
"Sayang," James memanggil seraya keluar dari kamar mandi. "Ya ampun, hentikanlah air matamu." Dia kembali duduk di sisiku dan mengusap air mataku dengan jemarinya. "Kamu harus belajar menjadi dewasa dan mejalani kehidupan barumu dengan ikhlas. Oke?"
Aku mengangguk dan itu membuat James tersenyum, lalu ia mendekapku ke dalam pelukannya dan mengelus punggungku dengan lembut. Bisa kurasakan aroma tubuh pria itu yang menyerbakkan wangi segar dari sabun mandi yang ia gunakan.
"Bagaimana sekarang? Sudah lebih baik?"
"Em. Maafkan aku. Aku hanya...."
"Tidak apa-apa. Perlahan saja, sampai kamu bisa menerima pernikahan kita dan membalas cintaku. Sekarang, please, balas dulu pelukanku. Kamu belum pernah memelukku sekali pun."
Karena aku tidak mau. Karena aku tidak mencintaimu....
Tapi percuma, sekeras apa pun hatiku menentang, aku mesti melakukan apa pun yang James perintahkan kepadaku, apa pun yang ia kehendaki, demi nyawaku, demi keselamatan hidupku. Jadi, perlahan dan penuh keraguan, tanganku tetap melakukan tugasnya: melingkar di pinggang James hingga membuat pria itu tersenyum senang.
"Lain kali, peluklah aku atau balas pelukanku tanpa harus aku memintanya lebih dulu. Bisa, kan, Sayang?"
Yeah, walau aku terpaksa. Aku kembali mengangguk patuh.
"Oh, ya ampun, aku sampai lupa. Aku harus menelepon dokter untuk mengecek keadaanmu."
James melepaskan pelukannya dari tubuhku, begitu pula aku. Dia beranjak dan meraih ponselnya dari atas nakas lalu melakukan panggilan telepon dengan seorang dokter, dan memintanya untuk segera datang. Setelah itu, dia menelepon pelayan dari bagian dapur dan memintanya membawakan sup hangat untukku, juga membawakan sarapan untuknya.
"Rose," katanya setelah menaruh kembali ponselnya. "Aku akan di sini sampai nanti pemeriksaan kesehatanmu selesai. Tapi setelah itu aku harus pergi. Ada rapat penting dengan staf-staf hotel. Aku tidak bisa menundanya. Maksudku, tidak baik menunda pekerjaan. Jadi, tidak apa-apa, kan, kalau kamu kutinggal sendiri?"
Tentu saja. Malah bagus. Aku lebih baik sendirian daripada aku bersama james dan bermesraan dengannya dalam keterpaksaan. "Tidak apa-apa. Aku... aku juga butuh istirahat."
James mengangguk, lalu ia berjalan ke ruang ganti pakaian dan mengambil pakaian kerjanya, berikut dasi dan jasnya. Saat dia keluar, dia menyampirkan semuanya ke sandaran sofa dan menanggalkan kembali handuk dari pinggangnya. Dia kembali telanjang di hadapanku. Aku refleks menunduk, tidak mau melihat benda asing miliknya yang membuatku takut. Namun, seketika itu aku pun sadar dengan tuntutannya yang memerintahkanku supaya aku menjalankan peranku dengan baik, sebagai istri yang melayaninya.
Kupalingkan pandanganku kepadanya. "Apa... apa ada yang mesti kulakukan? Maksudku... apa aku harus membantumu... berpakaian?" tanyaku sembari memandang fokus ke wajahnya. Menghindari bagian lelakinya.
Pria itu tersenyum kecil. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Kamu kan sedang sakit."
Huffft... aku lega. Terima kasih, Tuhan....
"Tapi lain kali harus, ya. Kalau nanti kamu sudah kembali sehat. Oke, Istriku?"
Hmm... berengsek...!
"Oh ya, Sayang," sambungnya sembari berpakaian. "Kalau kamu butuh sesuatu, kamu tinggal minta pada pelayan. Nanti aku akan meminta beberapa orang untuk ke sini. Dan kalau ada apa-apa, tolong segera hubungi aku."
Bagaimana cara aku menghubungimu? Aku berdeham. "Baiklah. Kalau nanti ada apa-apa, aku akan meminjam ponsel pelayan untuk menghubungimu."
"Oh, ya ampun. Sori, sori, aku lupa, Sayang. Kamu tidak punya ponsel, ya. Begini saja, nanti aku belikan ponsel untukmu. Kamu sukanya--"
Cepat-cepat aku menolak, "Tidak perlu," kataku.
"Lo? Kok? Kenapa?"
"Emm... kalau boleh...."
"Mmm-hmm? Katakan saja, Sayang."
"Kalau boleh aku mau memakai ponselku sendiri."
__ADS_1
"Ponselmu? Maksudnya? Kan kamu tidak punya."
"Ada. Aku meninggalkan ponselku di apartemen."
"Oh, oke. Kamu mau aku mengambilkannya? Baiklah--"
"Suruh seseorang saja," potongku. "Aku tidak mau merepotkanmu. Atau kalau boleh, suruh Bang Jack mengantarkannya ke sini, ya?"
James mengangguk-angguk, namun aku bisa melihat sebuah misteri dari gerakannya yang santai itu. Misteri yang aku tidak tahu, apa yang ia pikirkan.
"Baiklah. Akan kusampaikan pada Jack."
Tok! Tok!
"Permisi, Tuan Muda," kata seseorang di balik pintu.
Namun James masih santai, ia tengah mengenakan ikat pinggangnya. "Tunggu sebentar...," ia berseru seraya meraih dasi, lalu mengenakannya di depan cermin. Setelah selesai, ia langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ada dua orang pelayan yang membawakan nampan makanan. Satu orang membawakan semangkuk sup dan sepiring sandwich, dan seorang lagi membawakan teh hangat dan aneka buah-buahan lengkap dengan pisau potongnya. Dua pelayan itu langsung menata hidangan itu di atas meja yang ada di depan sofa.
