
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. James pulang ke Indonesia untuk menghadiri pesta tahunan yang diselenggarakan oleh Tuan Johnson dan para koleganya. Orang-orang yang bekerjasama dengannya dalam bisnis hitam itu. Aku tahu ketika James pulang ke Indonesia. Sebab, malam itu, sebelum pesta itu berlangsung, dia sendiri yang mengabariku melalui panggilan video. Dia bilang bahwa perasaannya tidak enak. Sebab itu dia meneleponku. Dia bertanya bagaimana kabarku.
"Aku baik-baik saja," kataku. "Jangan khawatir."
Dia mengangguk. "Menstruasimu sudah selesai?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Baguslah kalau begitu. Aku akan pulang besok." Tapi dia tidak tersenyum, dan malah berkata dengan lirih, "Aku kangen sekali padamu. Aku minta maaf, ya. Aku meninggalkanmu berhari-hari."
Lagi. Aku mengangguk.
"Aku juga minta maaf atas semua sikap kasarku selama ini. Maafkan aku, Rose. Itu hanya keburukanku. Pada dasarnya, demi Tuhan, aku sangat mencintaimu."
Ya Tuhan, kenapa perasaanku jadi melow begini?
"Rose?"
__ADS_1
"Ya?"
"Tunggu aku pulang, ya?"
"Iyy...ya, My James."
"Terima kasih." Dia tersenyum dengan tatapan sendu. "Aku tutup teleponnya, ya. Aku mencintaimu. Bye, Sayang."
Sambungan telepon terputus.
Haruskah James mati hanya karena Bang Jack menginginkan aku bersamanya? Tapi aku tidak mungkin mengatakan kepada James bahwa bahaya sedang mengancamnya. Aku juga tidak sanggup mengkhianati Bang Jack. Ya Tuhan... kenapa aku jadi dilema seperti ini? Tolong tenangkan hatiku....
Tetapi... nyatanya, malah terjadi pergulatan pelik di dalam batinku.
Naif! Bodoh! Mana bisa kau tenang jika kau mengetahui bahwa seseorang sedang diintai oleh kematian? Kalau kau bisa tenang, apalagi benar-benar mengharapkannya mati, berarti kau sudah menjadi seorang penjahat sepenuhnya.
Argh! Aku kesal sendiri.
__ADS_1
Minum obat tidur saja, Rose. Jika besok pagi kau terbangun dan mendengar kabar kematian suamimu, mungkin... mungkin... mungkin apa? Tidak mungkin kau akan senang mendengar kabar itu. Tapi... tapi terserah. Kalau besok kau mendengar kabar itu, maka... terima. Terima saja. Oke? Demi bersama Bang Jack, Rose. Demi bersama Bang Jack. Oke? Tenang. Sekarang, minum obat tidur. Kau harus tidur supaya tidak memikirkan apa pun yang akan terjadi pada malam ini.
Well, aku beranjak, dan aku meminum obat tidurku. Kuraih ponselku dan memutar musik. Aku berharap aku bisa tidur dengan tenang.
Tapi, sebelum aku terlelap, pikiran yang lebih buruk malah merasuki benakku.
Bagaimana kalau justru keadaan berbalik? Bagaimana kalau yang mengintai kematian, justru dia yang akan mati? Bagaimana kalau Bang Jack yang terkena peluru? Tolong jangan, Tuhan. Aku sangat mencintainya. Aku tidak sanggup kalau dia mati dan meninggalkanku. Tolong, selamatkan dia.
Tapi dia berniat buruk, Rose. Suara kecil di dalam benakku berkata.
Huh! Pada akhirnya aku kesal pada diriku sendiri.
Apa yang sebenarnya yang kau inginkan, Rose? Kau ada di tengah-tengah, di antara pertempuran mereka. Dalam pertempuran ini tidak mungkin ada kata damai. Kau akan bersama salah satunya, siapa pun yang bisa memenangkan pertempuran ini.
Aku menguap....
Please, obat... buatlah aku tertidur sekarang juga. Dan beri aku kabar baik esok pagi.
__ADS_1