
Leon kini hanya duduk sambil terus memandang kearah jeruji besi yang kini telah mengurungnya. Tidak ada hal lagi yang dapat ia lakukan untuk membebaskan dirinya.
Ia kembali mengingat dimana waktu indahnya bersama eliza dulu, namun karena kejahatannya kini ia harus merasakan eliza yang membencinya. Ditambah dengan claudia yang dulu yang tergila gila padanya, dan karena kebodohannya yang terus mengejar eliza kini harus merasakan rasa yang begitu pahit dalam hidupnya.
Tak pernah terbayang sebelumnya, dirinya akan berakhir seperti ini disini, dibalik jeruji. Kini yang tersisa hanya rasa penyesalan. Ia menyesal karena terlalu mengabaikan cinta dari istrinya bahkan ia selalu memperlakukan claudia selayaknya budak diranjangnya saat ia sedang marah atau mabuk.
Dan kini ia mendapatkan karmanya, ia jatuh cinta pada claudia dan claudia kini akan segera mengajukan surat perpisahan kepengadilan. Dan yang lebih menyedihkan ia tidak bisa melakukan apapun karena ia dipenjara.
"Maaf clau. Jika bisa, gue sangat berharap agar lo nggak ninggalin gue clau..!" gumam leon, yang terlihat begitu menyedihkan.
Ia pun tertidur dengan penuh harapan dan penyesalan.
Malam berlalu dan pagi pun tiba.
Eliza terbangun dari tidurnya dengan sekujur tubuhnya yang terasa sakit. Ia berjalan tertatih tatih menuju kedalam kamar mandi untuk segera mandi.
Sedangkan afnan telah bangun sejak tadi, dan setelah selesai sholat subuh, ia bergegas untuk membuatkan eliza sarapan dengan menu serba tomat.
Beberapa menit kemudian, eliza keluar dengan baju santai dan berjalan menuju ke meja makan dimana afnan telah menunggunya.
"Selamat pagi..!" sambut afnan.
"Hmm..selamat pagi..!" jawab eliza pelan.
"Kamu belum mandi ya..? Mau aku mandiin..?" tanya afnan yang seketika membuat eliza melotot.
"Gue udah mandi, ogah banget dimandiin lo..!" sewot eliza.
"Nah kalau nada bicaramu kayak gini baru aku percaya kalau kamu habis mandi..!" ledek afnan membuat eliza cemberut.
"Aku udah masakin menu kesukaanmu, semuanya ada tomatnya.!" ucap afnan.
"Hmm..!" gumam eliza yang segera menyantap makanan itu tanpa babibu lagi.
"ghuk..ghuk.." eliza tersedak karena terlalu terburu buru.
"Makannya pelan pelan kalau makan, ini minum pelan pelan..!" ucap afnan sambil mengambilkan minum untuk eliza.
"Ya kan gue udah laper banget, lagian gue makan kan nggak cuma sendiri.!" ucap eliza yang kembali memakan makanannya.
"Aku yakin, anakku nggak serakus itu..!" ucap afnan.
"Emang kamu tahu apa, hamil aja enggak. Lagian gue yang hamil jadi gue yang lebih tahu rasanya.!" ucap eliza dengan mulut yang penuh.
Afnan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah eliza.
"Hari ini sidang leon, aku akan kesana untuk memberi dukungan buat leon. Apa kau mau ikut..?" tanya afnan.
"Boleh, lagian dirumah sendiri juga membosankan.!" ucap eliza.
Seusai makan, mereka segera bersiap untuk pergi kepersidangan leon. Afnan terus memikirkan cara agar leon bisa mendapatkan keringanan.
Selama perjalanan, eliza terus memeluk afnan erat. Hingga banyak orang dijalan melihat mereka, seolah iri dengan keromantisan dua sejoli ini.
Dilain tempat.
__ADS_1
Nadira sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya yang hari ini sudah mulai mengajar dipesantren lagi.
"Mas, sarapannya udah siap..! Apa kamu sudah selesai bersiapnya..?" tanya nadira pada rizky yang masih memasukkan beberapa berkas.
"Iya aku sudah siap, oha ya. Kamu mau ikut kepesantren nggak..? Jadi kamu bisa ikut mengajar disana..! Lagipula tahun ini, Pesantren sedang mendapatkan santri yang lebih banyak dari tahun kemarin." tanya rizky.
"Gitu juga boleh mas. Lagian pekerjaan rumah juga sudah selesai." ucap nadira.
Mereka berdua pun segera menuju keruang makan untuk memakan sarapan yang telah disiapkan nadira.
Dilain tempat.
Afnan dan eliza telah sampai dipengadilan yang akan menangani kasus leon. Disana juga sudah ada pihak keluarga korban dan juga pengacara mereka.
"Assalamu'allaikum..!" ucap afnan.
"Wa'allaikum salam..!" jawab mereka.
"Apa bapak sudah memikirkannya..?" tanya afnan.
"Sudah gus, saya sudah memikirkannya dengan istri saya. Dan keputusan saya akan saya katakan dipengadilan nanti.!" ucap bapak itu.
