Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Bulan Madu Sepahit Empedu


__ADS_3

Bulan madu impian. Begitu James menyebut perjalanan ini. Selama berhari-hari kami berlayar dengan kapal pesiar pribadi miliknya. Sehari-hari, aku menjalani hari-hariku dengan aktivitas yang monoton. Seperti biasa, sebelum tidur James akan menyuruhku untuk minum pil tidur, lalu dia menjama* setiap inci tubuhku sampai aku terlelap. Dan ketika aku terbangun pada pagi harinya, tubuhku sudah terbungkus selimut dengan jejak merah di sana-sini. Hal ini terjadi setiap hari sehingga aku seakan sudah mati rasa. Saking terbiasanya, setiap kali sebelum aku tidur, dan setiap kali aku bangun dari tidur, aku sudah tidak sedih lagi.


Begitu juga pada siang harinya, entah di siang bolong atau pada sore hari, James selalu memerintahkanku untuk melayaninya. Pernah sampai membuat tangan dan rahangku terasa sangat pegal karena dia tidak mengizinkanku berhenti kalau aku belum menyelesaikan tugasku. Lebih tepatnya: sebelum ia selesai menanamkan benih ke dalam rahimku. Seperti usaha "penanaman benih" yang ia lakukan setiap hari itu, aku pun setiap hari diwajibkan menerima semua jenis obat penyubur kandungan, setiap hari tanpa absen.


Aku terlanjur terbiasa, dan tidak pernah melawan. Aku memenuhi segala perintahnya seperti yang dia inginkan: bermesraan tanpa bantah, tanpa tapi.


Kau tahu, sejujurnya aku sempat satu kali mengatakan tapi pada James pada malam hari setelah ia mengukir namanya dengan pulpen pada tubuhku hari itu. Sebabnya, malam itu ia menghubungi seseorang dan memesan jasa ukir tatto, dia menyebutkan namanya dan minta dikirimkan beberapa sampel bentuk ukirannya, lalu, setelah dia mendapatkan sampel itu, dia menunjukkannya kepadaku dan menyuruhku memilih mana yang kusukai.


Kalau kau ada di posisiku, apakah kau akan langsung memilih dan menunjukkan mana yang kau sukai? Kalau aku, jelas tidak, karena aku takut. Walaupun aku tidak tahu dan tidak pengalaman, tentu saja otakku berpikir bahwa proses pembuatan tatto itu pastilah sangat menyakitkan. Aku mencoba bernego kepada James alias mencoba menolaknya secara halus. Tapi kau tahu, dia tidak suka atas penolakan itu. Dia langsung marah, dan akhirnya, dia mendorongku, membuatku tertelungkup di atas ranjang. Dia naik, merangkak ke atasku, merobek pakaianku, lalu ia meraih bantal, menelungkupkanku di atas bantal itu dan ia sendiri melepaskan pakaiannya.


Aku sudah pasrah. Aku tidak akan melawan kalau dia ingin berhubungan badan denganku di saat aku dalam keadaan sadar. Tetapi, ternyata aku salah.

__ADS_1


"Sakit! Sakit! Kamu mau apa? Sakit, James! Sakiiiiit. Tolong lepaskan aku, tolooooong...."


Tapi pria sakit jiwa itu tidak peduli. Sebegitu keras aku berteriak kesakitan, dia tidak peduli. Aku menangis sekalipun, dia tidak peduli.


Kau tahu apa yang ia lakukan padaku sampai aku menangis karena kesakitan? Yeah, dia memasuki dari belakang. Ke bagian tubuhku yang sempit itu. Di tempat yang tidak seharusnya. Bagaimana aku tidak berteriak kesakitan? Malam itu aku menjerit sejadi-jadinya.


"Sakit, Sayang? Hmm? Sakit?" tanyanya seraya menarik rambutku. "Begini rasanya disakiti, Rose. Tidak enak, kan? Kamu jera, kan?"


Kamu sedang menghukum siapa, James? Kamu sedang bicara dengan siapa? Penolakanku bahkan tidak sebanding dengan hukuman ini. Ini terlalu kejam.


"Cup, cup, cup, cup... maafkan aku, Sayang. Maaf. Aku... aku terlalu terbawa emosi. Aku khilaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Maaf, ya?" Dia menarik selimut hingga menutupi tubuh kami berdua lalu ia memelukku yang meringkuk di atas ranjang.

