Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Pahit Getir Kehidupan


__ADS_3

Sesungguhnya aku ingin mengatakan pada Jack kalau aku juga sayang padanya. Tetapi, lidahku kelu. Aku tidak mengerti rasa sayang Jack kepadaku itu seperti apa, mungkin saja rasa sayangnya itu seperti rasa sayangnya kepada adiknya yang hilang. Jadi, aku pun tidak tahu aku mesti mengatakan rasa sayangku terhadapnya itu rasa sayang yang seperti apa. Aku belum mengerti tentang perasaanku kala itu.


Selepas Jack memelukku, dia berpesan kepadaku supaya aku tidur, supaya demamku segera sembuh dan kondisiku bisa lekas pulih. Dia pun keluar dari kamarku, lalu, beberapa saat kemudian aku mendengar dia marah-marah di luar sana. Suaranya menggelegar.


"Aku kan sudah menitipkannya padamu, kenapa kau sampai lalai? Harusnya kau mengawasinya dan halangi dia. Bukannya membiarkan dia naik ke tempat berbahaya seperti itu. Kau... keterlaluan! Kau meremehkan perintahku. Dasar idiot! Kau...."


Ngeri, aku tidak mendengarnya lagi. Kukenakan pakaianku, kemudian berbaring miring, meringkuk di bawah selimut. Aku menyesal. Gara-gara aku Jack sampai memarahi temannya.


Dan, setelah kejadian itu, Jack tidak memperbolehkan aku keluar dari kamar. Dia menyuruhku berdiam diri saja di kamar, menonton DVD atau sekadar mendengarkan musik. Bahkan, malam itu ternyata dia tidur di kamarku, di sofa. Dan setiap kali dia terbangun, dia selalu mengecek suhu tubuhku, lalu ia mengompresku dengan air hangat.


Untunglah, keesokan paginya keadaanku sudah lebih baik. Panasku sudah sedikit turun. Tetapi, tetap saja, aku kembali merepotkan Jack. Pagi-pagi dia sudah menyuruh pelayan untuk mengantarkan sarapan untukku, aku diberi bubur dan semangkuk sup hangat. Dengan sedikit paksaan, Jack menyuapiku dan memastikan aku menghabiskan makananku, lalu Jack memaksaku untuk minum obat. Selama seharian itu, Jack menemaniku sekaligus mengawasiku di dalam kamar, dia terus berada di sisiku dan hanya meninggalkanku dua kali dan itu pun hanya beberapa saat. Dan selebihnya, dia berada di dalam kamarku meski ia sibuk mengerjakan pekerjaannya -- dengan laptop di hadapannya. Dia lebih sering berkomunikasi dengan yang lain melalui sambungan telepon. Hari itu, kami tidak banyak bicara. Situasi dan suasana di antara kami mendadak canggung. Barangkali yang menjadi penyebab utamanya adalah: gara-gara kejadian sewaktu aku pingsan, saat Jack melepaskan pakaian dari tubuhku. Aku tidak tahu bagaimana Jack memandangi tubuh polosku. Aku bahkan berpikir, mungkin dia... ah, semoga saja tidak. Dan kurasa, Jack masih tidak enak hati padaku perihal kejadian itu. Atau jangan-jangan, dia malah menyesal tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, dan, atau, dia jadi terus memikirkan tubuh polosku di dalam pikiran kotornya sebagai lelaki? Terbayang-bayang, begitu? Eh?

__ADS_1


Di dalam kamar, aku hanya menonton DVD di tempat tidur dan membiarkan Jack mengutak-atik data di laptopnya, entah dia mengerjakan apa. Ia tampak serius saat sedang berhadapan dengan laptop sehingga aku pun segan mengganggunya. Pada saat jam makan siang, dia menyuruhku makan sendiri, dia masih sibuk katanya, dan, pada saat aku ketiduran, mungkin dia makan siang pada saat itu. Syukurlah, malam harinya dia mau makan bersamaku.


"Kalau kita makan sambil mengobrol, tidak masalah, kan? Ada yang ingin kutanyakan," kataku. Aku berusaha untuk memecah keheningan dan kecanggungan yang sudah berlangsung di sepanjang siang itu.


Jack mengangguk. "Mau menanyakan apa?" tanyanya.


"Emm... tapi maaf, ya. Jangan marah."


