
Bang Jack bahagia sekali. Tawanya menggelegar memenuhi ruang kamar. Dia tidak hanya sekadar mencumbuiku, atau mendaratkan bibirnya di bibirku atau di tengkuk leherku, dengan senangnya, dia juga menggelitiki tubuhku hingga aku menjerit sejadi-jadinya. Andai saja waktu itu ponselnya tidak berdering tepat pukul empat, mungkin dia tidak ingin berhenti bercanda denganku.
"Sudah lama sekali aku tidak sebahagia ini," ujarnya setelah sambungan teleponnya terputus. "Kamu merubah Jack yang sekaku batu jadi selembut beledu. Semua karenamu. Terima kasih."
Aku hanya membalas ucapannya dengan anggukan dan senyuman, kemudian berkata, "Sudah jam empat. Kamu bisa melanjutkan gombalanmu lain kali."
Dia nyengir. "Yeah, baiklah," sahutnya. Tapi tahu-tahu, satu ciuman kasar kembali menyambar bibirku, dia menciumku dan membuatku sampai engap. Tak sampai di situ, pria buas itu juga menyambar tengkuk leherku.
"Eummmm...," aku mengeran* keras, sebuah gigitan yang menyisakan satu tanda merah kehitaman membekas di sana. "Dasar, ya! Abang itu gila!"
Dia hanya tertawa, lalu bangkit dari atasku. "Mau bagaimana lagi? Kamu membuatku selalu bergairah," katanya, seenteng itu. Dia membuka lemarinya dan mengambil celana panjang plus jaket, lalu memakainya di hadapanku tanpa malu.
"Kalau aku kangen, aku boleh tidur di sini?" tanyaku.
Dia tersenyum. "Apa pun boleh." Sekarang ia tengah memakai sepatu. "Yang tidak boleh itu membukakan pintu untuk orang lain, memberikan nomor ponselmu, apalagi menunjukkan dirimu pada dunia. Kamu paham, kan?" Tali sepatunya sudah terikat. "Oh ya, jangan lupa bawa lampu tidurmu juga. Jangan biarkan phobia-mu terulang lagi. Oke, Sayangku?"
"Iya, Abang. Oke."
Kali ini aku senang mendengar ia berceloteh. Aku yang sedari tadi duduk di atas tempat tidurnya sambil mendengarkan celotehannya, kini turun dan menghampirinya. Kami berpelukan sebentar, kemudian Bang Jack meraih dompet, ponsel, dan kunci mobil di atas nakas, lalu berjalan ke pintu.
"Sayang?"
"Emm?"
"Di sini ada cctv." Dia menunjuk ke atas pintu utama, lalu ke kamera yang ada di atas pintu kamarnya dan mengarah ke arah pintu utama, lalu ke kamera yang mengarah ke beranda. "Ada tiga kamera. Jadi, tolong, jangan telanjan* kalau kamu tidak ingin aku melihat tubuhmu, lagi."
Euwwwww...!
"Abang...," lengkingku karena dia terkekeh-kekeh setelah kata lagi yang berjeda itu.
Dasar, priaku yang gila.
"Baiklah, aku sudah terlambat."
Sekali lagi, kami saling memeluk dengan erat.
"Abang hati-hati."
__ADS_1
Dia mengangguk, lalu membuka pintu. Namun ia kembali berbalik.
"Ada apa? Ada yang tertinggal?"
Tapi dia menggeleng. Dengan kedua tangan menangkup lekuk pipiku, dia menatapku dalam-dalam. "Kamu tempatku untuk pulang," katanya lirih, lalu dia mencium keningku dengan hangat. "Aku mencintaimu, Rose. Tunggu aku pulang."
"Em." Aku mengangguk. "Aku akan selalu menunggumu."
Karena memang aku selalu menunggunya hingga detik ini.
Dengan berat hati, kami berpisah pada detik itu. Setelah pintu di depanku tertutup, aku dan Bang Jack terpisah lama.
Setengah jam sepeninggal Bang Jack, buzzer berbunyi. Aku mengira Bang Jack kembali. Tetapi, sesampainya aku di pintu depan, ada selembar foto di bawah pintu. Foto Mama, ibunya Bang Jack yang tengah di rawat di rumah sakit, lengkap dengan surat berisi ancaman untukku.
Ikut kami jika tidak ingin kami menghabisi ibumu. Jangan coba-coba memberitahu Jack atau menghubungi siapa pun. Dalam hitungan detik, nyawa ibumu bisa melayang.
Deg!
Ada yang tahu keberadaanku di sini? Siapa?
Kepanikan menyerbu benakku, dan selama beberapa saat aku hanya berdiri di sana membiarkan rasa takut menguasaiku. Akhirnya, aku mengingatkan diriku sendiri untuk tetap tenang.