__ADS_1


Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi berkata tapi apalagi tidak pada setiap keinginannya. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan, mengiyakan setiap yang ia inginkan. Dengan begitu, akhirnya James selalu bersikap baik dan mesra kepadaku. Dan akhirnya aku terbebas dari kekerasan fisik. Tapi tidak dengan hatiku, hatiku sakit setiap kali mesti mengiyakan dan menerima sikap mesranya kepadaku. Aku tidak bahagia, dan malah jadi mati rasa.


Sewaktu di kapal, James sering mengajakku ke geladak atas, menikmati langit senja, pun pada malam harinya, ia mengajakku menikmati angin malam yang membelai dengan mesra, dengan langit indah bertabur bintang, bahkan dilengkapi dengan terang cahaya bulan di atas sana. Kami berpelukan, berciuman, pernah juga berenang bersama, bermesraan di dalam air, dia mencium-ciumi tengkuk leherku ketika air kolam membuat kami kedinginan. James bisa hangat dengan kemesraan ini, tapi aku tidak. Sewaktu di sore hari kami terbaring di geladak atas, menyaksikan indahnya langit sore di atas kami, James terlihat sangat menikmati suasana tanpa peduli padaku yang terpaksa ada di sisinya. Bahkan yang membuatku paling tidak rela adalah: ketika ia mengajakku bertengger di besi penyangga di sisi kapal seperti yang pernah kulakukan bersama Bang Jack, ketika momen itu berlangsung bersama James, hatiku sakit sekali. Aku tidak rela momen indahku bersama Bang Jack tergantikan olehnya. Tetapi aku bisa apa? Demi dia tidak bersikap kasar padaku, aku harus selalu menurut.


Dan semua hal yang kulalui di kapal itu terus berlangsung setiap hari, termasuk setelah kami akhirnya tiba di Australia. James membawaku tinggal di sebuah villa pribadi. Selain bersikap baik dan mesra kepadaku, James memberikan ponselku dan mengizinkanku untuk berkomunikasi dengan ibunya Bang Jack melalui sambungan telepon suster yang menjaganya.


Yap, semua yang kulalui sepanjang hari begitu monoton. Aku seperti Rapunzel di era modern. Aku terkurung, walaupun bukan di dalam istana, tapi fasilitas yang kudapatkan serba mewah dan lengkap. Para bodyguard bergantian menjaga tempat itu selama dua puluh empat jam penuh. Ada pelayan wanita juga yang bekerja di sana. Selain memasak, ia mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga di villa itu. Sementara urusan memasak, sepenuhnya diserahkan James kepadaku.


Monoton. Setiap hari aku mengalami hal yang sama, dan melakukan aktivitas yang sama. Dari bangun tidur hingga sebelum aku tidur, aku mengalami hal yang sama. Sebelum tidur ada James, bangun tidur pun ada James. James yang selalu telanjan* dan merusak pemandangan bagi mataku. James yang menyebalkan, yang membuat hari-hariku tak pernah merasa indah.


Dan sama juga seperti bulan lalu, saat aku menstruasi, James pergi lagi dalam waktu yang lama. Tapi bedanya, kali ini aku tidak bisa bebas berkomunikasi dengan Bang Jack karena aku tidak membawa ponsel baru yang ia berikan kepadaku. Andaipun aku membawanya, sudah pasti langsung ketahuan oleh James sewaktu ia membawaku ke kapal, karena waktu itu ia sempat menyita ponselku demi bulan madu impiannya.

__ADS_1


Impiannya. Bukan impianku. Karena bagiku, bulan madu ini sepahit empedu.


Yeah, setidaknya dia tidak bersikap kasar kepadaku, kan? Dan satu-satunya kekerasan fisik yang kuterima selama di Australia hanya satu: pengukiran tatto itu. Satu di dada kiriku, satu di punggung kananku, dan satu lagi... di kulit perut bawahku: di antara pusar dan inti diriku. Secara fisik ini tidak mengapa, sebab James memberiku obat penahan rasa sakit. Namun secara hati, sakitnya tidak akan pernah sembuh. Sakitnya akan permanen, sama permanennya dengan tatto itu sendiri: Mr. Harding. Nama yang sangat kubenci.


__ADS_2