"Itu, tentang pekerjaanmu. Kenapa kamu bekerja sebagai... sori kuralat, maksudku, kenapa kamu bekerja di tempat... kamu mengerti, kan, maksudku? Itu bisnis gelap. Bisnis yang tidak baik. Itu berarti... maaf... emm... penghasilanmu...?"


"Aku hanya seorang bodyguard. Lebih tepatnya pimpinan bodyguard di sini. Pekerjaanku santai, hanya mengatur dan memerintahkan anak buahku. Upahku menjanjikan, aku punya banyak waktu luang untuk terhubung ke internet, dengan sosial media. Mencari-cari, barangkali aku bisa mengenali adikku di antara milyaran orang yang menggunakan aplikasi online. Atau barangkali aku bisa berpapasan dengan adikku saat aku melakukan perjalanan, ke mana pun, di mana pun kakiku berpijak. Dengan pekerjaan ini aku juga tidak perlu memikirkan di mana aku harus tinggal, aku harus makan apa, atau siapa yang mengurusi segala sesuatu yang kubutuhkan. Aku tidak perlu memikirkan itu semua. Mau makan tinggal makan, pakaian pun tinggal pilih di lemari karena ada yang mengurusi. Aku bisa tidur di mana pun, di kapal, di hotel, di markas, bahkan aku bisa tidur di mobil yang selalu disediakan ke mana pun aku pergi. Sekarang kamu paham, Rose?"

__ADS_1


Aku mengangguk. Aku sangat paham. Bahkan aku jadi mengerti kenapa semalam dia begitu berang dan bisa marah-marah pada anggota bodygyard yang lain. Ternyata mereka semua anak buahnya Jack.


"Atas posisi itu, uang, dan keluangan waktu, aku mesti mempertaruhkan nyawaku di saat aku harus turun tangan langsung dalam tugas penting. Bisa saja aku tertembak peluru dan mati di tempat. Risiko besar itu bisa terjadi kapan pun, di mana pun. Tapi, kalau aku harus bekerja dan memiliki penghasilan yang baik, yang bukan dari bisnis gelap, apa aku akan punya banyak waktu untuk mencari adikku? Aku bahkan sudah meminta bantuan pada detektif-detektif andal, tapi tidak ada hasil. Nihil. Tidak ada jejak apa pun yang ditemukan. Tapi, ibuku percaya kalau adikku masih hidup. Setiap hari, dia selalu menunggu kepulangan anak perempuannya. Katakan, aku harus bagaimana?"


Jack berhenti, dia memandang wajahku yang terlihat menyimak kisahnya. Aku menggeleng. Aku tidak bisa memberikan komentar apa pun padanya.


"Aku anak laki-laki, aku punya tanggung jawab, entah akhirnya nanti adikku berhasil kutemukan atau tidak, tapi tugasku harus terus mencarinya, ya kan? Bayangkan, kalau aku bekerja sebagai karyawan kantoran dan mesti mengerjakan perintah tertulis dari atasan, atau aku memilih menjalankan bisnis, aku mesti memikirkan cara bagaimana untuk mengembangkan bisnis itu. Jelas, waktuku pasti akan tersita oleh hal-hal yang demikian itu. Lagipula, Rose, dengan pekerjaan ini, aku bisa mengenali dunia hitam di luar sana. Barangkali... barangkali saja adikku diculik oleh seseorang, dijadikan bagian dalam bisnis gelap itu, mungkin dia berada di hotel, klub malam, rumah bordil, atau di mana pun. Aku tidak yakin adikku berada di tangan orang yang baik. Kalau tidak, pasti orang itu akan mengantarkannya pulang, atau membawanya ke kantor polisi untuk mencari keluarganya, atau mencari informasi tentang informasi orang hilang. Kalaupun... kalapun dia sudah meninggal, orang baik pasti akan melaporkan tentang jenazah, atau... entahlah. Yang pasti... aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang kakak. Aku akan terus mencarinya, sekecil apa pun kemungkinannya."


Jack tertunduk, dan di sisi lain aku terenyuh. Andai saja aku memiliki seorang kakak seperti Jack, seorang lelaki yang penuh kasih.


"Maafkan aku, aku terlihat cengeng." Jack mengusap matanya yang berkaca.

__ADS_1


Tak terasa, mataku pun ikut berkaca mendengar cerita pahitnya. Ada rasa getir di hatiku. Sungguh, pahitnya hidupku, itu belum seberapa. Ada yang kehidupannya lebih pahit daripada kehidupanku.


__ADS_2