
Pagi dengan sejuta rasa. Sebuah cincin berlian melingkar di jariku, menggantikan cincin pernikahan yang entah ada di mana. Mungkin cincin itu sudah diambil dan disimpan kembali oleh James. Tidak mungkin ia membuangnya. Aku sangat yakin dia menyimpan kenangan pernikahan itu untuk dirinya sendiri, seperti ia yang menyimpan cintanya untukku, dia akan menyimpan cincin itu sebagai kenangan.
Pagi ini, aku tidak tahu aku harus bersikap bagaimana ketika aku terbangun dan membuka mata. Apa aku harus tersenyum bahagia atau justru merasa sedih? Apa ini pagi terbaikku atau justru pagi terburuk bagiku? Hatiku lega di satu sisi, aku akan berpisah dengan James dan membuatnya kembali kepada keluarganya, tapi aku juga merasa kehilangan. Lalu, di sisi lain, aku pun lega karena aku akan kembali ke tempat di mana aku seharusnya berada, di sisi Bang Jack -- dengan, atau tanpa cinta. Aku tidak tahu. Sebagaimana aku tidak tahu apakah aku masih pantas untuk bersamanya? Apakah aku telah menjaga kesetiaanku sampai detik ini, atau aku justru sudah berkhianat dengan melewati malam bersama James, bersama cintanya? Aku tidak tahu. Dan aku juga tidak tahu, ada ketidakmengertian di dalam diriku ini, aku tidak menyesali kebersamaanku bersama James semalam -- maksudku, aku tidak menyesalinya untuk James, tapi untuk Bang Jack, aku menyesali hal itu sebab seolah aku sudah berkhianat kepadanya. Meski aku membenarkan posisiku, aku masih istri James Harding sampai pagi ini, aku tidak mengkhianati Bang Jack untuk hal ini. Tapi tetap saja, rasa bersalah itu juga ada.
Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Hidup tetap harus kembali seperti semula, kembali pada tempatnya masing-masing. Yang berbeda sekarang hanya beberapa hal yang tidak bisa diubah kenyataannya, pertama tentang status baru yang sebentar lagi akan kusandang: sebagai mantan istri -- janda James Harding, dan kedua, tentang cintanya -- cinta yang katanya akan terus ada untukku.
Yeah, pagi ini, setelah sekian menit larut dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk di dalam benakku seraya aku memandangi wajah tampan lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku, sepercik kedamaian menyelinap ke dalam sukma. James terbangun, senyuman terbit di wajahnya untuk sesaat. Semalam, sebelum terlelap dalam tidur yang damai, aku sudah memintanya untuk terbangun dalam keadaan bahagia, atau setidaknya tanpa kesedihan. Tidak ada jalan kembali, bukan? Aku tidak ingin dia kembali menjadi sosok James yang lama. Dan dia pun sudah berjanji untuk itu. Sungguh, selama aku menjadi istrinya dan tidur seranjang dengannya, baru kali ini aku melihat wajah itu tersenyum lepas, meski mungkin tidak sepenuhnya. Aku tahu, keharusannya untuk melepaskan diriku tetap menjadi beban yang masih menyelubungi hatinya.
"Selamat pagi." Dia tersenyum seraya membelai wajahku.
Aku tersenyum, dan balas menyapanya.
"Kamu masih istriku sampai beberapa menit ke depan. Boleh aku menciummu?"
Aku mengangguk, kupejamkan mataku dan membiarkan dia menciumku -- bukan dengan nafsu, tetapi dengan sepenuh perasaan.
"Aku mencintaimu," dia berbisik di telinga.
Oh Tuhan....
"Aku tidak bisa mengatakan apa pun. Tapi kuharap kamu tahu apa yang ingin kukatakan seandainya aku bisa mengatakannya. Tapi... aku bisa mengatakan ini, sekarang, meski hanya di ujung waktu, aku bahagia karena aku pernah menjadi istrimu."
Lagi, James tersenyum. "Jadilah istriku dalam kehidupan berikutnya. Aku melamarmu, jika kamu menerima, maka kita akan menikah lagi di kehidupan berikutnya."
"Pria yang manis." Aku tersenyum, kutunjukkan jariku yang dilingkari cincin kepadanya. "Terima kasih cincinnya. Aku menerima lamaranmu, dan akan menjadi pengantinmu lagi dalam kehidupan berikutnya." Asal kamu bahagia, James. Asal kamu bahagia.
