Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Keajaiban Itu Nyata


__ADS_3

"Aku ingin bertemu dokter sebentar," kata Bang Jack saat kami agak jauh dari kamar rawat ibunya. "Kamu tunggu di sini sebentar, tidak apa, kan?"


Aku ingin bilang aku keberatan. Bahwa aku tidak mau tinggal di tempat mengerikan ini sendirian, tapi aku tidak ingin Bang Jack berpikir kalau aku ini merepotkan. Dia kan tidak pergi jauh, hanya masuk ke ruangan yang tersekat dinding dari tempatku menunggu. Aku sanggup duduk sendirian di sana. Aku pun mengangguk. "Tapi jangan lama-lama," pintaku.


"Tentu. Aku tidak sanggup kalau terpisah lama denganmu," katanya sambil tersenyum simpul.


Dasar bodyguard gombal....


"Duduk di sini dan jangan ke mana-mana, oke? Aku segera kembali."


Aku mengangguk, lalu Bang Jack berjalan menuju pintu ruangan dokter.


Aku duduk di sana sementara waktu, mencoba untuk tidak berpikir tentang orang-orang -- pasien yang mungkin akan berkeliaran di koridor dan menunggu untuk melongokkan kepala dan mengagetkanku.


Tidak. Tidak ada pasien terlihat. Tidak ada perawat yang aneh juga. Oke, aman.


Aku melewatkan waktu dengan memikirkan kira-kira nama apa yang akan kugunakan untuk identitas baruku, untuk tercatat di dokumen pernikahanku dan Bang Jack, lalu kuputuskan untuk menggunakan nama asliku, nama pemberian ayahku lengkap dengan gabungan nama kedua orang tuaku. Supaya aku selalu ingat nama mereka. Kemudian...


Aku tersentak kaget. Ada suara yang menyapaku.


"Hai."


Aku berpaling. Suara itu berasal dari samping kiriku. Suaranya kedengaran bernada tinggi dan kekanak-kanakan.


Ada seorang gadis berdiri di sana, mengenakan gaun tidur panjang berwarna putih yang terlihat sudah sangat lusuh, bernoda dan compang-camping. Ia memegang boneka beruang yang bulu-bulunya sudah rontok dan hanya memiliki satu bola mata.


Dengan kalut, kucoba untuk mengingat "peringatan resmi" di tempat ini: jangan ke mana-mana, jangan membuat marah, dan jaga sikap.


"Hai," kataku akhirnya. Dengan ragu-ragu, aku bergerak bangkit dari kursi. "Apa kabarmu?"


Tampaknya gadis itu sebaya denganku, namun suaranya kekanak-kanakan seperti gadis kecil. Ia tiba-tiba mengambil satu langkah ke arahku, dan jantungku berdebar kencang.


"Aku baik. Namaku Lala."


Oh. Wow. Itu tak terduga, dia menjulurkan jabat tangan kepadaku. Bisa kurasakan wajahku menegang. Haruskah aku menyambut jabat tangannya? Jika tidak, apa dia akan tersinggung? Atau justru sedih, atau... dia malah akan menyakitiku?


Aku tidak tahu apakah aku harus berlari atau terus berbicara dengannya. Yang mana yang kemungkinannya paling kecil untuk membuatnya gusar?

__ADS_1


"Siapa namamu?" tanyanya.


"Aku... aku Rose. Namaku Rose."


"Nama yang bagus. Ayo, berjabat tangan."


"Oh, itu... aku...."


Oh, bagus! Tiba-tiba ia menyambar tanganku lalu menarikku masuk ke ruangan di depan kami.


Tum!


Pintu tertutup.


"Ini ruangan favoritku."


Oh Tuhan, apa aku akan aman bersamanya di dalam ruangan ini?


Sebuah ranjang rumah sakit di tempatkan di tengah-tengah ruangan, dalam keadaan kosong. Tali-tali rumit menggantung di keempat sisinya, jelas dimaksudkan untuk pengekangan fisik.


Aku mundur selangkah. Aku harus keluar dari ruangan ini. Hawanya tidak enak. Di sini pengap. Pencahayaannya buruk. Di mana pintunya? Dinding-dindingnya terasa menyempit. Aku tidak bisa bernapas, dan...


Pintu terbuka.


"Di sini kamu rupanya."


Kami berdua menoleh.


Ada perawat yang berdiri di depan kami. Bukan perawat yang sama dengan yang tadi mengantarku dan Bang Jack. "Sayang, aku sudah mencarimu ke mana-mana."


Aku? Apa aku yang dicarinya? Tidak. Bukan aku. "Maaf, Suster. Dia menarik tanganku dan membawaku masuk ke sini."


Suster itu mengangguk seraya tersenyum. "Aku mengerti," katanya.


Gadis dalam balutan gaun tidur berbalik dan berjalan menuju tempat tidur. Dengan boneka beruang masih di satu tangan, ia naik ke ranjang lalu duduk. Ia meletakkan boneka beruang di pangkuannya dan meraih satu tali pengikat. "Aku kehilangan ibuku," katanya sedih. "Dia meninggal."


