
Hari sudah menjelang sore saat aku terbangun dari tidurku yang lelap akibat pengaruh pil tidur berdosis tinggi itu. Rasa kantukku belum sepenuhnya hilang, dan aku merasa kesulitan membuka mata, bahkan kepalaku pun masih terasa pusing sehingga aku butuh waktu beberapa saat untuk sadar sepenuhnya.
Dalam kesendirianku di dalam kamar itu, sembari aku barusaha untuk mendapatkan kesadaranku sepenuhnya, aku mengingat-ingat kejadian terakhir yang kualami, dan, rasa takut pun mulai hinggap di benakku. Terlebih, ketika aku menyadari keadaanku yang terbaring di ranjang tertutup selimut.
"Tidak," gumamku. "Itu tidak boleh terjadi. Tidak." Kugeleng-gelengkan kepala karena rasa takut. Kemudian, tanganku meraba ke dalam, ke dada, dan, aku terkejut mendapati diriku yang sudah tak mengenakan bra. Lalu, saat tanganku menelusur ke bawah, rasa panik semakin kuat bertahta di atas kepala: aku benar-benar dalam keadaan telanjan*.
Argh! Seketika itu hatiku hancur!
"Tidak boleh. Ini... ini tidak boleh terjadi padaku."
Aku berusaha duduk, menyibakkan selimut, dan... dan...
"Tidak. Tidaaaaak...!"
Melesak. Aku berteriak histeris saat mendapati kedua pahaku dipenuhi tanda merah bekam bekas gigitan dan *sapan: terasa sakit dan ngilu, dan, ada cairan putih lengket di permukaan organ kewanitaanku. Nelangsa. Aku benar-benar merasa hancur.
"Berengsek! Lelaki bajingan! Jahat! Kamu jahat, James. Kamu jahat!"
Aku terisak. Tetapi, demi sebuah penyangkalan, aku pun turun dari ranjang dan membungkus tubuhku dengan selimut, lalu, mencari-cari...?
Tidak ada darah? Apa mungkin... dia tidak melakukan itu, atau... sekadar tidak berdarah? Apa mungkin ada perawan yang tidak berdarah? Atau mungkin seprainya sudah diganti?
Tapi, terlepas dari semua penyangkalan itu, aku tetaplah merasa hancur. Dalam benakku, mana mungkin lelaki yang sudah berada di depan gerbang keperawanan seorang gadis dan hanya tinggal mendobraknya dengan kejantanan -- bisa menahan diri dan mengurungkan niatnya. Itu tidak mungkin. Dan aku menangis terisak-isak lalu melorot ke lantai. Aku merasa gagal, merasa kotor, dan merasa sudah tidak pantas lagi untuk Bang Jack.
__ADS_1
Sedih. Aku menangis sesenggukan.
Ceklek!
Daun pintu mengayun terbuka. Wajah James yang sekarang sangat kubenci muncul di ambang pintu. Dia melangkah masuk kemudian menutup pintu di belakang punggungnya. Pria itu hanya mengenakan kimono dengan boxer ketat di dalamnya. Rambutnya masih basah dan air menetes-netes dari dahinya. Sepertinya dia baru saja selesai berenang.
James, yang sekarang terlihat sangar tanpa senyuman duduk di tepi ranjang, persis di hadapanku yang sekarang hanya menatapnya dengan penuh kebencian dan, berurai air mata. Sama sepertiku, James menatapku dalam diam. Pandangan kami beradu -- dengan tatapan tajam.
"Apa? Hmm?" katanya. "Ingin marah?"
"Kamu berengsek!" hardikku.
"Oh, tidak salah? Kamu yang marah padaku?"
"Kamu tidak menepati janjimu! Kamu bajingan!"
Aku tersentak. Aku yang tadinya marah sekarang malah jadi bingung. Apa maksudnya?
"Kau pengkhianat!" dia kembali berteriak, dan dalam kelebat cepat dia menyambarku, mencengkeram rambutku, mendongakkan wajahku menghadapnya yang kini membungkuk di atasku. Dia mencengkeram rahangku. Aku kesakitan. "Kau tahu aku tidak suka dibohongi. Kenapa kau menipuku? Kenapa?" ia meraung, cengkeramannya semakin menguat.
Sakit... sekali. Sungguh yang terjadi ini di luar dugaanku. Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud James.
"Lepaskan!"
__ADS_1
"Kenapa? Sakit? Hmm? Sakit, Sayangku?"
"Kamu gila! Psycho!"
"Oh, kau berani mengataiku. Dasar jalan*!" Seketika James menarik bahuku dan mendorongku ke ranjang.
Bug!
Aku tertelungkup. Lalu, pada detik berikutnya pria itu naik ke atasku dan bersilang kaki. Dengan keseluruhan bobotnya, James duduk di atas pinggangku dan kembali mencengkeram rambutku.
"Ap--apa maksudmu?"
"Oh, istriku ini berlagak polos rupanya."
"Sumpah. Aku tidak mengerti. Kenapa malah kamu yang marah-marah padaku?"
"Jangan berlagak polos, Rose. Kau pikir aku ini lelaki bodoh? Heh? Kau pikir, kau bisa membohongiku?"
Apa yang dia maksud? Apa tentang hubunganku dan Bang Jack? Tapi aku tidak boleh salah bicara. Aku harus memastikan dulu dia membicarakan tentang apa.
"Kau tahu, aku sangat mencintaimu. Tapi kau jalan*! Kau menipuku! Kau terus saja membohongiku!"
"Kamu bicara apa? Aku bohong apa?" tanyaku terisak-isak. "Tolong jelaskan, aku bohong apa padamu?"
__ADS_1
"Bedebah! Berhenti berpura-pura di depanku, Sialan! Kau murahan! Kau sudah tidak perawan! Kau... kau jalan*!"
Deg!