lo, afnan. Tapi dengan seiringnya waktu, gue beneran jatuh cinta sama afnan. Dan karena gue menginginkan afnan tapi dia malah menolak ku mentah mentah hanya karena lo. Jadi gue akan lakukan beribu cara buat singkirin lo dari hidup afnan. Agar gue bisa milikin afnan seutuhnya. " jelas klara membuat eliza begitu terkejut.
"Jadi semua masalah dalam hidup gue karena rencana lo dan Claudia..? "
"Iya...! Dan sekarang gue yakin afnan tidak akan pernah mau menerima lo yang udah kotor itu hhhhhhh.....! " tawa klara memenuhi ruangan membuat eliza begitu marah dan ingin sekali ia menghajar klara saat itu juga.
"Kalian benar benar kejam..! " kecam eliza.
"Kejam...? lo bilang kami kejam..? Tidak tidak.... Lo salah eliza, kita hanya menginginkan orang yang kami cintai. Dan semuanya bisa dilakukan demi cinta bukan..? " ucap klara sambil membawa segelas air ditangannya.
"Oh ya, biar lo nggak bilang kalau gue kejam lagi. Nih gue ambilin air, gue yakin lo pasti haus karena belum minum dan makan sama sekali kan..? " ucap klara sambil mendekat kearah eliza.
Namun bukannya menyuapkan air itu kepada eliza, klara malah menumpahkan air minum itu tepat diatas kepala eliza.
"Ups... sorry..! Gue pikir daripada minum, lo lebih baik mandi karena tubuh lo yang kotor itu. Oh gue lupa, bahkan lo mandi seumur hidup lo, tubuh lo itu akan tetap kotor. Hhhhhh...! " ucap klara yang kemudian pergi meninggalkan eliza yang mulai meneteskan air matanya mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya yang mungkin saja akan membuat afnan membenci dirinya.
"Hiks.. hiks... lepasin gue...! " isak tangis eliza yang mulai memelan karena matanya yang mulai menutup karena rasa lelah dan juga lapar yang sudah ia tahan.
Di lain tempat.
Afnan masih sibuk mencari benda yang mungkin saja bisa memberikan petunjuk akan keberadaan eliza.
"Apa..? " tanya afnan yang berjalan mendekat ke arah radit yang memegang sebuah kertas lusuh di tangannya.
"Coba deh lihat, ini seperti sebuah kuitansi penyewaan vila...?" ucap rizky.
"Iya, dan ini berada di daerah puncak..?" ucap radit.
"Kamu tahu daerah ini..? " tanya afnan yang penuh harap.
"Iya tentu saja, aku sering pergi kesana dengan teman temanku.! " jelas radit membawa sedikit kelegaan pada afnan.
"Kita harus segera ke sana...! Semoga saja, eliza benar-benar ada disana.! " ucap afnan.
"Pak, saya benar benar berterimakasih karena telah mengijinkan kami untuk mencari sesuatu dari rumah anda...! " ucap afnan.
"Iya sama sama. Saya do'a kan agar istri anda bisa segera di temukan dan dalam keadaan baik baik saja." ucap farid.
"Terima kasih atas do'a dan bantuannya. Kami harus segera pergi, sekali lagi saya ucapkan terimakasih..! " ucap afnan.
Setelah berpamitan, ketiga pria itu pun pergi menuju ke alamat yang telah mereka temukan.
__ADS_1
Selama perjalanan, afnan tak henti hentinya memanjatkan do'a. Agar eliza benar benar ada di tempat yang sedang mereka tujuan.
Drrrttt...
Drrttttt...
Ponsel afnan bergetar yang menandakan adanya panggilan dari seseorang. Afnan segera mengambil ponselnya yang berada di sakunya dan segera menerima panggilan itu.
"Assalamu'alaikum..! " ucap afnan.
"Wa'allaikum salam, apa kamu sudah mendapat petunjuk keberadaan eliza, nak..? " tanya seseorang di seberang sana yang ternyata umi.
"InsyaAllah umi, kami menemukan sebuah alamat vila di daerah puncak dari rumah klara. Dan sekarang kami sedang menuju kesana. Afnan mohon doa nya ya umi..! " ucap afnan membuat umi dan juga yang lain ikut merasa sedikit lega karena mereka bisa saja akan segera menemukan eliza.
"Nak, sebaiknya kalian membawa polisi untuk berjaga jaga dan juga untuk membantu kalian mencari keberadaan eliza.! " ucap paman eliza.
"Iya paman, kami sudah menghubungi polisi tadi, dan mereka sudah dalam perjalanan..! Oh ya paman kita sudah hampir sampai, saya tutup dulu telfonnya... ! "
"Iya, kabari kami setelah kalian menemukan eliza ya nak..! "
"Tentu paman! Assalamualaikum...! "
Afnan segera memutuskan telfonnya dan kembali fokus pada sebuah vila yang ada di depan mereka.
Mereka melihat vila itu di penuhi dengan beberapa pria yang terlihat menjaga ketat vila itu.
"Sepertinya eliza benar benar ada di sana..! Kalau tidak, untuk apa semua penjaga itu. " ucap radit.
"Kelihatannya memang benar, jika neng eliza ada disana gus. Lalu sekarang kita harus apa..? " tanya rizky.
"Kita masuk, untuk memastikannya...! " ucap afnan dengan penuh keyakinan.
"Ta.. tapi..! Penjaga itu terlihat begitu menyeramkan..! Bagaimana jika kita menunggu polisi datang..! " ucap radit yang terlihat ketakutan.
"Tidak bisa..! Jika eliza benar ada di dalam sana, kita harus cepat membebaskannya. Jika kita menunggu polisi, itu akan memakan waktu yang cukup lama...! " ucap afnan.
"Kenapa..? Kamu takut..?" tanya rizky.
"Ma... mana ada, gue berani kok.. ! Ya udah ayo kita kesana..! " ucap radit dengan perasaan yang tak karuan.
Rasanya ia ingin segera berlari dan sembunyi, tapi tidak. Ia tidak ingin jika tasya mengetahui ketakutannya, dan menganggap dirinya seorang pengecut.
__ADS_1