Semringah. James kembali tersenyum dan mencium hangat keningku.
Semoga kamu selalu bahagia setelah perpisahan ini. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.
Yeah, momen manis di ruang kaca itu harus berakhir. Sudah saatnya berakhir. Luka perpisahan itu kembali menaungi wajah James. Seraya menghela napas dalam-dalam, dia bangkit, turun dari tempat tidur dan mengambil sebuah map di atas meja kecil di sisi tempat tidur. Surat cerai. Dia sudah menandatanganinya.
"Baca dan tanda tangani ini," katanya. "Aku akan menepati janjiku untuk melepaskanmu."
Tetapi aku menutup kembali map itu. "Aku akan menandatanganinya nanti," ujarku. "Sekarang tolong ambilkan gaunku. Aku ingin pergi ke dapur dan memasakkan sesuatu untukmu, masih sebagai istrimu. Boleh?"
"Oh, kuharap kamu akan berubah pikiran."
"James...."
"Hanya bercanda, Sayang."
Dia mengambilkan gaunku dan aku mengenakannya. Bukan gaun pengantin, hanya gaun biasa. "Omong-omong, aku mandi dulu. Kamu bisa menunggu, kan?"
"Tentu. Mungkin semakin lama akan semakin baik."
Hmm... lukanya yang berbicara seperti itu, juga harapannya. Selain senyuman, aku tidak memiliki jawaban untuk itu.
Setelah selesai mandi dan sedikit berdandan, aku pun bergegas ke dapur dan membuatkan sarapan untuknya. Sarapan terakhir kami sebagai pasangan suami istri.
Ya Tuhan... benar kata orang. Saat-saat terakhir menjelang perceraian, itulah saat-saat yang terberat bagi kita.
"Nasi goreng masakan istriku," James berkata dengan memaksakan senyum. "Terima kasih."
Aku menggeleng-geleng seraya berusaha menahan air mata. "Ayolah, jangan buat keadaan ini semakin berat untuk kita berdua. Aku tidak mati, dan kamu juga tidak mati. Kita hanya tidak bersama. Itu saja. Benar, kan, My James?"
"Kamu bilang jangan membuat keadaan ini semakin berat. Tapi kamu malah membuatku ingin menangis."
Maafkan aku.
"Makan bersamaku, ya? Please...?"
__ADS_1
Aku mengangguk. "Yeah. Tentu."
"Aku suapi?"
"Em."
"Terima kasih untuk kesempatannya."
"Ya, My James."
Aku menerima suapannya, dan nasi goreng yang sebenarnya enak itu sekarang terasa seperti butiran pasir, susah sekali ditelan.
"My James?"
"Emm?"
"Aku... boleh menanyakan beberapa hal?"
"Tentu."
"Boleh aku melihat foto istrimu?"
"Aku tidak menyimpan fotonya di ponsel."
"Di laptop? Atau di rumah ini? Album?"
"Tidak ada."
"Oke." Aku berdeham. "Namanya siapa?"
"Tidak penting untuk kamu tahu."
"Oh, oke."
"Emm...."
"Tanyakan saja."
"Bagaimana kamu tahu siapa aku?"
"Lewat detektif, juga dari mata-mata yang setia bekerja untukku."
"Kamu benar-benar tahu semua hal. Harus kuakui kamu hebat."
James hanya tersenyum. Dia menikmati sarapannya dengan santai dan nyaman. Sampai akhirnya aku menanyakan di mana keberadaan Rose Peterson yang asli, James sempat terdiam.
"Aku tidak tahu soal itu."
"Kamu tidak pernah mencari tahu soal itu? Kalau pernah, mungkin kamu punya informasi penting?"
"Tidak. Sama sekali tidak. Oke? Sekarang, bisa tidak membahas tentang ini? Baik aku ataupun Jack sudah memutuskan untuk tidak terlibat dalam urusan apa pun. Jadi tidak usah membahas apa pun yang berhubungan dengan Jack. Oke? Aku cemburu."
Tidak. Tidak ada api cemburu di matanya. Aku tidak melihat kecemburuan sedikit pun. Toh, aku tidak membahas tentang Bang Jack, tapi tentang Rose Peterson yang diculik oleh mendiang Tuan Johnson. Aku yakin, James hanya menghindari pembahasan ini. Apa mungkin...? Tidak, Emilia. Jangan berpikiran yang aneh-aneh.
