
Perubahan rencana. Pada keesokan paginya, sebelum James kembali menemuiku di rumah sakit, entah dia berniat menemuiku lagi ataupun tidak, entah dia berniat membawaku pulang atau tidak sepulangnya aku keluar dari rumah sakit, aku sudah lebih dulu meminta Bang Jack untuk membawaku pergi. Sebab, setelah huru-hara yang terjadi semalam, sekarang perasaanku mengatakan bahwa James akan membiarkan aku untuk bersama Bang Jack lantaran dia masih -- katakanlah bingung untuk menilai apa yang sebenarnya terjadi, apa kebenarannya, dan bagaimana dan apa yang sebenarnya ada di benakku. Aku merasa James yang saat ini tidak sama dengan James yang terakhir kali bersamaku di dalam kapal pesiar: sekarang dia cukup kesulitan untuk menerka apa yang ada di dalam pikiranku. Berbeda dengan instingnya yang selama ini, yang selalu tajam dan selalu bisa menebak apa yang ada di kepalaku.
Setelah menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit, Bang Jack segera membawaku meninggalkan rumah sakit. Meski tanpa James, namun para bodyguard itu masih saja berada di sekitarku. Tepat seperti yang kuinginkan.
Aku mesti melanjutkan misiku selanjutnya. James mesti percaya kalau aku benar-benar depresi dan ingin mengakhiri hidupku. Dengan yakin, aku meminta Bang Jack untuk mampir sebentar ke minimarket dengan alasan aku ingin dibelikan es krim.
Bang Jack menyetujui, dia langsung berhenti di minimarket terdekat. Dan sesampainya di parkiran minimarket, dia mengajakku untuk turun dan masuk ke dalam minimarket.
"Tidak. Abang sendiri saja," tolakku.
"Rose? Apa yang ada di pikiranmu?"
"Aku akan keluar dari mobil dan berdiri di pinggir jalan."
Bang Jack menggeleng. "Jangan nekat," sergahnya. "Aku tidak mau kalau kamu sampai terluka."
"Tidak akan. Aku janji, hanya sebatas berdiri di pinggir jalan. Aku tidak akan melibatkan orang lain ikut celaka gara-gara aku. Percaya padaku. Aku janji."
Pria itu tetap menggeleng. "Ini berbahaya. Aku takut kamu nekat."
"Tidak akan."
"Bagaimana aku bisa tahu?"
"Percayalah, aku tidak akan dan sama sekali tidak mau mengajak orang lain celaka bersamaku. Tidak satu pengendara pun. Abang harus cepat datang dan mencegahku. Marahi aku di depan para bodyguard itu. Oke?"
Sekarang Bang Jack mengangguk setuju. "Aku berusaha percaya padamu. Tolong jangan nekat."
"Iya. Aku berjanji, atas nama cinta."
Dengan enggan, Bang Jack meraih dompetnya lalu membuka pintu mobil. Dia turun dan masuk ke dalam minimarket. Di sisi lain, setelah Bang Jack masuk ke minimarket, aku pun keluar dari mobil. Dengan berpura-pura celingak-celinguk mengamati situasi, aku pun berjalan -- seolah diam-diam dari Bang Jack dan dari bodyguard-bodyguard yang mengawasiku dari jauh. Aku pun bergegas pergi ke pinggir jalan.
"Tunggu, Nyonya!" teriak salah satu dari bodyguard itu, mereka pun tak kalah cepat berlari menyusulku. "Nyonya mau ke mana?"
__ADS_1
Aku menggeleng. "Saya... saya hanya mau ke cafe seberang. Saya lapar."
"Kalau begitu kenapa Nyonya pergi sendiri? Kenapa tidak bersama Tuan Jack?"
Memang rencanaku, Bodoh! Ini untuk menipu kalian dan bos kalian yang berengsek itu. "Bang Jack akan menyusul. Saya sangat lapar, karena itu saya... saya ingin pergi duluan."
"Baiklah. Biar kami antar."
Bagus. Ayo, ikuti aku. Aku hanya mengangguk dengan kemenangan dalam hati. Setidaknya ini berpengaruh. Mereka akan melaporkan kejadian kecil ini kepada James.
Sekarang aku sudah berdiri di trotoar dan dikelilingi oleh para bodyguard itu.
"Mari, Nyonya," kata yang berdiri tepat di samping kananku, dia mengajakku untuk menyeberang.
Aku menggeleng dan menunjukkan keresahan. Sambil mengamati mobil-mobil yang melaju cepat dari kejauhan, aku berkata, "Saya rasa lebih baik saya menunggu Bang Jack di sini."
Dan persis di saat Bang Jack keluar dari pintu minimarket, aku melompat ke jalan, dan persis juga dengan yang kuharapkan, bodyguard-bodyguard itu sigap menahanku, kedua tanganku dicengkeram erat oleh kedua bodyguard yang berada di sampingku.
