Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Insecure


__ADS_3

James tersenyum puas -- terlihat jelas kelicikan dari mimik wajahnya saat itu. Namun ia tak langsung melepaskanku dari kungkungannya, tanpa terduga olehku, tangannya bergerak cepat: tangan kanannya tahu-tahu berada di belakang kepalaku, mencengkeram helain rambutku hingga wajaku mendongak, sementara tangannya yang kiri menahan rahangku. Aku merasakan rasa sakit yang teramat pada kulit kepalaku dan kedua rahangku akibat sentuhan dari kedua tangannya, aku tersiksa. Bahkan tidak cukup dengan kedua tangannya itu, pria itu juga menyalurkan rasa sakit pada bibirku menggunakan mulut dan giginya. Dia mengisa* bibirku begitu kuat seakan-akan ingin menariknya hingga terlepas dari bagian wajahku, dan setelah itu, ia melengkapinya dengan gigitan keras, meski tidak sampai berdarah, tapi sakitnya luar biasa. Lagi-lagi, dia memamerkan senyum puas kepadaku -- yang menurutku, dia ingin menunjukkan bahwa dia puas karena sudah memberikan pelajaran kepadaku. Seperti yang kukatakan tadi: aku merasa dia sebenarnya sedang menghukumku.


"Oke. Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan menyentuhmu sekarang. Tapi, Rose, Sayangku, Istriku tercinta, ingat kata-kataku ini, awas saja kalau kamu membohongiku. Awas saja kaa... lau, kalau di saat pertama kali kita bercinta nanti, ternyata kamu sudah tidak perawan, maka, aku berjanji padamu, aku sendiri yang akan menjualmu pada papaku. Bahkan, apa kamu tahu, seberapa banyak anak buah Papa? Hmm? Ada banyak sekali, aku akan menyuruh mereka semua untuk menggilirmu, satu persatu. Aku bersumpah. Kamu bisa membuktikannya kalau kamu ingin menantangku. Aku, benci, pengkhianat. Paham?"


Mengangguk. Aku mengiyakan dengan anggukan yang kuat. Sungguh aku ketakutan. Sepertinya, James jauh lebih berbahaya daripada Tuan Johnson.


"Baiklah. Sudah dulu sesi kali ini. Hapus air matamu. Abangmu masih menunggu di luar."


Oh, untunglah, dia benar-benar memutuskan untuk break walau tugasku belum selesai. Walau kejantanannya di bawah sana masih mengera* di antara himpitan tubuh kami.


"Cepatlah berpakaian," perintahnya. Dia sendiri beranjak dari hadapanku dan berjalan ke lemari.


Dalam menit berikutnya, kami pun keluar dari ruang ganti dan Bang Jack masih duduk di sana. Air mataku sudah kering, tapi bekas sembab itu masih sangat kentara.


"Maaf, Kakak Ipar, kami membuatmu menunggu lama." James menggenggam tanganku, lalu ia duduk di sisi ujung sofa. Sofa yang sama yang diduduki oleh Bang Jack. Dan, dengan mesranya, pria itu memintaku duduk di sampingnya, di bahu sofa, sementara ia menaruh lengannya di atas pangkuanku.


Bang Jack mengangguk. "It's ok. Tidak apa-apa. Aku paham," katanya.


"Ya, harap maklum, namanya juga pasangan pengantin baru, ya kan?"


Lagi, Bang Jack hanya mengangguk. Kemudian, topik pembahasan kami berubah ketika James melihat ponsel dan tablet di atas meja.


"Omong-omong, ini...? Ponsel Rose?" tanyanya. James meraih ponsel itu. Ketika matanya melihat ke arahku dengan sirat tanda tanya, aku hanya mengangguk. Ia pun mengklik menu log aktivitas panggilan, lalu ia menekan angka -- nomor ponselnya, dan menyimpan ponselnya sendiri ke daftar nomor telepon di ponselku -- dengan nama "Suamiku Sayang."


Hmm... terserah. Suka-sukamu saja, batinku.


"Well, aku sudah menyimpan nomor ponselku. Kamu bisa menghubungi nomor ini kalau aku sedang pergi." James menekan tombol panggilan telepon. Ponsel miliknya pun berdering dan menampilkan nomor ponselku di layar ponselnya. Lalu, dia pun menyimpan nomor teleponku ke dalam daftar buku teleponnya dengan nama "Istriku Tersayang."


Fix! Dia membuatku gerah.

__ADS_1


Sabarlah, Rose. Sabarlah, Bang Jack. Biarkan saja.


"Oh ya, nanti aku akan memasang aplikasi penyadap pada ponselmu, sekalian mengaktifkan GPS-nya juga. Tidak masalah, bukan?"


What? Dia membuatku ternganga. "Kenapa... sori, maksudku... haruskah?"


