
Afnan masih setia menatap lembut eliza hingga eliza membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Hey.. Lo makan nggak tuh makana. Dari tadi bengong aja." ucap eliza membuat afnan seketika sadar dari lamunannya.
"Hm.. Emangnya kenapa. Apa kamu mau lagi...?." tanya afnan.
"Boleh..?." tanya eliza tanpa malu.
"Makanlah... " ucap afnan sambil memberikan piring berisi makanannya tadi.
Eliza pun segera menerima makanan yang diberikan afnan padanya. Sedangkan afnan menatap geli dengan tingkah eliza yang sedang kelaparan.
Astaghfirullah afnan. Kau tidak mungkinkan jatuh cinta pada eliza. Gadis brandalan yang makan saja sudah berlebihan seperti ini. Walaupun dia memang istrimu. Tapi tidak tidak.. Aku pasti tidak jatuh cinta ya itu pasti. Tapi dia manis juga. Hus.. Kamu ini mikir apa sih af. Kata hati afnan.
"Eeegggg..hah..kenyang." ucap eliza sambil bersendawa.
"Bagaimana tidak kenyang kau hampir menghabiskan dua piring dan aku hanya makan sedikit." ucap afnan.
"Hey lo nggak makan itu kan salah lo sendiri kenapa lo kasih semua makanan lo ke gue kalau ujung ujungnya lo bakal protes gini." ucap eliza kesal.
"Hah.. Ucapkan alhamdulillah sekarang." ucap afnan memerintahkan eliza untuk mengucapkan alhamdulillah.
"Buat apaan..?." tanya eliza yang tidak mengerti.
"Sudah ucapkan saja. Apa susahnya sih." perintah afnan kembali.
"Ok alhamdulillah. Sudah." ucap eliza
"Ya sudah." ucap afnan yang lalu berdiri sambil membawa piring kotor yang tadi ia gunakan untuk makan. Walaupun akhirnya yang memakannya adalah eliza, istrinya.
"Bawa piringmu kemarin." perintah afnan.
"Nih.." ucap eliza sambil memberikan piring kotor pada afnan.
"Nih apa..? Aku sudah masak tadi, ya sekarang yang cuci piring kamu." ucap afnan.
"Kenapa gitu. Tadi gue juga udah bersih bersih. Jadi sekarang yang cuci piring lo dong."ucap eliza menolak
"Ok biar adil kita cuci sama sama. Aku yang kasih sabunnya, kamu yang membalasnya nanti." ucap afnan.
"Ok. Setidaknya gue nggak akan cuci piring sendiri." ucap eliza yang terpaksa menerima tawaran afnan.
Saat sedang mencuci piring terdengar seseorang yang sedang mengetuk pintu rumah eliza. Afnan yang mendengarnya langsung menghentikan kegiatannya dan berjalan keluar. Namun sebelum keluar.
"Kamu lanjutkan saja mencuci piringnya." ucap afnan.
"Apa ya nggak bisa dong." ucap eliza yang ingin protes namun afnan sudah lebih dulu hilang dari pandangannya.
"Sialan. Kalau gini mah nggak ada bedanya sama gue yang cuci piring sendiri. Masih banyak lagi." ucap eliza sambil menatap miris pada piring kotor dan juga alat masak yang tadi di gunakan untuk memasak.
__ADS_1
Di lain tempat. Seseorang yang ada diluar rumah afnan semakin mengeraskan ketukan pada pintunya karena sedari tadi tidak ada yang membukanya.
"Iya tunggu sebentar." ucap afnan yang tahu ketidak sabaran dari tamunya itu.
Saat membuka pintu rumahnya, afnan di kejutkan dengan kedatangan segerombol pria dengan wajah yang tak lagi asih untuknya.
"Kalian. Bagaimana kalian bisa tahu rumah ku." tanya afnan sambil membalas tatapan tajam leon.
"Kalau menurut lo, bagaimana gue bisa tahu..?." tanya leon dengan seringainya.
Sedangkan afnan tidak menanggapinya sama sekali.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini. Saya tidak mau ada keributan." ucap afnan mengusir leon dan teman-temannya.
"Hhhhh... Memangnya lo siapa bisa mengusir kita dari sini ha..? Lagian gue kesini tidak ingin membuat keributan. Gue cuma ingin bertemu dengan pacar gue. Eliza." ucap leon yang tertawa bersama teman temannya saat mendengar afnan mengusir mereka.
"Apa hak mu atas istriku. Kamu hanya pacar dan saya suaminya. Jadi saya minta kalian semua segera pergi dari sini." ucap afnan.
