
"Sialan!" umpat Bang Jack. "Kenapa dia harus datang sekarang?"
Aku ketar-ketir. Ketakutan. "Jangan-jangan... dia tahu. Mungkin... mungkin dia menaruh kamera tersembunyi di sini? Bagaimana ini, Bang?"
"Rose...!" James memanggilku sembari menggedor-gedor pintu. Teriakannya sungguh menakutkan.
Aku gemetar. "Abang, bagaimana ini?"
"Tenang, Sayang, tenang."
"Bagaimana aku bisa tenang?"
"Rileks, oke? Dengarkan aku."
Aku mengangguk, sementara Bang Jack turun dari ranjang dan membuka pintu kamar. "Sebentar," teriaknya pada James, lalu ia menyuruhku ke kamar mandi. "Kamu pura-pura mandi. Maksudku... mandi sungguhan. Biar aku yang membukakan pintu."
"Tapi, Bang--"
"Kita hadapi apa pun yang akan terjadi."
"Aku takut...."
"Ssst...."
__ADS_1
Bug!
Gilaaaaaa! Pria itu malah mendorongku hingga aku kembali terlentang dan ia membuka interval kakiku.
"Eummmmm... Abang...," aku mengeran* tertahan oleh kelakuan nakalnya. Dia menyesa* kuat diriku, membuat ketegangan yang kurasakan semakin bertambah jadi, namun juga sangat nikmat. "Abang gila!" kataku, dan aku tertawa.
Begitu juga Bang Jack, dia tersenyum dan berkata, "Aku gila karenamu, Sayang."
"Ukh! Ukh! Abang! Abang! Abang! Eummmmm...!"
Dia menyesa* diriku sekali lagi lalu terkekeh-kekeh pelan. "Sana, pergilah mandi," katanya santai.
"Baiklah," kataku. Aku pun bangkit, sementara Bang Jack memunguti dan mengenakan kembali pakaiannya lalu keluar dari kamarku.
Beberapa menit berselang setelah Bang Jack keluar dari kamarku, James yang masuk. Dia mengetuk pintu kamar mandi dan minta dibukakan.
"Kebetulan kamu sedang mandi," James berkata setelah aku membukakan pintu untuknya. "Aku mandi bareng kamu, ya. Boleh, kan?"
Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Kamu tadi dari mana?"
"Aku dari jogging. Memangnya kamu tidak lihat aku berpakaian olahraga?"
Terserah. Aku kan hanya basa-basi.
__ADS_1
James sudah menanggalkan semua pakaiannya dan sudah polos di hadapanku. Dia tersenyum, lalu membalikkan tubuhku dan ia memelukku dari belakang.
"Ada apa? Kenapa kamu senyum-senyum?"
Dia malah tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tidak enak pada Jack," katanya. "Dia tadi sedang... kamu tahulah, pria dewasa. Tadi dia pasti sedang berjuang menaklukkan dirinya sendiri, tapi aku malah datang di saat yang tidak tepat. Jadi, saat dia membukakan pintu, mau tidak mau aku melihat sesuatu yang tegang di balik celananya."
Hmm... James terkekeh. Dia sedang membodohi aku atau sedang memberitahuku kalau dia memang tahu segalanya?
"Itu tidak lucu, tahu," kataku pelan.
James mengangguk-angguk, menahan tawanya. "Makanya, harusnya abangmu itu menikah, jadi dia punya tempat pelampiasan. Aku tahu dia sama sepertiku, kami tidak suka wanita yang bisa dipakai bersama. Apalagi *elacur."
Kamu sedang menyindirku?
"Tapi omong-omong...."
"Apa?" tanyaku.
"Aku jadi kepingin. Gara-gara melihat Jack, aku jadi ikut terangsan*. Tolong taklukkan aku, ya? Please?"
Bedebah!
Dengan tatapan menakutkan, James menaruh tangannya di dadaku, dia mencengkeram kuat diriku dan berbisik di telinga, "Aku tidak suka perempuan yang bisa dipakai bersama, Rose. Aku tidak suka wanitaku disentuh oleh pria lain. Jadi, tolong, jangan jadikan dirimu hina di mataku. Jangan menjadi perempuan *alang. Kalau itu terjadi, lebih baik sekalian kujadikan wanitaku sebagai pelacur. Aku akan lebih senang melihatnya digilir oleh banyak lelaki di depan mata kepalaku sendiri. Kamu tahu, aku pernah melakukan itu. Saat cinta pertamaku mengkhianatiku, kubuat dia digilir oleh beberapa anak buahku. Yeah, sebenarnya aku kasihan. Tapi, yeah, itu pembalasan yang setimpal untuknya. Pelajaran yang berharga supaya dia jera. Supaya dia tahu, dia tidak bisa mengkhianati James Harding. Yang kulakukan itu benar, kan, Sayang?"
__ADS_1
Gemetar. Aku tahu dia sedang mengancamku secara halus. Kau benar-benar pria menakutkan, James...! Kau sakit jiwa.