"Makan lagi? Buka mulut?"
Yeah, sarapan berlanjut. Seperti jiwa kepo-ku yang juga terus berlanjut.
"Omong-omong... emm... maaf sebelumnya, aku tidak bermaksud untuk membahas soal Bang Jack. Tapi... aku ingin tahu, sewaktu kamu meminta dia jangan mendekati Rose Emerson, apa dia tahu siapa kamu? Maksudku, apa dia tahu siapa yang menghubunginya?"
James menggeleng. "Tidak," ujarnya. "Musuh tidak perlu tahu siapa dirimu, karena itu akan menghambat rencanamu di kemudian hari. Jangan pernah membuka topengmu di hadapan musuh. Kamu paham?"
__ADS_1
Aku mengangguk paham.
"Aku belajar dari cara ayahku. Dia tidak pernah menunjukkan topengnya, sehingga, selain aku, tidak ada yang tahu kalau ternyata dia yang melenyapkan nyawa ayahnya Jack. Bahkan saking dia lihai menyembunyikan topengnya, aku baru tahu kalau dia juga yang sudah melenyapkan nyawa ibuku. Padahal dulu dia mengatakan kepadaku alasannya kenapa dia melenyapkan ayahnya Jack, karena ayahnya Jack-lah yang telah melenyapkan ibuku. Dia membodohiku selama bertahun-tahun."
Ya ampun, kasihan sekali.
"My James?"
"Emm? Apa lagi?"
"Aku pernah mendengarmu menelepon seseorang. Kamu memanggilnya sayang. Apa itu istrimu?"
James mengangguk.
"Berarti kamu menyayanginya, ya kan?"
"Dia yang memintaku memanggilnya sayang."
"Eh? Ya ampun kamu ini. Enteng sekali--"
"Kenyataannya memang begitu, Sayang. Serius."
Aku memberengut, tapi di sisa waktuku ini, aku harus berusaha membujuk James untuk mencintai istrinya. Setidaknya, ia mesti membagi cintanya yang besar kepadaku itu untuk istrinya juga. "My James, setelah ini kamu mau mencoba... untuk...?"
"Please...?"
"Demi aku? Demi anak-anakmu?"
"Rose... Emilia... Sayangku... jangan bahas ini, tolong? Kamu harus tahu kapan kamu harus berhenti memikirkan orang lain."
Oke. Stop. Kupasang tampang manis di hadapannya dan aku tersenyum. "Maaf, ya? Maafkan aku, My James? Ya?"
"Em."
"Kalau aku mau melihat foto si kembar, boleh?"
"Oke. Kalau itu boleh."
Ah, syukurlah. Raut kesal di wajahnya sudah menghilang. James menunjukkan foto kedua bayinya. Bayi yang cantik, lucu dan menggemaskan. Tapi ada yang menarik perhatianku dari kedua bayi itu, mereka memiliki tanda lahir di tengah-tengah pungggung tangan kirinya, dan ada tiga tahi lalat di sisi kiri tanda lahir itu.
Seperti tanda lahir Rose Peterson, apa mungkin...? Tidak. Tidak. Jagan berpikiran macam-macam, Emilia. Itu hanya di pikiranmu saja. Please... lupakan soal itu. Lupakan saja.
Well, James tidak hanya menunjukkan foto kedua anaknya, tapi juga foto dirinya bersama mereka. James nampak sangat bahagia di dalam foto itu. Kedua bayi sembilan bulan itu sangat pas dalam gendongan sang ayah. Yap, menurutku James benar-benar cocok menjadi seorang ayah.
"Ayah yang terbaik," pujiku.
"Thank you."
"You are welcome."
"Akan lebih sempurna kalau kamu yang menjadi ibunya."
Hmm... minta dicubit-cubit dia. Dia membuatku melotot karena sebal.
"Mungkin suatu hari."
"My James...."
"Hanya bercanda."
"Itu bukan bahan bercanda yang baik, tahu!"
__ADS_1
James tersenyum, senyuman yang membuat hatiku sangat bahagia, di ujung waktu.
Sayangnya ini terjadi di ujung waktu. Dalam kebersamaan kami yang terakhir....