Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Sandiwara...?


__ADS_3

Video tersimpan.


Aku merekam ketiga orang itu dengan ponselku lalu mengirimkan video itu kepada Bang Jack. Aku berharap Bang Jack mengenali ketiganya meski video yang kukirim itu tidak jelas karena Justin melajukan mobilnya cukup ngebut sehingga rekamanku tidak stabil.


《 Dua orang itu yang menculikku dari apartemen. Dan yang satunya, yang memakai jaket hitam, dia salah satu dari tiga orang yang merebutku dari penculik pertama dan membawaku ke Tuan Johnson. Tapi kenapa sekarang mereka bertiga terlihat akrab? Apa mereka berteman? Dan... Abang mengerti, kan, maksud pertanyaanku?


Whatsapp-ku terkirim dan conteng hijau itu muncul setelah beberapa detik kemudian.


》 Tidak usah dibahas sekarang. Nanti aku akan mencari tahu kebenarannya. Fokuslah pada ulang tahun Mama. Oke. Hati-hati di mana pun kamu berada. Jangan bahas hal ini dengan siapa pun.


Drrrt... ponselku langsung bergetar lalu berdering. Panggilan telepon masuk dari James.


"Ha--halo," ucapku setelah menggeser opsi panggilan.


"Rose, kamu mengirimkan video ke Jack? Kamu mendapatkan video itu dari mana?"


"A--anu, aku... aku merekamnya langsung. Aku melihat mereka di pinggir jalan, di depan hotel."


"Benar mereka yang menculikmu waktu itu? Mereka baru saja masuk dan bekerja pada Papa."


Tapi aku tidak percaya padamu, James. Bisa jadi kamu sendiri yang menjadi dalang penculikanku lalu kamu muncul dan berlagak seperti super hero di hadapanku. "Oh? Begitu," kataku hati-hati. "Jadi karena itu mereka sekarang bersama dengan anak buah Tuan Johsnon."


"Ya. Katanya mereka sudah keluar dari gang kumuh itu. Tapi tidak tahu juga kebenarannya. Jangan-jangan mereka masuk ke bisnis Papa untuk mengintaimu dan Jack? Bisa jadi, kan?"


Hmm... dia ingin membuatku semakin bingung atau dia memang berkata jujur? Apa dia benar-benar tidak tahu-menahu soal penculikanku waktu itu?

__ADS_1


"Rose, Sayang, kamu tenang saja, ya. Aku akan mencari tahu soal ini. Kamu hati-hati. Jangan pergi ke mana pun tanpa bodyguard. Mereka harus selalu di dekatmu. Tenang, ya, Sayang, ya. Kamu pasti aman, kok."


Ya Tuhan... siapa yang harus kupercaya?


"Halo, Sayang, kamu tidak kenapa-kenapa, kan?"


Aku berdeham pelan. "Ya," kataku. "Aku tidak kenapa-kenapa. Aku akan hati-hati."


"Syukurlah kalau begitu."


"Ya, My James."


"Oh ya, Sayang, nanti jangan lupa sampaikan salamku pada Mama. Aku juga minta maaf, aku tidak bisa ikut merayakan ulang tahunnya."


"Ya, My James, nanti pasti akan kusampaikan. Oh ya, terima kasih untuk kado dan kue ulang tahunnya. Mama pasti akan sangat senang."


"Ya, sama-sama, Sayang. Kamu jaga diri baik-baik, ya. Aku mencintaimu."


Hmm... kuhela napas dalam-dalam. "Aku... aku... maaf, My James. Aku... aku masih... belajar untuk...."


James tertawa senang di seberang sana. "Aku mengerti, kok. Aku malah berterimakasih karena kamu mau berusaha untuk membalas cintaku. Terima kasih, ya, Sayang."


"Em, sama-sama. Terima kasih juga karena kamu mau mengerti aku."


Ah, waktu terasa lama sekali berjalan. Aku berharap James segera memutus sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Ya, Sayang. Sama-sama."


"Em."


"Aku tutup teleponnya, ya."


"Ya. Silakan."


"Ciumnya?"


"Eh?"


"Please?"


"Emm... tapi...."


"Aku mohon?"


"My James, aku...."


"Rose-ku istri yang penurut, kan? Please... ya?"


"Baiklah. Baiklah, My James. Emm... emm... emmuach."


Argh! Pria itu tertawa senang. Menyebalkan!

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Emmuach. Bye...."


Sialan! Dasar pria sakit jiwa! Menyebalkan! Kekanak-kanakan! Kau membuatku sangat kesal, James Harding....


__ADS_2