
Aku sedang mengolah ikan beku ketika ponselku berdering. Ada panggilan video masuk dari Bang Jack. Ketika aku menjawab panggilan video itu, senyum semringah pria itu pun langsung menghiasi layar ponselku.
Ya Tuhan, seketika hatiku berdegup dengan kencang. Betapa rindu hatiku pada wajah tampan kekasihku itu.
"Hai," sapanya.
"Hai. Hai juga, Abang." Aku nervous.
"Kamu sedang apa?"
"Emm... mau masak. Ini." Aku mengarahkan kamera ponselku ke ikan beku yang masih terendam air, lalu ke bahan-bahan bumbu yang sudah kusiapkan. "Sebenarnya aku kepingin masak pepes, tapi aku tidak punya daun pisang. Jadi mau dikukus saja tanpa daun," ujarku, kamera ponsel sudah mengarah lagi ke wajahku.
Bang Jack mengangguk-angguk. "Aku kangen rasa masakanmu," katanya lirih.
Ah, dia. Kata-katanya membuatku sedih. "Sabar, ya," kataku. "Nanti sebelum aku meninggalkan apartemen, akan kumasakkan lauk spesial untuk Abang. Terus nanti kusimpan di kulkas. Jadi, kalau Abang mau makan, tinggal Abang panaskan saja lauknya."
Lagi-lagi dia tersenyum. "Baiklah. Terima kasih, Sayang."
"Sama-sama, Abang Sayang." Aku balas tersenyum, sebelum akhirnya aku tersadar dan menutup mulutku. Ya Tuhan, Rose, jangan sembarangan bicara.
Tapi Bang Jack terus tersenyum, matanya berbinar. Entah dia menyadari atau tidak -- tentang situasi di antara kami -- seperti halnya yang kurasakan.
"Rose?"
"Emm?"
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Seperti yang Abang lihat, aku baik-baik saja. Oh ya, tadi James mengajakku ke rumah sakit menemui Mama. Aku senang, sekarang keadaan Mama nampak jauh lebih baik."
Bang Jack kembali mengangguk. "Syukurlah," katanya. "Aku juga sempat mengunjungi Mama beberapa hari lalu. Dia banyak bertanya tentangmu. Dia... juga cerita padaku kalau... James menemuinya."
Eh? Aku tertegun.
"Mama sudah tahu soal pernikahanmu."
Air mataku menetes. Tidak tahu sejak kapan terbendung, tahu-tahu, aku malah menangis. "Jangan bahas soal ini, ya? Tolong?"
"Baiklah."
"Kita bahas soal Abang saja. Abang sehat?"
"Em, seperti yang kamu lihat. Aku sehat. Aku baik-baik saja."
"Syukurlah." Kuseka air mataku sampai tak lagi bersisa. "Omong-omong, cctv masih aktif?"
"Ya. Aku sudah mengecek cctv, dan sudah melihat semuanya. Semuanya. Tanpa terkecuali." Dia mengangguk beberapa kali.
Kuharap kita berada dalam telepati yang sama. Periksa suratku ketika nanti kamu kembali. "Kuharap Abang menghapus rekamannya, ya. Aku malu Abang melihat kemesraan James padaku di depan pintu tadi."
"Ya, akan kulakukan."
"Bagus. Jadi kapan Abang akan pulang?"
"Mungkin besok pagi. Kuharap, aku bisa bertemu denganmu sebentar."
Ya ampun... andai saja bisa. Aku bahkan lebih dari ingin. Tapi nyatanya?
Tahan. Kita harus lebih sabar. "Aku tidak bisa berjanji. Coba Abang bicara dulu pada James. Barangkali kita bisa bertemu di paviliun. Aku tidak akan menginap di sini. Nanti James akan menjemputku."
"Yeah. Tentu. Nanti aku akan bicara dan minta izin padanya."
Dan, hening. Betapa tersiksanya kami yang terpaksa berkomunikasi dalam keterbatasan.
"Sana gih, lanjutkan masak. Ini sudah jam berapa, nanti kamu kelaparan."
Dan kali ini aku tertawa -- menertawakan diriku sendiri. Sebenarnya aku agak heran, apa yang sebenarnya membuat James pergi hingga dia tidak bisa menyempatkan diri makan siang bersamaku? Bahkan dia sampai lupa menyiapkan makan siang untukku. Jelas, sesuatu yang ia prioritaskan itu pasti jauh lebih penting daripada aku. Dan kurasa, itu bukanlah soal bisnis. Karena urusan bisnis ada jam istirahat makan siangnya. Apalagi untuk seorang bos, dia bisa menetapkan waktu dan kesibukannya sendiri. Masa dia sengaja meeting pada saat jam makan siang? Kecuali jika meeting itu sudah berlangsug sebelum jam makan siang, baru bisa sekalian makan siang bersama klien atau karyawan lainnya.
__ADS_1
Ah, apa-apan, sih, Rose? Memangnya kamu mengerti urusan bisnis? Sudah, lupakan itu semua.
"Hei, jangan melamun."
"Iya, iya, maaf."
