Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Suka, Duka, dan Lara....


__ADS_3

Nekat, ya. Aku harusnya sadar kalau pembahasan apa pun mengenai kehidupan seorang Jack Peterson itu akan membuat suasana menjadi... galau, sedih, dan semacamnya. Tapi setelah aku menyadari semua itu, aku memilih untuk diam sejenak. Aku tidak mau jika momen makan malam kami pada malam itu jadi terganggu lagi.


Setelah kami selesai makan malam, Jack dan aku duduk santai di sofa, barulah aku kembali bertanya. Sebab, rasanya -- ada suatu rasa yang tidak plong jika aku belum tahu semuanya tentang Jack -- tentang luka yang kerap kali kulihat di matanya. Luka yang membuatku sebegitu ingin tahu, sebegitu penasaran, dan membuatku sebegitu ingin peduli kepadanya: sesuatu yang aneh dan menarikku untuk menyelami dunia Jack sedalamnya. Dan aku tidak tahu -- kenapa -- kenapa aku seperti ini: sepenasaran dan sepeduli ini terhadap cerita kelam dalam kehidupan Jack.


Well, akhirnya aku bertanya: bagaimana kronologi sampai adiknya, Rose Peterson, bisa hilang tanpa jejak?


"Aku tidak tahu pasti," kata Jack.


"Lo? Kok?"


"Waktu itu aku sedang di Jerman, baru berusia dua puluh dua tahun, dan sedang kuliah S2. Hanya tinggal diwisuda."


Oh, aku ternganga. "Kamu sarjana? Waw...! Hebat, lo. Aku tidak menyangka kalau kamu seorang sarjana."


"Yap, tapi pada akhirnya tidak ada gunanya, kan? Ijazah yang tidak terpakai."


Ya ampun, kok malah jadi begini pembahasannya? Aku bingung sendiri. Kuraih tangan Jack dan kugenggam erat dengan kedua tanganku. Aku jadi merasa bersalah. "Maaf, aku tidak bermaksud... aku cuma... excited, aku tidak menyangka kalau ternyata kamu seorang sarjana. Bukan berarti aku mau... maaf."


"Tidak apa-apa. Memang kenyataannya begitu."


"Oke, maaf, ya. Tidak usah dibahas." Kulepaskan tanganku darinya. "Jadi, bagaimana kronologi yang kamu tahu?"


"Yang aku tahu," kata Jack sambil berpikir. "Adikku menghilang setelah dia pulang dari sekolah. Agak teledor, sih. Mungkin karena... kami menganggap dia sudah terbiasa pulang dan pergi ke sekolah sendirian, jadi tidak terpikir kalau bakal seperti itu kejadiannya. Siapa yang tahu? Siapa yang mengira kalau hari itu dia tidak akan pulang ke rumah setelah pulang dari sekolah?"


Aku mengangguk-angguk.


"Yeah, pada akhirnya, aku tidak punya pilihan. Aku mesti kembali ke Indonesia. Aku mesti mencari adikku, sekaligus mesti menjaga ibuku. Kami sudah tidak punya siapa-siapa. Ayahku sudah lama meninggal. Hanya tinggal aku dan ibuku. Dan... ya begitulah. Intinya, sepulang dari sekolah, adikku hilang tanpa jejak. Hanya seperti itu."


Baiklah. Aku paham. Tapi, satu yang jadi pertanyaanku saat ini, bagaimana caranya Jack akan-bisa mengenali adiknya?


Rose Peterson, sewaktu dia menghilang dulu, usianya baru sepuluh tahun, sewaktu ia masih kanak-kanak. Dan sekarang, delapan tahun sudah berlalu, kalau dia masih hidup, tentu saja, Rose Peterson sudah menjadi seorang gadis belia. Dia sudah berusia 18 tahun. Tentu saja, dia pasti mengalami perubahan secara fisik. Dan aku bertanya pada Jack tentang hal ini.


"Kuharap dia tidak banyak berubah," kata Jack, kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Rose kecil kepadaku.


Tentu saja, dia cantik sekali. Ada lesung pipi di kanan-kiri pipinya. Hidungnya mancung dan beralis tebal. Dia memiliki mata berwarna cokelat, sama seperti warna rambutnya. Dan kulitnya putih bersih.


"Dia cantik," gumamku.


Jack tersenyum. "Yeah, cantik. Secantik dirimu."


Hmm... dasar gombal! Dia membuatku tersipu. Kukulum bibir supaya senyumku tertahan. "Kira-kira, apa ada ciri-ciri khusus yang mempermudahmu untuk mengenalinya? Barangkali semacam tanda lahir, misalnya?"


