Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 42


__ADS_3

Eliza diam sesaat tidak menjawab pertanyaan umi, membuat umi merasa ketar ketir jika eliza akan mengatakan hal hal yang tidak ia harapkan.


"Emh umi, eliza ingin jujur satu hal lagi sama umi tapi tolong ya mi. Tolong jangan kasih tau ke afnan. Sebenarnya eliza udah suka sama afnan tapi eliza takut buat ngomongnya umi dan soal kandungan eliza, eliza seneng banget waktu tau soal kehamilan ini. Tapi eliza takut jika afnan menolak anak dalam kandungan eliza ini umi..!" ucap eliza yang seketika merekahkan senyuman umi.


"Hhh jadi, kamu suka sama afnan..? Kenapa kamu nggak langsung jujur sama afnan aja..? Nak..umi jelasin ya..! Afnan pasti akan sangat bahagia kalau tahu dia akan jadi seorang ayah, jadi umi pikir lebih baik kamu jujur dan ungkapkan semua ke afnan agar keluarga kalian semakin bahagia. Dan tidak ada lagi rahasia diantara kalian..!" nasehat umi .


Maaf nak, umi tidak bisa memberitahu kamu kalau afnan dan semua orang sudah tahu kalau kamu itu hamil. Karena umi nggak mau ikut campur dalam hubungan kalian, umi hanya berharap agar kalian bisa saling jujur dan bahagia bersama selamanya. Ucap umi dalam hati.


"Emh..eliza akan coba deh mi, buat kasih tau afnan soal kehamilan eliza."


"Nah gitu. Emang seharusnya suami istri itu saling jujur. Oh ya tolong jaga cucu umi baik baik ya nak..!"


"Siap umi, umi tenang aja..!" ucap eliza dan kedua wanita itu tertawa bersama selama perjalanan.


Dan mereka saling bertukar cerita soal afnan, lebih tepatnya keburukan dan kekurangan afnan yang membuat eliza dan umi tertawa bersama.


hkugk...hkugk..siapa yang lagi ngomongin aku ya..? Ucap afnan dalam hati yang sedang tersedak air minum yang disediakan diacara pengajian dirumah rizky.


Dilain tempat.


Claudia kini sedang duduk seorang diri ditaman, selang beberapa menit kemudian david datang bersama dengan tasya, dan mereka berjalan menuju claudia.


"Clau..!" panggil david.


"Hmm..?" gumam claudia.


"Ada yang mau jenguk lo..!"


"Siapa..?" tanya claudia.


"Hay clou..!" ucap seseorang dibelakang claudia membuat claudia menoleh kesumber suara.


"Lo..?" ucap claudia yang terlihat tidak suka.


"Apa kabar..? Oh ya, gue bawain buah buat lo.." tanya tasya sambil menyerahkan satu parsel buah kepada tasya.


"Hm..kak..! Besok gue udah boleh pulangkan..?" tanya tasya tanpa menerima dan memperdulikan tasya.


"Emh..gue tunggu di mobil..!" ucap tasya yang kemudian pergi dengan kesal.


"Clau..tolong bersikap baik sama tasya, dia udah sempetin waktu buat nengokin lo disini. Kenapa sikap lo seketus itu sich..?" ucap david yang marah dengan sikap claudia.


"Kakak kan tau, kalau tasya itu sahabat eliza. Dan eliza adalah musuh gue. Gue nggak mau tau kakak harus putusin dia, kalau nggak .Gue akan ngadu ke papi sama mami kalau kakak sering balap liar dan juga minum minuman keras. Gue yakin kalau papi sama mami bakalan bawa kakak pindah ke australi.!" ancam claudia.


David yang bingung harus berbuat apa, lebih memilih pergi keluar rumah sakit untuk menemui tasya yang sudah menunggunya.

__ADS_1


"Tasy, tolong lo jangan marah ya. Claudia saat ini cuma sedang terpuruk aja kok setelah kegugurannya.!" ucap david.


"Terpuruk..? Bukannya dia emang nggak pernah ingin anak itu ya..? David sampai kapan lo bakal belain terus adik lo..? Dia jelas jelas nggak suka sama gue..! Sekarang lo pilih, gue atau adik lo yang manja itu..!" ucap tasya yang begitu marah.


"Tasy, lo nggak bisa dong kasih gue pilihan kayak gini..! Kalian berdua sangat penting buat gue..!" ucap david.


"Hmm..! Sepertinya gue tau pilihan lo. Ok gue pergi sekarang, dan satu. Lo nggak perlu hubungin gue lagi..!" ucap tasya yang kemudian masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya menjauh dari rumah sakit.


"Tasy...tasya..tunggu dulu..! Haahh...." teriak david namun tasya tidak menghiraukan panggilannya.


Dilain tempat.


Eliza dan umi akhirnya sampai dirumah nadira, terlihat eliza keluar dari mobil dan orang orang menatapnya seketika penasaran dengan menantu sang pemilik pesantren terbesar disana.


