Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Dengan Cinta


__ADS_3

Bang Jack buru-buru menyingkir dari atasku lalu turun ke lantai.


"Rose, sori," katanya. "Tapi aku harus mengecek... mengeceknya untuk lebih yakin."


Aku bingung, aku tidak mengerti. "Maksud... Abang...?"


"Aku ingin memastikan keperawananmu... aku ingin memastikannya dengan... jariku."


Hah? Aku terbelalak.


"Rileks. Ini tidak akan sakit."


"Tapi...?"


"Percaya padaku, oke?"


Aku mengangguk.


"Pejamkan matamu."


"Baiklah."

__ADS_1


"Maaf, ya. Aku... cek... sekarang."


Aku mengangguk, kupejamkan mataku, lalu berkata, "Abang, tolong pelan-pelan, ya. Aku takut... takut sakit."


"Rileks. Pejamkan matamu. Nikmati sentuhanku supaya sakitnya tidak terasa."


Lagi, aku mengangguk.


Ya Tuhan, oh... pria itu menguburkan wajahnya dalam lekukan keemasan di antara tungkaiku. Kuat dan berat, tangannya menyelinap ke paha bagian dalam, merentangkanku dan menempelkan bibirnya, mengisa* jiwaku dengan cinta. Dengan liar, dia menghunjamkan lidahnya ke dalam kelembapan itu, mencari-cari hingga menemukan tempat yang telah disentuh oleh jemarinya hingga mengeras. Aku memekik tertahan. Pinggulku melengkung di atas ranjang, tapi lengan kuat Bang Jack memaksaku turun kembali. Dengan sengaja dan manis, ia menyiksaku, mencumbuku dengan lidah dan bibirnya.


"Abang...? Kok...? Kok pakai lidah?"


"Oh, baiklah. Ini enak. Nikmat."


"Yeah, pejamkanlah matamu. Nikmati saja."


Yeah, dengan rakus ia mengisa*, menghirup *asratku, sungguh menggila.


Ya Tuhan... inikah yang dinamakan surga dunia? Nikmat sekali. Pria itu menciumiku dengan penuh. Lidahnya bermain dengan liar. Menggelitik. Menyalurkan sensasi asing yang selama ini kuimpikan bersama pria impianku itu. Pria dewasa yang mencintaiku, dan yang kucintai. Aku bahagia seakan terbang ke nirwana.


Lalu...

__ADS_1


"Ouch...!"


Jemari pria itu menyentuh diriku. Rasanya tak tertahankan. Begitu menguasai. Aku terkesiap samar. Aku merasa wajahku merona panas. Kenikmatan itu terlalu indah untuk ditahan. Nyaris di luar kehendakku, aku merintih ketika jari ahli pria itu masuk ke dalamku, membuatku ingin menggelinjan* dan mengeran* penuh kenikmatan.


"Oh... oh... Abang...." Aku bernapas dalam kegelapan kelopak mata yang terpejam. Terbakar oleh rasa malu dan kenikmatan. Tumitku menekan kuat ke ranjang dengan tangan mencengkeram kuat ke seprai yang kusut. Mencari-cari. Penuh hasra*. Betapa nikmatnya saat jarinya meluncur ke dalam kehangatan selembut beledu, ke dalam bagian terlarang itu. Aku bertanya-tanya, bagaimama rasanya saat dia mengoyak masuk ke dalam kepolosan yang begitu manis? Bisakah aku menanggung rasa sakit itu? Kenikmatan itu?


"Kamu benar-benar masih perawan, Sayang," Bang Jack berkata. "Apa maksud James sebenarnya?"


Aku menggeleng. "Please... jangan bahas soal itu sekarang."


"Baiklah. Nikmati saja momen ini."


Dengan rintihan tertahan, aku memejamkan mataku kembali. Bang Jack kembali merasakanku dengan lidahnya, membelai dan menggoda. Dia telah menjanjikanku kenikmatan, dan aku harus mendapatkannya, meskipun tubuhku bisa meledak akibat menahan diri.


Nyatanya aku memang meledak. Pelepasan pertamaku datang menguasai dengan cepat, meninggalkanku bergidik dan gemetar, tubuhku terasa kaku.


"Ah, ah... aaah... Abang...," *rangku, tanganku meluncur di atas tubuh, menyentuh tenggorokan, dada, perut, dan akhirnya beristirahat di atas jemari Bang Jack.


Sebagai balasannya, Bang Jack bergerak naik ke tubuhku dan memeluk seluruh tubuhku hingga getaran itu mereda.


"Masuklah," aku akhirnya berbisik, dengan suara serak dan asing. "Aku ingin dirimu berada di dalamku sekarang. Please? Aku tahu ini salah, tapi aku menginginkanmu. Aku ingin kita menjadi satu. Menyatu dalam cinta, please...?"

__ADS_1


__ADS_2