
"Aku bersedia kalau itu berarti kamu akan mengatakan segalanya, sekarang juga."
Kali ini James mengiyakan, waktu yang kutunggu telah tiba. Aku duduk di sofa bersamanya, di sisinya. Kupikir, seandainya besok James masih bersikeras mempertahankan pernikahan kami dan itu berarti aku mesti sungguh-sungguh mengorbankan nyawaku demi ia kembali kepada keluarganya, maka tidak apa-apa. Aku akan mati dengan membawa serta semua cerita James bersamaku: cerita yang membawaku dan membuatku terjebak ke dalam cinta yang berbahaya -- cinta di antara cinta James Harding dan cinta Jack Peterson. Dua lelaki yang memiliki sisi kelamnya masing-masing.
"Please, ceritakan semuanya kepadaku?"
"Yeah. Aku ingin, tapi harus kumulai dari mana?"
"Berdasarkan kronologi, urutan dari waktu ke waktu."
James mengangguk. "Itu berarti dimulai dari cerita lama yang baru kuketahui."
Aku tidak menyahut, hanya menatap fokus pada pria itu. Dia pun mengubah posisi duduknya dan kini ia duduk menghadapku.
"Ibuku dan ayahnya Jack memiliki kisah di masa lalu."
Hah? Ya Tuhan....
Jujur aku tersentak mendengar satu kalimat itu. Bagaimana dengan kenyataan berikutnya? Bisa-bisa aku pingsan mendengarnya.
"Yeah, itu kenyataannya, Rose."
__ADS_1
"Emilia. Aku sebagai diriku sendiri sekarang."
"Oke. Baiklah, Emilia. Tidak masalah, siapa pun dirimu, yang penting statusmu tetap sebagai istriku."
"James!" Dia membuatku mendelik kesal. "Jangan sebut aku sebagai istrimu. Kamu suami orang. Kamu memiliki istri yang sah."
Tetapi pria itu lagi-lagi tersenyum bahagia. "Kita belum bercerai, ya kan?"
"Terserah. Lanjutkan saja ceritamu."
Sekarang James menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, dia menatap ke langit malam. Bulan purnama bersinar terang di atas sana. Langit bersih, dan ribuan bintang bertaburan. Tetapi James, di wajah pria itu kini menggambarkan berjuta kepedihan. Aku bisa menebak jika selama ini dia hanya menyimpan semua dukanya sendirian. Tapi kini dia ingin membaginya denganku.
"Asmara di antara ibuku dan ayahnya Jack itu terjadi sebelum keduanya menikah dengan pasangan mereka masing-masing. Entah karena alasan apa, mereka berdua terpisah dan melanjutkan kehidupan mereka masing-masing. Ibuku menerima perjodohan dengan ayahku, dari pernikahan itu lahirlah aku. Begitu juga dengan kedua orang tua Jack. Sampai suatu hari, entah apa yang terjadi, hubungan asmara di antara ibuku dan ayahnya Jack kembali terjalin. Ayahnya Jack seorang polisi, barangkali dia berniat mendekati ibuku hanya untuk misinya mencari informasi tentang ayahku. Aku tidak tahu, mungkin itu yang terjadi. Tapi lagi-lagi ibuku harus menanggung rasa sakit, ayahnya Jack memutuskan hubungan terlarang mereka karena istrinya mengandung seorang bayi perempuan. Rose Peterson. Ibuku marah, untuk ke-dua kalinya dia sakit hati karena perbuatan orang yang sama, dan rasa putus asa itu malah membuatnya mengaku dan meminta maaf kepada ayahku. Dia mengatakan semuanya kepada ayahku, tentang perselingkuhannya. Ayahku yang tidak bisa menerima hal itu lantas membunuh keduanya. Ibuku dan ayahnya Jack. Orang luar hanya tahu ini tentang bisnis illegal dan hukum. Penjahat dan polisi, meski pada akhirnya pihak berwajib tidak bisa membuktikan bahwa ayahku yang bersalah. Dia bebas, dan Jack yang menyimpan dendam. Itulah sebabnya aku tidak membalas Jack karena dia telah menghabisi nyawa ayahku. Karena itu dendam pribadinya."
"Yeah, sesungguhnya aku bisa membaca semua rencana Jack. Aku pulang dari Australia hanya untuk bermain-main dalam permainannya. Dan aku tahu kalau kamu mengetahui rencana itu, ya kan?"
Aku mengangguk.
"Tapi kamu begitu resah malam itu. Kamu takut kalau aku benar-benar tiada di tangan Jack. Tapi sayang kamu juga tidak bisa berbuat apa pun. Kamu tidak bisa menghentikan Jack, tapi kamu juga ingin aku tetap hidup. Apa aku benar?"
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Kamu mengasihaniku karena aku sebatang kara."
Benar. Aku mengasihanimu waktu itu. Tapi ternyata kamu hanya berdusta.
"Kamu tahu kenapa aku pergi dari pesta tanpa Papa? Karena dia yang sudah membunuh ibuku. Aku tahu ibuku bersalah, tapi dia tidak berhak merampasnya dariku. Aku terpaksa melanjutkan hidupku tanpa kasih sayang seorang ibu. Sebab itu aku membiarkannya, aku tahu malam itu dia akan mati di tangan Jack."
Ya Tuhan, duka di wajah itu semakin kentara. Aku bisa merasakan lukanya. "Berarti sewaktu kamu kembali ke Australia, kamu hanya pura-pura sedih karena Tuan Johnson meninggal?"
James menggeleng. "Tidak tahu," katanya. "Rasa sedih itu sebenarnya ada, dan aku tidak bersandiwara untuk hal itu. Tapi dia yang telah membunuh ibuku. Dia pantas mendapatkannya."
Aku mengangguk. Aku percaya pada dukanya yang nyata.
"Sekarang bagian kedua. Tentang cinta pertamaku. Rose Emerson, gadis yang sangat kucintai. Aku tahu dia menderita sakit parah, tapi itu tidak sedikit pun mengurangi perasaanku terhadapnya. Aku membantunya, aku mendukungnya untuk terus berjuang hidup. Tapi nyatanya, gadis itu mengkhianatiku dengan Jack. Barangkali itu yang dirasakan oleh ayahku, rasa sakit yang sama karena pengkhianatan wanita yang dia cintai, sampai-sampai, cinta itu membuatnya nekat menghabisi nyawa ibuku."
Deg!
Apa itu artinya kamu yang membunuh Rose Emerson? Katakan kalau aku salah....
James tersenyum masam. Dia bisa membaca isi kepalaku. "Tidak, Sayang," ujarnya. "Bukan aku. Entah siapa yang menghabisinya. Mungkin ayahku. Aku tidak tahu. Aku hanya... menyuruh beberapa orang untuk menggilirnya."
Aku menggeleng. Berusaha menyangkal apa yang telah kudengar.
__ADS_1
"Salah siapa? Siapa yang mengizinkannya mengkhianatiku? Dia pantas menerimanya. Dia pengkhianat. Dia murahan. Dia menyerahkan keperawanannya kepada selingkuhannya. Padahal aku berniat menikahinya dan memberikan dia status terhormat sebagai istriku."
Mataku terpejam. Betapa enteng James mengatakan kejahatan yang telah ia perbuat. Itu terlalu kejam....