Sempurna. Mereka pelayan yang lihai, yang melakukan pekerjaan tanpa kesalahan sedikit pun.
"Nanti suruh dua orang pelayan perempuan ke sini untuk menjaga istri saya, sekalian untuk bersih-bersih paviliun ini," perintah James.
Kedua pelayan itu mengangguk, lalu pamit undur diri.
"Mau kusuapi?" James bertanya.
"Tidak perlu," tolakku. "Aku bisa makan sendiri."
"Baiklah. Biar kuambilkan." James berjalan ke arah meja dan mengambilkan mangkuk sup untukku dan membawakannya ke tempat tidur. "Ini. Habiskan, ya."
"Terima kasih."
"Sama-sama, Sayang. Makan sampai kenyang, ya."
"Yeah. Pasti. Akan kuhabiskan." Kusunggingkan senyum kepadanya.
"Bagus. Selamat makan." Dia kembali berdiri dan kembali ke meja rias, meraih jam tangannya yang mahal dan mengenakannya. Setelah itu, ia duduk di sofa dan sarapan.
Oh... akhirnya, mulutnya yang pandai berceloteh itu diam juga.
Kamu lebih tampan dan lebih manis kalau diam begitu. Karena jika kamu bicara, kamu membuatku selalu ketakutan.
Kami pun makan dalam keheningan. Aku lega.
Beberapa menit setelah itu, kembali terdengar suara ketukan di balik pintu.
"Masuk," kata James.
Wajah seorang dokter perempuan parubaya muncul setelah daun pintu mengayun terbuka, lalu disusul wajah Tuan Johnson di belakangnya. Keduanya masuk ke dalam kamar.
"Selamat pagi, Tuan," sapa dokter ramah.
"Pagi, Dok. Perkenalkan, ini istri saya. Dia sedang demam."
__ADS_1
"Oh, dasar pria nakal," komentar Tuan Johnson yang kini berstatus sebagai ayah mertuaku. "Jangan-jangan dia demam karena kamu mengajaknya begadang semalaman. Hmm?" Senyum puas mengembang di wajahnya, begitu pula di wajah sang dokter, ia turut senyum layaknya seorang perempuan yang pernah mengalami indahnya masa-masa pengantin baru.
Setelah dokter mengeluarkan peralatan yang biasa kau lihat di rumah sakit atau di film dan sinetron, dokter itu berkata, "Saya periksa dulu, ya, Nyonya. Maaf, saya buka sedikit."
Hah? Ya ampun... dokter itu menggeser sedikit bagian gaun tidurku yang menutupi dada, bahkan dia menyibakkan dulu rambutku yang menjuntai ke depan -- ke belakang pundakku. Alhasil, kulit leher dan dadaku yang merah itu sedikit terlihat oleh semua orang yang ada di dalam kamar itu.
Argh! Menyebalkan!
"Ya ampun, James. Dasar anak keterlaluan," Tuan Johnson kembali berkomentar.
Aku malu... malu sekali.
"Harap maklum, Pa. Namanya juga malam pengantin. Bagaimana mungkin aku bisa menahan diriku. Pengantinku sangat cantik, ya kan?"
Terus! Terus saja bercuap-cuap. Anak dan ayah sama saja.
"Bagaimana, Dok? Istri saya tidak apa-apa, kan?" James bertanya setelah dokter melakukan cek fisik pada tubuhku secara keseluruhan, dari lidah, mata, hingga ke tensi darahku, dan lain-lainnya.
Dokter mengangguk. "Tidak apa-apa, Tuan. Nyonya hanya kelelahan dan butuh banyak waktu istirahat."
"Bagaimana tidak kelelahan kalau anak liar ini menggilainya habis-habisan. Kasihan anak perawan orang, James."
Si anak hanya tertawa senang. "Harap maklum, Pa. Namanya juga anak muda."
Oh, diamlah...!
"Saya akan meresepkan obat dan vitamin untuk Nyonya. Mohon untuk dikonsumsi secara teratur, ya."
Dan, semua orang hanya memperhatikan, sementara dokter menuliskan resep obat itu untukku kemudian ia menyerahkannya kepada James. Setelahnya, dokter itu pun berpamitan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Tuan Johnson. "Rapi sekali."
James berpaling kepadanya. "Pagi ini ada meeting penting, Pa."
"Istrimu sedang sakit, James."
"Aku hanya pergi sebentar, kok."
"Hmm, dasar kamu ini."
James tidak menggubrisnya. "Aku berangkat sekarang, ya," katanya berpamitan kepadaku. "Nanti ada pelayan yang akan mengurusmu. Dan aku akan minta seseorang untuk menebus obat untukmu. Kamu baik-baik di sini. Istirahat saja di kamar, ya? Dengarkan kata suami. Oke, Istriku?"
"Ya." Aku mengangguk.
James tersenyum persis di depan wajahku, lalu ia mencium bibirku beberapa saat. Setelah itu ia mengelus kepalaku layaknya pria yang penuh kasih sayang, lalu ia pun memelukku seraya mencium sisi keningku.
Waw! Seperti pasangan yang sangat harmonis. Mesra sekali, bukan?
Tuan Johnson pun tersenyum senang melihat adegan itu, lalu ia berjalan ke arah pintu dan keluar dari kamar kami.
"Aku berangkat, ya, Sayang."
"Em. Hati-hati, My... James."
__ADS_1
"Tentu." Dia mengecup keningku lagi lalu tersenyum. "Aku mencintaimu."
Please... pergilah....