"Wah..beneran cantik ya..! Pantas aja jadi menantu pemilik pesantren..!" ucap salah satu ibu disana.


"Apa gunanya cantik kalau nggak paham soal agama dan bahkan seorang brandalan.!" ucap wanita disampingnya.


"Ha..? Beneran.. ?"


"Iya..!"


Eliza terlihat tak percaya diri dengan berjalan pelan dan menunduk sedangkan umi yang tau bahwa eliza jadi bahan pembicaraan segera menggandeng menantunya itu.


"Selamat datang bu yai, dan..?" ucap ibu nadira yang menyalami umi.


"Oh..kenalkan ini eliza menantu saya..!" ucap umi memperkenalkan eliza.


"Oh..ya. Maaf, soalnya agak beda karena pakai hijab. Sekarang lebih terlihat cantik kalau pakai hijab.!" ucap ibu nadira.


" Makasih bu..!" ucap eliza.


"Ayo silahkan masuk..!" ucap ibu nadira.


Eliza dan umi pun berjalan masuk kedalam rumah nadira, terlihat begitu banyak tamu undangan terlebih para santri sekaligus sahabat nadira. Mereka semua menyalami umi hingga eliza terdorong kebelakang.


Eliza yang tidak suka berdesakan akhirnya memilih untuk duduk ditempat paling belakang. Saat sedang melihat lihat tiba tiba ada yang menghampirinya.


"Neng eliza..?" panggilnya.


Eliza segera menoleh kesumber suara dan melihat nadira yang berdiri cantik disana dengan ditemani sarah.


"Oh nadira..!" ucap eliza yang kemudian berdiri.


"Kamu kok duduk disini sich..?" tanya nadira.

__ADS_1


"Emh iya soalnya tadi orang orang berdesakan ontuk bersalaman sama umi.!" jawab eliza.


"Ya udah, ayo ikut aku. Kita duduk didepan.!" ajak nadira.


"Dir..ngapain sich kamu ngajak dia buat duduk didepan..?" bisik sarah ketelinga nadira yang masih dapat didengar eliza.


Terlihat jelas, sarah yang tidak suka akan kehadiran eliza.


"Sar.. Nggak boleh gitu dong. Eliza ini kan juga tamuku. Ayo neng..!" ucap nadira yang kemudian menggandeng tangan eliza dan mengajaknya kedepan panggung acara.


Eliza menghampiri umi dan duduk disampingnya, umi yang mendapati eliza duduk disampingnya merasa lega, karena sedari tadi ia mencari cari keberadaan menantunya itu.


"Nak. Kamu tadi darimana...?"tanya umi.


"Oh tadi eliza menghendar dari para santri santri yang inhin bersalaman sama umi, karena eliza takut kalau terdorong. Makannya eliza tadi duduk dibelakang..!" jelas eliza.


Sedangkan sarah duduk dibarisan depan disamping para santri lain yang telah diundang nadira.


Dan nadira duduk dipanggung bersama kedua orang tuanya, beberapa menit kemudian acara dimulai dengan bacaan al fatihah.


Dilain tempat.


Tasya terlihat menangis dirumah cika dengan karlin yang juga ada disana. Kedua sahabat tasya menatap tasya dengan prihatin.


"Udahlah tasy, buat apa lo tangisin cowok kayak gitu. Yang nggak bisa ambil keputusan sendiri, itu namanya pengecut. Dan nih ya tasy emang lo mau apa jadi ipar wanita penyihir itu..?" ucap karlin yang memanggil claudia dengan sebutan penyihir.


"Hiks sebenarnya gue masih suka sama david.! Tapi kenapa dia selalu bela adiknya yang licik itu..? Huaaa..." ucap tasya dengan tangisan kerasnya.


"Eh..kamu kenapa tasy..?" tanya wanita paruh baya dengan pakaian modisnya.


"Eh nggak papa kok tan, hhh tasya baik baik aja. Tadi cuma lagi main cubit cubitan sama karlin. Iya kan tasy..?" ucap karlin berbohong.


"Oo..ya sudah kalau gitu. Cik, mama mau ke supermarket dulu ada yang mama mau beli, ada yang mau titip..?" ucap wanita itu yang ternyata mamanya cika.


"Emh ya ma, tolong entar beliin cemilan sama minuman ya ma..!" ucap cika.


"Iya tan, tolong beliin yang banyak ya tan..!" ucap karlin tanpa memperdulikan tasya yang masih cemberut.


"iya iya, kalian ini. Ya udah mama berangkat dulu ya..!" ucap mama cika yang kemudian pergi.


"Cik, kenapa lo nggak bilang kalau mama lo dirumah. Gue kan jadi malu..!" ucap tasya sambil mencubit cika.


"Hhhh..sorry..!" jawab cika santai yang dihadiahi gelitikan oleh tasya.


Dan mereka bertika berakhir dengan saling menggelitiki satu sama lain dan tasya berhenti bersedih digantikan dengan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2