"Apa dia juga keluarga bapak..?" tanya pengacara itu pada bapak itu.
"Bukan, dia orang yang membantu proses pemakaman anak saya." ucap bapak itu.
"Oohh..ya sudah, mari kita masuk.!" ucap pengacara itu.
Afnan dan eliza ikut duduk dikursi belakang dan terus memperhatikan jalannya persidangan itu. Afnan tak hentinya berdo'a agar leon tidak mendapat hukuman yang terlalu berat.
"Saya sebagai ayah korban, tanpa ada paksaan dan tekanan dari siapapun. Ingin menyampaikan kepada pak hakim bahwa kami segenap keluarga korban menyerahkan segala keputusan pada pak hakim.!" ucapnya membuat pengacaranya terkejut.
"Apa bapak yakin..? Bapak tidak perlu takut, bapak bisa katakan tuntutan bapak sekarang. Ini kesempatan bapak untuk membuat penjahat yang membunuh anak bapak dihukum.!" ucap pengacara itu.
"Tidak, saya hanya ingin masalah ini cepat selesai. Saya ingin anak saya bisa tenang disana.!" ucapnya lagi.
"Baiklah karena pihak keluarga korban memasrahkan semua pada hukum. Sesuai dengan bukti dan saksi yang ada, bapak leon dijatuhi hukuman lima tahun penjara dengan denda lima puluh juta rupiah yang akan diserahkan kepada keluarga korban.!" keputusan hakim dengan ketukan palu ketiga kali membuat afnan merasa lega.
Afnan dan eliza menghampiri bapak itu yang masih memegang tangan istrinya itu agar kuat. Mereka ingin memberi semangat untuk mereka.
"Pak, bu..!" ucap afnan.
"Iya.!"
"Apa bapak dan ibu benar benar yakin dengan keputusan kalian tadi..?" tanya afnan.
"Iya gus, kami yakin. Kami hanya berharap anak kami bisa tenang karena urusannya sudah selesai dan pelakunya mendapatkan hukumannya. Terima kasih atas segala gus. Sekarang kami lebih bisa ihklas dengan kepergian anak kami." ucapnya.
"Iya, sama sama bu..!" ucap afnan.
"Kalau begitu kita pamit pulang dulu gus..!"
"iya..!"
"Assalamu'allaikum..!"
__ADS_1
"Wa'allaikum salam." jawab afnan dan eliza.
"Gimana kalau kita sekarang ketemu sama leon..?" tanya eliza setelah mereka keluar dari ruang sidang.
"Iya. Ayo..!" ucap afnan yang segera membawa eliza untuk menemui leon dipenjara.
Dilain tempat.
Nadira dan juga rizky telah sampai dipesantren, mereka berjalan menuju kerumah pak yai untuk menyerahkan beberapa berkas santri baru.
"Assalamu'allaikum..!" ucap mereka.
"Wa'alaikum salam. Oh kalian, ayo masuk..!" jawab umi.
"Maaf bu yai, saya ada hal yang harus saya sampaikan ke pak yai. Soal berkas berkas santri baru..!" ucap rizky setelah duduk dengan nadira.
"Oo abi lagi dikantornya, kamu bisa langsung kesana..!" ucap umi.
"Kamu mau tunggu disini atau ikut mas..?" tanya rizky pada nadira.
"Aku tunggu disini aja mas sama bu yai..!" ucap nadira.
"Ya sudah, kalau gitu saya permisi dulu bu yai.!" ucap rizky.
"Assalamu'allaikum.!" ucapnya lagi.
"Wa'allaikum salam..!" jawab umi dan nadira.
Rizkypun pergi menuju kekantor pak yai, sedangkan nadira melanjutkan mengobrol dengan bu yai.
Dilain tempat.
Afnan dan eliza telah sampai di penjara dimana leon ditahan. Mereka segera meminta ijin untuk bertemu dengan leon.
Beberapa saat kemudian leon datang dengan polisi yang mengikutinya dari belakang.
"Kalian..?" ucap leon.
"Gimana kabar lo disini..?" tanya eliza.
"Gue baik. Af..gue mau bilang terima kasih sama lo. Karena lo, gue bisa mendapatkan keringanan dalam masa tahanan gue.!" ucap leon yang beralih berterima kasih pada afnan.
"Iya sama sama, kita sesama manusia memang sudah seharusnya saling membantu..!" ucap afnan.
"Oh ya af, gue punya satu permintaan lagi sama lo. Apa boleh..?" tanya leon.
"Jika saya bisa, saya akan usahakan..!"
"Lo bisakan bantuin gue buat bertobat..?" tanya leon.
"Alhamdulillah..!" ucap afnan bersukur dengan apa yang ia dengar dari leon.
"Lo mau kan..?" tanya leon lagi.
"Tentu saja. Nanti biar saya urus agar saya dapat ijin untuk bisa membimbingmu..!" ucap afnan.
__ADS_1
Sungguh ia merasa sangat bahagia dengan apa yang leon katakan.