Leon yang tidak terima dengan apa yang di ucapkan afnan pun memukul rahang afnan dengan begitu keras hingga menimbulkan luka di ujung bibir afnan.
Afnan pun tidak tinggal diam. Ia membalas pukulan leon jauh lebih keras dan hal itu berhasil menyulut kemarahan leon. Dan mereka berdua pun saling memukul tanpa henti, dan memang tidak ada yang berniat untuk mengakhirinya.
Sedangkan eliza yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya pun merasa heran dengan suara gaduh di luar rumahnya.
"Kenapa berisik banget sih." ucap eliza yang langsung berjalan keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Afnan... Kenapa berisik banget sih..? Siapa yang bertamu..?." tanya eliza yang langsung terhenti saat melihat afnan dan juga leon sedang berkelahi.
"Kalian berdua ngapain sih. Kayak anak kecil tau nggak." ucap eliza yang kesal dengan tingkah afnan dan leon.
Sedangkan afnan dan leon masih saja saling menatap tajam seakan akan hanya dengan pandangan, mereka dapat saling membunuh.
"Hah.. Kalian mau ngapain kerumah gue." tanya eliza pada leon dan teman-teman nya.
"El... Lo kemana aja sih. Kenapa lo nggak ngabarin gue. Jangan jangan nih orang nindas lo ya. Bilang aja biar gue hajar langsung nih orang." ucap leon yang masih terbakar api kemarahan.
"Eeh..nggak. Dia nggak nindas gue kok. Gue cuma lagi males aja keluar rumah. Nggak ada hubungannya dengan nih orang." jawab eliza membela afnan.
"Kenapa lo malah bela dia..? Gue kan pacar lo." ucap leon yang tidak terima dengan apa yang di sampaikan oleh eliza.
"Leon cukup. Gue nggak belain dia. Tapi emang gue yang nggak pengen keluar rumah aja." ucap eliza kembali.
"Jangan jangan lo suka sama dia. Iya kan lo udah jatuh cinta sama nih cowok." ucap leon menuduh eliza.
"Leon gue bilang cukup. Kenapa lo nggak ngerti ngerti sih. Ok sekarang mending lo pergi dari sini, bawa temen temen lo pergi dari rumah gue. Dan satu lagi kita PUTUS." ucap eliza dengan menekankan kata putus pada leon.
"Hah.. Lo bercandakan el." tanya leon tidak percaya.
"Gue nggak bercanda. Ayo kita masuk." ucap eliza sambil mengajak afnan yang sedari tadi diam menyaksikan pertengkarannya dengan leon, untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"El.. Lo nggak bisa putusin gue begitu aja. Dan lo afnan, gue bakal bikin perhitungan buat lo. Lo bakal nyesel." ucap leon yang begitu marah hingga memukul dinding rumah eliza dengan keras hingga tangannya berdarah.
"Lo milik gue eliza dan selamanya akan tetap jadi milik gue." ucap leon kembali sebelum ia benar benar meninggalkan rumah eliza dengan teman temannya.
Sedangkan eliza sedang mengompres beberapa lebam yang ada di wajah afnan.
"Kenapa tadi kamu membelaku..?." tanya afnan yang menahan rasa sakit di wajahnya saat eliza memberikan obat pada lukanya.
"Kalau gue nggak belain lo , mungkin aja lo bakal masuk ke ruang mayat tauk. Gue nggak mau aja jadi janda di usia gue yang masih muda ini." ucap eliza membuat afnan tertawa.
"Hhhhh... Kau benar benar tidak bisa berbohong. Bilang aja kalau kamu itu terpesona dengan ketampananku. Dan kamu sudah jatuh cinta padaku." ucap afnan dengan kepercayaan tingkat tinggi.
"Aaaa..a..aa..a..ssshhh sakit, pelan pelan bisa nggak sih." ucap afnan saat dengan sengaja eliza menekan keras luka afnan.
"Biarin aja. Siapa suruh lo kePDan kayak gitu. Gu..gue gue nggak suka kok sama lo. KePDan banget sih lo." ucap eliza dengan pili meronanya.
"Kalau kamu nggak suka trus kenapa pipi kamu merah gitu..?." tanya afnan yang masih saja menggoda eliza.
"Tauk ah. Nih obatin sendiri luka lo. Gue mau tidur." ucap eliza yang langsung pergi meninggalkan afnan sendiri menuju ke dalam kamarnya.
.
.
.
.
.
.
.Benih benih cinta mulai muncul nih.
.
. Tapi tenang aja masih butuh waktu lama kok buat mereka mendapatkan cinta sejati mereka.
.
. Ada banyak kejutan yang lain.
.
. Tetap setia tungguin episode selanjutnya ya.
.
. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1
.
. Salam cherry