
"Rose?"
"Emm? A-a-ada apa?"
"Kamu tadi memang sudah tertidur lalu terbangun, atau... memang sama sekali belum tidur?"
Ya Tuhan... pria ini sangat menakutkan. Aku harus mengatakan apa? Berbohong pun aku pasti akan ketahuan. "Aku...."
"Aku tahu jawabannya. Kamu tertidur lalu terbangun, ya kan? Benar begitu, kan, Sayang?"
__ADS_1
Aku mengangguk. Aku tahu James menginginkan jawaban ya, meski aku tahu bahwa dia tahu kalau tadi aku hanya pura-pura tertidur. James tahu kalau dia bisa mengendalikanku karena rasa takutku. Dan dia bukanlah pria penakut, dia tidak akan takut ataupun khawatir jika aku mendengar semua percakapannya tadi, bahkan dia tidak akan takut kalau aku menyampaikan hal itu kepada Bang Jack. Karena dia James, dia tahu bahwa segala sesuatu yang ia rencanakan akan sesuai -- berjalan di bawah kendalinya.
"Baiklah, kalau begitu artinya tidak ada masalah. Benar, kan? Atau ada? Kalau ada, katakan saja."
Aku menggeleng. "Tidak ada," kataku.
James meraih ponselnya, menekan tombol dan melakukan panggilan telepon, memanggil pelayan untuk datang ke kamar. Sementara aku, aku segera melesat ke kamar mandi, berkumur, membersihkan tangan, wajah, dan... area kewanitaanku. Walau aku tahu, ini bukan berarti setelah ini aku akan terbebas dan bisa langsung tidur dengan tenang. Sama sekali tidak. Mana mungkin. Kurasa aku sudah sangat mengenal watak James yang suka sekali mempermainkan aku.
Dan seperti itulah yang terjadi, ketika aku keluar dari kamar mandi dengan jubah mandiku, lantai kamar VIP itu sudah kembali bersih seperti semula. Dan James, dia sudah memegang kembali obat tidurku dan air mineral yang langsung ia sodorkan kepadaku. Begitulah James, kurasa dia sudah tahu kalau aku ini tahu bahwa aku masih perawan, tapi dia tetap menjalankan triknya: dia berpura-pura -- seolah-olah dia tidak tahu kalau aku sudah mengetahui semuanya. Dan seperti yang ia lakukan, aku juga menuruti saja apa pun permainannya. Semuanya tetap berjalan seperti yang ia rencanakan, dan sesuai dengan segala yang ia kehendaki. Tanpa banyak bertanya dan tanpa ia mengatakan apa pun, aku mengambil obat itu dari tangannya dan meminumnya. James tersenyum: senang dan menang.
__ADS_1
Dalam detik berikutnya, "rutinitas malam" James berlangsung sebagaimana biasanya. Dia memelukku, dia membuatku polos, membawaku kembali ke ranjang, dan ia menggilai tubuhku. Dari wajah, leher, dada, hingga ke paha bagian dalam, bahkan bagian inti diriku, tak seinci pun luput dari kebuasannya. Merah dan menyakitkan. *rangan, *esahan, bahkan rintihan rasa sakit yang berasal dari tangan dan mulutnya tak mampu kutepis. Dan aku sangat merasa kesal karena obat tidur itu serasa bekerja sangat lambat, sampai-sampai, aku mesti merasakan James menyesa* inti diriku berkali-kali di bawah sana. Aku mesti mengeran* kuat karena tersedot dalam ke dalam mulutnya. Dia baru berhenti setelah rasa kantuk merayapiku. Dengan senyuman bahagianya, ia merangkak ke atasku, mensejajarkan diri, dan mengarahkan diri kepadaku. Setelah menekan ke dalam dan masuk sedikit, dia kembali menjamah tengkuk leher dan keindahan dadaku, menunggu sampai aku benar-benar terlelap. Tetapi sebelumnya, yang masih kuingat di ujung kesadaranku, dia berkata, "Aku ingin memiliki sepasang anak darimu. Satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Yang laki-laki, aku ingin menamainya dengan nama ayahku, Johnson Harding. Supaya aku bisa melihat ayahku dalam sosok anak lelakiku. Dan anak perempuanku, aku ingin menamainya dengan nama ibuku, Katrina Harding. Dan kalau aku memiliki satu anak perempuan lagi, aku ingin menamainya dengan nama cinta kedua-ku, Emilia."
Deg!
Emilia? Namaku...?
"Emilia Harding. Nama yang cantik, bukan?"
Jangan-jangan James sudah tahu identitas asliku...?
__ADS_1