Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Perpisahan


__ADS_3

Akhir kisah ini, tanpa keegoisan....


Ini keputusan yang benar. James harus kembali kepada keluarganya, dan aku kembali ke tempatku. Tidak boleh ada keraguan. Sama sekali tidak boleh.


Dengan meyakinkan diriku sendiri, kupegang erat pulpen di tanganku dan aku membubuhkan tanda tangan di atas surat cerai itu.


Aku dan James resmi berpisah.


Dan, aku meneteskan air mata: sedih dan bahagiaku melebur menjadi satu. Tapi semuanya memang harus terjadi. Semuanya sudah berakhir.


"Aku permisi," kataku.


Tetapi James menarik tanganku. Dengan mata berkaca, dia memelukku begitu erat.


"Jangan mengatakan apa pun, My James. Tolong? Aku tidak akan sanggup mendengarnya."


James menggeleng. "Aku hanya ingin memelukmu. Hanya memelukmu."

__ADS_1


Entah berapa lama pelukan itu berlangsung, tapi akhirnya harus berakhir juga. Tetapi, pada detik-detik itu, James malah menatapku dengan perasaan terluka. Kemudian, perlahan, entah bagaimana itu terjadi, dia menciumku, tepat di bibirku.


Mataku terpejam. Sakit sekali perasaanku, begini rasanya ciuman perpisahan.


Bayangan kilas balik selama ini pun berlomba-lomba muncul dalam ingatanku. James selalu menciumku di setiap dia meninggalkan aku. Tetapi selama ini hanyalah ciuman untuk sandiwara, sehingga, setiap kali itu terjadi, aku sangat merasa jengkel karenanya. Terlebih, ketika James menciumku di depan mata dan kepala Bang Jack, aku selalu merasa sangat jengkel kepadanya.


Dan sekarang, seperti sebuah karma, hukuman untuk jiwanya, dia menciumku dengan sejuta rasa sakit yang menyiksa dirinya sendiri. Tidak hanya dia, jujur kuakui aku pun merasakan hal yang sama. Kurasakan rasa sakit yang begitu dalam. Sangat menyakitkan.


"Selamat tinggal." Dia pergi ke kamarnya, meninggalkanku bersama selembar surat cerai itu.


Andai bisa, ingin aku menghentikannya....


Sekarang, untuk terakhir kalinya aku menatap istana megah itu -- dengan harapan semoga James bahagia dengan kehidupannya yang harus ia lanjutkan.


"Mari, Nyonya."


Aku mengangguk. Kuikuti Justin sampai ke mobil dan ia membukakan pintu untukku. Aku pun masuk ke mobil dan kami melaju diikuti beberapa orang bodyguard. Mereka mengantarku ke tempat seharusnya aku berada.

__ADS_1


Hanya menempuh jarak beberapa puluh kilo meter akhirnya aku tiba di apartemen Bang Jack. Dan, entah kenapa, aku sangat takut untuk kembali. Mungkin karena kesalahanku semalam. Di mata Bang Jack tentu itu merupakan sebuah kesalahan yang teramat besar.


Tepat di saat aku berada di depan pintu apartemen, keraguan itu malah semakin terasa. Keraguan dan rasa bersalah itu menyergapku dengan telak.


Aku tidak siap. Tapi jika tidak kembali ke sini, ke mana aku harus pergi?


"Ada apa, Nyonya?" asisten yang ditugaskan untuk mengantarku sampai ke depan pintu apartemen dan memastikan aku kembali kepada Bang Jack itu malah bertanya.


Aku menggeleng. "Aku... tidak. Tidak apa-apa, Tuan Justin."


"Oh ya, ini." Justin mengeluarkan sesuatu dari balik jas-nya. "Ada titipan dari Tuan James untuk Nyonya."


Kenapa dia tidak memberikannya sendiri padaku tadi? Ya Tuhan, dia terlihat begitu pengecut dalam urusan cinta.


Yah, Justin mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari balik jas-nya. Di dalamnya ada sebuah kalung berbandul hati yang terbuat dari berlian.


Aku tidak pernah memberikan apa pun padamu selama pernikahan selain penderitaan. Jadi ini pantas untuk kamu dapatkan. Maafkanlah semua kesalahanku dengan setulus hati. Dan jagalah kalung ini sebagaimana aku menjaga cintaku untukmu di dalam hatiku. Aku mencintaimu, Emilia Fransiska.

__ADS_1


Sungguh, aku terharu. Terima kasih atas cintamu yang begitu besar, James. Terima kasih.


Dan air mataku menetes lagi. Namun perpisahan ini harus tetap terjadi.


__ADS_2