"Ada. Dia memiliki tanda lahir di tengah-tengah pungggung tangan kirinya, dan ada tiga tahi lalat di sisi kiri tanda lahir itu. Kalau aku melihat gadis belia yang mirip dengan adikku, tanda lahir dan tahi lalat itu yang akan menjadi tanda pengenal pertama. Dan entah bagaimana caranya, aku harus melakukan tes DNA kalau aku bertemu gadis yang seperti itu. Ribet, ya. Berat." Jack menghela napas dengan sesak. "Tapi aku tahu, aku tidak boleh berhenti mencari. Itu tanggung jawabku sebagai seorang kakak. Entah aku akan menemukannya atau tidak, aku tidak boleh berhenti mencarinya."


Aku mengangguk. Dia benar. "Entah bagaimana nantinya, tapi aku tahu, kamu sudah melakukan yang terbaik. Aku bangga padamu. Apalagi ibumu, dia pasti bangga sekali pada anak lelakinya. Iya, kan?"

__ADS_1


Oh! Nampaknya aku telah salah bicara.


"Ada apa?"


Jack menggeleng. "Entahlah," katanya.


Praktis, dua alisku terangkat. Aku bingung, apa yang salah?


"Please, ceritakan padaku. Aku tahu, pasti ada yang salah. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, ya kan? Cerita padaku, ya? Mungkin saja itu akan membuat perasaanmu menjadi lebih baik, please?"


Lagi, dia menghela napas dan kembali merasa sesak. "Ibuku mengalami kemunduran mental sejak dia kehilangan anak perempuannya."


"Oh," aku mendesa*. "Maaf, aku tidak tahu."


"Tidak apa-apa. I'm okay."


"Ya, aku tahu. Kamu kuat. Aku percaya itu."


"Em. Memang sudah seharusnya, kan?"


"Omong-omong, kalau tidak keberatan, boleh aku tahu, di mana ibumu sekarang?"


Jack terlihat tidak nyaman, aku menunggu beberapa saat dengan penuh harap, dan akhirnya dia mau menjawab, "Dia... dia dirawat di rumah sakit khusus."


"Terima kasih. Setidaknya aku masih memilikinya, kan?"


"Em. Kamu masih memilikinya, dan kamu masih sempat merasakan kasih sayangnya. Itu keberuntungan."


"Yeah," sahutnya. "Kamu benar. Itu keberuntungan yang harus disyukuri. Aku tidak perlu mengeluhkan apa pun. Sudah takdirnya begini. Mau bagaimana lagi?"


"Hu'um. Setidaknya itu lebih baik. Daripada nasibku, kan? Aku kehilangan ibuku sewaktu dia melahirkan aku. Aku bahkan tidak sempat merasakan pelukannya, apalagi melihatnya."


Dengan erat, Jack menggenggam tanganku. "Tapi sekarang kamu tidak sendiri. Kamu punya aku. Dan aku memilikimu di sisiku."


Oh Tuhan... kenapa dia tidak membuat hubungan ini lebih jelas? Aku di sisinya sebagai apa? Katakan, Bang Jack....


"Kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, kan? Ya kan, Rose?"


Aku mengangguk, mengiyakan setengah hati. Setengah hati karena senang, dan, setengah hati karena bingung, tapi, juga deg-degan dan malu.


"Aku sayang padamu."


"Sebagai... apa?"


"Menurutmu?"

__ADS_1


"Ak--aku... aku tidak tahu."


"Aku mau kamu menjadi kekasihku."


"Emm? Ke...kekasih?"


"Kamu bersedia?"


"Oh, eee... aku...."


"Please?"


"Kamu... serius?"


"I'am so serious. Please, be mine?"


"Ya, ya, aku... aku mau."


"Terima kasih."


"Ya," tanpa suara.


"Rose?"


"Emm?"


"Wajahmu memerah."


"Iiiiih... dasar. Kamu bercanda, ya?"


Dia tersenyum, menggeleng, lalu berdiri. Ditaruhnya kedua tangannya di bahuku, lalu ia menarikku berdiri. "Boleh kupeluk?"


"Dari kemarin juga tidak pernah minta izin," cibirku.


Euw... senyumnya merekah semakin jadi. "Jadi, boleh, kan?"


Aku mengangguk. Dan...


Dia memelukku, dan berkata pelan di telinga, "Aku mencintaimu."


Aaah... Tuhan... bahagianya aku. Beginilah rasanya: bahagia, haru, deg-degan, berdebar-debar, semuanya menjadi satu.


Perasaan ini sudah begitu jelas. Perasaanku bersambut, dan cintaku terbalas. Dia membuatku sangat bahagia.


Terima kasih, Tuhan. Terima kasih. Aku juga sangat mencintaimu, Bang Jack....

__ADS_1


__ADS_2