"Tidak, Nyonya."
"Tolong, biarkan saya pergi."
"Tidak. Kami di sini bertugas untuk menjaga Nyonya. Kita harus kembali ke mobil."
Bang Jack yang keluar dari minimarket datang tepat waktu. "Ada apa ini?" tanyanya dengan akting yang lumayan.
"Nyonya hendak kabur, Tuan."
Mendelik. Aku menatap tajam pada bodyguard yang bermulut comel itu.
"Kabur?" Bang Jack menggeleng. "Bukan. Aku tahu isi kepalamu itu. Kamu ingin coba bunuh diri lagi. Iya?"
Aku hanya diam dan berharap dalam hati Bang Jack akan menumpahkan emosinya. Dan itulah yang terjadi.
__ADS_1
"Berengsek!" teriak Bang Jack lagi. "Pria itu sudah membuatmu benar-benar tidak waras!"
Bagus! Sekarang waktunya aku pura-pura menangis, dan aku terus memberontak, tetapi kekuatan para bodyguard itu tak mampu kulampaui. "Biarkan saja aku mati!" raungku. "Aku ingin mati!"
"Stop, Rose! Stop! Jangan bodoh!"
"Aku memang bodoh! Sebab itu biarkan saja aku mati!"
"Diam!" Bang Jack menyentak tanganku dari bodyguard-bodyguard itu lalu ia menyeretku kembali ke mobil. Kemudian, dia menyuruh dua bodyguard untuk membawa mobilnya sementara dia duduk di belakang bersamaku untuk mencengkeram tanganku di sepanjang perjalanan.
Itu memang meyakinkan, Bang Jack melakukan hal itu seolah-olah dia benar-benar takut kalau aku akan kembali kabur atau melempar diriku ke jalanan saat kendaraan yang kami tumpangi sedang melaju. Tetapi, itu cukup berat, sebab, dengan begitu artinya aku harus terus berpura-pura dan menahan tawaku di sepanjang jalan.
Untunglah aku bisa, aku harus mencegah diriku melihat ke arah Bang Jack supaya aku tidak sampai kelepasan dan menertawai keadaan.
Sesampainya kami di apartemen, Bang Jack masih menunjukkan kekesalannya, dan aku tahu, itu berarti dia berakting sekaligus sungguhan. Dia mengalami ketakutan yang nyata di dalam dirinya. Dia takut kalau aku berbuat nekat dalam sandiwara itu.
Huffft... ini PR bagiku. Aku harus menyingkirkan kerisauan itu dari benak Bang Jack. Aku pun menyusulnya yang pergi ke dapur untuk menaruh es krim yang tadi ia beli ke dalam lemari es dan mengguyur tenggorokannya dengan segelas air dingin.
"Abang marah sungguhan?" tanyaku.
Dia melengos, tak sepatah kata pun ia menjawab pertanyaanku, bahkan ia tidak mengangguk apalagi melihat ke arahku. Dia pergi ke kamarnya.
Baiklah, aku mesti minum air dingin juga untuk menjernihkan pikiranku. Aku akan mengatasi situasi ini. Dan setelah itu, kamu tidak akan bisa lagi marah padaku.
Yeah, sebenarnya aku sedang tidak berminat untuk memadu kasih dalam suasana seperti saat ini. Tetapi aku harus melakukannya demi melebur kerisauan di benak Bang Jack.
Dari dapur, aku pun menyusul Bang Jack ke kamarnya. Dia tengah berdiri -- agak membungkuk, bertopang tangan di meja rias. Dia tidak menggubris kehadiranku.
"Abang... jangan begini," rengekku, kuraih tubuhnya dan membuat ia berdiri tegap di hadapanku. "Maafkan aku kalau Abang tidak suka dengan apa yang kulakukan, tapi...." Kuhela napas dalam-dalam. "Tidak usah membahas ini sekarang. Intinya aku baik-baik saja, bukan? Aku mencintaimu."
Aku mendongak, memandangi dan menatap matanya, sementara jemariku bergerak melepas kancing kemejanya satu-persatu.
"Jangan marah lagi, aku mohon. Abang mencintaiku, kan? Please, lupakan kejadian tadi. Cukup gilai aku. Cintai aku. Tunjukkan kalau aku segalanya bagimu." Karena kita tidak pernah tahu bagaimana takdir kehidupan setelah ini. Kita berharap memenangkan pertempuran, tetapi hanya Tuhan yang bisa menentukan siapa yang akan bertahan hingga akhir, siapa yang Ia takdirkan sebagai pemenangnya. Tapi, saat ini, anggap saja kita sedang merangkai kenangan terakhir, andai kata kita kalah, setidaknya kita sudah pernah bahagia. Di sini, di kamar ini, di atas ranjang hangat di mana aku merasa dicintai sepenuhnya -- oleh pria yang sangat mencintaiku.
__ADS_1