
James, pria itu menggandeng tanganku keluar dari gudang, namun ia tidak membawaku masuk ke bangunan utama rumah yang ada di tempat itu, bangunan yang paling besar dan sangat kokoh, yang tadi -- sewaktu van putih itu masuk ke dalam pekarangan bangunan itu, sekilas kuperhatikan bangunan itu lebih mirip istana yang nampak sangat mewah. Namun, aku tidak bisa melihat detailnya, sebabnya van putih itu melesat cepat dan masuk ke area basement. Setelahnya, tadi ketiga penjahat itu langsung membawaku ke gudang. Salah seorang di antara mereka menarikku dengan kasar. Dan sekarang, James, dia pun menarikku. Dia membawaku keluar dari gudang dengan cepat dan membawaku ke bangunan kecil di area belakang, sebuah paviliun yang terpisah dengan bangunan di depannya.
Entah benar atau tidak, menurutku si James memang menempati paviliun sunyi itu. Dilihat dari perabotannya yang lengkap dan nyaman, dan juga sikap James terhadapku di depan semua orang tadi, sepertinya dia tidak sama dengan orang-orang jahat itu. Terutama dengan papanya. Mereka nampak berbeda. Tapi, siapa yang tahu?
"Duduk di sini," pintanya. Ia menyuruhku duduk di sofa sementara ia berjalan ke lemari pendingin. "Anda mau minum apa?"
Aku haus. Aku bisa mati kehausan kalau aku menolak untuk minum. Dengan takut-takut, kupalingkan pandanganku ke arah lemari pendingin yang terbuka. "Air putih saja," kataku. Dalam hati aku bersyukur, tidak ada alkohol di dalam sana.
"Anda ingin makan?"
"Tidak. Saya tidak lapar."
"Buah-buahan?"
"Tidak, Tuan. Terima kasih."
"Baiklah."
James meraih sebotol air putih dan sekotak sari buah kemasan lalu menaruhnya di atas meja di depanku.
"Anda butuh mengembalikan energi. Minumlah sari buah ini kalau Anda belum mau makan apa pun."
Aku mengangguk, namun aku tetap diam saja.
"Minumlah dulu sebelum kita bicara." James duduk bersilang kaki di sofa, persis di hadapanku.
Baiklah, pikirku. Aku menurut. Kujangkau sari buah kemasan itu lalu membuka dan meminumnya sedikit.
"Siapa nama Anda?"
Aku tidak menyahut.
"Katakan."
"Saya...."
"Siapa?"
"Saya... saya...."
"Anda tidak gagu, Nona. Jawab saja."
Sejujurnya ada perdebatan di dalam hatiku. Kalau aku menyebut namaku yang asli, apa itu tidak akan menimbulkan konflik di kemudian hari? Padahal jelas, berandalan yang menculikku dari apartemen tadi mengira kalau aku ini adiknya Jack Peterson. Apa baik bagiku kalau aku memperkenalkan diri sebagai keluarga Peterson? Apakah James mengenal Bang Jack? Mungkin saja. Mungkin James benar-benar orang baik. Barangkali dia akan melepaskanku kalau aku meminta pertolongannya tanpa dia harus menikahiku. Semoga saja. Aku menggumam, "Emm... saya... saya Rose."
"Nama lengkap?"
__ADS_1
"Emm... Rose...."
"Jangan takut pada saya. Katakan saja."
Aku mengangguk. "Rose... Peterson."
"Peterson?"
"Em."
"Ada hubungan dengan Jack Peterson."
Lagi. Aku mengangguk. Ternyata dia memang mengenal Bang Jack. Aku merasa mendapatkan harapan, walau hanya secuil.
"Tentu Anda bukanlah istrinya. Yang saya tahu dia belum menikah."
Aku calon istrinya. Tetapi aku tidak berani mengatakan kebenaran itu. Bukankah aku tidak tahu kepribadian James yang sesungguhnya?
"Anda adiknya?"
"Em." Aku mengangguk lagi.
"Bodoh! Dia meninggalkan Anda sendirian sementara dia pergi berlayar?"
"Tidak ada yang tahu kalau bakal begini kejadiannya. Tentu Bang Jack merasa kalau--"
Apa? Mataku terbelalak. Aku terkejut. "Di... dilenyapkan?"
"Yeah. Memangnya dia tidak pernah memberitahu Anda?"
Aku menggeleng.
"Rose Emerson, dia meninggal setelah menerima tembakan tepat di kepalanya."
Ya Tuhan. Kali ini mataku terpejam. Namanya Rose Emerson? Dia mati karena ditembak oleh musuhnya Bang Jack? Kenapa para penjahat itu harus menumbalkan orang lain? Jahat sekali mereka.
"Yeah. Kalau saja ibunya tidak gila, oh sori, maksud saya ibu kalian. Kalau saja ibu kalian tidak... tidak menderita kemunduran mental, barangkali musuh-musuh Jack juga akan melenyapkan ibu kalian. Tapi berhubung Nyonya Peterson sudah semalang itu, itu sudah sangat menyiksa Jack dan musuh-musuhnya sudah puas akan hal itu. Mereka puas melihat Jack tersiksa. Dan sekarang, ya Tuhan, bodoh sekali pria itu hingga meninggalkan Anda sendirian. Sementara, dia malah berlayar mengantarkan wanita-wanita penghibur itu ke Thailand. Dia pasti belum tahu kalau adiknya di sini juga akan dijadikan pelacur. Saya ikut prihatin, Nona."
