Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Momen Mesra


__ADS_3

Aku menyisikan sedikit waktu yang kupunya untuk menyenangkan Bang Jack. Tidak susah untuk membuatnya senang. Dimasakkan makanan saja dia akan senang bukan kepalang. Jadi, siang itu aku pun menyisihkan waktu khusus untuk memasak di dapur. Bang Jack sudah memesan banyak bahan masakan pada layanan pesan antar untuk aku memasak makanan untuk kami berdua makan siang.


"Kokiku yang seksi," kata Bang Jack seraya menghampiriku yang berdiri di depan kompor dengan kaus ketat dan hot pants putih. Bahkan ia sempat-sempatnya melingkarkan tangannya di pinggangku dan menyelinap ke balik kausku. Dengan nakal, ia pun mengusapkan telapak tangannya yang hangat di kulit perutku. "Kamu tahu, melihatmu berpakaian seperti ini membuatku berpikir untuk membawamu ke kamar," bisiknya. Dia mengintip dari balik bahuku yang sedang mengiris-iris bawang bombay.


Hah! Dasar! Dia mulai kecanduan.


Aku tersenyum, kemudian berbalik dan bertatap muka dengannya. "Ke kamar? Kenapa tidak di sini saja? Kita belum mencoba meja makan itu, ya kan?"


"Oh, waw! Aku terkejut. Jadi kamu menginginkan itu? Hmm?"


Ya ampun, menggelikan. Tawa bahagia Bang Jack memenuhi seisi ruangan. Lalu, tanpa terduga, dia mengangkat dan menggendongku, membawaku ke meja makan berbahan kayu itu dan membuatku terbaring, lalu dia menindihku.


"Sudah, kan?"


"Eh?"


"Kamu sudah terbaring. Sekarang lanjutkan masakmu."


Euw...! Dia membuatku manyun. "Ini tidak lucu, tahu!"


"Rileks, Sayang." Bang Jack menyingkir dari atasku dan berdiri tegap di lantai. Dia mengulurkan tangan untuk menarikku. "Tenang saja, nanti aku akan membuatmu kelelahan."


Sambil memberengut, aku menyambut uluran tangan Bang Jack, bangkit lalu turun dari meja sementara Bang Jack duduk di meja dapur. Ia meraih pisau dan sebuah apel dan memakannya dengan santai.


"Kalau aku kelelahan, siapa yang akan memasakkan makan malam untukmu?"


"Tenang saja. Aku bisa memesan makanan dari luar. Kamu tinggal bilang saja mau makan apa."

__ADS_1


"Ya, ya, terserah. Itu berarti aku mesti menyiapkan tenaga ekstra untuk kita berdua, ya kan?"


"Mmm-hmm, benar sekali. Itu harus. Dan, omong-omong, apa ada yang bisa kubantu?"


"Tidak satu pun, Abang. Semuanya terkendali. Aku bisa mengatasi urusan dapur sendiri. Oke? Serahkan semuanya padaku."


Aku meraih spatula. Memang tidak ada suatu apa pun yang bisa dilakukan oleh Bang Jack, bukan? Dia memang lebih baik duduk santai di meja makan sambil menikmati buah apel di tangannya.


Tetapi tidak, Bang Jack justru bangkit dari kursinya dan kembali mengintip ke penggorengan dari balik bahuku dengan kedua tangan melingkar di pinggangku sementara aku mulai menumis bawang. "Wanginya menggugah selera," bisiknya seraya menghirup aroma.


Bukan. Bukan aroma tumisan, tetapi aromaku, di tengkuk leherku.


"Aku lapar," ia kembali berkata, lalu ia membenamkan gigi-giginya di tengkuk leherku.


Menyenangkan. Tentu saja. Tapi aku jadi sedikit khawatir kalau udang saus asam manis-ku tidak akan siap tepat waktu kalau begini caranya, meski aku juga berpikir kalau Bang Jack hanya ingin iseng saja terhadapku.


