
setelah kemesraan yang super melelahkan itu, aku pun tertidur lelap di kamar Bang Jack. Bersamanya. Aku meringkuk seperti anak kucing dalam hangat pelukannya dan terselubung selimut yang tebal. Rasa-rasanya, aku tidak ingin bangun. Aku ingin terus menikmati waktu yang indah ini. Tetapi, untuk apa? Momen ini hanya untuk sementara, dan -- semu. Aku tidak bisa membiarkan diriku sampai terbuai dan tidak menggunakan kesempatan ini untuk memanipulasi keadaan. Akhirnya, dengan malas, aku pun memaksakan diri untuk pergi dari kenyamanan itu.
Sekarang, dengan mengenakan gaun putihku, aku keluar dari kamar Bang Jack dan masuk ke kamarku. Dari dalam laci meja riasku, aku mengeluarkan tiga butir pil tidur yang baru dibelikan oleh Bang Jack atas permintaanku, dan aku langsung menenggaknya, kemudian kuambil selembar kertas dan juga ponselku untuk menuliskan pesan.
Maafkan aku jika aku harus mengambil langkah yang keliru. Tetapi yang pasti, aku sangat menyayangimu. Jangan menjadikan diriku sebagai kelemahan. Terima kasih karena Abang sudah menjadi lelaki yang terbaik dalam hidupku setelah ayahku. Kehadiranmu membuatku merasa aku bukan gadis sebatang kara di dunia ini. Aku tidak pernah menyesali apa pun: apa pun yang telah terjadi di antara kita. Karena kamu memiliki tempat teristimewa di hatiku.
"Aku harus memastikan Bang Jack membaca surat ini. Sekarang pesan untukmu, James."
》Terima kasih untuk semuanya. Andai setelah ini ada kehidupan lagi, aku berharap aku bisa melihatmu benar-benar bahagia -- tetapi bukan dengan kepalsuan. Dan semoga setelah ini kamu bisa mencintai seseorang dengan hati dan ketulusan, bukan untuk mempermainkan hatinya. Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya. Maafkan aku kalau selama ini aku pernah menyakiti hatimu, dan maafkanlah aku yang tidak bisa menjadi teman hidup yang baik untukmu. Selamat tinggal, James.
Pesan whatsapp terkirim, dan aku langsung menghapusnya lalu menonaktifkan ponselku kemudian meletakkan ponselku di atas surat untuk Bang Jack. Kutaruh kedua benda itu di tepi tempat tidurku.
Aku harus berani. Aku harus mengambil langkah ini.
Dengan yakin, kuangkat vas bunga di atas meja riasku dan melemparkannya ke cermin di hadapanku.
Prang!
__ADS_1
Kaca itu pecah dan jatuh berserakan.
"Rose?" suara Bang Jack terdengar samar dari kamarnya. "Suara apa itu? Kamu di mana?"
Sekarang, Emilia. Sekarang. Lakukan sekarang.
Kuambil pecahan kaca yang cukup besar dari lantai dan menggenggamnya dengan erat dengan tangan kananku. Dan, dengan tangan kiri terkepal erat, kuarahkan pecahan kaca itu untuk menggoreskan luka di pergelangan tanganku.
Sret!
Darah muncrat dari pergelangan tanganku yang terluka dan jatuh berceceran mengotori lantai. Perih. Tapi aku tahu aku tidak akan mati. Aku hanya akan lemas dan tak sadarkan diri akibat pengaruh obat tidur.
Aku berjalan ke arah tempat tidur dan menjatuhkan diri di tepi ranjang, terlentang di atas tempat tidur berseprai putih itu dengan kedua tangan terentang di samping tubuhku. Luka itu terlihat jelas menghadap ke atas. Bang Jack melihatnya. Pintu kamarku sudah terbuka.
"Rose...!" teriaknya.
Seketika pria itu panik melihatku yang terkulai lemah dengan luka di pergelangan tangan, dan, darah mengotori seprai yang membungkus ranjangku juga gaun putih yang kukenakan.
__ADS_1
"Hei, Sayang... Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kamu melakukan ini?"
Ya ampun, bodoh. Bawa aku ke rumah sakit, Abang. Lewati para bodyguard itu dan biarkan mereka melihatku terluka. Tetapi aku diam saja. Mana mungkin aku mengatakan itu. Orang yang mau bunuh diri sungguhan tidak akan mengatakan hal itu. Sebaliknya, aku tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Abang. Ini tidak sakit. Aku hanya lelah. Aku ingin pergi. Aku... aku ingin bertemu dengan kedua orang tuaku. Aku ingin bersama mereka. Kita... kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Pasti."
"Tidak, Rose. Jangan tinggalkan aku."
"Abang--"
"Ssst...."
"Aku mencintaimu."
"Rose...."
"Maafkan aku."
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu pergi. Kamu harus bertahan. Aku akan membawamu ke rumah sakit. Bertahan, Rose. Kumohon bertahan."
__ADS_1
Lagi. Aku tersenyum. Aku tahu, aku tidak akan meninggalkannya.