Aku menyaksikan dengan ngeri saat ia perlahan-lahan mulai mengikat satu pergelangan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Aku kehilangan ayahku," katanya lagi. "Dia meninggal."


Hatiku melesak. Aku tahu bagaimana perasaan sedih yang ia alami.


"Kasihan," gumam si perawat sambil melirik ke arahku. "Ia mengalami gangguan mental. Harus diikat hanya untuk memberinya pengobatan."


Aku hanya bisa mengangguk.


Si perawat beranjak ke tempat tidur, menyentuh lengan gadis itu. "Kamu tidak perlu melakukannya. Sekarang belum waktunya kamu diberi obat."


Dengan lembut, si perawat melepaskan kembali tali pengikatnya dan membantu gadis itu turun dari tempat tidur. Perawat itu mengambil boneka beruangnya, menyerahkannya ke gadis itu, lalu menuntunnya ke pintu.


"Mau ikut kami ke depan?" tanyanya kepadaku.


Aku menggeleng. "Tidak. Aku menunggu abangku. Dia sedang berbicara dengan dokter."


"Baiklah. Ayo, kita keluar dari sini."


Aku mengangguk lalu mengikutinya keluar dari ruangan itu. Perawat itu mengulaskan senyum ramah ke arahku sebelum berlalu bersama pasiennya. Hampir di saat yang bersamaan, Bang Jack juga keluar dari ruangan dokter. Tepatnya dia sudah keluar dari ruangan dokter beberapa detik sebelum aku keluar dari ruangan pengobatan yang mengerikan itu.


"Kamu membuatku cemas," katanya. "Kan sudah kubilang jangan ke mana-mana."


Aku tersenyum. "Gadis itu tadi menarikku masuk ke ruangan ini. Aku tidak mungkin meronta-meronta. Dia kan... dia... dia sedang sakit."


Kata gila itu terlalu kasar untuk mereka yang sedang mengalami gangguan kejiwaan. Aku lebih suka jika kata gila itu digunakan untuk orang yang sehat tapi bertindak semaunya tanpa peduli pada perasaan orang lain. Itulah orang gila yang sesungguhnya. Seperti bibiku. Sedangkan pasien di rumah sakit ini, mereka hanya individu yang malang, yang sedang mengalami sakit. Hanya itu.


"Ya ampun, tapi kamu tidak apa-apa, kan?"


Tidak. Tepatnya sekarang tidak. Tadi aku hanya... sedikit shock. "Aku tidak apa-apa. Dia tidak menyakitiku. Dia hanya mau... katakanlah curhat. Kasihan dia, ayah dan ibunya meninggal. Aku tidak tahu, apa itu penyebab dia mengalami... gangguan... mental."


"Sudahlah. Kamu jangan bersedih. Itu sudah menjadi takdir hidupnya. Bersyukur saja sebab kamu lebih beruntung karena kamu terlahir sebagai gadis yang tangguh. Kalau tidak, kamu juga bisa berakhir di sini."


Benar. Aku mengangguk. Aku kuat. Aku tangguh. Aku beruntung, setidaknya cukup beruntung. Meskipun aku mengalami phobia pada kegelapan, setidaknya aku beruntung karena tidak berakhir di tempat seperti ini. Namun sejenak kemudian sepotong pemikiran lain menghalau pemikiran itu. Berakhir di tempat seperti ini itu jauh lebih baik daripada jika aku berakhir di tangan predator kaum perempuan. Jika bibiku berhasil menjualku ke luar negeri, entah di hotel mana aku berada saat ini, entah sudah berapa lelaki hidung belang yang mesti kulayani. Tubuhku pasti sudah digempur habis-habisan oleh para predator itu. Atau, jika aku bersikeras melawan, mungkin aku sudah babak belur dihajar oleh orang yang menginginkan pelayananku. Betapa tidak berharganya aku jika aku berada di posisi itu. Lebih baik di sini, di sini ada suster yang menjaga pasiennya meski dengan mental yang terganggu.


"Hei, kenapa? Kok melamun?" tanya Bang Jack menarik perhatianku kembali kepadanya.


Kugelengkan kepalaku dan aku tersenyum. Haru, bahagia, dan senang menjadi satu. Keajaiban itu sungguh nyata. Kuulurkan tanganku dan Bang Jack menggenggamnya dengan erat. "Aku beruntung karena bertemu dengan lelaki sebaik kamu. Aku tidak berakhir di tempat seperti ini, apalagi di tempat pelacuran. Terima kasih."

__ADS_1


"Yeah, sebab kamu tangguh, kamu tidak mudah menyerah dan tidak mudah putus asa. Tuhan tahu siapa yang mesti ia tolong."


Benar. Dan kamulah perantaranya. Malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan khusus untukku.


__ADS_2