Selama semenit, aku duduk di meja bersama Bang Jack tanpa bicara dan mengawasi pria itu menelan gigitan demi gigitan. Bang Jack tampak bahagia dan puas. Kenapa tidak? Masakanku mampu memuaskan seleranya, dan di depan matanya: ada aku, kekasih yang sangat ia cintai.


"Bagaimana? Enak, kan?"


Bang Jack mengangguk. "Tentu saja, Sayang. Tidak perlu diragukan lagi. Kamu kokiku yang terhebat."


Koki. Bukan istri.


Aku berusaha sebaik-baiknya untuk turut tersenyum. "Andai saja hubungan kita bisa selalu semesra ini, dan... andai saja aku sudah menyandang status sebagai istri--"


"Sayang...." Bang Jack menggeleng. "Jangan bahas soal ini, please? Kita tahu itu hanya akan memancing kesedihan."

__ADS_1


Aku mengangguk. "Aku tahu," kataku. "Tapi biar kukatakan tentang ini."


"Apa?"


"Emm... kalau setelah ini terjadi--"


"Rose, please?"


"Dengarkan aku dulu, oke?"


Dia tidak menyahut, namun mencoba untuk tetap santai dan menyuapkan sepotong udang ke mulutnya.


"Aku cuma mau mengatakan, kalau setelah ini terjadi hal yang buruk padaku, aku ingin Abang tahu, aku sangat mencintaimu. Dan apa pun yang akan terjadi, Abang tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku tidak akan kenapa-kenapa. Jangan pernah berpikir kalau aku dalam keadaan bahaya atau menderita. Aku kuat. Aku sama sekali tidak lemah. Oke? Jangan berpikir keselamatanku adalah yang utama. Tidak perlu. Aku tidak akan kenapa-kenapa. Jangan jadikan aku sebagai kelemahan. Abang janji?"


Mengangguk. Bang Jack tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Aku tahu itu. Dia hanya berkata, "Aku tahu kamu perempuan yang kuat. Tapi kamu juga butuh stamina untuk menghadapiku, ya kan? Sekarang buka mulutmu dan makan ini."


Pria itu tersenyum dan menyendokkan nasi ke mulutku. Dia menyuapiku dengan sayang.


"Abang, aku serius. Saat ini aku cuma minta satu hal itu saja. Tolong, jangan mengkhawatirkan keselamatanku. Aku bisa memastikan kalau apa pun yang terjadi, keadaanku akan baik-baik saja. Jangan jadikan diriku sebagai kelemahanmu. Apa pun yang terjadi, aku kuat. Abang bisa memahami ini?"


Dia mengangguk lagi, dan kali ini ia melepaskan sendok dari tangannya dan malah meraih kedua tanganku lalu menggenggamnya erat-erat. "Aku tahu, kamu kuat. Aku paham. Oke? Tapi biar aku juga mangatakan hal ini, aku tidak ingin ada keputusasaan di dalam dirimu. Kamu, dan aku, kita harus berjuang bersama. Aku ingin menikah denganmu. Aku ingin memberimu anak-anak dari darahku, mengamatimu mengandung dan membesarkan mereka bersamaku. Jadi, please, jadikan harapan kita itu sebagai penyemangat. Oke?"


Aku hanya mampu mengangguk. Aku punya harapan itu. Entah akan terjadi atau tidak, tapi misi utamaku saat ini adalah menyingkirkan James. Dan itu sangat berisiko. Pertarungan antara hidup dan mati, dan itulah jalan yang mesti kutempuh. Dimulai hari ini....


"Sayang, daripada membicarakan hal ini, mending kita...?"


Hmm... dasar....

__ADS_1


Well, demi Bang Jack, aku memenuhi keinginannya. Lelahku tak seberapa jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang terukir indah di wajahnya.


__ADS_2