Aku hanya bisa tertunduk. Ternyata banyak hal yang belum kuketahui tentang Bang Jack. Bahkan dia berbohong padaku tentang kematian mendiang kekasihnya. Dan tentang pelayaran itu, ternyata dia mengirim -- mungkin juga menjual para gadis itu ke Thailand. Mungkin juga seperti yang kualami waktu itu. Sialan! Kenapa Abang tidak jujur padaku? Apa sebenarnya kau tidak mencintaiku? Kau tidak sungguh-sungguh? Tapi bukankah... kau ingin menikahiku? Kenapa kau tidak jujur? Ya Tuhan, Abang....
Tapi tidak. Kucoba untuk menenangkan diriku sendiri. Aku menghela napas dalam-dalam dan berpikir mungkin Bang Jack punya alasannya tersendiri kenapa dia tidak sepenuhnya jujur kepadaku. Mungkin saja.
"Sudahlah. Setidaknya sekarang Anda aman bersama saya. Dan semoga saja Jack belum tahu soal Anda yang sudah diculik. Sebab, saya khawatir dia akan nekat melompat dari kapal untuk menyelamatkan adiknya."
Oh Tuhan, aku tidak berpikir akan hal itu. Bang Jack pasti sudah tahu. Dia pasti menghubungi ponselku, dan dia pasti curiga kenapa aku tidak mengangkat teleponnya. Dia pasti sudah mengecek cctv. Dan setelah dia tahu, dia pasti ingin segera kembali ke daratan. Tapi tidak mungkin, tidak mungkin kapal yang membawa Bang Jack akan berbalik mengantarkan Bang Jack kembali ke pelabuhan.
__ADS_1
Tolong jangan melompat. Tolong jangan, Abang. Keselamatanmu dan Mama tetap yang utama bagiku.
"Nona? Halo... Anda masih di sini?"
Kuusap pipiku yang ternyata basah oleh air mata."
"Nona?"
"Emm?"
"Saya tidak bisa berbuat apa pun untuk Anda semisal Anda meminta saya untuk mengembalikan Anda kepada Jack. Saya tidak tahu apa yang akan dilakukan orang-orang yang hendak menjual Anda dan menjadikan Anda pelacur. Tapi, Nona, jika Anda bersedia saya nikahi, saya bisa melindungi Anda. Orang-orang itu bisa menghormati Anda jika Anda berstatus sebagai istri saya. Bahkan papa saya juga akan melindungi Anda jika Anda menjadi menantunya. Termasuk menjamin keselamatan untuk ibu Anda. Bahkan saya rasa Jack pun akan lega kalau adiknya berada dalam perlindungan yang aman. Dia tidak akan waswas lagi kalau dia mesti bepergian. Omong-omong, kakak Anda adalah tangan kanan papa Saya. Tuan Johnson. Jack pasti setuju kalau saya menikahi adiknya. Bagaimana, Nona?"
Apa aku punya pilihan lain?
"Kalau saya tidak bersedia?"
"Ini penawaran terbaik, Nona."
"Kalau saya tidak bersedia, Tuan?"
"Yeah, kalau begitu saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk Anda. Anda boleh pergi."
"Saya bisa keluar dari sini dengan aman? Tidak akan ada yang menahan saya di sini?"
Pria itu hanya mengedikkan kedua bahunya. "Papa saya tidak akan menahan Anda, Nona."
"Ketiga anak buahnya yang tadi?"
"Apa pun yang akan mereka lakukan itu urusan mereka. Bukan urusan kami."
"Lo? Apa papa Anda tidak akan mencegahnya? Saya kan adiknya Bang Jack? Tangan kanannya--"
"Urusan di dalam bisnis dan di luar bisnis itu berbeda, Nona. Ini tentang bisnis. Bukan tentang keluarga. Jack bukanlah anggota keluarga kami."
Halus. Intinya aku tidak diberikan pilihan lain.
"Saya akan memberitahukan Jack kalau Anda ada di sini dan aman bersama saya jika kita sudah menikah. Tapi jika tidak, Anda boleh pergi, dan anggap saja kita tidak pernah bertemu. Kita tidak punya urusan apa-apa."
Sialan. Kalau Bang Jack tidak tahu keberadaanku, maka dia akan terus mencariku. Bahkan keselamatan Mama, apa dia akan fokus pada keselamatan Mama? Tapi kalau dia tahu keberadaanku, dia pasti akan lega mengetahui kalau aku baik-baik saja -- sekaligus sakit hati -- jika dia tahu kalau aku sudah dinikahi oleh orang lain. Anak bos-nya sendiri, pula! Keputusan apa yang mesti kuambil? Aku harus bagaimana? Semua ini bisa membuatku setres.
"Katakan keputusan Anda sekarang, Nona. Anda tidak punya banyak waktu."
Sekali lagi, mataku terpejam. Dengan terpaksa, aku mengangguk. "Saya setuju."
"Baiklah. Persiapkan diri Anda, kita akan menikah malam ini."
__ADS_1
Apa? Malam ini? Ya Tuhan....