"Buka pintunya," suara lelaki terdengar di depan pintu.
Aku mematung, kucoba untuk tetap diam. Tetapi...
"Suruh suster itu menghabisi wanita itu sekarang. Gadis itu tidak mau menuruti perintah."
"Tidak!" teriakku dari balik pintu. "Jangan. Tolong jangan. Jangan sakiti dia. Aku mohon...."
"Kalau begitu buka pintunya, Nona! Kalau kamu ingin ibumu selamat, turuti perintah kami. Buka pintunya!"
Aku tidak punya pilihan. Aku tidak bisa egois. Aku tidak bisa membiarkan seorang ibu terluka hanya demi keamanan untuk diriku sendiri.
Terpaksa, aku harus mengorbankan diriku sendiri. Kuraih handle pintu, dan kutatap sejenak kamera yang mengarah ke arahku, air mata pilu, sedih, takut, sekaligus marah membasahi pipiku, lalu aku membuka pintu.
"Jangan coba-coba berteriak kalau ingin ibumu selamat!" ancam salah seorang di antara dua penjahat itu.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, dua lelaki bertubuh besar dan bertampang sengak di depanku itu pun langsung menyeretku di kanan dan kiriku.
Aku hanya bisa pasrah.
Sesampainya di basement, mereka memaksaku masuk ke mobil hitam yang terparkir di sana. Di kursi belakang. Mesinnya menderum saat kami melaju cepat.
"Kalian siapa? Kenapa ingin menculikku?"
Tapi tidak ada jawaban. Tentu saja.
Dan sekarang, rasanya mobil itu telah melaju selama berjam-jam, dan aku benar-benar tidak tahu ke mana kami menuju. Yang kulakukan adalah tetap tenang, berdoa di dalam hati semoga Bang Jack kelak membaca pesanku dan bisa membawa ibunya ke tempat yang sangat aman.
Di suatu tempat, akhirnya kami berhenti. Sebuah gang yang lengang. Penjahat yang duduk di bangku kemudi mematikan mesin mobil. "Kami akan menjualmu. Selama kamu menurut, ibumu akan aman di rumah sakit jiwa itu. Dengar? Sekarang keluar!"
Oh, nasib....
Kenapa aku terus saja berada dalam lingkaran setan ini?
Tapi kali ini aku tidak punya pilihan. Aku terpaksa menurut. Aku keluar dari mobil itu dan menuruti mereka. Yap, karena saat ini, aku seakan bukanlah sosok gadis sebatang kara lagi seperti saat aku di kapal waktu itu hingga aku bisa melompat ke laut tanpa memikirkan apa pun, termasuk tidak memikirkan keselamatan diriku sendiri. Sekarang, kalau aku nekat, berarti ada seorang ibu yang akan kutumbalkan nyawanya demi keselamatanku. Aku tidak bisa egois.
Bagaimana kalau aku mati saja? Mungkin mereka tidak akan melakukan apa pun pada Mama. Mungkin saja.
"Awas!" teriak salah satu penjahat itu.
Terlambat!
Begitu yang satunya menoleh, seseorang memukul punggungnya dengan kayu. Dia terhuyung. Aku menjerit dan penjahat yang satunya menarikku mundur karena tiga orang berbadan besar tahu-tahu sudah mengepung kami.
Pria yang tadi memukul salah satu penjahat yang menculikku mengayunkan kayunya lagi, mengenai bagian punggung penjahat itu keras-keras. Satu pria lain menyerang penjahat yang satunya. Mereka memukuli dua penjahat itu sampai sudut bibirnya berdarah.
Aku ingin lari. Tapi tidak bisa. Salah seorang pria lainnya mencekal tanganku dan membekap mulutku. Aku meronta-ronta, tetapi tidak berhasil melepaskan diri.
Kedua pria jahat yang menculikku bertarung hebat dengan lawan yang menyerang mereka. Hingga akhirnya kedua penjahat itu kalah dan tergeletak di aspal.
Aku pun akhirnya diseret menjauh, ke arah van putih dan dipaksa masuk ke dalam van itu. Dua orang yang habis bertarung berlari mengikuti.
"Hei!" penjahat itu berteriak. Ia terhuyung-huyung, berusaha berdiri. Mereka sudah berhasil bangkit. Keduanya mengejar van putih yang membawaku pergi, namun mereka gagal. Sementara, ketiga pria yang berhasil membawaku itu terbahak-bahak merayakan kemenangan mereka yang berhasil membawaku kabur dari sana.
__ADS_1
Lagi. Aku terlepas dari sarang macan, lalu terperosok ke sarang singa. Mereka semua pasti komplotan penjahat juga. Tanpa perlu aku bertanya, sudah pasti mereka pun akan melakukan hal yang jahat kepadaku.
Bagaimana nasibku setelah ini?