"Harus. Jadi aku bisa mengontrol apa pun yang istriku lakukan selama aku tidak ada. Tidak masalah, bukan? Aku berhak. Kamu kan istriku. Dan aku sosok suami yang ingin selalu menjaga istriku. Milikku. Baik di kehidupan nyata, ataupun di dunia maya."


Whatever....


Daripada memperhatikan apa yang sedang James lakukan, kupikir lebih baik aku memalingkan pandangan mataku kepada Bang Jack. Dari posisi duduknya yang memperlihatkan sikap santai -- dalam aktingnya -- Bang Jack menatapku, kedua alisnya terangkat sesaat dalam gerak samar, aku mengerti maksudnya, ia mempertanyakan keadaanku. Dan, dalam gerak samar pula, aku menggelengkan kepala sepelan mungkin.


Aku tidak apa-apa, Bang. Dia tidak merenggut keperawananku.


Seperti memahami maksudku, Bang Jack merespons jawabanku dengan anggukan pelan. Aku tahu dia sedikit lega karena mengerti dengan bahasa isyarat di antara kami berdua.


"Omong-omong, aku permisi, ya," kata Bang Jack kemudian.


"Tidak. Aku hanya tidak mau mengganggu waktu pengantin baru," Bang Jack berkata, lalu ia memperlihatkan senyum bahagia. Senyuman palsunya.


James balas tersenyum. "Kakak Ipar bisa saja," sahutnya. "Kami kan jadi malu."


"Ya, sebenarnya aku mau pergi sedari tadi. Tapi karena tidak enak kalau tidak berpamitan langsung pada kalian, jadi aku menunggu kalian sampai kalian selesai bermesraan."


James terkekeh senang. "Istriku sangat cantik, Kakak Ipar. Makanya aku tidak bisa menahan diri untuk selalu bermesraan dengannya. Sekali lagi, Kakak Ipar harap memaklumi pasangan pengantin baru ini."


"Ya, syukurlah kalau begitu. Well," --Bang Jack berdiri-- "aku sangat lega setelah melihat sendiri kalau keadaan adikku baik-baik saja. Jadi, aku bisa pulang dengan tenang. Tolong jaga adikku baik-baik, Tuan Muda."


James menggeleng. "Panggil aku Adik Ipar."

__ADS_1


"Oh, baiklah. Adik Ipar."


"Nah, itu terdengar lebih baik, bukan? Lebih akrab. Kita sudah menjadi keluarga, bukan?"


"Benar. Keluarga." Bang Jack mengulurkan jabat tangan dan James menyambutnya. "Tolong, sebagai kakak yang menyayanginya, aku bukannya ingin ikut campur urusan rumah tangga kalian, hanya saja, tolong perhatikan adikku, dia harus istirahat yang cukup supaya daya tahan tubuhnya tidak sampai ngedrop."


James mengangguk-angguk. "Baiklah. Tentu saja, Kakak Ipar. Aku tidak akan lalai lagi. Akan kujaga adikmu dengan baik."


"Terima kasih." Jabat tangan mereka terlepas, kemudian Bang Jack memalingkan pandangannya ke arahku. "Jaga dirimu baik-baik. Perhatikan kesehatanmu."


Aku hanya mengangguk. Setelahnya, Bang Jack langsung berjalan ke pintu diikuti oleh James. Pria itu langsung menutup pintu begitu Bang Jack sudah keluar dari ruangan, dan, ia memutar kuncinya.


Ya Tuhan, kenapa harus dikunci segala?


Di sana, James berputar, dia berdiri tegap dengan kedua tangan berada di saku celana panjangnya. Lalu, dia tersenyum kepadaku dengan tatapannya yang menusuk.


Kenapa? Apa yang hendak ia lakukan sekarang?


"Akhirnya sekarang kita benar-benar punya waktu untuk berduaan. Aku masih rindu bermesraan denganmu."


Aku takuuuuut....


"Tapi...." Ia beranjak, berjalan ke arah meja rias. "Sebelum kita bermesraan, aku ingin kamu minum obatmu dulu. Aku sudah menebusnya di apotek."


Ya ampun, banyak sekali. James membuka satu demi satu jenis obat yang mesti kukonsumsi.


"Ini... ini obat apa saja?" tanyaku dengan takut.


Lagi-lagi pria itu tersenyum aneh, lalu ia menunjukkan empat butir pil yang sekarang berada di atas telapak tangannya. "Yang ini vitamin daya tahan tubuh. Yang ini obat penurun panas. Yang ini untuk menahan rasa sakit. Dan, yang ini...."

__ADS_1


Deg!


Apa yang ingin ia lakukan padaku? Pil apa ini? Ya Tuhan, tolong aku. Tolong....


__ADS_2