"Apa ada masalah?"
"Tidak, kok."
"Serius?"
Aku mengangguk. "Emm... Abang sudah makan?"
"Ini, sebentar lagi mau makan."
"Baguslah."
"Iya, Sayang."
"Masih ada yang mau dibahas?"
Bang Jack menggeleng dengan tatapan sendu. Aku tahu, sebenarnya ia enggan menutup sambungan telepon itu. "Kalau ada apa-apa, segera kabari aku."
"Hu'um."
Dia mengangguk. "Aku tutup teleponnya, ya. Bye, Sayang."
"Bye."
"Jangan lupa makan."
"Iya, Abang...."
"Setelah makan langsung istirahat."
"Iya, Abang...."
Ya. Sudah seharusnya. Meski dengan berat hati, panggilan video itu mesti disudahi.
Tetapi, aku baru saja menaruh kembali ponselku ke atas counter, tahu-tahu, benda persegi itu kembali berdering.
Panggilan video dari James.
Oh Tuhan... hatiku kembali bergemuruh. Belum apa-apa aku sudah gelisah.
Tenangkan dirimu, Rose. Tenanglah.
Panggilan video terhubung. James tersenyum, dan kalau aku tidak salah mengira, dia sedang berada di dalam toilet. Entah di mana posisinya.
"Hai," sapanya.
"Hai. Hai juga." Aku lebih gugup daripada tadi.
"Kamu sedang apa? Sudah masaknya? Sudah makan?"
Aku menggelengkan kepala.
"Lo? Kamu belum masak?"
"Be--belum. Ini aku baru mau masak."
"Ya ampun, Sayang. Kamu ngapain saja sedari tadi? Aku telepon juga susah sekali. Sejak tadi teleponmu sibuk terus."
Jangan pura-pura tidak tahu, James....
"Siapa yang meneleponmu?"
__ADS_1
"Anu, emm... Bang Jack."
"Benar? Kamu tidak bohong padaku?"
"Tidak, kok. Benaran."
"Ingat, ya, jangan nakal. Jangan selingkuh."
"Iya, My James. Tidak akan. Aku tidak akan berani macam-macam padamu."
"Bagus. Semakin kamu menurut, aku akan semakin cinta padamu."
Aku hanya mengangguk. Pria itu membuat rasa takutku kembali membuncah. Aku jadi ketar-ketir dibuatnya.
"Kamu sedang masak apa?"
"I--ikan."
"Mau dimasak apa?"
"Emm... aku kepingin masak pepes, tapi... tapi aku tidak punya daun, daun pisang. Jadi cuma mau dikukus saja pakai bumbu pepes."
Pria itu mengangguk-angguk. Dan itu membuatku sangat sebal karena menurutku dia bersikap seperti sikap Bang Jack kepadaku. "Bisa sisakan lauk untuk aku makan malam nanti?"
"Eh? Memangnya...?"
"Kenapa? Aku tidak boleh mencicipi masakan istriku sendiri?"
"Bukan. Bukan begitu maksudku. Tapi... ini kan resep masakan kampung."
Hmm... James malah terkekeh kesenangan. "Terus... memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir kalau kamu tidak akan selera makan masakanku. Kamu kan... terbiasa dengan masakan ala kelas atas."
Lagi-lagi dia tertawa, namun kali ini agak pelan. "Demi rumah tangga kita," ujarnya, "aku akan berusaha menyesuaikan diri dengan seleramu. Rumah tangga itu satu untuk selamanya, bukan?"
Terserah kamu mau bicara apa, James. Aku hanya akan mengiyakan. "Baiklah. Kalau begitu aku akan masak banyak untukmu."
"Terima kasih, Sayang."
"Yeah, sama-sama."
"Aku tidak membuatmu repot, kan?"
"Tidak, kok. Aku tidak merasa direpotkan. Santai saja."
"Pa...," suara wanita terdengar diiringi suara ketukan di pintu, dan, panggilan video itu terputus.
Siapa? Suara siapa tadi? Apa dia memanggil James? Memangilnya Pa? Papa? Ya Tuhan...?
Saat aku larut dalam pikiranku sendiri, ponselku berdenting. Whatsapp dari James masuk ke ponselku.
》 Aku akan meneleponmu lagi nanti.
Fix, pasti ada sesuatu. James merahasiakan banyak hal dariku.
《 Suara siapa tadi? Sepertinya suara perempuan.
》 Tidak tahu. Sekarang aku sedang di toilet umum.
《 Memangnya kamu sekarang ada di mana? Maaf kalau aku kepo.
Tidak ada jawaban, bahkan James tidak membaca whatsapp dariku.
Baiklah, terserah padamu. Teruslah menjadi sosok pria misterius. Aku tidak akan peduli. Dasar pria aneh.
Masa bodohlah pikirku. Karena faktanya aku memang sama sekali tidak cemburu padanya. Tetapi, walaupun begitu, sebagian kecil hatiku jadi terusik.
__ADS_1
Please, Tuhan... aku tidak ingin menjadi perusak kebahagiaan perempuan lain.